Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
24. Penghianat Sebenarnya


__ADS_3

Plakk...


Ronna memejamkan mata, tamparan keras baru saja mendarat di pipinya. Di depan ruang guru, Ayah menampar dirinya tanpa merasa kasihan sedikitpun. Memang ini adalah kesalahannya, kepala sekolah baru saja memutuskan untuk mengeluarkan Ronna dari sekolah. Akan tetapi, tetap saja Ronna tidak suka dengan sikap ayahnya yang selalu main tangan terhadap dirinya.


"Ayah rasa hukuman ini belum mampu membuatmu sadar Ronna, sudah Ayah katakan jangan pernah macam-macam di sekolah! Tugasmu itu hanya belajar, bukan malah bermain-main dengan orang yang tidak berguna seperti ini!"


Ronna memandang Ayah kesal, tatapan tajam mata itu justru tidak membuatnya merasa takut. Bahkan jika boleh dikatakan, tindakan Ayahnya itu malah semakin menumbuhkan rasa benci di hati Ronna. Sejak dulu, Ayah memang selalu sikap kasar ketika Ronna melakukan kesalahan.


"Kamu liat sekarang! Bukan dia yang dikeluarkan dari sekolah, tapi malah kamu! Kalo dari awal kamu tidak bisa menyingkirkannya dari sekolah, maka lebih baik jangan lakukan apapun!"


Ronna menatap bingung, kalimat yang diucapkan Ayah terdengar seakan mendukung apa yang dirinya lakukan. "Jadi maksudnya, Ayah ingin aku menyingkirkannya?"


"Ayah tidak peduli dengan hal itu, Ayah hanya tidak ingin kamu dikalahkan seperti ini. Sekarang lihat? Karena kebodohan mu, kamu dikeluarkan dari sekolah. Jadi sekarang kamu akan Ayah kirim ke luar negeri, mulai besok kamu akan tinggal bersama Mommy mu!"


"Tapi Dad, aku nggak mau. Aku nggak mau tinggal sama Mommy, aku mau sama Daddy!"


Sekuat tenaga Ronna mencegah, tapi tetap saja hal itu tidak bisa menghentikan Ayahnya. Kini gadis itu hanya bisa terpaku ditempat, seraya menatap kepergian Ayahnya dengan raut wajah yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Tinggal bersama Mommy hanya akan membuat hidup Ronna semakin berantakan. Selain karena sikap dingin Mommy, Ronna juga harus menghadapi kenakalan kedua saudara tirinya.


"Shabira, ini semua gara-gara lo!" geram Ronna.


Tatapan gadis itu menajam, tangannya terkepal kuat hingga tampak ujung kukunya sedikit memutih. Mengingat nama Shabira membuatnya kesal, gadis itu mulai melangkahkan kakinya mencari keberadaan gadis yang telah membuat dirinya dikeluarkan dari sekolah.


"Milka, Bella, ikut gue!" ucap Ronna. Kedua sahabatnya itu baru saja keluar dari ruang guru, bersama ibu mereka masing-masing.


"Eh mau ke mana kalian!" cegah salah satu wanita paruh baya, ibu Milka.


Bukannya menjawab, ketiga gadis itu justru langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Jika mengatakan tujuannya, sudah dipastikan mereka tidak akan lagi mendapatkan izin dari orangtuanya. Untuk terakhir kalinya, mereka ingin membalas apa yang telah Shabira lakukan.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, kini ketiga gadis itu sudah berada di depan kelas milik Shabira. Baru ada beberapa siswa di dalam kelas, tampaknya Shabira belum sampai di sekolah. Waktu memang masih menunjukkan pukul tujuh. Tidak berselang lama, terlihat Shabira berjalan melewati koridor seorang diri. Ronna tersenyum penuh arti, kemudian berjalan mendekat diikuti kedua sahabatnya.


"Mau apa lagi kalian?" tanya Shabira.


Kini Ronna, Milka dan Bella sudah berdiri di hadapan Shabira. Menatap gadis itu dengan raut wajah penuh dendam. Shabira hanya diam, bingung dengan sikap ketiga gadis di hadapannya itu.


"Mau gue?" Ronna terkekeh, "Melakukan apa yang seharusnya gue lakukan dari dulu!" ucapnya.


