Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
19. Dikeluarkan dari sekolah?


__ADS_3

"Maaf Shabira, sebelumnya Ibu sudah memperingkatkan kamu untuk tidak berkelahi di sekolah lagi. Tapi, kamu tidak mau juga mendengarkannya. Karena itu, kami terpaksa memanggil orang tuamu untuk datang ke sekolah. Agar kami bisa membuat keputusan terbaik untukmu, dengan orang tua kamu!"


Shabira terdiam, menatap guru BK dan kepala sekolah di hadapannya dengan tidak percaya. Sebelumnya, ia sudah berusaha semaksimal mungkin memberikan keterangan pembelaan diri. Gadis itu bahkan sudah menceritakan semua perilaku yang ia dapatkan dari teman-teman sekolahnya selama ini, serta beberapa bukti kekerasan fisik yang ia miliki sejak dulu. Akan tetapi, bukan keadilan yang ia dapatkan, melainkan kecurangan yang ia hadapi sekarang.


"Jadi Ibu dan Bapak akan tetap mengeluarkan saya dari sekolah?" tanya Shabira tidak percaya.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin mendidik kamu dengan baik, Shabira. Akan tetapi, selama hampir tiga tahun berlalu, kamu masih saja membuat keonaran. Mau tidak mau, kami harus tetap membuat keputusan ini. Dan saya berharap, setelah ini kamu bisa sedikit merubah sikap dan karakter kamu." Pak Burhan selaku kepala sekolah, kini menatap Shabira dengan berat. Sebenarnya ia tidak ingin mengeluarkan Shabira, namun demi nama baik sekolah, ia terpaksa harus melakukan hal itu.


Shabira terkekeh miris. "Membuat keonaran? Apa saya tidak salah dengar? Di sini saya sebagai korban Pak, lalu kenapa Bapak malah bersikap seolah saya adalah seorang pelaku?"


"Apa semua bukti yang saya berikan masih belum cukup kuat untuk Bapak terima? Apa perlu saya kehilangan salah satu bagian tubuh saya, agar Bapak percaya?" Shabira meninggikan suaranya, tidak peduli sudah ada berapa orang yang kini berada di dalam ruang guru tersebut.


"Jaga ucapanmu Shabira, jika kamu tidak ingin dikeluarkan dengan cara yang kasar!" peringat Pak Burhan.


Shabira kembali terkekeh miris, masih tidak mengerti bagaimana jalan pemikiran pria paruh baya di hadapannya kini. "Beginikah cara Anda memimpin? Demi nama baik sekolah, Anda memilih untuk mempertahankan pelaku bullying dan mengeluarkan korban secara tidak adil! Apa ini yang dinamakan sekolah terbaik di negri ini?"


"Shabira, jaga ucapanmu!" ucap Bu Rina. Bukan karena tidak terima, Bu Rina hanya tidak ingin melihat Shabira benar-benar dikeluarkan dari sekolah setelah mempertanyakan bagaimana cara kepala sekolah memimpin. Meskipun hanya diam saja, sebenarnya Bu Rina sangat membela Shabira. Ia dan guru lain tahu betul, Shabira hanyalah korban dalam masalah ini.


Semua yang dikatakan Shabira memang benar, kepala sekolah memilih untuk tetap mengeluarkan Shabira dan mempertahankan Ronna karena tidak ingin nama baik sekolahnya tercoreng. Pihak sekolah tidak ingin munculnya kabar pembullyan mengejutkan ini membuat masyarakat menilai jelek sekolah ini. Karena itu, kepala sekolah memutuskan untuk merahasiakan kasus pembullyan ini dengan cara mengeluarkan korban secara baik-baik.

__ADS_1


"Kenapa saya harus menjaga ucapan saya di hadapannya? Seorang guru yang tega mengeluarkan korban dan mempertahankan pelaku. Apa semua bukti yang saya berikan masih kurang? Saya bisa memberinya jika Anda mau, semua bukti ada di hp milik Milka. Anda bisa memeriksanya sekarang!" ucap Shabira seraya menunjuk ke arah Milka. Yang Shabira tahu, selama ini Milka selalu merekam semua yang mereka lakukan ketika membully dirinya.


