Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
26. Penyesalan


__ADS_3

"Di titik ini, gue baru sadar. Orang yang gue anggap sahabat, ternyata adalah musuh yang paling berbahaya yang sebenarnya harus dihindari."


Ronna mengepalkan tangannya, setelah mendengar penjelasan dari kedua sahabatnya. Milka dan Bella masih menunduk, merasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan. Agar tidak ikut dikeluarkan dari sekolah, mereka dengan tega mengkambing hitamkan Ronna atas semua pembullyan yang terjadi pada Shabira.


"Maafin kita, Ron. Semua nggak seperti yang lo pikirin, kita cuma ... cuma ngikutin apa kata Mommy. Kita nggak mau di keluarin dari sekolah," ucap Bella lirih.


Plakk


Tamparan keras mendarat di pipi Bella, Ronna semakin geram setelah mendengar alasnya. "LO PIKIR GUE MAU DIKELUARIN DARI SEKOLAH, HAH?!" bentaknya.


"RONNA, LO GILA YA!" Milka meraih tangan Bella yang masih tertunduk memegangi pipi. Ia tidak suka melihat kedua sahabatnya saling bertengkar seperti ini.


"Gila? Iya, gue emang gila. Gue gila karena bisa-bisanya mau sahabatan sama kalian berdua, sialan!" bentak Ronna dengan suara meninggi.


"RONNA, LO BENER-BENER KETERLALUAN! GUE NYESEL PUNYA SAHABAT EGOIS KAYAK LO! MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH DEKETIN KITA LAGI!" Bella membentak keras, kemudian menarik Milka untuk pergi dari area belakang sekolah.


"AARRGGGHHH SIALAN LO SEMUA, AARRGGGHHH!"


Melihat kedua sahabatnya pergi, Ronna berteriak histeris seraya menjambak rambutnya. Rasa marah, kecewa dan penyesalan kini bercampur aduk menjadi satu dalam benaknya. Seandainya dulu ia tidak melakukan semua itu, mungkin sekarang ia tidak akan mengalami hal ini.


Sekarang gue harus apa? Cuma gue yang dikeluarin dari sekolah, sementara lo bedua enggak! Padahal semua itu bukan sepenuhnya salah gue, semua karena ... Renita.


Ronna menatap tajam ke depan, kedua tangannya terkepal kuat hingga tampak ujung kukunya sedikit memutih. Kini dirinya baru menyadari, Renita adalah orang pertama yang selalu menceritakan keburukan Shabira di hadapannya. Ronna sadar semua yang dikatakan Renita tentang Shabira selalu membuatnya marah.


Entah benar atau tidak, Ronna merasa Renita sengaja mengadu domba dirinya dengan Shabira sekarang. Bukannya apa, selama ini Renita selalu menceritakan hal buruk tentang Shabira di hadapannya. Meskipun sebenarnya Ronna tidak pernah melihatnya secara langsung. Namun sebagai sahabat, tentu saja Ronna sangat mempercayai apa kata Renita dulu.


Renita, kalo emang semua dugaan gue bener. Lo bener-bener keterlaluan!


Ronna berjalan dengan cepat untuk mencari keberadaan Renita. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya, ia ingin memastikan semuanya, sambil berharap dugaannya tidaklah benar. Dengan itu, ia tidak akan terlalu menyesal karena telah mempercayai Renita sejak dulu.


"Renita, tunggu!" Melihat Renita sedang berjalan di depan kelas, Ronna segera mengejar kemudian menariknya ketempat yang lebih sepi.


"Aw aw sakit, lo apa-apaan sih!" Renita menghempas tangan Ronna yang mencengkeram lengan tangannya.


"Jawab gue, lo sengaja kan bikin gue salah paham sama Shabira?" tanya Ronna langsung pada intinya.

__ADS_1


Renita mengerutkan keningnya, tidak paham. "Maksud lo apa sih? Gue nggak ngerti!"


"Nggak usah pura-pura lagi, sejauh ini gue udah cukup tau tentang semua akal busuk lo. Nggak bisa dipungkiri lagi, lo pasti sengaja kan bikin gue salah paham tentang Shabira. Lo sengaja buat Shabira keliatan buruk di depan semua orang, termasuk gue? Padahal nggak semua yang lo ceritain itu bener!" Ronna bertanya seraya menatap penuh selidik, tangannya kembali mencengkeram lengan Renita.


Sesaat Renita terdiam, apa yang dikatakan Ronna memang benar. Selama ini gadis itu sengaja membuat Ronna perlahan membenci Shabira, berharap hal itu akan membuat Shabira segera pergi dari sekolah atau bahkan dari rumah. Kini tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, Renita menepis tangan Ronna dengan kasar.


"Ok gue bakal jujur sama lo, gimanapun juga lo bakal tetep pergi dari sini setelah ini. Iya, gue emang sengaja ngelakuin itu. Gue sengaja bikin lo nggak suka sama Shabira. Lo tau kenapa? Karena gue pengen buat Shabira cepet pergi dari kehidupan gue dan keluarga gue."


"Dan asal lo tau, sebenarnya Shabira bukan anak pungut. Dia anak kandung bokap gue, dan gue sangat membenci kenyataan itu!" kata Renita panjang lebar.


