HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Hamil


__ADS_3

“selamat anda hamil”


Telinga Nate seakan berdenging mendengar perkataan dokter Ren. Dia hamil, jadi bener dia hamil, Nate menggenggam erat alat test pack di saku jaketnya.


Entah ia harus merasa sedih atau marah, yg jelas ini semua terasa konyol.


“Usianya berapa dok?”


Dokter Ren menatap aneh pasien di depannya, untuk seorang wanita yg sudah menikah, mendengar kehamilannya tentu menjadi hal yang membahagiakan tapi Nate tidak terlihat bahagia ataupun sedih, bahkan ia sama sekali tidak terkejut.


Benarkah pasiennya itu sudah menikah seperti yang di katakannya sebelumnya?.


“Di hitung sejak terakhir kali masa menstruasi Anda, kehamilan anda sudah menginjak usia 1 bulan”


Nate menarik garis bibirnya datar, semuanya persis seperti yang dia bayangkan. Satu bulan lalu dia melakukan “itu” dan satu bulannya lagi ia hamil, bukankah berarti ia termasuk wanita yang subur? Yang mamanya katakan ia tidak akan bisa hamil itu tidak benar. Ia penasaran wajah seperti apa yang akan mamanya itu perlihatkan ketika mengetahui kehamilannya? Apakah dia akan mengacuhkannya lagi seperti biasanya, lalu bagaimana dengan ekspresi papanya tidakkah dia akan seperti kebakaran jenggot.


Bagaimanapun ekspresi mereka nantinya, ia tidak sabar untuk melihatnya, di bandingkan rasa takut, kini ia malah di penuhi rasa penasaran yang menggelitik.


Sinar matahari begitu terik, hanya orang bodoh yang akan memakai jaket super tebal di hari seperti ini. Dan orang bodoh itu kini baru saja keluar dari rumah sakit dengan membawa selembar foto USG, di dalam foto itu terdapat lima lingkaran-lingkaran kecil yg lucu baginya. Ia lalu teringat dengan perkataan dokter Ren.


“Anda sangat beruntung, mereka semua sehat, kandunganmu juga sangat kuat, suamimu pasti akan senang dengan kabar ini”


“Ya dia akan senang” akan senang hati untuk membunuh mereka, lanjutnya dalam hati.


“Sebelumnya mohon maaf jika pertanyaan saya ini sedikit lancang, mengapa kau datang ke rumah sakit seorang diri, dimana suamimu, dan apakah kau benar-benar sudah menikah?”

__ADS_1


Untuk seorang dokter, etis kah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada pasiennya?


Yah apapun jawabannya, ia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dokter itu untuk tidak penasaran. Lagipula siapa yang tidak akan curiga melihat seorang remaja datang ke dokter kandungan dengan penampilan yang mencurigakan sepertinya.


“Suami saya Sedang kerja di luar kota, dan dokter meski saya masih terlihat seperti remaja, saya sudah menikah tahun lalu” meski hanya praktek menikah waktu di SMA tepatnya. “Kalau pemeriksaannya sudah selesai saya pamit pergi dulu dok, terimakasih”


Meski kesannya ia melarikan diri, tapi ini lebih mending daripada dokter itu semakin menaruh curiga padanya.


Nate mengusap perutnya yang masih datar, ia masih tidak percaya ada kehidupan lain dalam perutnya. Baru beberapa bulan lalu ia masih mengenakan seragam SMA dan kini ia akan menjadi seorang ibu. Tapi apakah perasaan seorang calon ibu akan sekosong ini?


Tidak.


Seharusnya bukan seperti itu. Tak jauh darinya ada sepasang suami istri yang keluar dari rumah sakit dengan wajah gembira, mereka juga membawa hasil foto yang sama dengannya, tapi mereka begitu bahagia. Bukankah seharusnya seperi ini? Ia seharusnya juga bahagia, seperti mereka.


