Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
23. Apartment 2


__ADS_3

Pintu apartemen perlahan terbuka, lampu otomatis seketika menyala ketika Austin melangkahkan kakinya memasuk. Dengan malas cowok itu melepaskan sepatu, kemudian berjalan menuju kamar. Tubuhnya sudah cukup lelah, Austin hanya ingin beristirahat dengan tenang malam ini. Jika kembali ke rumah, pasti Papa Ray hanya akan memarahi dirinya, seperti biasa.


Tidak peduli dengan beberapa luka ditubuhnya, Austin langsung menjatuhkan diri di atas ranjang. Cowok itu memejamkan mata tanpa merasa aneh sedikitpun, meskipun sebelumnya ia sempat mematikan lampu kamar yang sudah menyala entah sejak kapan. Padahal, biasanya ia tidak lupa mematikan semua lampu apartemennya lebih dulu sebelum pergi.


Cukup lama Austin mencoba untuk tidur, namun ternyata tidak semudah itu. Berulang kali ia berganti posisi, tetap saja cowok itu tidak bisa tidur dengan nyaman. Seperti malam-malam sebelumnya, Austin tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Masa lalu kelam membuat hidupnya kacau, bahkan untuk sekedar tidur saja Austin begitu kesulitan.


Austin berdecak, kemudian beranjak mendudukkan diri dengan perasaan kesal. Merasa geram dengan dirinya sendiri. Austin mengusap wajahnya kasar, kemudian mengacak rambutnya asal. Pergerakan itu membuat Shabira yang sedang terlelap merasa terganggu. Cahaya temaram membuatnya tidak terlihat, apalagi gadis itu kini sudah tertutup sempurna oleh selimut.


Kapan aku bisa tidur nyenyak Mah?


Austin bertanya lirih, kepada seseorang yang kini tidak mungkin lagi bisa menjawab pertanyaannya. Sudah lama Austin merindukan sosok itu, sosok seorang Ibu yang sudah lama tidak bersamanya. Austin menjambak rambutnya, salah satu tangannya beralih mencengkeram selimut, kemudian membuangnya.


"Kapan Mah, kapan?!" tanya Austin menggebu.


"Apa sih Mah? Jangan ganggu, Livy lagi tidur! Tunggu satu jam lagi!"


Mendengar suara itu, Austin seketika menoleh. Terlihat Shabira sedang mengigau, merasa terganggu dengan apa yang telah dilakukan Austin sebelumnya. Gadis yang masih terhanyut dalam mimpi itu mengira Mama yang tengah mencoba membangunkan dirinya di pagi hari. Ketika di dunia nyata, Mamanya memang selalu mengganggu waktu istirahatnya.


"Shabira?" Kening Austin berkerut, matanya memicing hendak memastikan siapa sebenarnya gadis itu. Seperti tebakan sebelumnya, gadis itu memang benar Shabira. Hal itu terkonfirmasi ketika dalam temaram sorot mata Shabira menatap ke arahnya. Seketika Austin melompat dari ranjang, begitu juga dengan Shabira.


"Austin? Kok lo ada di sini?" tanya Shabira terkejut. "Jangan bilang lo mau-"


"Mau apa?" Dengan cepat Austin menyalakan lampu, memastikan apa yang dilihatnya memang benar adanya. "Harusnya gue yanga tanya, lo kenapa ada di kamar gue!"


Shabira menyengir kaku, baru dirinya mengingat saat ini sedang berada di apartemen Austin. "Gue ...."


"Gue apa heh?"


"Gue mau nginep di sini, boleh ya?" pinta Shabira akhirnya.


"Nginep lo bilang?" Austin melotot, menatap Shabira penuh selidik. "Gimana caranya lo bisa masuk ke apart gue?"


Aduh, gue harus jawab apa? Masa iya gue bilang tau password apartemennya.


Shabira menggigit bibir, tidak tahu harus mengatakan apa. Kepala Shabira menunduk, gadis itu memilih untuk menghindari tatapan dan pertanyaan penuh intimidasi dari Austin.


"Jawab! Kok diem?" tanya Austin masih penasaran. Bagaimana tidak? Shabira bisa masuk ke dalam apartemennya, sementara selama ini hanya dirinya yang mengetahui passwordnya.


"Ck ah udahlah!" Melihat Shabira yang sepertinya enggan untuk menjawab, Austin memilih mengakhiri perdebatannya. "Ngapain lo ke sini? Udah malem bukannya pulang ke rumah malah kelayapan ke apart gue!"


Shabira mengerucutkan bibir. "Ish kan udah gue bilang, mau nginep di sini!"


"Ngapain nginep di sini? Nggak, nggak boleh. Lo harus pulang sekarang!" Austin meraih tangan Shabira, hendak mengusirnya pergi dari apartemen.


"Nggak mau ih, masa lo tega sih sama gue. Ini udah malem tau!" tolak Shabira seraya melepaskan pegangan tangan Austin.

__ADS_1


"Ra, lo nggak bisa tidur di sini. Ntar bokap lo nyariin!" ucap Austin.


"Kata siapa nyariin, orang boleh kok. Gue udah izin tadi!" kilah Shabira berbohong. Ia tidak ingin pulang saat ini, apalagi waktu sudah memasuki hampir tengah malam.


