
"Aarrggghhh sialan, sialan, sialan! Aarrggghhh!"
Renita melempar buku yang masih tersisa di atas meja belajarnya, setelah sebelumnya ia sempat menjatuhkan semua bukunya dengan cara yang sangat brutal. Kamar yang biasanya tertata rapi, kini menjadi sangat berantakan seperti kapal pecah. Bantal serta selimut yang tertata rapi di atas ranjang, kini sudah berserakan di lantai kamarnya.
"Kenapa lo selalu jadi parasit di hidup gue? Dan kenapa lo harus ada di keluarga gue, sialan!"
Renita kembali berteriak, seraya menjambak rambutnya. Memikirkan rencana pertunangan Shabira dengan Austin membuat pikirannya begitu kacau, ia sangat tidak ingin jika hal itu benar-benar terjadi. Dengan sorot mata tajamnya, Renita berjalan menghampiri nakas. Hatinya tertarik ingin mengambil cangkir bening yang ada di sana, kemudian menghancurkannya.
Pyarr...
"Gue bersumpah bakal bikin hidup lo hancur seperti gelas ini!" ucap Renita bersumpah. Sorot matanya masih menatap serpihan kaca di lantai tanpa berkedip. Hingga tak terasa, air mata yang sejak tadi ia tampung, kini meleleh sempurna membasahi pipi.
"Renita!"
Terdengar suara lantang seorang laki-laki, serta beberapa kali ketukkan dari arah pintu kamar. Pintu yang awalnya masih tertutup sempurna, kini mulai terbuka memperlihatkan sosok Justin yang datang dengan raut wajah khawatir. Tanpa pikir panjang Justin langsung menghampiri Renita yang tengah berjongkok sembari memegangi tangannya yang mengeluarkan cairan merah.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Justin khawatir. Sebelumnya, ia sempat mendengar suara benda jatuh beberapa kali dari kamar adiknya. Justin yang hendak membuka laptop, akhirnya memutuskan untuk datang ke kamar Renita karena khawatir.
"Awas!" Dengan kasar, Renita menepis kedua tangan Justin yang hendak menyentuh dirinya. "Ini kan yang kalian semua mau? Kalian semua pengen hidup gue menderita kan kayak gini?"
Renita menatap Justin dengan sorot mata penuh kesedihan, tak jarang air mata masih mengalir membasahi pipi. Cairan merah masih mengalir di jari telunjuk tangan kanannya, hingga beberapa kali menetes di atas lantai berwarna putih itu.
"Ren, kamu ngomong apa sih?" Justin mengerutkan dahi tidak mengerti. Tanpa pikir panjang, ia langsung memegang bahu Renita, menuntunnya untuk duduk di atas ranjang.
"Lepasin, gue bisa sendiri. Lo nggak usah bantuin gue, kalo ujungnya bakal tinggalin gue!" Justin tidak peduli, meskipun Renita masih memeberontak tidak mau dipegang.
"Kamu ngomong apa sih? Kamu kenapa?" Justin mendudukkan diri di samping Renita, kemudian meraih tangan gadis itu yang terluka.
"Lepas, nggak usah sok peduli sama gue!" ucap Renita seraya menepis tangan Justin.
__ADS_1
"Renita! Kamu kenapa? Kalo ada masalah bilang sama Kakak, jangan kayak anak kecil gini!" omel Justin, mulai kebingungan sendiri melihat adiknya bersikap demikian.
"Anak kecil? Ya, kalian memang selalu menganggap aku anak kecil. Kalian bahkan nggak pernah mau ngerti perasaan aku, kalian cuma peduli sama Shabira!" ucap Renita menggebu.
"Siapa bilang? Kakak peduli sama kamu, Kakak sayang sama kamu dan Shabira. Jadi jangan sekalipun kamu berpikir seperti itu!" sanggah Justin memegang kedua bahu Renita.
Air mata Renita kembali mengalir menatap Justin, seolah ingin berbagi kesedihan bersama kakaknya itu. Renita menyandarkan kepalanya di dada bidang Justin sembari terisak. "Kenapa Kak? Hiks kenapa harus Austin? Dan kenapa harus Shabira, bukan aku?"
Justin terdiam sejenak, sembari mengusap surai rambut Renita. Ia cukup tahu apa yang membuat Renita mengucapkan hal itu. Sudah sejak lama Justin mengetahui bahwa Renita memiliki rasa untuk Austin. Bisa dikatakan, Austin adalah cinta pertama Renita, sama seperti Shabira.
Justin sangat memahami hal itu. Bagaimanapun juga, Austin termasuk cowok famous di sekolah. Dengan sikap dinginnya, cowok itu mampu menarik hati para kaum hawa di sekolah. Termasuk, Renita dan Shabira. Meskipun Justin sendiri justru sangat membenci Austin, karena sikapnya yang terlalu menyepelekan keberadaan orang lain.
Melihat adiknya masih saja menangis, Justin mendorongnya hingga kembali duduk tegak. Memegangi kedua bahunya, seraya menatap serius mata Renita. "Dengar Renita! Kamu nggak perlu sedih kayak gini, masih banyak cowok di dunia ini yang jauh lebih baik dari Austin. Kamu cantik, kamu baik, Kakak yakin kamu bisa dapet yang lebih baik dari cowok itu."
"Tapi Kak, aku nggak bisa. Udah lama aku suka sama dia, tapi kenapa Papa malah jodohin dia sama Shabira. Bukan aku hiks," isak Renita menunjukan dirinya sendiri. "Kenapa Papa dan Mama nggak pernah mau ngerti perasaan aku, Kak? Siapa sebenarnya anak kandung Papa dan Mama di sini?"
