
Senyum merekah terukir di bibir Shabira, mata bulat gadis itu masih terpejam, menikmati semilir angin yang berhembus menerpa tubuhnya. Shabira masih tidak menyangka, Austin akan mengajak dirinya ke pantai. Ya pantai, baru sepuluh menit yang lalu mereka sampai.
"Lo mau ajak gue ke pantai kenapa nggak bilang aja dari awal?" tanya Shabira setelah membuka kembali matanya.
"Siapa bilang?" sahut Austin bertanya.
"Hah?"
"Siapa bilang gue mau ajak lo ke pantai?" ulang Austin. Cowok itu langsung meraih tangan Shabira, menariknya pergi meninggalkan bibir pantai.
"Kalo bukan pantai terus ke mana? Jelas-jelas ini di pantai! Aneh banget sih!" Shabira mendengus, Austin masih saja diam membisu.
"Austin!" panggil Shabira.
"Hm!"
"Kita mau ke mana?" Shabira bertanya dengan sudut mata masih melirik ke arah birunya pantai. "Oh my god, jangan-jangan lo mau ...."
"Mau apa?" sahut Austin cepat.
"Mau ...."
"Ck banyak omong, buruan jalan!" sela Austin kembali menarik Shabira.
"Ish kita mau ke mana sih? Jangan bilang lo mau tenggelamin gue lagi!" celetuk Shabira. "Tapi nggak papa sih, gue rela kok tenggelam sedalam-dalamnya di hari lo!"
__ADS_1
Shabira menyengir lebar. Diam-diam ia mengintip wajah Austin yang masih berjalan di depannya. Dari samping, cowok itu terlihat sedang mengulum senyum. Kini genggaman tangannya pun sedikit kencang dari sebelumnya.
"Acie cie, Austin baper, icikiwir ...." Shabira berteriak girang. Senang sekali rasanya menggoda Austin saat ini.
"Baper? Siapa yang baper?" Mendengar ledekan Shabira, Austin mencoba bersikap santai.
"Lo! Lo yang baper, cie cie Austin baper hahahaha...." Shabira tertawa puas, setelah melihat pipi Austin sedikit memerah.
"Berisik!" Karena merasa malu, Austin langsung meraih tubuh Shabira. Menggendong cepat tubuh kecil gadis itu ala karung beras.
Sekilas Shabira berteriak, tubuhnya kini sudah melayang di atas pundak Austin. "Austin turunin, gue berat tau. Jangan kayak gini, malu diliatin orang!" ucapnya.
"Gue lebih malu lagi kalo lo masih ledekin gue kayak tadi!" Austin menyahut tanpa menghentikan langkahnya. Cowok itu masih terus berjalan tanpa mau menurunkan Shabira dari gendongan.
"Sebenarnya lo mau ajak gue ke mana sih?" Merasa akan sia-sia, Shabira memilih mengganti topik pembicaraan. Walaupun sebenarnya, tetap saja Austin tidak memberikan jawaban.
"Villa?" Bukannya senang, Shabira justru mengerutkan kening melihat bangunan di depannya. "Lo ngapain ajak gue ke sini? Emang kita mau nginep?" tanyanya.
Tiba-tiba Shabira membulatkan mata, seraya mendramatisasi. "Atau jangan-jangan lo mau anuin gue lagi!" celetuknya ngawur.
"Astaga Tin, jangan gitu ih, kita aja baru tunangan belon nikah."
"Nggak usah ngaco kalo ngomong! Siapa juga yang mau anuin lo, gue masih waras!" kata Austin menyangkal.
Shabira terkekeh. "Lah emang siapa yang bilang kalo lo stress?" tanyanya.
__ADS_1
Austin terdiam, menatap Shabira dengan wajah penuh ancaman. "Ngomong sembarangan sekali lagi, gue makan beneran lo di sini!"
"Di sini? Yakin di sini?" Bukannya takut, ucapan Shabira justru terkesan sedang menantang.
"Kenapa enggak? Mau coba?"
Cengiran yang masih terukir di bibir Shabira seketika memudar. Tatapan Austin seperti mengandung keseriusan, apalagi cowok itu kini sedang memegang sabuk yang melingkar di pinggangnya.
"Lo serius?" Mata Shabira membulat, ketika Austin dengan sadar mulai membuka sabuk pengaman miliknya. "Nggak, j-jangan! Gu-gue c-cuma bercanda tadi, nggak mau!"
Shabira berteriak, merasa takut dengan apa yang ingin dilakukan Austin. Bagaimanapun juga ia belum siap untuk melakukan hal itu. Gadis itu langsung berlari memasuki villa tanpa permisi. Sementara Austin? Cowok itu kini hanya terkekeh melihat Shabira berlari terbirit-birit karena ketakutan. Padahal yang dilakukannya tadi hanya sekedar bermain-main, mana mungkin juga Austin melakukan hal itu.
🎀🎀🎀
Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu ke karya keren di bawah ini ya 👇🏻
Judul : Ranjang Penghianatan
Napen : Febyanti
Karena pengkhiatan istrinya, Axel terluka, hingga luka itu mendarah daging. Memperegoki istrinya yang tengah bercinta dengan sahabatnya sendiri. Tak cukup sampai disitu, Hanna yang merupakan istrinya harus pergi selama-lamanya akibat perkelahian antar suami dan selingkuhannya.
Berimbas, Axel yang menjadi tersangka akan pembunuhan yang dilakukan sahabatnya sendiri. Axel mendekam selama 15 tahun di penjara. Saat terbebas, ia akan membalaskan dendamnya pada sahabat sekaligus pembunuh yang sebenarnya. Hasil dari perselingkuhan, hadirlah sosok wanita cantik yang menjadi incaran Axel untuk membalaskan dendamnya.
RANJANG PENGKHIANTAN (balas dendam)
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...