Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
06. Rencana Pertunangan


__ADS_3

"Austin tunggu!"


Mendengar namanya dipanggil, Austin dengan malas menghentikan langkahnya. Menoleh ke sumber suara, dengan salah satu alis terangkat seolah bertanya. Cowok itu masih memasang air muka datar pada Shabira, gadis yang memanggil namanya.


"Gue mau bicara sama lo, sebentar!" ucap Shabira.


Butuh waktu cukup lama bagi Austin untuk merespon. Pandangannya masih menatap gadis itu, tanpa merubah mimik wajahnya sedikitpun. "Nggak!" singkatnya.


"Hah?" Kening Shabira berkerut, tidak mampu memahami jawaban dari Austin. "Tunggu dulu! Gue cuma mau tau, alasan lo menolak perjodohan ini?"


Austin yang sebelumnya hendak pergi, kini kembali menoleh. "Gue nggak suka sama lo, jadi nggak ada alasan buat gue ataupun lo untuk terima perjodohan ini!" jawabnya.


"Gimana kalo gue suka sama lo?" Untuk pertama kalinya, Shabira mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya. Dulu, jangankan mengungkapkan, Shabira bahkan tidak pernah berani menghampiri. Shabira yang dulu hanya mampu memperhatikan Austin dari kejauhan, lalu akan bersembunyi ketika Austin menyadarinya.


"Gue tau!" ucap Austin.


"Lo tau?" Kening Shabira kembali berkerut.


"Gue bukan orang bodoh yang nggak bisa menyadari apa yang udah lo lakuin selama ini!" ucap Austin panjang lebar.


Shabira menggigit bibirnya, sedikit menyesal. Selama ini, ia pikir Austin tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya. Gadis itu merasa sangat bodoh karena sudah ketahuan memperhatikan cowok itu dari kejauhan. Kini dirinya merasa sudah seperti maling yang baru saja tertangkap setelah mencuri sesuatu.


Argh sial!


"Lo udah tau kalo gue suka sama lo, terus kenapa lo tolak perjodohan ini? Jangan bilang lo udah punya seseorang yang lo cinta?" tanya Shabira ragu. Sebagai Livia, ia sangat tau bagaimana karakter tokoh yang telah dibuatnya. Seorang Austin memang akan sedikit sulit untuk bisa mencintai seseorang, lantaran faktor turunan dari Papa-nya.


"Alasannya cuma satu, gue nggak suka sama cewek lemah dan cengeng kayak lo!" ucap Austin dengan penuh penekanan. "Cewek yang cuma bisa nangis di pojokan, tanpa bisa membalas atau bahkan membela diri di hadapan semua orang!"

__ADS_1


Shabira mengepalkan tangannya, cukup kesal mendengar ucapan Austin yang terlalu jujur. Jika ini Shabira yang dulu, mungkin ia akan menangis kemudian pergi mengurung diri, seperti yang Austin katakan. Akan tetapi, sekarang berbeda. Austin bahkan sedikit terheran melihat adanya perubahan dalam diri Shabira, tampak jelas dari sorot matanya.


"Gue benci sama cewek kayak lo! Jadi mulai sekarang stop suka sama gue, karena lo nggak tau apapun tentang gue yang sebenarnya!" tekan Austin seraya mendekat dengan tatapan tajamnya.


"Gue nyesel pernah suka sama lo!" Shabira menatap Austin dengan penuh kegeraman. "Lo pikir gue mau suka sama lo, cowok pengecut yang cuma bisa sembunyi dibalik diam. Lo bahkan nggak berani mengungkapkan isi hati lo di depan Om Ray, Papa lo sendiri!"


"Kita itu sama, kalo lo lupa! Lo dan gue nggak ada bedanya, sama-sama pengecut!" lanjut Shabira menekan. Ia tahu betul, apa yang membuat Austin tidak bisa menyukai Shabira selama ini. Selain karena Shabira yang memang tidak pernah mengungkapkan isi hatinya.


Austin termangu, tidak menyangka Shabira bisa mengatakan hal itu. Memang benar, selama ini dirinya selalu bersikap dingin di depan Papanya. Setelah kepergian ibunya sepuluh tahun silam, Papa Ray memang sudah tidak pernah sekalipun terlihat peduli padanya. Pria itu hanya sibuk bekerja, tanpa memperhatikan bagaimana perkembangan putranya menuju dewasa.


Sudah banyak permasalahan yang Austin alami selama ini, namun tidak pernah diketahui oleh Papa-nya. Semua permasalahan yang dihadapinya berhasil membentuk sosok Austin yang dingin. Walaupun pada kenyataannya, ia hanya ingin memperhatikan dirinya sendiri. Karena, ia merasa tidak ada orang lain yang menginginkan dirinya.


