Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
07. Kabar Tak Terduga


__ADS_3

Antonio mengedarkan pandangannya, menatap semua anggota keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga. Rencananya, ia dan istri hendak memberitahu Renita dan Justin tentang rencana perjodohan Shabira dengan putra dari sahabatnya. Karena memang, dari awal Antonio belum memberitahu ketiga anaknya sebelum pertemuannya dengan Tuan Ray di restoran beberapa jam yang lalu.


"Papa sebenarnya mau bicara apa sih, tumben banget minta kita kumpul di sini?" Setelah cukup lama terdiam, Justin yang sudah penasaran kini mulai bertanya. Merasa bingung dengan suasana kaku yang terjadi di sana.


"Ekhem, begini. Sebenarnya, di sini Papa hanya ingin memberitahu kalian, kalau sebentar lagi mungkin Shabira akan bertunangan," ucap Antonio.


"What? Tunangan?" ucap Justin spontan terkejut.


Bukan hanya Justin, Renita pun sebenarnya terkejut. Hanya saja, gadis itu enggan mengucapkan sepatah katapun. Bibir keduanya membulat sempurna, tampak tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan. Secara bersamaan, keduanya menoleh ke arah Shabira yang sejak tadi duduk santai di sofa sebelah.


"Papa bercanda?"


"Maksud Papa apa?"


"Shabira mau tunangan? Tunangan sama siapa?"


Serentetan pertanyaan Justin lontarkan. Masih tidak mengerti, bagaimana bisa Shabira akan bertunangan di usianya yang masih delapan belas tahun. Sebagai seorang kakak, tentu Justin tidak bisa tinggal diam membiarkan ini semua. Meskipun sebenarnya, ia tidak terlalu dekat dengan Shabira. Karena pada kenyataannya, Shabira yang terlalu pendiam mengakibatkan berkurangnya komunikasi dirinya pada semua orang, termasuk Justin.


"Tenanglah, Papa tahu menurut kalian ini semua terlalu mendadak untuk Shabira, tapi sebenarnya Papa sudah mempertimbangkan semua dari awal. Kalian tenang saja, untuk sekarang, Shabira hanya akan bertunangan dulu dengan anak teman Papa. Setelahnya, kita akan menentukan kapan baiknya mereka menikah. Tadi Papa, Mama dan Shabira juga sudah membicarakan hal ini di restoran, bersama keluarga mereka," ucap Antonio menjelaskan panjang lebar.


"Menikah? Aku saja masih jomblo, bagiamana mungkin Shabira menikah?" ujar Justin syok.


"Karena itu, Papa dan teman Papa memutuskan untuk mengadakan pertunangan lebih dulu untuk sementara ini. Kalo untuk masalah kamu yang jomblo, itu karena kamu kurang pintar merayu wanita!" ujar Antonio sedikit mengejek.


"Aku nggak bercanda Pah! Gimana bisa Shabira tunangan, sementara pacaran aja nggak pernah!" ujar Justin lagi.


Dalam diam, Shabira sejak tadi memperhatikan Renita yang beberapa kali terlihat menyembunyikan senyumnya. Sangat jelas raut kebahagiaan tercetak di wajah gadis itu, setelah mendengar Shabira akan dijodohkan dengan seseorang. Tangan Shabira terkepal, seringai tipis terukir di bibirnya melihat kebahagiaan Renita yang mungkin sebentar lagi akan segera sirna.


"Tenang, Papa juga belum bisa memastikan apakah rencana perjodohan ini akan berlanjut atau tidak." Antonio melanjutkan ucapannya, seraya mengambil secangkir kopi di depannya.

__ADS_1


Renita yang awalnya menunduk menahan senyum, kini spontan mendongak. Menatap ke arah Papa dengan raut wajah seolah tidak terima. "Lho, kenapa memangnya Pa?" tanyanya spontan.


"Kenapa?" Antonio mengerutkan dahi, begitu juga yang lainnya. Reaksi terkejut Renita sangat menjelaskan bahwa sebenarnya ia sangat mendukung rencana perjodohan ini. Mungkin hal ini yang memang diinginkan Antonio. Akan tetapi, reaksi spontan Renita sangat berbanding terbalik dengan sikap seorang kakak yang seharusnya tidak akan menyetujui perjodohan ini dengan mudahnya.


"Ah maaf, maksudku ...." Renita menggantungkan ucapnya, tidak tahu harus mengatakan apa.


"Tidak apa, Papa justru senang kalau kalian memang menyetujui perjodohan ini untuk Shabira. Masalahnya, anak teman Papa masih belum ingin melanjutkan pertunangan ini, jadi kita tinggal menunggu saja jawaban dari pihak mereka," lanjut Antonio.


Seketika Renita tersedak, ia tidak mampu menahan rasa ingin tertawanya hingga berpura-pura terbatuk menjadi jalan terbaik menurutnya. Gadis itu membuang muka sambil terbatuk, menyembunyikan senyum penuh ejek yang sebenarnya terukir setelah mendengar berita bahwa ternyata calon tunangan Shabira menolak perjodohan ini.