"Jadi Shabira saudara lo?" Ronna menatap tidak percaya. "Kenapa lo lakuin ini ke gue sialan!"


"Dulu gue pikir cuma lo yang bisa bikin Shabira keluar dari sekolah, gue bahkan sempet berpikir lo bakal bikin Shabira depresi sampai bunuh diri. Tapi ternyata nggak, justru lo lebih bego dari Shabira. Lo bahkan bisa dengan gampangnya dikeluarin dari sekolah sekarang!" Renita terkekeh sembari menggeleng, kemudian menepuk bahu Ronna.


"Lo tau alasannya sekarang? Gue cuma mau ucapin selamat tinggal buat lo. Gue cabut dulu, masih ada kelas setelah ini." Renita tersenyum jahat, kemudian menutup mulutnya dengan tangan. "Ups gue lupa, lo kan udah dikeluarin dari sekolah!"


Renita melangkahkan kakinya pergi setelah mengatakan hal yang membuat Ronna naik darah.


"AARRGGGHHH SIALAN!" teriak Ronna seraya menendang tong sampah. Nafasnya memburu, tangannya terkepal seraya menatap tajam punggung Renita. "Jangan panggil gue Ronna, kalo gue nggak bisa bikin kalian semua menyesal!"


"Gue denger-denger Ronna nggak jadi dikeluarin dari sekolah," ucap salah satu siswa terdengar jelas di telinga Ronna.


"Iya, tadi gue liat Shabira abis dari ruang guru. Kayaknya dia ke sana buat nolongin Ronna, biar nggak dikeluarin dari sekolah." Lirikan kebencian dari semua siswa tertuju pada Ronna, sebenarnya mereka lebih suka jika Ronna tetap dikeluarkan dari sekolah.


"Ish kalo gue jadi Shabira mending gue biarin aja dia ditendang dari sekolah. Bego banget sih Shabira, beruntung aja tuh Ronna ketemu orang baik kayak Shabira," sahut yang lainnya.


Mendengar ucapan para siswa di sana, Ronna kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kelas Shabira. Bagaimanapun juga ia harus memastikan kebenarannya, semua yang dikatakan para siswa tadi. Ronna merasa ini suatu penghinaan besar jika Shabira benar-benar membantu dirinya agar tidak dikeluarkan dari sekolah.


"SHABIRA!"


Belum sempat Ronna sampai di kelas Shabira, gadis itu sudah lebih dulu bertemu di samping lapangan. Terlihat Shabira bersama Austin sedang membawa buku di tangan masing-masing. Namun, Austin langsung pergi sebelum Ronna sampai di tempat Shabira berada.


"Apa semua yang mereka bilang itu bener?" tanya Ronna langsung.


"Apa?" tanya Shabira tidak mengerti.

__ADS_1


"Apa bener karena lo, gue nggak jadi dikeluarin dari sekolah?" tanya Ronna mengulang.


"Oh soal itu," ucap Shabira mengangguk membenarkan.


"Maksud lo apa hah? Lo mau ngebuktiin berapa mirisnya hidup gue sekarang? Sampai gue harus minta belas kasih lo buat selamatin gue dari lubang neraka?" tanya Ronna setelah membentak. "Lo mau pamer, betapa baiknya lo dihadapan semua orang?"


"Kenapa lo mau lakuin itu hah? Gue itu udah jahat sama lo, kalo lo lupa!" bentak Ronna lagi.


"Siapa bilang gue baik? Gue cuma mau kasih kesempatan kedua buat lo, setelah apa yang udah temen-temen lo lakuin buat lo. Jadi jangan sia-siain kesempatan ini, lo masih bisa jadi orang yang lebih baik setelah ini!" kata Shabira.


Sebelumnya Shabira memang sempat mendengar percakapan antara Ronna dengan Renita. Kejujuran yang dikatakan Renita berhasil menyadarkan Shabira untuk melakukan antisipasi. Dengan adanya Ronna yang kini membenci Renita, pasti akan lebih sulit bagi gadis itu untuk melakukan sesuatu pada Shabira.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Obsesi Kakaku Kepadaku


Napen : Amandaferina06


Obsesi yang tidak pantas seorang kakak terhadap adiknya sendiri. Viktor Alexander Aganta, itulah nama lengkap dari sosok abang yang begitu kejam dan sangat terobsesi dengan adiknya, Quenna Anezka Aganta.


Viktor selalu menggunakan penutup wajah setelah tragedi kelam beberapa tahun lalu hingga tidak sekalipun yang mengetahui rupa tampan dari sosok Viktor, bahkan Quenna sendiri.


Quenna tidak pernah melihat wajah sang Abang bertahun-tahun lamanya usai insiden yang menjadi kunci utama hancurnya hidup Quenna karena obsesi abangnya.


Kematian seluruh keluarganya dan obsesi abangnya telah membuat Quenna percaya bahwa ia berada dibawah kendali Viktor, ia menjadi budak Viktor abangnya sendiri.


"Hentikan perbuatan tidak pantas ini Kak, aku adik mu, adik kandung mu!!"


"Kenapa aku harus mengehentikan? Aku bahkan bisa lebih dari ini, membuat mu mengandung anak ku, misalnya?"



...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2