Justin terdiam, sedikit tidak suka mendengar pertanyaan Renita barusan. Bagaimanapun juga, ia bukan anak kandung dari Papa Antonio. Sama seperti Shabira yang nyatanya bukan anak kandung dari Mama Shinta. Yang Justin tahu, hanya Renita lah putri kandung dari pasangan tersebut. Mama dan Papa tidak pernah membicarakan hal ini, mungkin karena mereka paham hal ini hanya akan menyakiti keluarga mereka satu sama lain.
"Tapi Kak ---"
"Ssstttt udah, masa depan kamu masih panjang. Bisa saja besok kamu ketemu seseorang yang jauh lebih baik dari Austin," ucap Justin, menarik Renita masuk ke dalam pelukannya.
Renita masih berpura-pura terisak dalam pelukan Justin. Sedikit merutuk karena ia gagal membuat Justin berpihak padanya. Akan tetapi, ia tidak akan menyerah. Perlahan, ia akan membuat Justin berpihak padanya, sesuai yang ia inginkan.
Gue nggak akan tinggal diam kalo sampai mereka benar-benar tunangan! Karena Austin cuma punya gue seorang!
"Tenang ya, Kakak yakin kamu bisa. Oke?" Justin tersenyum melihat Renita kini sudah berhenti menangis. "Ya udah, coba Kakak liat luka kamu. Biar Kakak obatin!"
Seketika Renita perlahan menyembunyikan tangannya, jangan sampai Justin tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Eum itu, nggak perlu Kak, biar aku aja yang obatin. Lagian lukanya kecil kok, aku bisa sendiri. Kakak mending ke kamar aja, istirahat, udah malem."
__ADS_1
"Tapi kamar kamu gimana?" tanya Justin ragu untuk pergi.
"Udah Kak, nggak papa kok. Aku bisa beresin sendiri nanti!" ucap Renita seraya mengusir.
"Ya udah, Kakak balik ke kamar dulu ya. Kamu abis ini langsung tidur aja. Udah malem soalnya!" Justin mengusap puncak kepala Renita, sebelum kemudian ia pergi meninggalkan kamar yang masih sangat berantakan itu.
"Huft untung aja ga ketahuan!" Renita mengusap dadanya bernafas lega, lalu menatap jari tangannya yang dalam keadaan baik-baik saja. Sebelum Justin membuka pintu, ia memang sempat mengambil cairan berwarna merah di dalam nakas.
"Maafin aku, Kak. Nggak ada cara lain lagi, aku cuma ingin mempertahankan hak ku. Aku nggak mau diem lagi kayak dulu!" lirih Renita memandang pintu kamar yang sudah tertutup sempurna.
Sementara di luar kamar, Justin yang baru menutup pintu langsung dikejutkan oleh keberadaan Shabira di sana. Justin termangu, ia tidak ingin Shabira mendengar semua pembicaraan dirinya dan Renita sebelumnya. Sebagai seorang kakak, tentu ia hanya menginginkan yang terbaik untuk kedua adiknya. Akan tetapi, kini ia merasa bersalah di hadapan Shabira karena telah membela Renita tadi.
"Shabira, sejak kapan kamu di sini?" tanya Justin basa basi.
"Sejak Kakak masuk ke kamar ini," jawab Shabira. Sama seperti Justin, Shabira pun sempat mendengar suara beberapa benda jatuh dari kamar Renita. Kamar mereka bertiga memang berdampingan, berbeda dengan kamar Papa dan Mama yang berada di lantai satu.
"Apa kamu ...."
"Ya, aku denger semuanya. Tapi maafin aku, Kak. Karena aku nggak akan pernah biarin Austin menolak perjodohan ini!" tegas Shabira.
"Kamu beneran suka sama Austin?" tanya Justin. Sebenarnya ia sedikit heran dengan sikap Shabira yang sekarang. Biasanya gadis itu akan mengalah ketika mendengar Renita menginginkan sesuatu yang dimiliki olehnya. Akan tetapi, sekarang Shabira justru ingin mempertahankan apa yang akan ia miliki.
"Menurut Kak Justin?" tanya Shabira datar. Gadis itu melangkahkan kakinya mendekat. "Sama seperti Renita, aku juga menyukai Austin sejak dulu. Kalo sekarang Kakak juga mau memintanya untuk Renita, maaf aku tidak bisa Kak. Dulu Kakak selalu meminta barang milikku hanya untuk diberikan pada Renita dan aku selalu memberikannya. Bahkan satu kali pun kakak nggak pernah bertanya, bagaimana perasaan ku saat itu, ketika barang kesayanganku dimiliki oleh Renita."
"Kalau sekarang Kakak mau minta barang kesayanganku lagi, maaf sekali aku tidak akan bisa memberikannya lagi. Karena sekarang aku nggak punya apa-apa, aku cuma punya Austin. Sementara Papa kandung yang aku punya bahkan selalu membandingkan aku dengan Renita, dia selalu memuji Renita di hadapanku. Lalu apa yang akan Kakak lakukan jika berada di posisiku?" tanya Shabira setelah berbicara panjang lebar.
"Aku tahu Kakak pasti akan memilih untuk mempertahankan cinta itu, sama sepertiku!"
Shabira beranjak pergi, setelah berhasil membuat Justin terdiam seribu bahasa. Kini Justin baru menyadari, bahwa selama ini dirinya selalu berpihak pada Renita tanpa memikirkan perasaan adik bungsunya. Dirinya tidak pernah peka terhadap Shabira, karena sejak dulu Shabira tidak pernah terlihat mengeluh di hadapan semua orang. Berbeda dengan Renita yang selalu mengungkapkan keluh kesahnya hanya pada Justin.
__ADS_1
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...