
Shabira Lawrence. Austin!
Gue boleh tanya sesuatu ga?
^^^Austin Lloyd. Knp?^^^
Shabira Lawrence. Lo lagi di mana?
Cukup lama tidak ada jawaban, Shabira masih tetep setia menunggu. Entah apa yang sedang dilakukan Austin saat ini, hingga untuk sekedar membalas pesan pun cowok itu tidak bisa. Shabira yang mulai kesal kini kembali mengirimkan pesan.
Shabira Lawrence Austin, gue tau lo udah baca cht gue.
Buset dah, diem aja. Tinggal jawab doang juga, lama!
Ya elah cuek sih boleh aja, tapi nggak ke chtan juga kali!
Austin!
^^^Austin Lloyd. Rmh^^^
Shabira Lawrence. Hah?
Lo ngomong apa sih?
Ga paham gue, anjir!
Siapa yang ramah?
Eh tapi, ramah apa rumah nih maksudnya?
^^^Austin Lloyd. Rumah, gue lagi di rumah!^^^
Shabira Lawrence. Owh lo lagi di rumah, gue pikir apaan rmh.
Lagian lo irit banget sih, ngapain pake disingkat segala. Ga paham gue!
__ADS_1
^^^Austin Lloyd. Berisik! Mau apa buru!^^^
Shabira Lawrence. Hehe sans dong, gue nggak mau apa-apa kok.
Cuma mau tanya itu doang 🙃
Jadi lo nggak lagi di apartemen sekarang?
^^^Austin Lloyd. Egk!^^^
Shabira Lawrence. Yah padahal gue udah di depan apart lo sekarang.
^^^Austin Lloyd. Bkn urusan gw!^^^
Shabira Lawrence. Masa sih?
Yah, rencananya sih gue mau nemuin lo tadi. Siapa tau aja lo kangen sama gue, ya kan?
^^^Austin Lloyd. Nggak!^^^
Kangen nggak, kangen nggak? Ya kangen lah, masa enggak!
...Tidak dapat mengirimkan pesan, Austin telah memblokir nomor Anda...
Mata Shabira membulat sempurna, menatap layar ponsel yang sudah tidak bisa mengirimkan pesan lagi. Padahal, tadinya ia sedang mengetik pesan untuk Austin. Kini gadis itu hanya mampu tercengang, Austin baru saja memblokir nomornya.
"Anjir, diblok beneran dong!" heboh Shabira mencengkeram ponselnya. "Gila, kenapa gue bisa lupa karakter lo yang satu ini. Sialan! Untung tokoh paling ganteng lo, kalo enggak udah gue biarin kali lo buat Renita dari kemaren!" lanjutnya.
Dengan rasa kesalnya, Shabira memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Di depan pintu apartemen milik Austin itu, pandangannya melirik ke kanan dan kiri secara diam-diam. Shabira memang sengaja menanyakan keberadaan Austin tadi, karena malam ini ia berencana untuk menginap di apartemen cowok itu.
"Huft tapi nggak masalah, yang penting lo nggak lagi di apartemen malam ini. Jadi gue bisa tidur sepuas gue di sini!"
Shabira melebarkan senyumnya, kemudian mulai memasukkan password apartemen milik Austin. Hal itu bukan sesuatu yang sulit bagi Shabira, ia masih mengingat jelas, password apartemen yang selalu digunakan Austin ketika menulis novel dulu.
"Semoga aja malam ini lo tidur di rumah ya, Austin!" ucap Shabira sembari masuk ke dalam apartemen. "Cuma malam ini doang kok, gue lagi males di rumah. Pasti nanti ribut lagi kayak tadi!"
__ADS_1
Shabira mendengus, seraya melemparkan tasnya ke sofa. Mengingat perilaku kasar Papa Antonio kembali membuatnya meradang. Setidaknya, untuk sementara ia hanya ingin mengistirahatkan diri dengan tenang, setelah banyaknya masalah yang ia hadapi hari ini.
"Masa bodo kalo mereka nyari, eh tapi kayaknya enggak mungkin sih. Mana mungkin Papa nyariin gue, setelah apa yang dia lakuin tadi!" ucap Shabira mengalihkan pemikiran. "Ah bodo amat lah, mending gue tidur aja!"
Shabira berlari menuju kamar, senyum lebar kembali terukir di bibir. Gadis itu masih mencoba untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal yang membuatnya kesal, termasuk apa yang telah dilakukan Papa Antonio.
Sesampainya di dalam kamar, hanya satu hal yang menjadi kesan pertama untuknya. Jika biasanya tokoh novel pria yang ia buat selalu disiplin dan rapi, kali ini tidak dengan Austin. Shabira melupakan satu kenyataan tentang Austin, cowok yang terkenal dingin itu benar-benar seorang pemalas sejati.
Di depan pintu kamar yang sudah terbuka lebar itu, Shabira hanya mampu membulatkan bibir. Lagi dan lagi ia tercengang dengan tingkah Austin. Shabira tidak pernah menyangka kamar Austin akan sangat berantakan seperti kapal pecah. Padahal, dulu ia tidak pernah menggambarkan dengan detail seperti kamar Austin ketika masih di dunia nyata.
"Astaga, ini kamar atau kandang ayam?" celetuk Shabira.
Gadis itu menghela nafas, menatap kamar milik Austin yang amat sangat berantakan. Semua barang milik cowok itu tertata di sembarang tempat, mau tidak mau Shabira harus merapikannya jika ingin tidur dengan nyenyak.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Shabira menarik ke atas kedua lengan bajunya, ia sudah siap berjibaku dengan barang-barang milik Austin yang berserakan di setiap sudut kamar. Dengan cekatan, ia mulai merapikannya satu persatu.
Hingga satu jam berlalu, Shabira sudah berhasil membersihkan dan merapikan kamar. Senyum penuh bangga terukir di bibir Shabira, gadis itu merasa sangat puas setelah melihat kamar sudah sangat rapi. Sebagai gadis yang sangat menyukai kerapian, tentu Shabira tidak suka melihat satu benda pun terletak tidak pada tempatnya.
"Akhirnya selesai juga, huft!" Shabira menghembuskan nafas, menepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu yang masih tersisa. "Huuuaaaahhhhh ngantuk banget gue!"
Karena lelah, Shabira menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Niat yang awalnya hanya ingin merebahkan diri sejenak justru malah membuatnya ketiduran. Padahal, sebelumnya ia berencana hendak mandi terlebih dahulu. Namun karena kenyamanan ranjang dan selimut lembut yang menutupi sebagian tubuhnya membuat Shabira semakin hanyut dan mulai terbawa arus mimpi.
Tanpa gadis itu sadari, dari arah pintu tampak seseorang datang dan langsung merebahkan diri di sampingnya. Shabira tidak merasa terusik, rasa lelah membuatnya terlelap begitu dalam di alam bawah sadarnya. Selimut yang sebelumnya hanya menutupi sebagian tubuh Shabira, kini perlahan mulai menutupi tubuh dua orang di atas ranjang itu.
🎀🎀🎀
Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Ex-Mafia Hot Daddy
Napen : Bhebz
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1