"Tapi gue nggak izinin lo tidur di apart gue!" ucap Austin tegas.


"Ish pelit banget, orang cuma numpang tidur doang juga!" dengus Shabira kesal. "Cuma malam ini doang kok, please!"


"Nggak masalah deh kalo lo tidur di sofa, terus gue tidur di ranjang. Eh!" Shabira menutup mulutnya. "Maksud gue ...."


"Nggak! Gue bilang enggak ya enggak!" jawab Austin tegas. "Sekarang pulang! Jangan tidur di apart gue!"


"Lo yakin tetep mau usir gue pulang?" tanya Shabira dengan wajah memelas. "Masa lo tega sih biarin gue pulang sendirian malem-malem gini?"


"Kenapa enggak?"


"Ish!" Shabira mendengus sebal. "Ya udah gue pulang!" Shabira memilih menyerah, menurutnya akan percuma berdebat melawan sifat arogan Austin yang sudah mendarah daging.


Austin terdiam, menatap Shabira yang mulai melangkahkan kakinya pergi. Entah mengapa tiba-tiba ia merasa tidak tega membiarkan gadis itu pulang sendirian. Padahal, sebelumnya Austin sangat ingin melihatnya pergi. "Tunggu!"


"Apa lagi?" tanya Shabira menoleh dengan kesal.


"Nggak jadi!" ucap Austin sedikit gengsi.


"Dasar aneh!" lirih Shabira mendengus. Melihat Austin hanya membuatnya semakin kesal, namun beberapa luka pada tubuh cowok itu berhasil mengalihkan perhatiannya. Kening Shabira berkerut, kemudian melangkah mendekat dengan cepat. "Austin, muka lo kenapa? Dan tangan lo ... kenapa banyak luka gini?"


Austin menelan salivanya dengan kasar, tiba-tiba saja Shabira memegang tangannya. Raut khawatir tampak jelas di permukaan wajahnya, ketika memeriksa keadaan tubuh Austin yang dipenuhi luka dan darah yang sudah mengering. Inilah yang Austin pikirkan sejak tadi, ia tidak ingin siapapun melihat luka ditubuhnya apalagi luka di hatinya.


"Nggak papa apanya? Jelas-jelas lo luka!" bantah Shabira. Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menarik Austin untuk duduk di ranjang. "Duduk! Jangan banyak omong, biar gue obatin dulu luka lo!" ucapnya seraya memperingatkan.


"Nggak perlu, gue bisa sendiri!" ucap Austin menolak.


"Bisa diem nggak!" Shabira meninggikan suaranya, memperingatkan Austin seraya mencari kotak obat.


"Di sebelah kiri paling bawah," ucap Austin, melihat Shabira sedang kesulitan mencari kotak obat di meja belajarnya. Melihat keseriusan di wajah Shabira, Austin memilih untuk tetap memberikan apa yang ingin dilakukannya.


"Sini gue obatin!" Tanpa permisi, Shabira menuntun Austin untuk merebahkan diri. Tampaknya gadis itu sangat memahami jika saat ini Austin sedang sangat kelelahan. Terlihat jelas dari raut wajahnya, Shabira sangat tahu akan hal itu.


"Ra," ucap Austin ingin mencegah.


"Diem! Biar gue obatin luka lo dulu. Setelah itu, gue bakal pulang sesuai yang lo mau!" janji Shabira. Tidak mungkin dirinya bisa meninggalkan Austin dalam keadaan berantakan seperti ini, meskipun sebenarnya ia tidak ingin pulang ke rumah saat ini.


Austin terdiam, seolah memberikan tempat untuk Shabira mengobati luka di tubuhnya. Cukup lama keduanya terdiam, Shabira tengah sibuk mengobati satu persatu luka ditubuh Austin. Sementara Austin? Cowok itu tengah diam-diam menatap wajah serius Shabira dari dekat.


"Cantik," lirih Austin.

__ADS_1


"Hah?" Shabira mengalihkan pandangannya menatap Austin yang tengah tidur di sampingnya. Meskipun hanya sekilas, namun pendengaran Shabira masih mampu menangkap apa yang Austin ucapkan sebelumnya.


"Apa?" tanya Austin seolah tidak mengerti. "Nggak usah pulang, lo boleh tidur di sini!" ucapnya mengalihkan topik.


"Hah?"


"Serius?" tanya Shabira bersemangat.


"Hm," jawab Austin. "Dengan catatan, nggak boleh berisik!" lanjutnya.


Tadinya, Shabira hendak berteriak. Namun mendengar peringatan Austin, seketika membuat bibirnya mengatup dengan sempurna. Kini gadis itu hanya mampu menatap Austin dengan parah, mencoba mengikuti perintah cowok itu dengan ikhlas. Shabira kembali mengobati luka ditubuh Austin, hingga lama-kelamaan keduanya tertidur karena rasa kantuk yang tidak tertahankan.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Masa Lalu Sang Presdir


Napen : Enis Sudrajat


Masa Lalu Sang Presdir (21+)


Blurb :


Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?


"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."


"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."


"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."


"Richard ...."


"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.


Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.


"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"


Ameera mengangguk mantap.


Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2