Halaman Terakhir Kisah Shabira

Halaman Terakhir Kisah Shabira
21. Rahasia Keluarga Lawrence


__ADS_3

"Pah, tolongin Mama bentar dong!"


"Pah?"


"Papa!"


Shinta mengerutkan dahi, merasa heran dengan sikap aneh suaminya. Pria itu terus berjalan menuju ruang kerja dengan tatapan kosong, tanpa memedulikan istrinya. Shinta menduga, sepertinya sedang ada masalah serius yang sedang menimpa suaminya.


"Papa kenapa aneh banget, nggak biasanya dia gitu."


Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Shinta memutuskan untuk mengikuti suaminya. Di dalam ruang kerja, terlihat Antonio sedang duduk di sofa seraya memegang sebuah kertas glossy di tangan kirinya. Pandangannya begitu sayu, tampaknya pria itu sedang memandangi foto seseorang di dalam kertas berukuran A5 tersebut.


"Pah!"


Shinta memanggil lembut suaminya, seraya menyentuh bahu pria itu. Sudut matanya melirik kertas di tangan suaminya. Terlihat foto seorang wanita bersama seorang anak gadis berusia tiga tahun sedang tersenyum memandang kamera. Shinta sangat tahu siapa wanita itu, wanita yang tidak lain adalah istri pertama suaminya yang sudah meninggal dua belas tahun silam.


"Maafin Papa, Mah!" Menyadari kehadiran istrinya, Antonio kembali memasukkan foto tersebut ke dalam saku. Mereka memang sudah sepakat untuk melupakan kejadian masa lalu, karena itu Antonio tidak ingin membuat Shinta kembali mengingatnya.


Shinta menggeleng, ia cukup menyadari bahwa semua yang terjadi adalah kesalahan dirinya. "Nggak Pah, harusnya Mama yang minta maaf. Seandainya dulu Mama tidak ada, Papa pasti sudah bahagia bersama Ayuni sekarang."


Air mata mengalir membasahi pipi, Shinta sangat menyesali apa yang telah dibuatnya dulu. Memang benar, dirinya adalah orang ke tiga dalam hubungan Antonio dan Ayuni, Ibu kandung Shabira. Dulu, Shinta dan Antonio memang saling mencintai. Shinta tahu saat itu Antonio sudah memiliki istri, tapi keegoisan hati membuatnya tega merusak rumah tangga mereka.


Antonio yang begitu dibutakan cinta memilih untuk menikahi Shinta, seorang janda anak satu yang baru saja ditinggal pergi oleh suaminya. Ayuni yang lelah menghadapi kelakuan suaminya akhirnya memilih untuk mengakhiri semuanya, dan menggugat cerai Antonio. Namun tanpa Antonio sadari, Ayuni ternyata sedang mengandung anaknya ketika perceraian itu terjadi.

__ADS_1


Antonio menggeleng, menyadari kesalahan itu bukan sepenuhnya salah Shinta. Seandainya dulu dirinya lebih peka terhadap perasaannya, pasti Ayuni tidak akan pernah pergi meninggalkannya. Tidak bisa dipungkiri, sebenarnya Antonio sangat menyesal setelah perceraian itu terjadi. Jika cinta itu datang sebelum perjodohan itu terjadi, mungkin dirinya akan lebih menghargai kehadiran Ayuni sebagai istrinya dulu.


"Bukan itu maksud Papa, semua itu bukan sepenuhnya salah kamu!" Antonio menarik Shinta ke dalam pelukan, memeluknya dengan erat seraya mencium keningnya. Cukup sekali Antonio kehilangan cintanya, pria itu tidak ingin lagi membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya.


Cukup lama keduanya terdiam, hingga suara Shinta kembali memecah keheningan. "Papa kenapa melamun? Papa masih mengingat Ayuni?" tanya Shinta sedikit cemburu.


Antonio menggeleng kemudian berkata, "Papa gagal Ma, Papa sudah gagal menjadi seorang Ayah buat Shabira."


Melihat wajah suaminya dipenuhi rasa bersalah, Shinta menjadi semakin penasaran. Tidak biasanya Antonio bersikap seperti ini pada orang lain, termasuk dirinya. "Maksud Papa apa?" tanyanya.


"Setelah semua yang Papa lakukan, Papa pikir itu yang terbaik buat Shabira. Papa selalu ingin membuat Shabira terlihat sempurna, tanpa disadari Papa selalu mengatur kehidupannya. Papa pikir dengan melakukan itu, Shabira akan semakin dekat dengan Papa. Tapi ternyata tidak, jarak yang Papa anggap dekat, justru sangat jauh bagi Shabira."


"Papa pikir, selama ini Shabira bahagia hidup bersama kita. Dia selalu tersenyum di hadapan Papa, tapi ternyata semua itu nggak seperti yang Papa pikirkan. Ternyata Shabira sangat jauh dari jangkauan Papa, Papa nggak tau apapun tentang dia. Semua yang Shabira alami selama ini, Papa bahkan nggak tau apapun!" Antonio melepaskan pelukannya, kemudian beranjak menuju meja kerjanya. Tangan pria itu mengepal kuat, merasa sangat bodoh setelah mengetahui kenyataan yang terjadi.


