Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
09. Perasaan Baru


__ADS_3

Derap langkah seorang gadis terdengar menggema memenuhi koridor sekolah yang masih sepi itu. Baru saja Shabira keluar setelah sekitar setengah jam berada di dalam ruang BK, hanya untuk mendengarkan ceramah guru BK yang begitu memekakkan telinga. Kini, gadis yang masih merasa kesal itu memilih pergi tanpa mau menerima hukuman yang diberikan oleh guru.


Bukan karena Shabira tidak mau bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan. Shabira hanya ingin membela dirinya sendiri. Gadis itu merasa tidak bersalah sama sekali atas insiden penamparan yang terjadi di depan kelas tadi. Sebelumnya, ia memang sempat bertengkar hebat dengan geng Ronna.


Ketiga gadis itu kembali mengganggu Shabira, hingga mau tidak mau Shabira harus melawan. Namun sayangnya, seorang guru datang di waktu yang tidak tepat dan memergoki Shabira sedang menampar Ronna. Tidak ada satupun siswa yang berani membela Shabira saat itu, hingga akhirnya ia dinyatakan bersalah dan di bawa ke ruang BK.


Sial! Mereka yang mulai kenapa jadi gue yang kena?


Shabira merutuk di dalam hati, sambil menyerahkan uang kepada ibu kantin. Kini dirinya memang sudah berada di kantin, membeli air mineral untuk menghilangkan dahaga yang sudah gesang. Tidak di sangka, hanya mendengarkan ceramah di ruang BK ternyata cukup membuatnya kehausan seperti ini.


Setelah mendapat uang kembalian, Shabira melenggang pergi meninggalkan kantin yang belum ramai siswa itu. Tinggal menunggu beberapa menit lagi jam istirahat memang baru akan dimulai. Namun Shabira sudah malas untuk kembali ke kelasnya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke taman samping sekolah setelah membeli minuman.


Sesampainya di ruang terbuka penuh tanaman bunga di samping sekolah, Shabira langsung mendudukkan diri di sebuah kursi. Menenggak habis minumannya yang tinggal tersisa sedikit, lalu mencengkeram kuat botol kosong itu hingga tak berbentuk. Shabira masih kesal setelah mendapat peringatan dari guru tadi. Jika sekali lagi ia ketahuan berkelahi seperti tadi, maka pihak sekolah akan mengambil tindakan tegas dengan memanggil orang tuanya untuk datang ke sekolah.


Gue di sini sebagai korban, kenapa malah jadi tersangka? Ini nggak bisa dibiarin!


Melihat Shabira berkelahi memang bukan untuk yang pertama kalinya bagi para guru. Sudah berulang kali mereka mendapati Shabira membuat keributan dengan beberapa siswa. Para guru di sekolah hanya tahu bahwa Shabira lah yang memulai perkelahian. Dalam alur cerita Happy Ending, Shabira memang selalu dijebak oleh para pembullynya. Hingga setiap kata pembelaan yang ia ucapkan, tidak pernah dianggap kebenaran oleh para guru.


"Aah kenapa juga sih tuh guru harus dateng? Padahal gue kan belum puas kasih pelajaran sama Ronna!"

__ADS_1


Shabira memejamkan matanya, menghirup nafas panjang mencoba merilekskan pikiran. Saat di dunia nyata, jika Livia sedang marah, ia selalu melampiaskannya melalui tulisan. Fokusnya terhadap setiap kalimat yang ia rangkai selalu berhasil mengalihkan emosinya. Beruntungnya, Livia masuk ke dalam novel dengan tema modern. Hingga ia tidak perlu susah payah mencari pelampiasan, sudah banyak platform menulis untuk membuat cerita baru yang ia inginkan di ponsel miliknya itu.


Shabira mengambil ponsel dan membukanya, mencari aplikasi menulis untuk merealisasikan kemampuannya. Merangkai kata demi kata hingga menjadi kalimat yang indah ketika dibaca. Hingga beberapa menit berlalu, gadis itu masih asik berkutat dengan ponselnya. Karena saking fokusnya, Shabira bahkan sampai tidak menyadari ada seorang cowok yang datang menghampiri.