Meskipun Papa Antonio mengutarakan dengan cara yang cukup halus, tetap saja Renita sangat memahami makna penolakan yang terjadi sebenarnya. Jika bukan di depan semua anggota keluarga, mungkin saat ini Renita sudah tertawa sejadi-jadinya. Mengejek nasib Shabira yang ternyata ditolak oleh calon tunangannya. Semua itu tidak lepas dari pandangan Shabira, senyum mengejek serta raut wajah penuh bahagia Renita semakin membuat Shabira merasa tertantang.


"Tenang aja Pa, pertunangan ini akan tetap berlanjut. Aku akan membuat Austin menyukaiku dan menerima perjodohan ini!" ucap Shabira dengan mantap.


Melihat semua ejekan Renita sejak tadi, berhasil membuat Shabira kesal. Karena itu, Shabira dengan sengaja menyebutkan nama Austin di hadapan semua orang. Shabira tahu, kalau sebenarnya Renita sudah menyukai Austin sejak lama, sama seperti dirinya. Buktinya, ucapannya tadi berhasil menghentikan raut kebahagiaan di wajah Renita sekarang.


"Austin?" lirih Renita bertanya.


"Bagaimana mungkin?" monolog Renita tidak percaya.


"Apanya yang tidak mungkin? Austin Lloyd itu kan anak teman Papa, aku sangat yakin Austin akan menerima perjodohan ini nanti!" ucap Shabira semakin ingin membuat Renita terguncang. Tekat Shabira sudah sangat bulat, ia akan menyatukan cintanya dengan Austin sekarang. Bukan hanya untuk menuruti keinginan hati Shabira, tapi juga untuk membalaskan semua perlakuan Renita padanya sejak dulu.


Renita menatap Shabira dengan raut wajah tidak percaya. Bagaimana mungkin cowok yang ia cintai akan bertunangan dengan seseorang yang sangat dibencinya selama ini. Tidak mungkin, Renita tidak ingin menerima kenyataan ini. Mana mungkin ia akan rela melihat keduanya selalu bersama nanti. Sementara dirinya? Dirinya hanya akan menjadi penonton setia kebersamaan mereka.


"Syukurlah, sepertinya kamu sangat menyukai Austin, Shabira!" ucap Antonio. Awalnya Antonio sebenarnya sedikit ragu putrinya akan menerima dengan mudah rencana perjodohan ini. Tapi sekarang, ia merasa lega karena ternyata Shabira sangat menyukai Austin. Dengan ini, ia tidak perlu menahan rasa bersalah, karena perjodohan paksa tidak akan pernah terjadi lagi di keluarganya.


Shabira hanya tersenyum kecil menatap Papanya. Berbeda halnya dengan Renita yang kini menatap Papanya dengan raut wajah tidak suka. Sementara Justin kini hanya diam, ia sudah tidak berniat menyanggah pembicaraan keluarganya. Jika memang Shabira menyukai Austin, maka tidak ada alasan bagi dirinya untuk ikut campur dalam rencana pertunangan yang akan terjadi. Namun masalahnya, bagaimana dengan Renita nanti. Justin sebenarnya tahu apa yang membuat Renita memasang raut wajah tidak biasa sejak tadi.


"Papa yakin Tuan Raiden Lloyd akan membujuk Austin sampai mau menerima perjodohan ini!" lanjut Antonio, semakin membuat Renita terkejut.

__ADS_1


"Renita? Kamu nggak papa?" tanya Mama Shinta. Sejak tadi, ia melihat gerak-gerik putrinya sedikit berbeda. Tampak jelas raut ketidaksukaan terpahat di wajah cantiknya.


"Eum nggak papa kok Mah, aku ... mau ke kamar duluan ya. Mau belajar dulu!"


Masih dengan wajah syoknya, Renita beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Mama dan Papanya. Pikiran gadis itu sudah kacau, dipenuhi oleh berita tak terduga tentang perjodohan Shabira dengan Austin. Shabira hanya menatap kepergiannya dengan senyum penuh kemenangan, hingga akhirnya gadis itu menghilang dibalik pintu kamar.


"Ada apa dengannya?" tanya Antonio merasa sedikit aneh.


"Mama juga nggak tau, Pah!" jawab Shinta. "Mungkin Renita lupa kalo ada Pr yang belum dikerjakan," lanjutnya.


Antonio hanya mengangguk, kemudian menatap pada Shabira. "Kamu ngapain masih di situ? Sana masuk kamar, belajar sebelum tidur!" titahnya.


"Iya Pah!" jawab Shabira dengan malas. Gadis itu beranjak pergi menuju kamar, diikuti Justin yang juga hendak menuju kamarnya sendiri.


🎀🎀🎀


Visual lagi 🤗


01. Renita Lawrence



02. Dion Almostin



03. Justin Lawrence


__ADS_1


Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻


__ADS_2