Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
13. Austin Setuju?


__ADS_3

"Apa? Pertunangan akan tetap dilanjutkan?"


Shabira mengerutkan keningnya, sedikit terheran setelah mendengar informasi dari Papanya. Papa Antonio baru saja mengatakan bahwa perjodohannya dengan Austin akan tetap dilanjutkan, setelah mendapat panggilan telepon dari Tuan Ray. Padahal, semalam Austin baru saja menolak dengan tegas perjodohan ini melalui chat pribadi yang dikirim Shabira.


"Papa nggak salah? Bukannya Austin udah nolak rencana pertunangan ini?"


Kini bukan hanya Shabira yang bertanya, tapi juga Renita yang juga ikut terkejut mendengar berita tersebut. Ia bahkan sampai menjatuhkan sendok buah di tangannya, membuat semua anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang santai itu merasa terheran.


"Papa juga nggak paham, tadi Tuan Ray bilang seperti itu. Beliau mengatakan bahwa Austin sudah mau menerima perjodohan ini. Beliau juga bilang, pertunangan akan diadakan seminggu lagi. Dan hanya akan mengundang keluarga serta kerabat dekat saja," ucap Antonio panjang lebar.


"Apa? Seminggu lagi?" Seketika Shabira dan Renita terkejut secara bersamaan, tidak menyangka acara pertunangan akan dilaksanakan dalam jarak waktu secepat itu.


"Kenapa secepat itu?" tanya Renita.


"Apa nggak salah, Pah? Kenapa tiba-tiba secepat itu?" tanya Mama Shinta yang juga ikut heran mendengar berita tersebut. Jika ada Justin, mungkin cowok itu juga akan terkejut setelah mendengarnya. Sayangnya di hari libur seperti ini, sudah kebiasaan bagi Justin untuk pergi berkumpul bersama teman-temannya.


"Entahlah, Papa juga tidak mengerti. Tapi nanti mungkin Papa akan membicarakan hal ini lagi dengan Tuan Ray." Antonio beralih menatap putrinya. "Shabira, kalau memang benar pertunangan ini akan tetap dilaksanakan dalam jarak waktu seminggu lagi, apa kamu siap dengan itu semua?" tanyanya memastikan.


Shabira terdiam sesaat, sekilas melirik pada Renita yang juga tengah menunggu jawabannya. Senyum tipis terukir di bibir Shabira, kemudian dengan mantap ia menganggukkan kepalanya. "Aku siap kok Pah, asal Austin benar-benar menyetujuinya bukan karena keterpaksaan!" jawabnya.


"Tapi bukannya Austin menolaknya dengan keras kemaren? Bukankah aneh kalo tiba-tiba Austin menerimanya?" tanya Renita.


"Apanya yang aneh?" tanya Shabira membalas. "Mungkin aja Austin berubah pikiran, dan sekarang dia mau menerima perjodohan ini."


"Tapi ...." Ucapan Renita menggantung, tatapan aneh dari Papa dan Mama membuatnya memilih untuk menghentikan pembicaraan.


"Lakukan aja Pah, kalo emang bener Austin sendiri yang menginginkan acara pertunangan ini dilaksanakan minggu depan," ucap Shabira mantap.

__ADS_1


Melihat raut wajah Renita sekarang, membuat Shabira semakin ingin agar acara segera terlaksana. Jahat memang, tapi apa salahnya? Shabira juga berhak memiliki apa yang ia inginkan. Setelah selama ini semua benda miliknya selalu di rebut secara perlahan oleh Renita.


"Baiklah, tenang aja. Papa akan menemui Tuan Ray nanti, untuk memastikan semuanya lebih dulu. Dan untuk Shabira, Papa harap kamu tidak akan merubah keputusanmu nanti!"


**********


Renita mencengkeram gelas kecil di tangannya, setelah seteguk minuman memabukkan kembali masuk ke dalam tubuhnya. Pikirannya sedang kacau, setelah mengetahui fakta bahwa Austin benar-benar menerima perjodohannya dengan Shabira. Karena itu ia memilih untuk pergi, berkumpul dengan teman-temannya untuk melampiaskan kekesalan.


Mabuk-mabukan memang bukan hal yang baru bagi Renita. Pergaulan bebas membuatnya menjadi gadis yang nakal. Hal itu ia lakukan tentunya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Jika sedang marah, Renita memang selalu melampiaskannya bersama teman-teman satu gengnya.


"Jadi beneran Ren, Austin nerima perjodohan itu? Dia mau gitu sama Shabira?"


Rona menggeleng tidak percaya, tidak disangka ia akan mendengar berita mengejutkan seperti ini. Sebelumnya, Renita memang sudah menjelaskan panjang lebar pada Ronna, Milka dan Bella tentang perjodohan itu. Mereka berempat memang sahabat dekat sejak dulu. Hanya saja, Renita tidak pernah terlihat menunjukkan persahabatannya. Sampai sekarang bahkan tidak banyak orang yang tahu tentang persahabatan Renita dengan ketiga gadis itu.


