
Satu minggu sudah berlalu, hari ini adalah hari dimana Shabira dan Austin akan melangsungkan pertunangan. Semua tamu undangan sudah berkumpul di ruangan acara, MC yang bertugas juga sudah menempati posisinya sejak beberapa menit yang lalu. Terlihat, Antonio Lawrence sedang memberikan kata sambutan pada para tamu undangan. Kini hanya tinggal Austin dan Shabira yang belum muncul di tengah panggung kecil itu.
Di belakang panggung, tampak Shabira sudah bersiap untuk naik. Mengetahui putrinya sedang merasa gugup, Mama Shinta dengan tenang menggenggam tangannya. Menyalurkan ketenangan yang serupa, agar Shabira mampu melewati acara pertunangan malam ini. "Kamu sudah siap sayang?" tanyanya.
Shabira menarik nafas panjang, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak tadi membuatnya semakin gugup. Sejenak matanya terpejam, setelah merasa lebih baik, ia kembali membuka kelopak matanya. Pandangannya mengedar, menyapu seisi ruangan bernuansa putih itu. "Aku siap Ma!" ucapnya.
Semua orang kini tengah bersiap menuju puncak acara, saat-saat ketika Austin dan Shabira akan saling menyematkan cincin pertunangan, sebagai tanda terikatnya kedua anak itu. Seorang MC yang mewakili acara baru saja menyebut nama keduanya, meminta Austin dan Shabira agar segera naik ke atas panggung.
Terlihat, kini Shabira berjalan bersama Mama Shinta di sebelahnya. Gadis cantik itu sudah mengenakan gaun mewah berwarna putih, sama seperti Mama-nya. Sementara dilawan arah, tampak Austin sedang berjalan dengan sang Papa. Kedua pria itu memakai setelan tuxedo yang begitu rapi, melekat sempurna di tubuhnya yang menjulang tinggi.
Serangkaian kegiatan akan dilakukan, kini Shabira sudah berdiri tepat di hadapan Austin. Cowok tampan itu semakin terlihat tampan jika dilihat dari jarak dekat. Hanya saja, aura dingin yang melekat di wajahnya masih saja terasa. Austin bahkan tidak pernah sedikitpun menunjukkan senyum, meski Shabira sudah menunjukkan senyum terbaik di hadapan semua orang.
Suara tepuk tangan dari para tamu undangan terdengar memenuhi seantero ruangan, setelah melihat Shabira dan Austin sudah saling menyematkan cincin di jari manis keduanya. Antonio dan Shinta menatap putri dan calon menantunya dengan haru, begitu juga dengan Tuan Ray yang kini berdiri di sebelah Austin.
"Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dari pertunangan ini, karena semua itu nggak seperti yang lo pikirin," lirih Austin. Pandangannya masih menatap ke depan, melihat seluruh tamu undangan yang tidak lain adalah kerabat serta karyawan di perusahaan Papa-nya.
"Emang apa yang gue pikirin? Kalo emang lo nggak mau pertunangan ini terjadi, terus ngapain lo setuju sama keinginan Papa lo!" balas Shabira sama lirihnya. Sampai detik ini, Shabira belum mengetahui, apa alasan sebenarnya Austin menerima perjodohan ini. Yang ia tahu, Austin hanya terpaksa menerima pertunangan.
"Sayang, selamat ya atas pertunangan kalian. Semoga kalian bisa langgeng sampai menikah nanti." Mama Shinta tersenyum bahagia, memeluk Shabira kemudian beralih memeluk Austin.
"Makasih Mah," jawab Shabira seraya tersenyum manis. "Eum Kak Justin sama Renita di mana, Ma?"
Shabira mengedarkan pandangannya, sejak masuk tadi, ia tidak melihat kehadiran Justin dan Renita di sana. Kemarin, ia memang sempat mendengar pembicaraan keduanya di dalam kamar. Renita mengatakan tidak ingin datang di acara pertunangan ini. Shabira mengerti, bagaimanapun juga, Austin adalah cowok yang gadis itu sukai.