"Hey jangan asal nuduh kamu, atau saya laporkan kamu ke polisi atas pencemaran nama baik!" Dua orang wanita berparas cantik baru saja memasuki ruangan, semua orang tahu mereka adalah ibu dari Bella dan Milka.


Shabira menoleh masih dengan wajah kesalnya. Pandangannya justru tidak sengaja menangkap siluet Papa Antonio sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Ternyata, sudah sejak tadi pria itu berada di sana. Mendengarkan semua kalimat tidak sopan yang Shabira lontarkan kepada kepala sekolah. Pria itu masih diam di tempat dengan pemikiran yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.


"Laporkan saja, saya tidak takut. Bahkan polisi mungkin akan lebih cermat dalam menilai, siapa yang salah dan yang benar dalam masalah ini!" ucap Shabira tanpa rasa takut.


"Eh tidak ada sopan-sopannya kamu ya? Pantas saja kamu akan dikeluarkan dari sekolah, mana mungkin sekolah mau mempertahankan murid seperti kamu!" hardik salah satu wanita parah baya berparas cantik itu.


"Shabira sudah, lebih baik kamu kembali ke kelas. Biar kami dan para orang tua yang akan membicarakan masalah ini!" ucap Pak Burhan mencegah Shabira yang ingin menjawab ucapan dari Ibu Milka.


"Apa lagi yang perlu dibicarakan? Semua bukti sudah nyata adanya. Mau sepandai apapun mereka mengelak, semua bukti yang saya berikan sudah sangat jelas." Shabira memejamkan mata menahan geram sekaligus kesal, ia menyadari akan sangat percuma berbicara panjang lebar dengan mereka.


Selesai mengatakan hal tersebut, Shabira langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Tidak ada untungnya juga berlama-lama di ruangan itu. Tidak lupa Shabira menghentikan langkahnya di depan Papa Antonio, menatap matanya sejenak, kemudian pergi meninggalkan ruangan yang sudah sangat hening itu. Shabira tahu, Papa Antonio sedang marah padanya. Semua itu terlihat sangat jelas melalui sorot matanya.


Semua orang di ruang guru itu masih tercengang mendengar apa yang dikatakan Shabira, berikut dengan Ronna, Bella dan Milka yang memang masih berada di sana. Padahal, dulu Shabira tidak pernah bisa berbicara banyak di hadapan semua orang. Tapi sekarang berbeda, Shabira mampu mengeluarkan semua isi hatinya. Mengatakan apa yang dirinya mau.


Sementara di luar ruangan, Shabira yang baru saja keluar langsung dikejutkan oleh keberadaan Austin. Cowok itu sedang berdiri tidak jauh dari tempat Shabira berada saat ini. Masih dengan wajah datarnya, ia melangkahkan kaki mendekati Shabira. Meraih tangan gadis itu, kemudian mengajaknya pergi.

__ADS_1


"Lo nggak papa?" tanya Austin sembari berjalan.


"Hah?"


"Kaki lo gimana?" tanya Austin mengganti pertanyaan.


"Owh nggak papa, udah diobatin kok tadi." Shabira menggeleng kecil, mencoba menyadarkan diri agar tidak berfikir macam-macam. Entah mengapa, ia merasa kali ini Austin sedang mengkhawatirkan dirinya. "Lo kenapa ada di sini? Bukannya sekarang masih jam pelajaran?" tanyanya.


"Bukan urusan lo!" jawab Austin, membuat Shabira seketika mendengus sebal.


Sebenarnya sudah sejak lama Austin berada di depan ruang guru, mendengarkan semua pembicaraan Shabira yang begitu berani di hadapan semua orang. Austin bahkan tidak menyangka, Shabira yang dulunya sangat tertutup, kini mampu dengan gamblang mengatakan apa yang ada di hatinya. Meski dihadapannya kepala sekolah sekalipun.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Kesandung Cinta Anak Bau Kencur


Napen : yanktie ino

__ADS_1



...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2