
"Bob, gue pinjem buku materi lo boleh nggak?"
Shabira melirik buku materi di atas meja, buku milik cowok yang duduk di sebelahnya, Bobby. Semalam ia lupa untuk belajar, padahal hari ini ada jadwal ulangan harian.
"Buku ini?" tanya Bobby seraya mengambil bukunya.
Shabira mengangguk. "Iya, gue lupa bawa buku tadi. Lupa belajar juga semalem!"
Bagaimana mau belajar? Kemaren saja Sahbira sibuk berdebat dengan ayahnya, sementara malamnya ia memilih menginap di apartemen Austin. Gadis itu bahkan hanya membawa buku seadanya saja. Untung saja, kemarin ia tidak lupa membawa seragam sekolahnya.
"Boleh, aku udah selesai kok belajarnya!" kata Bobby, memberikan buku tersebut.
Shabira tersenyum manis, ternyata tidak ada buruknya memiliki teman satu bangku seperti Bobby. Selain rajin belajar, cowok itu juga bisa dimanfaatkan di saat-saat seperti ini. Sayang sekali banyak para siswa yang menghindari cowok itu, karena penampilannya yang terkesan berbeda dari siswa yang lain.
Emang bener kata orang, don't judge book by the cover.
Tanpa sadar, Shabira mengangguk mantap. Kemudian membuka lembaran buku ditangannya, dan mulai membaca satu persatu kata yang tertulis rapi di buku tersebut.
"Kenapa senyum-senyum gitu, ada yang aneh ya?" tanya Bobby sedikit tidak percaya diri.
"Hah?" Shabira cengo, baru sadar sejak tadi dirinya senyum-senyum tidak jelas. "Enggak kok, gue lucu aja sama bukunya."
Aduh, alasan macam apa itu? -gerutu Shabira dalam hati.
__ADS_1
"Emang bukunya kenapa?" tanya Bobby.
"Bukan buku ini, tapi lo. Cover lo terlalu lawak, padahal aslinya lo nggak gini!" ucap Shabira blak-blakan. "Coba deh sekali-kali lo pake softlens, terus lo ubah gaya rambut lo. Minimal kayak rambutnya Alfian lah!" lanjutnya.
Bobby termangu, baru kali ini ada seseorang yang berani bicara terus terang padanya. Bukan, bukan karena Bobby tidak bisa merawat diri, cowok itu hanya tidak ingin terlihat menonjol di sekolah. Sejak dulu ia lebih nyaman dengan penampilannya yang culun. Namun entah mengapa, sekarang Bobby merasa tidak nyaman dengan penampilannya setelah mendapat kritikan dari Shabira, gadis yang sudah lama duduk disampingnya.
"Penampilan aku jelek ya?" tanya Bobby pelan.
"Bukan, bukan jelek. Penampilan lo udah bagus, cuma masih ada yang harus diperbaiki lagi. Ibarat permata yang baru diambil dari alam, kalo dijual harganya emang mahal. Tapi akan lebih mahal lagi kalo permata itu udah diproses menjadi bentuk yang lebih indah!" kata Shabira panjang lebar.
Bobby mengangguk, cukup sadar dengan apa yang baru saja dikatakan Shabira. Gadis cantik itu tersenyum di hadapan Bobby, seolah menunjukkan perubahannya yang sekarang. Bobby masih mengingatnya, dulu Shabira pun berpenampilan sana seperti dirinya. Namun sekarang gadis itu sangat jauh berbeda, cantik dan mendominasi.
Semua pembicaraan keduanya tidak lepas dari pandangan Austin, semakin lama cowok itu semakin kesal melihatnya. Sejak tadi Austin sudah memperhatikan dari kejauhan, rasanya ia ingin sekali membubarkan kedekatan Shabira dengan Bobby. Pandangannya datar, cowok itu mulai berjalan mendekati meja Shabira.
Benturan keras terdengar, setelah Austin menendang kecil kaki meja milik Shabira. Gadis yang masih asik berinteraksi dengan Bobby itu seketika terdiam, terkejut dengan apa yang dilakukan Austin sebelumnya. Dengan bingung Shabira menatap Austin yang kini menatap dirinya.
"Pergi lo!" titah Austin tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Shabira.
Shabira terdiam bingung, mencoba memahami apa yang diinginkan Austin. Semua orang di dalam kelas kini ikut terdiam, pandangan mereka berpusat pada Shabira dan Austin yang masih berada di meja pojok kelas. Kini Shabira paham, tampaknya Austin ingin mengusir Shabira dari tempat duduknya. Gadis itu beranjak berdiri, tidak ingin berdebat dengan Austin yang sepertinya ingin bertukar tempat duduk dengannya.
"Bukan lo," ucap Austin masih enggan mengalihkan pandangannya dari Shabira. "Tapi dia!" tunjuknya pada Bobby.
"Pergi lo!" titah Austin pada Bobby.
__ADS_1
Shabira semakin tidak mengerti, mau apa sebenarnya cowok di hadapannya ini. "Maksud lo apa sih?" tanyanya.
Melihat Bobby tidak kunjung pergi, Austin kini menatap tajam padanya. Tentu saja hal itu membuat Bobby merasa takut, hingga akhirnya bergegas mengemasi barang-barangnya. Shabira yang melihatnya kini hanya terdiam, Austin beranjak duduk di sampingnya setelah Bobby meninggalkan tempat duduknya.
"Lo kenapa sih?" tanya Shabira bingung. Kini Bobby sudah duduk di tempat milik Austin sebelumnya, sementara Austin sudah duduk di sampingnya, tempat duduk milik Bobby sebelumnya.
"Lo mau duduk atau mau pergi dari sini?" tanya Austin setengah mengancam.
"Kenapa gue harus duduk sama lo?" tanya Shabira hendak mengambil tasnya. Karena tidak ingin berdebat, Shabira memutuskan untuk pergi sebelum Austin marah-marah.
"KARENA LO TUNANGAN GUE, DAN GUE NGGAK SUKA KALO LO DUDUK SAMA ORANG LAIN, SELAIN GUE!"
🎀🎀🎀
Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Call Me Yura
Napen : AG Sweetie
...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1