"Guys, seret dia ke belakang!" titah Ronna. Milka dan Bella mengangguk, kemudian mendekati Shabira hendak mengunci pergerakannya.


"Nggak semudah itu!"


Tanpa diduga, Shabira langsung memberikan perlawanan. Ia tidak ingin membuat kesalahan yang justru akan membahayakan dirinya. Terlihat, kini Bella dan Milka sudah tersungkur ke lantai, setelah mendapat dorongan kuat dari Shabira.


"Anjing, sakit pantat gue!" Milka meringis, memegangi pantatnya yang terasa sakit.


"Milk kepala lo bantet! Nama gue Milka, bukan Milk, lo pikir gue susu!" omel Milka kesal.


"Iya gue tau nama lo Milka, makanya gue panggil Milk. Apa salahnya sih?" gerutu Bella.


"Udah diem, bacot lo bedua! Cuma ngurus satu bocah aja nggak mampu!" lerai Ronna dengan kesal.


Mau tidak mau Ronna turun tangan, ikut memberikan serangan untuk melumpuhkan Shabira. Mamun siapa sangka, dalam waktu cepat Shabira mampu menghentikan Ronna. Gadis itu kini terjatuh di lantai, setelah mendapat tendangan dari Shabira. Tidak ingin membuang-buang waktu, Shabira langsung mendekati Ronna dan menjambak rambutnya.


"Udah gue bilang sama lo, jangan pernah ganggu gue lagi. Tadinya gue pengen ngomong ke kepala sekolah biar nggak usah keluarin lo dari sekolah. Tapi apa yang lo lakuin sekarang bikin gue makin yakin buat biarin lo pergi, dengan begini hidup gue bakal lebih damai!" ucap Shabira.


"Tadinya gue berharap setelah kejadian ini lo bakal sadar sama kesalahan lo, tapi ternyata gue salah, sampai kapanpun Ronna akan tetap menjadi Ronna. Sekarang, gue cuma mau bilang selamat atas kepergian lo. Gue harap lo bakal betah tinggal sama Mommy lo yang galak itu!"

__ADS_1


Shabira tergelak, saat diparkiran tadi ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Ayah Ronna dengan seseorang di seberang telepon. Ayah Ronna mengatakan ingin mengirim Ronna ke luar negeri dan tinggal bersama Ibunya. Keputusan Ayahnya memang terlalu beresiko, sebenarnya Shabira tidak menduga hal itu akan terjadi.


Setelah mendengar pembicaraan Ayah Ronna, Shabira sebenarnya berniat untuk mengajukan permohonan kepada pihak sekolah agar tidak mengeluarkan Ronna dari sekolah. Namun semua itu berubah, ketika mendapati perlakuan tidak menyenangkan Ronna barusan.


"Sialan!" ucap Ronna lirih.


Shabira hanya tersenyum miring, kemudian beralih menatap kedua sahabat Ronna, Milka dan Bella. "Ah ya, dan buat lo berdua. Gue bakal pikirin cara biar bisa keluarin lo secepetnya, biar lo berdua bisa nyusul Ronna."


Setelah mengatakan hal itu, Shabira langsung pergi menuju kelasnya. Tidak peduli dengan tatapan aneh para siswa di sekitar sana, Shabira berjalan dengan langkah mantap. Berbeda dengan Ronna yang kini masih duduk dengan wajah syok. Mendengar ucapan Shabira membuat dirinya bertanya-tanya, seraya menatap kedua sahabatnya dengan bingung.


"Maksud Shabira apa? Kalian berdua nggak dikeluarin dari sekolah?" tanya Ronna penuh penasaran.


Seketika Milka dan Bella gelagapan, memang benar mereka tidak jadi dikeluarkan dari sekolah. Semua itu karena orang tua mereka memberikan pernyataan yang membuat Ronna semakin terpojok. Semua yang dilakukan Milka dan Bella murni atas pengaruh negatif Ronna, itulah pembelaan yang dikatakan kedua orang tua kedua gadis itu. Dan mereka memilih membenarkannya agar tidak dikeluarkan dari sekolah.


"Jadi kalian berdua hianatin gue?!" teriak Ronna setelah mendapat jawaban dari kedua sahabatnya.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Pesona Sang Diva


Napen : Nezha Ageha



...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2