
Sudah satu jam berlalu, Shabira merebahkan diri di atas ranjang miliknya. Pandangannya masih menatap layar laptop yang menyala terang di depan wajah. Jemari lentiknya terus bergerak, menekan satu persatu tombol keyboard dengan cepat. Sampai detik ini, gadis itu masih berusaha menghilangkan kembali rasa kesal di hatinya.
Cukup banyak kejadian yang ia lalui hari ini, dan itu terus-menerus membuat Shabira kesal ketika mengingatnya. Sampai sekarang, gadis itu belum mengetahui keputusan apa yang sudah diambil oleh para guru untuk dirinya. Shabira tidak ingin terlalu memikirkannya, karena ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bunyi ketukan pintu mengalihkan perhatian Shabira, gadis itu hanya menoleh tanpa mengubah posisinya. Hingga secara tiba-tiba, pintu kamar dibuka dengan paksa oleh seseorang dari luar. Shabira terkesiap, kemudian beranjak turun dari ranjang. Terlihat kini Papa Antonio sudah berdiri di hadapannya, menatap dengan wajah datarnya.
"Ngapain kamu?" tanya Antonio.
Shabira menggeleng, sedikit tidak mengerti. "Nggak ngapa-ngapain!" jawabnya.
Tidak semudah itu Antonio percaya, pria itu beralih melihat ke arah laptop di atas ranjang. "Kamu sedang belajar?" tanyanya seraya mengambil laptop tersebut.
"Bukan Pah," jawab Shabira ragu, meskipun itu memang benar adanya.
"Lalu?" Antonio menatap laptop dengan bingung, sederet tulisan memanjang tertera di layar yang masih menyala itu. "Untuk apa kamu membuang waktu hanya untuk menulis sesuatu yang tidak penting seperti ini?"
"Tidak penting?" Shabira mengerutkan kening, tidak mengerti dengan ucapan Papanya.
"Tulisan macam apa ini? Daripada kamu menulis seperti ini, akan lebih baik kamu gunakan waktu untuk belajar. Kamu lupa, nilai sekolah kamu masih sangat jauh dari kata sempurna!" bentak Antonio. Dia yang awalnya tidak ingin marah, kini malah berakhir memarahi Shabira lantaran gadis itu justru sibuk membuang waktu hanya untuk sesuatu yang tidak berguna.
__ADS_1
"Jauh Papa bilang? Nilaiku sembilan puluh dan Papa masih bilang itu jauh dari kata sempurna. Lalu apa kabar, orang lain yang bangga dengan hasil nilai di bawah sembilan puluh? Apa Papa juga akan menyebut mereka sampah?" balas Shabira dengan berani.
"Tutup mulutmu, sudah berani kamu sekarang menjawab ucapan Papa. Kamu pikir apa? Selama ini Papa selalu memikirkan kamu, menginginkan yang terbaik buat kamu. Tapi apa balasan mu, beginikah cara kamu memperlakukan aku sebagai Papa mu?"
Antonio mengepalkan tangannya, kemudian membanting laptop yang masih berada ditangannya. Melihat perilaku Shabira saat ini, sangat membuat dirinya marah. Rahangnya mengeras, seiring dengan tatapan mata Shabira yang semakin mendalam. Gadis itu dengan berani menatap balik Antonio, tanpa merasa takut sama sekali.
"Memikirkan ku Papa bilang? Kapan Papa pernah memikirkan aku? Kapan Papa memperhatikan aku layaknya seorang ayah kepada putrinya? Aku mengalami depresi, gangguan kecemasan dan gangguan mental hingga hampir melakukan percobaan bunuh diri saat itu. Apa Papa tau tentang hal itu?" Shabira menggeleng miris. "Enggak, Papa nggak pernah tau hal itu!" tekannya.
"Aku hampir gila tanpa ada siapapun yang tau, termasuk Papa kandungku sendiri! Tapi apa yang Papa pikirkan? Selama ini Papa cuma memikirkan nilai, nilai, nilai dan nilai. Bahkan sekalipun Papa nggak pernah mau tau keadaan aku yang sebenarnya!"
Shabira beralih mendekati nakas, mengambil sebuah botol kecil yang biasa ia simpan di dalam laci. Di dalam botol tersebut, terdapat obat penenang yang selalu Shabira konsumsi ketika mengalami gangguan kecemasan dulu. Gadis itu memang pernah memeriksakan kesehatan mentalnya tanpa sepengetahuan keluarga.
"Papa tahu apa ini?" Shabira menunjukkan botol kecil tersebut di hadapan Papanya. "Ini adalah obat penenang yang selalu aku minum ketika Papa baru saja memarahiku. Selama ini aku dibully, diasingkan oleh semua orang. Tapi apa yang Pala lakukan? Papa malah ikut andil memberikan beban untukku dan membuat gangguan mental ku semakin menjadi-jadi!"
"Papa tau? Sedekat apapun jarak kita sekarang, bukan berarti Papa udah tau semua tentang aku. Bahkan sekecil apapun itu, Papa belum tau bagaimana aku yang sebenarnya." Shabira berkata dengan nada rendah, namun dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.
"Shabira," lirih Antonio ingin mendekat. Rasa sesal tiba-tiba menyeruak masuk di dalam hati Antonio.
Sebelumnya, Antonio berencana mendatangi Shabira karena masalah pembullyan yang hampir saja membuat Shabira dikeluarkan dari sekolah. Karena merasa bersalah, Antonio ingin sedikit lebih dekat dengan putrinya, agar bisa mengetahui isi hati Shabira yang sesungguhnya. Namun karena keegoisannya, Antonio justru malah membuat jarak baru dengan memancing kemarahan Shabira.
__ADS_1
Shabira mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada Papa Antonio agar tidak mendekat. "Dulu sebelum aku datang ke rumah ini, Papa bilang ingin membuat aku bahagia. Papa bilang ingin menerima aku apa adanya, dan ingin menebus semua kesalahan Papa di masa lalu. Tapi nyatanya apa? Selama ini aku hanya mendapatkan tekanan. Papa selalu membandingkan aku dengan anak kesayangan Papa, hasil dari kisah cinta Papa dengan Mama Shinta." Ia terkekeh miris.
"Ah ya, aku lupa. Bukankah Mama Shinta adalah alasan Papa meninggalkan aku dan Bunda?" Shabira bertanya, meskipun ia sendiri sudah bisa menebak jawabannya.
"Shabira, bukan begitu maksud Papa. Papa tau selama ini Papa sudah banyak melakukan kesalahan padamu, tapi kamu harus tau, Papa melakukan semua ini semata untuk kebaikan kamu."
Antonio menatap putrinya dengan penuh rasa bersalah, kini dirinya baru menyadari semua kesalahan yang telah dilakukan. Niat yang awalnya ingin membuat Shabira bahagia, kini justru berakhir sebaliknya. Antonio sadar, selama ini dirinya sudah salah dalam mengambil langkah.
Awalnya, ia pikir cara yang selama ini dirinya lakukan adalah langkah yang terbaik untuk Shabira. Namun tidak disangka, hal itu justru berakhir membuat Shabira mengalami banyak masalah dalam hidupnya. Mengalami gangguan mental? Antonio bahkan tidak pernah menduga hal itu akan terjadi pada putrinya.
Maafkan Papa, Shabira. Papa memang seorang ayah yang tidak berguna, bahkan untuk memahami apa yang kamu inginkan saja Papa tidak bisa.
🎀🎀🎀
Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Rumah Tangga
Napen : MinNami
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...