"Ekhem! Boleh gue duduk di sini?" Cowok itu berdehem, kemudian menunjuk ke kursi yang masih kosong di samping Shabira.


Shabira mengalihkan pandangannya, terlihat seorang cowok kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum manis. Dion Almostin. Meskipun memiliki struktur wajah yang tampan, namun ia hanyalah pemeran pendukung dalam cerita novel Happy Ending. Cowok tampan itu masuk ke dalam jajaran siswa famous di sekolah. Memiliki keterlibatan dalam bidang OSIS, namun bukan sebagai ketuanya.


"Boleh, silakan!"


Shabira membalas senyumannya, sembari menggeser sedikit duduknya. Sejak kejadian di gedung saat itu, Shabira dan Dion memang sudah mulai akrab satu sama lain. Apalagi, sejak kemarin Dion selalu menyempatkan diri untuk menghampiri Shabira ketika jam istirahat. Dion merasa ia harus menjaga suasana hati Shabira, agar gadis itu tidak bertindak gegabah seperti yang terjadi malam itu. Berbeda dengan anak murid lainnya, Dion justru lebih suka berteman dengan Shabira sekarang.


"Lo nggak ke kantin?" tanya Dion. Mencoba bersikap santai meski hatinya tidak sesantai raut wajahnya yang sekarang.


"Berarti gue ganggu dong?" Untuk saat ini, hanya berdekatan dengan Shabira saja sudah membuat Diom senang. Hampir tiga tahun ia menimba ilmu dan bertemu dengan teman-teman baru di sekolah itu, namun baru kali ini ia merasa kehidupannya sedikit lebih berwarna setelah berdekatan dengan seorang Shabira.


"Bukannya lo selalu gangguin gue?" Shabira menatap Dion seraya tersenyum tipis. "Santai aja, gue cuma bercanda kok tadi!"


"Lo lagi bikin apa?" tanya Dion setelah cukup lama keduanya terdiam. Sejak tadi ia melihat Shabira masih berkutat dengan ponselnya, seolah sedang mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


"Naskah novel," jawab Shabira.


Dion mengerutkan keningnya, selama ini dirinya tidak pernah tahu kalau Shabira ternyata suka menulis. "Sejak kapan lo suka nulis?"


Sesaat Shabira terdiam, ia lupa kalau sejak dulu kegiatannya hanya belajar dan belajar. Jangankan melakukan kegiatan yang ia sukai, bahkan untuk bersenang-senang saja Shabira tidak bisa. Semua orang tahu akan hal itu, kesibukannya dalam belajar membuat Shabira melupakan segalanya.


"Gue cuma pengen mencoba hal baru aja, siapa tau gue bisa jadi penulis terkenal nantinya," ujar Shabira menjawab.


Semakin lama, obrolan mereka semakin banyak. Sesekali Shabira tertawa mendengar candaan Dion yang terlalu lucu dan konyol menurutnya. Senyum yang terukir di bibir gadis itu begitu manis, tidak bisa dipungkiri Dion tidak bisa untuk tidak memandanginya dalam diam. Melihat senyum itu, Dion semakin tertarik untuk menyelipkan candaan di dalam setiap kata yang ia ucapkan.


Tanpa Shabira dan Dion sadari, di ujung area taman tersebut terdapat dua orang insan yang tengah berdiri memperhatikan keduanya. Austin dan Renita yang rencananya hendak menuju ruang guru justru terhenti di depan perpustakaan. Pemandangan langka di tengah taman itu membuat keduanya tertarik, seolah terdistraksi oleh keakraban Shabira dan Dion yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


"Udah dua hari ini gue liat mereka berduaan gini, kayaknya mereka lagi PDKT." Suara lembut Renita memecah keheningan, mengalihkan atensi Austin yang sejak tadi masih menatap kosong ke depan.


"Bukan urusan gue!" tekan Austin. Dengan cueknya ia melenggang pergi menuju ruang guru. Meninggalkan Renita yang masih terbengong melihat reaksi Austin sebelumnya.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.

__ADS_1



...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2