"Bodoh! Aku gagal menjadi Ayah yang baik buat Shabira. Bahkan aku nggak tau kalau selama ini Shabira tertekan dengan semua yang aku lakukan. Aku bahkan nggak tau, kalau ternyata selama ini Shabira mengalami bullying di sekolah!" Antonio menatap kesembarang arah dengan bola mata memerah, merutuki kebodohannya selama ini.


Melihat suaminya mulai berbicara tidak jelas, Shinta langsung mendekat, kemudian menangkup wajahnya agar menatap dirinya. "Sadar Pah, semua ini bukan sepenuhnya salah Papa. Mama juga ikut andil dalam masalah ini. Seandainya Mana lebih memperhatikan Shabira, mungkin semua ini tidak akan terjadi!" ucapnya.


"Mama tau? Selama ini Shabira mengalami tekanan mental, dia selalu mengonsumsi obat penenang untuk menghadapi semuanya. Tapi apa yang Papa lakukan? Papa malah semakin memberikan tertekan padanya, hanya demi nilai tinggi yang tidak ada harganya sama sekali!"


Antonio menyesal, selama ini dirinya selalu ingin melihat nilai sekolah Shabira melebihi Renita. Tidak bisa dipungkiri, Antonio selalu terpengaruh oleh Renita yang sering kali membanggakan nilai sekolah di hadapannya. Renita memang selalu membandingkan nilainya dengan Shabira secara halus. Tentu saja, sebagai seorang ayah, Antonio tidak akan terima jika putrinya direndahkan oleh Renita terus menerus.


"Itulah sebabnya Mama selalu bilang sama Papa untuk menghentikan semua itu, tapi Papa selalu tidak mau mendengarkan. Papa selalu ingin melihat Shabira melebihi Renita, padahal Papa sendiri sudah tahu batas kemampuan Shabira!" ucap Shinta tidak habis pikir. "Mama tahu Renita bukan anak kandung Papa. Apa tidak bisa, sekali saja Papa menganggapnya sebagai anak Papa?"

__ADS_1


Antonio terdiam, selama ini dirinya sudah berusaha untuk menerima Renita di dalam keluarganya. Ia selalu bersikap baik kepada gadis itu, memberinya kehidupan yang layak sebagai putri di keluarga Lawrence. Lalu apa lagi yang harus dirinya lakukan? Antonio bahkan rela memberikan nama belakangnya untuk Renita, seorang anak yang lahir tanpa diketahui siapa ayah biologisnya.


Renita memang bukan putri kandung Antonio dan Shinta, tidak ada yang mengetahui fakta itu kecuali mereka berdua. Pada kenyataannya, Renita adalah anak dari sahabat Shinta yang sudah meninggal. Sebuah kecelakaan menimpa Renita yang dulu masih berada di dalam kandungan. Beruntungnya, Renita masih bisa di selamatkan meskipun usia kandungan baru memasuki tujuh bulan.


Shinta yang merasa kasihan akhirnya memutuskan untuk mengadopsinya, atas persetujuan Antonio yang saat itu sudah menjadi suaminya. Ketika itu Shinta memang baru saja kehilangan buah cintanya bersama Antonio yang baru memasuki usia enam bulan di dalam kandungan. Shinta tidak bisa membiarkan Renita kecil tinggal di panti asuhan, karena memang tidak memiliki keluarga lain lagi.


"Papa sudah berusaha menganggap Renita sebagai anak Papa, memberinya kehidupan layak di keluarga kita. Lalu apa lagi yang Mama inginkan?" tanya Antonio tidak mengerti.


Shinta memejamkan mata, tidak tahu lagi bagaimana caranya memberitahu suaminya. Ia merasa, selama ini suaminya selalu menunjukkan sikap yang berbeda antara Shabira, Justin dan Renita. Meskipun pada kenyataannya, Antonio memang selalu bersikap baik pada ketiganya. Hanya saja, terkadang Antonio akan sangat galak terhadap Shabira dan Justin. Namun tidak ketika menghadapi Renita.


Shinta menyadari hal itu, Antonio memang terlihat sudah menganggap Justin sebagai putranya sendiri. Dan Shinta sangat bersyukur akan hal itu, bagaimanapun juga Justin adalah anak dari suami pertamanya. Tapi untuk Renita, Shinta merasa Antonio masih sangat kaku terhadapnya.


Antonio kembali mendudukkan diri, memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengikis jarak antara dirinya dan Shabira. Kehidupan putri kandungnya justru terabaikan hanya karena sebuah nilai. Antonio merasa bodoh, bagaimana bisa ia terpengaruh oleh setiap kata yang diucapkan Renita. Entah itu sengaja atau tidak, tetap saja sebagai seorang ayah, Antonio harus lebih cermat dalam menghadapi anak-anaknya.


🎀🎀🎀


Sambil menunggu HTKS up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.


Judul : Sistem Kekayaan Pemulung


Napen : Julia Fajar


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita HTKS selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2