
Hari dengan cepat berlalu, kini sudah tiga hari Shabira menyandang status sebagai tunangan Austin. Semua berjalan seperti biasa, mereka bersikap seolah bukan sepasang kekasih. Seringkali, Austin masih bersikap cuek pada Shabira. Walau sekesal apapun Shabira, tetap saja gadis itu tidak bisa memaksakan kehendaknya pada cowok itu.
Ah tidak, bukan karena Shabira tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Austin. Akan tetapi, lebih tepatnya belum saatnya Shabira melakukan hal itu. Masih ada tugas yang harus Shabira selesaikan saat ini, selain untuk menumbuhkan benih cinta di hati cowok dingin itu.
Pagi ini, seperti biasa Austin bertugas menjemput Shabira di rumahnya. Memang sudah dua hari ini Austin selalu mengantar jemput Shabira ke sekolah menggunakan motor sport nya. Semua itu Austin lakukan karena perintah tegas dari Papa Ray, dan mau tidak mau Austin harus tetap melakukannya.
"Lho, kenapa berhenti?"
Shabira mengerutkan keningnya, membuka kaca helm full face yang menutupi kepalanya. Tiba-tiba saja Austin menghentikan motornya di pinggir jalan. Padahal, jarak menuju sekolah masih cukup jauh. Ditambah lagi, waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh.
"Jangan bilang lo mau turunin gue di sini lagi?" tanya Shabira curiga.
Tidak ada jawaban dari Austin, cowok itu sedang sibuk memeriksa keadaan motornya. Ia merasa ada yang salah dengan motornya saat ini, hal itu terkonfirmasi ketika ia melihat ban belakang motornya sudah menyusut sempurna. Sial, tampaknya ada yang sedang ingin bermain-main dengannya saat ini.
"Sialan!" umpat Austin seraya menendang batu kerikil di depan sepatunya.
"Kenapa?" tanya Shabira bingung.
"Bannya bocor!"
"Owh." Shabira mengangguk, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Oh?" Austin mengerutkan kening, menatap Shabira dengan bingung. "Ban motor gue bocor, dan lo cuma bilang oh?" tanyanya tidak percaya.
"Ya terus gue harus ngapain? Masa iya gue gantiin posisi jadi ban motor lo? Dih, gue sih ogah!" sewot Shabira tidak mengerti.
Austin semakin tidak mengerti dengan jalan pemikiran Shabira. Biasanya, setiap gadis pasti akan sangat kesal ketika mendapati hal seperti ini. Setidaknya, itulah yang sering kali Austin dengar dari curhatan para teman satu tongkrongannya. Akan tetapi kenapa Shabira berbeda? Gadis itu bahkan tampak tidak mengeluh sama sekali meskipun terik di pagi hari menerpa wajahnya.
"Lo nggak marah gitu?" tanya Austin penasaran.
"Kenapa gue harus marah?" tanya balik Shabira.
Austin terdiam sejenak. Jika terus berbicara, ia tahu itu hanya akan membuat dirinya terkesan sedang memedulikan Shabira saat ini. "Mending lo berangkat pake taksi aja, biar gue pesenin."
__ADS_1
"Terus motor lo gimana?" tanya Shabira.
"Biar gue anter ke bengkel! Yang penting itu lo dulu, gue nggak mau kalo lo sampe telat" jawab Austin.
"Owh." Shabira mengangguk seraya tersenyum simpul.
"Nggak usah mikir macem-macem, gue cuma mau bertanggung jawab sama tugas gue. Bokap lo udah percayain lo sama gue, jadi mau nggak mau gue harus utamain lo!" ucap Austin, menghancurkan ekspektasi Shabira.
"Ish ngerusak ekspektasi gue aja lo!" sewot Shabira mendengus kesal.
Austin tidak lagi menanggapi ucapan Shabira, menyadari waktu sudah semakin siang. Sambil mengedarkan pandangan, Austin melangkah melewati jalan untuk menghentikan taksi yang lewat di seberang jalan sana. Namun siapa sangka, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah cowok itu. Shabira yang menyadari hal itu langsung berlari, untuk menolong cowok itu.
"AUSTIN AWASSSSS!!!!"
Tubuh Austin terdorong ke depan, ketika tiba-tiba Shabira mendorongnya dari belakang. Austin tersungkur di tepi jalan, bersamaan dengan sebuah mobil melintas dengan sangat cepat. Sementara Shabira? Gadis itu sudah terduduk di depan Austin. Sayangnya, ia tidak mampu mengelak dari terjangan mobil berkecepatan tinggi itu.