"Gue masih nggak percaya sih, masa iya Austin mau sama Shabira? Secara dia kan nggak pernah mau deket sama cewek, masa iya sekalinya tunangan mau sama Shabira?"


Milka terkekeh dengan ucapannya sendiri. Selama ini yang semua orang tahu, Austin memang tidak pernah sekalipun terlihat dekat dengan seorang perempuan. Jangankan pacaran, untuk berdekatan dengan Austin saja, seseorang harus memiliki alasan yang jelas agar cowok itu mau. Akan tetapi, sekarang justru Austin bisa dengan mudahnya menerima pertunangan itu dengan Shabira.


"Apa sih, ganggu banget lo!" protes Bella yang sejak tadi diam memakan camilannya.


"Lo dari tadi makan mulu anjir, katanya mau diet?" omel Ronna.


"Diet apaan, makanan gue aja diabisin sama dia!" sahut Milka kesal. Bagaimana tidak kesal? Satu mangkuk spaghetti bolognese miliknya telah dimakan habis oleh Bella tadi. "Temen lagi ada masalah gini bukannya kasih semangat, ini malah sibuk isi perut. Kayak nggak pernah makan aja lo!"


"Ck berisik banget lo bedua, tinggal makanan aja perhitungan banget!" Bella berdecak kesal, merasa terganggu dengan ucapan kedua sahabatnya. "Lagian lo kenapa sih Ren, keknya benci banget sama Shabira? Perasaan tuh anak baik-baik aja deh selama ini!"


Seketika Bella menyengir lebar, setelah menyadari tatapan tajam dari ketiga sahabatnya, terutama Renita. Dua tahun bersahabat dengan Renita, tidak cukup membuat ketiganya mampu mengenal seorang Renita. Masih banyak rahasia dalam kehidupan Renita yang belum ketiga gadis itu ketahui sampai sekarang.

__ADS_1


"Di depan semua orang, dia emang keliatan baik. Tapi gue tau, sebenarnya dia punya niat terselubung dibalik wajah kalemnya itu. Buktinya, sejak dia dateng ke keluarga gue dulu. Papa dan Mama gue selalu aja perhatian sam dia, sementara gue?"


Renita menunjuk dirinya sendiri, bersikap seolah dirinya tidak pernah dianggap lagi di dalam keluarganya. Memang benar, kehadiran Shabira yang begitu tiba-tiba, ketika usianya masih menginjak enam tahun membuat Renita beberapa kali terserang kecemburuan. Ia merasa selama ini Papa dan Mama selalu mementingkan Shabira ketimbang dirinya. Ditambah lagi, Papa Antonio selalu saja terlihat memperhatikan Shabira dan mengabaikan dirinya.


"Gue bahkan nggak pernah di perhatiin lagi sama Papa. Padahal, semua orang juga tau kalo gue itu anak kandung mereka. Shabira itu cuma perusak kasih sayang di keluarga gue, dia cuma anak pungut yang nggak tau diri!"


Renita berkata dengan nada menggebu. Dalam hal ini, ia sengaja tidak mengatakan bahwa sebenarnya Shabira adalah putri kandung dari Papa Antonio. Renita tidak ingin fakta tersebut mencoreng nama baik keluarganya, itulah alasan mengapa dirinya tidak pernah mengatakan yang sejujurnya pada teman-temannya di sekolah.


Padahal Papa Antonio sudah dengan tegas mengatakan bahwa Shabira adalah putri kandungnya. Meskipun sampai sekarang, pria itu tidak pernah mau mengatakan bagaimana kejadian sebenarnya hingga Shabira bisa hadir di dunia ini. Sampai sekarang, rahasia itu hanya Antonio dan Shinta yang mengetahuinya.


"Sampai kapanpun, gue bakal terus benci sama Shabira. Kalo perlu, gue bakal buat dia juga dibenci sama anggota keluarga gue. Kalau sampe itu terjadi, gue yakin Shabira bakal ditendang dari rumah. Dan gue, gue bakal hidup bahagia bersama keluarga gue lagi," kata Renita dengan raut bahagia di akhir kalimatnya.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Story Of Yulianika


Napen : Dhevy Yuliana


kisah Cinta dari pasangan muda yang berawal perjodohan, sepwrtinya berbuah manis.


namun, masalah justru datang dari orangtua Ika.


lebih tepatnya, sang mama yang mendadak menolak pernikahan mereka, hanya karena hasutan dari masalalu Ika.


akankah mereka menyerah atau mempertahankan,?

__ADS_1



...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2