Bahagia atau tidaknya Sekarang bukan itu yang penting, bau matahari mulai membuatnya merasa mual, di tambah panggilan telpon yang sejak tadi membuat hpnya bergetar, membuat mualnya semakin bertambah.


Alasan pertama karena bawaan hamil, ia jadi tidak bisa terkena sinar matahari langsung, lalu yang kedua dengan berpakaian seperti ini,alibi ia sedang tidak enak badan untuk mengelabui orang rumah agar bisa ke rumah sakit menjadi semakin kuat.


“Aduh non, non gpp?” Pak Jamal sopirnya datang dengan membawa sebotol air untuknya, melihat nonanya yang muntah-muntah membuat pak Jamal tidak bisa tidak merasa cemas “tahu begini tadi saya ikut non ke dalam rumah sakit” katanya sambil menepuk-nepuk punggung Nate.


Nate hanya tersenyum sebagai tanggapan “Nate ga pa pa kok pak, cuman masuk angin biasa kata dokternya tadi”


“Mangkanya non jangan sering-sering keluar malam dengan pakaian tipis, kan begini akibatnya” kata pak Jamal mengingatkannya, mendengarnya Nate tersentuh ia tidak menyangka ada yang memperhatikan kebiasaannya keluar jalan-jalan sebelum tidur.


“Siap pak Mal” Nate tersenyum ia menaruh tangannya di pelipis membentuk sikap menghormat.

__ADS_1


Pak Mal hanya geleng-geleng kepala, ia lalu memapah Nate untuk menuju ke arah mobil “pak Mal kunci mobil mana?” Pinta Nate tiba-tiba.


“Itu kenapa non?” Tanya pak Mal yang tak langsung menyerahkan kuncinya pada Nate.


Nate yang tahu pak Mal tak akan menyerahkan kunci mobilnya, menggeledah tubuh pak Mal mencari dimana kunci itu berada.


“E-ehh non kuncinya non mau apa?”


Senyum puas terpancar di wajah Nate, saat menemukan kunci itu “pak Mal, Nate yang menyetir ya?”


“T-tapi non?”


“Shtt...pak Mal duduk aja yang tenang, ga akan ada apa-apa kok” Nate mendorong tubuh pak Mal masuk ke dalam mobil, ia sendiri masuk lewat pintu sebelah.


Firasat pak Mal sudah tidak enak, terutama ketika Nate sudah menghidupkan mesin, buru-buru pak Mal memasang seatbeltnya.


“N-non, non kan sedang sakit kalau tuan dan nyonya melihatnya bisa-bisa saya kehilangan pekerjaan non?”


“Pak Mal, kayak g kenal Nate aja, kapan mereka punya waktu memperhatikan Nate secara Nate Kan bukan Nalla”


Mau sakit atau tidak kapan mereka pernah peduli, bagi mereka Nathania hanya anak tambahan yang tidak mereka harapkan. Mau ia urakan, binal, atau jadi ****** sekalipun mereka tidak akan peduli, paling-paling yang mereka pikirkan adalah citra baik keluarga saja sementara citra Nate selama ini sudah di kenal buruk, selain menjadi langganan masuk ruang guru dan BK, di luar sekolah ia tidak jarang berurusan dengan polisi terutama karena pelanggaran lalu lintas.


Balapan liar dan mengendarai kendaraan dengan kecepatan penuh sudah menjadi rutinitasnya, namun tidak sekalipun dari balapan dan menyetir secara ngebut itu membuatnya merasa bergairah seperti sekarang, ia takut sekaligus bersemangat dan bergairah.


Kata dokter kandungannya kuat, tapi ia tidak menyangka jika itu sekuat ini sampai-sampai ia ngidam sesuatu yang se ekstrim ini.

__ADS_1


“Nak kalian yang meminta ini, doakan ibu ya agar bisa selamat dan melahirkan kalian nantinya” batinnya.


__ADS_2