Shabira memejamkan matanya, menahan rasa sakit di kaki sebelah kirinya. Awalnya ia pikir akan mampu menghindari mobil tersebut. Namun yang terjadi, salah satu kakinya justru terlambat satu detik sebelum bagian depan mobil itu melintas dan menghantam kalinya. Sambil menahan rasa sakit, Shabira mendongak menatap Austin.
Austin menatap Shabira dengan wajah terkejut, kejadian tadi benar-benar sangat cepat hingga membuatnya tidak mampu mencerna dengan cepat untuk apa yang sebenarnya terjadi. Tampak di hadapannya, Shabira sambil menahan rasa sakit di kakinya.
Lo yang luka, tapi kenapa gue yang ngerasain sakitnya?
Untuk pertama kalinya, Austin tidak bisa memahami keadaan hatinya. Mulut Austin seakan terkunci, setiap kata yang muncul dalam benaknya tidak mampu ia utarakan di hadapan perempuan itu. Austin beralih menatap kaki Shabira. Meskipun tertutup kaos kaki berukuran panjang, tapi Austin tahu kaki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Austin?" Sekali lagi, Shabira mencoba menyadarkan Austin dari keterkejutannya. "Lo nggak papa kan?" tanyanya.
"Bodoh! Lo yang luka, kenapa malah tanya ke gue?" Austin beranjak berdiri, memegang kedua bahu Shabira, membantu gadis itu berdiri.
"Kali aja lo amnesia abis jatuh tadi," celetuk Shabira bercanda.
"Gimana kaki lo?" Austin bertanya seraya berjongkok, mencoba memeriksa keadaan kaki Shabira yang tampaknya terkilir.
"Udah, gue nggak papa kok." Shabira mencegah apa yang akan dilakukan Austin, namun tampaknya cowok itu tidak peduli dan tetep memeriksa keadaan kaki Shabira. Hal itu tentu membuat hati Shabira berbunga-bunga, memang siapa yang tidak suka diperlakukan demikian oleh orang yang dicintainya sejenak dulu. "Tumben lo peduli, apa jangan-jangan ...."
__ADS_1
"Diem, bukan waktunya bercanda!" kata Austin datar.
"Aw aw sshhh sakit njir! Pelan dikit napah!" teriak Shabira ketika Austin menyentuh bagian kakinya yang sedikit membiru.
"Ck gitu doang juga," ucap Austin menyepelekan. Meskipun dalam hati sangat berbanding terbalik dengan apa yang dikatakan Austin sebelumnya. "Ayok, gue anterin lo ke rumah sakit."
"Mau ngapain ke rumah sakit? Nggak perlu, gue mau ke sekolah aja. Lagian cuma luka kecil doang ini, paling bentar lagi juga sembuh," ucap Shabira menolak.
"Sembuh apanya, kaki lo kekilir. Kalo di diemin aja bisa bengkak nanti!" omel Austin tiba-tiba.
"Udah nggak papa, nanti biar gue obatin di UKS aja. Gue nggak mau ke rumah sakit," tolak Shabira.
"Ck terserah lo!" Daripada ribut berkepanjangan, lebih baik Austin diam dan menuruti ucapan gadis keras kepala itu.
"Eh mau ngapain lo?" Shabira terkejut, tiba-tiba saja Austin membuka jaketnya kemudian memakaikannya pada dirinya.
"Panas, ntar kulit lo gosong. Bukannya cewek paling takut kalo kulitnya gosong?" ucap Austin bertanya.
"Ya nggak juga sih, kan gue udah pake sunscreen!"
Shabira terkekeh dengan jawabannya sendiri. Pandangannya masih menatap di tempat Austin berada. Cowok itu sedang sibuk mencari kendaraan, agar bisa lebih cepat mengantarkan Shabira. Tatapan mata gadis itu berubah, sebuah pertanyaan besar kini muncul di benaknya. Untuk sementara, Shabira belum bisa memastikan dengan jelas siapa orang yang hampir menabrak Austin sebenarnya. Jika tidak salah dalam menebak, Shabira sebenarnya tahu siapa orangnya.
🎀🎀🎀
Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Zafrina Mendadak Nikah
napen : emmarisma
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya...
__ADS_1