Cukup lama Austin terdiam, kini dirinya menyadari sudah tidak ada Shabira di hadapannya. Entah sudah berapa lama gadis itu meninggalkan dirinya, seorang diri. Pintu ruangan VIP yang sebelumnya terbuka pun kini sudah kembali tertutup. Austin hanya mampu memperhatikan dari kejauhan. Kemudian, cowok itu pergi dengan langkah kaki yang sedikit lebih berat dari sebelumnya.


Di dalam ruang VIP, Shabira mendudukkan diri seraya menggerutu kesal di dalam hati. Tentu saja, perempuan mana yang akan diam saja setelah mendapatkan penolakan dari seseorang yang dicintainya. Bagi Livia, penolakan tersebut adalah sebuah penghinaan besar baginya. Mengingat, ketika di dunia nyata dulu, ia bahkan selalu jadi yang pertama di sekolahnya. Semua cowok selalu berlomba untuk mendapatkan dirinya.


"Bagaimana Shabira? Apa Austin mau terima pertunangannya?" tanya Tuan Ray.


Pertanyaan itu kembali menyadarkan Shabira dari kekesalannya. Gadis itu menggeleng, setelah menyadari sejak tadi Papa Antonio, Mama Shinta dan Om Ray terus menatap dirinya dengan penuh pertanyaan.


"Aku rasa lebih baik perjodohan ini dibatalkan saja, lagi pula Austin tidak menginginkannya!" ucap Antonio setelah melihat Shabira menggeleng.


Tampak jelas semburat ketidaksukaan muncul tiba-tiba di permukaan wajah Tuan Ray. "Tidak, perjodohan ini akan tetap kita lanjutkan. Untuk Austin, biar saya yang mengurusnya nanti."


"Tapi Om, aku tidak mau kalau caranya seperti ini. Kalau memang Austin tidak mau, lebih baik kita batalkan saja pertunangan ini. Lagipula masa depan kami masih panjang, umur kami saja baru delapan belas tahun! Menjalani hubungan dengan penuh keterpaksaan juga nggak akan buat kita jadi bahagia untuk kedepannya," kata Shabira panjang lebar.


"Shabira!" lirih Mama Shinta merasa aneh. Baru saja ia mendengar putrinya mampu berbicara mengungkapkan pendapatnya di hadapan orang tua, salah satu hal yang tidak pernah Shabira lakukan selama ini.

__ADS_1


"Tenanglah nak, saya tidak akan memaksa Austin. Tapi saya juga harus tahu, alasan Austin menolak perjodohan ini." Tuan Ray beralih menatap sahabatnya, Antonio. "Saya akan coba bertanya sekali lagi pada Austin, jika dia tetap tidak mau, maka lebih baik kita batalkan saja perjodohan ini."


"Baiklah, saya pikir itu lebih baik," sahut Antonio.


"Saya sangat berharap anak itu mau menerima perjodohan ini, supaya ikatan kekeluargaan kita semakin kuat."


Sejak dulu, Tuan Ray memang sangat berharap bisa memiliki hubungan kuat dengan keluarga Antonio. Hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Dengan menikahkan anak mereka, ia pikir itu adalah satu cara yang tepat. Namun yang sebenarnya, bukan hanya karena alasan tersebut yang membuat Tuan Ray ingin segera menjodohkan putranya.


Selama ini, Ray merasa hubungannya dengan Austin sudah terlampau jauh. Sebagai seorang Ayah, tentu ia tidak ingin melihat putranya salah memilih pergaulan. Akan tetapi, Ray tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk menasihati Austin pun pria itu tidak mampu. Ia tidak pernah menyangka, Austin akan menjadi seorang anak yang begitu pembangkang setelah beranjak dewasa.


Dengan cara menjodohkan putranya seperti ini, ia hanya berharap akan menjauhkan Austin dari pergaulan yang salah. Ray sangat berharap, Shabira akan mampu mengendalikan ego seorang Austin nantinya. Sudah cukup Ray menyesali perbuatannya selama ini. Membiarkan Austin tumbuh tanpa sosok ibu dan ayah adalah sebuah penyesalan terbesar dalam hidup Raiden Lloyd.


🎀🎀🎀


Mau kasih visual ah, biar ga sepi-sepi amat 😅. Visual ini menurut pendapat othor pribadi ya. Kalo kalian ga suka, silakan kalian imajinasikan sesuai yang kalian mau. Oke? 😉


01. Livia Ananta



02. Shabira Lawrence



03. Austin Lloyd


__ADS_1


Segitu dulu ya 😅


__ADS_2