__ADS_1
"Renita udah di kamar hotel, katanya dia lagi nggak enak badan. Justin bilang mau temenin Renita dulu, takutnya dia kenapa-kenapa. Kamu nggak papa kan kalo mereka nggak ada di sini?" tanya Mama Shinta.
Shabira memaksakan senyumnya, padahal ia ingin memamerkan cincin di jari manisnya pada Renita saat ini. Sayangnya, gadis itu sudah lebih dulu melancarkan aksinya, berpura-pura sakit agar tidak melihat acara pertunangan ini secara langsung. Oke, kali ini Shabira mencoba memaklumi. Meskipun sebenarnya, ia ingin sekali membalas apa yang Renita lakukan padanya satu minggu yang lalu.
Karena perbuatan Renita kemarin, hubungan Shabira dan Papa Antonio sedikit merenggang. Renita memang sengaja melaporkan apa saja yang dilakukan Shabira ketika bersama Dion di sekolah. Nilai sempurna yang Renita dapatkan turut andil membuat Antonio marah. Sampai sekarang, Shabira bahkan tidak tahu, alasan sebenarnya Papa Antonio begitu terobsesi dengan nilai sekolah Shabira.
"Sayang, kalo kamu capek, duduk aja dulu. Biar Mama dan Papa aja yang menyambut para tamu!" Mama Shinta beralih menatap menantunya. "Austin, tolong bantu anterin Shabira duduk ya!" pintanya.
Austin hanya mengangguk, kemudian meraih tangan Shabira dan mengajaknya pergi dari atas panggung. Cowok itu sengaja melangkahkan kakinya dengan pelan, agar memudahkan Shabira berjalan dengan gaun besarnya.
"Ish dingin banget sih!" ucap Shabira, kesal melihat sikap Austin yang tidak berubah sama sekali.
"Siapa suruh pake baju kebuka gitu," ucap Austin seraya melepaskan pegangan tangannya.
Shabira hanya mampu berteriak dalam hati, meski sebenarnya sangat ingin meluapkan kekesalannya. Akan tetapi, yang ia lakukan sekarang hanyalah menatap Austin dengan pandangan tidak suka. "Terus mau lo, gue pake apa? Kaos oblong?"
"Siapa bilang?" tanya Austin balik menatap Shabira. "Daripada kaos oblong, mending lo pake kostum buaya. Itu jauh lebih cocok buat lo!"
"Anjir!" kesal Shabira.
"Eh mau ke mana lo?" Shabira mencegah, melihat Austin tiba-tiba pergi meninggalkannya.
"Bukan urusan lo!"
__ADS_1
"Bantuin gue!" pinta Shabira.
"Ogah!"
Shabira mendengus sebal, jawaban Austin masih sama seperti biasanya. "Ish nyebelin banget sih, nggak ada pedulinya banget sama gue! Masa iya gue ditinggal beneran? Sialan! Untung ganteng, eh!"
Tanpa keduanya sadari, sebenarnya Renita sejak tadi sudah memperhatikan tingkah keduanya. Tangan gadis itu masih terkepal, pandangannya menyorot tajam pada Shabira yang kini berjalan susah payah mengikuti ke mana langkah Austin pergi. Sebenarnya ia malas untuk menghadiri acara pertunangan ini. Jika bukan karena Justin yang memaksanya tadi, Renita pasti sudah tertidur pulas saat ini.
"Sampai kapan gue bakal terus diem? Nggak, gue nggak boleh nyerah, gimanapun caranya Austin harus jadi milik gue. Gue bahkan jauh lebih berhak buat jodohin sama Austin daripada Shabira! Secara, semua orang juga tau kalo gue itu anak Papa sama Mama!"
Renita menajamkan pendengarannya. Tekatnya sudah bulat, ia akan tetap berusaha merebut Austin dari Shabira. Awalnya ia memang hampir memilih mundur, mengetahui Shabira dan Austin akan bertunangan. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya, setelah beberapa hari yang lalu, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Papa dan Mama di ruang kerja.
*********
🎀🎀🎀
Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Nota Hutang di atas PERNIKAHAN
Napen : Haryani
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...