HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Keputusan


__ADS_3

Varo kampret :



P


P


P


P


P


WOI!! KAMPRETO KASIH RESPON KEK NAPA!! NI GRUP SEPI AMAT KEK KUBURAN.


Vano kampret:


G ada kuota anjir


Varo kampret:


TERUS ITU LO NGIRIMNYA PAKEK APA BGST, PAKEK J*T


Vano kampret:


G USAH NGEGAS JUGA ANYING NGOMONGNYA


Varo kampret:


LO JUGA NGEGAS GOBLOK!!


Vano kampret:


BERANTEM YUK!!!


Vano kampret:


OKE AYUK LO GUE LADENIN SINI


Dean kampret:


Njirr baru juga buka grup dah disambut dua manusia tolol😴


Varo kampret:


Eeh bucin kemana aja Lo selama ini baru nongol di grup!


Vano kampret:


Namanya juga bucin goblok ya tentu ngebucin


Varo kampret:


Diam Lo gue g ngomong ke Lo


Vano kampret:


Idiih


Dean kampret:


Ya apa sih klean kepo amat Ama hidup orang.


Varo kampret:


Gue g kepo cuman mau tau aja


Dean kampret:


Mau tau aja Ama urusan hidup orang😒


Vano kampret:


BTW tadi gue lihat Viona sedang makan


Dean kampret:


Terus


Vano kampret:


Terus apa? Gue kan cuman bilang lihat Viona sedang makan wkwkwk


Dean kampret:


Anjirr


Varo kampret:


Garing krik krik krik


Vano kampret:


Kuk kuk kuk


Dean kampret:


Petok petok petok


Varo kampret:


BGST klean memang tidak bisa diandalkan.


Vano kampret:


Ya Lo maunya apa goblok


Varo kampret:


Tau ah ak benci kalian semua


Vano kampret:


Idiih drama


Dean kampret:


Lo salah minum obat apasih kawan gaje bet hari ini


Varo kampret:


BANGSAT! G ADA YANG NORMAL DI GRUP INI


Vano kampret:


WOI LO MAU GUE TIMPUK PAKEK JURNAL!! YANG AWALNYA G NORMAL JUGA LO GOBLO


Varo kampret:


NATEEE AKU RINDU NATEEE😭😭


Dean kampret:


Hadeeeuh kawan🤦


Vano kampret:


Sarap


Nate tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah teman-temannya di grup.


Nate:


Iya beb, gue jg rindu kok😘 jadi tenang2 ya belajar disana🥰


Varo kampret:


Memang hanya Lo Nate yg mengerti gue🥺🤧


Vano kampret:


Gimana2 gue masih belum ngerti


Dean kampret


2

__ADS_1


Nate:


Hahaha gaes masak kalian g ngerti sih, kawan kita satu ini sedang kesepian disana, dia rindu dengan kita makanya cari-cari Masalah supaya di perhatikan.


Dean kampret:


👏👏👏 Nate youre amazing, bisa ngerti maksud ni bocah


Vano kampret:


Sa ae Lo blok, kalau kangen ngomong dong langsung jangan gitu caranya😂


Dean kampret:


Tau nih jadi orang gengsian amat


Varo kampret:


Njir, percuma gue kangen ma kalian teman-teman Dakjal


Dean kampret:


Kalo gitu sini balik ke indo, jgn anteng di Jerman


Varo kampret:


Lo kira gue g mau ap😭


Vano kampret:


Utututu jangan sedih dong baby😘


Varo kampret:


NAJIS!!


Vano kampret:


Wkwkwkwk


Vano kampret:


Gaes jujur keadaan gue disini sedang tidak baik-baik saja, dan Lo semua awas kalau bilang keadaan kalian juga sama


Vano kampret:


Kalau cmn nanya kabar, nanya kek biasanya Napa kan bisa, dan ya Alhamdulillah keadaan gue SAMA😭


Varo kampret:


BGST!! KAU GUE BILANG AWAS KALAU SAMPAI KEADAAN KALIAN SAMA!!


Varo kampret:


Terus Lo mau ap? Lo kan ada di Jerman


Dean kampret:


Vano sedang tidak baik-baik sj sebab habis diputusin tu sm pacarnya


Vano kampret:


BGST!


Varo kampret:


WKWKWKWK


Vano kampret:


Lo pun jg sm yan sdg tidak baik-baik saja, secara lo kan habis bertengkar dgn Viona.


Dean kampret:


Eh anak tuyul, Lo tau darimana Gue habis  bertengkar ma Viona!! Jangan-jangan Lo ngintilin gue dan Viona ya


Vano kampret:


Masyaallah tuduhannya, Lo lupaya tadi pagi dimana kalian bertengkar? Di depan kelas gue goblo.


Dean kampret:


Varo kampret:


Enak ya klean yang satu kampus🤧


Vano kampret:


Eh btw sepertinya kita sedang kekurangan satu orang


Dean kampret:


Woii NATEEE DIMANA LO???


Vano kampret:


Jgn jd sider dong, mentang-mentang yg sibuk berpetualang


Baru juga Nate mau mengirim pesan, tangannya berhenti mengetik melihat pesan yg Vano kirim. Ia berpetualang adalah salah satu kebohongan yang ia katakan kepada teman-temannya, Nate tersenyum kecut.


Nate:


Apasih kawan, orang lagi sibuk juga


Dean kampret:


Sibuk apa sih sampai g ada kabarnya sama sekali


Varo kampret:


Jangan bilang Lo kenapa-kenapa Nate?


Vano kampret:


Lo baik-baik saja kan? Soalnya g biasanya Lo tiba-tiba hilang g ada kabar gini


Dean kampret:


Viona jg nanyain Lo Nate, katanya Lo g pernah balas pesan yg dia kirim


Varo kampret:


Lo baik-baik saja kan Nate??


Tidak ia sedang tidak baik-baik saja, ingin Nate mengatakan hal itu pada teman-temannya. Namun mengatakannya hanya akan membuat mereka khawatir dan Nate tidak bisa melihat mereka khawatir karena dirinya, dan sebagai gantinya.


Nate:


Gue baik-baik sj kok so kalian g perlu khawatir😁


Varo kampret:


Syukurlah, jujur Nate kalau Lo sampai bilang tidak baik-baik saja saat ini juga gue bakal balik ke Indonesia.


Dean kampret:


Helleh gayamu nak😒


Vano kampret:


Sok atuh gue tantang Lo balik sekarang mumpung sekarang MLM tahun baru, hitung-hitung kita bisa kumpul-kumpul lagi kyk dulu


Varo kampret:


Pulang sekarang juga g bisa sampai malam ini juga Kali bos, malah yang ada gue dimarahin ma nyokab.


Dean kampret:


Wkwkwk katanya tadi bakal balik ke indo


Varo kampret:


ITUKAN GUE BILANG KALAU NATE BILANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA


Vano kampret:


Tapi ya gaes, g kerasa ya kayaknya baru kemaren kita masih kumpul-kumpul g jelas, sekarang kita sudah jalan masing-masing, jujur gue kangen Ama kebersamaan kita dulu.

__ADS_1


Varo kampret:


Anjir Lo No malah ngingetin kan guenya juga kangen😭


Dean kampret:


Gue sih cmn sedikit kangen aj, sama agak sepi g ada kalian semua


Varo kampret:


Oke sudah kuputuskan, gaes 4 tahun dari sekarang kita akan kumpul lagi


Dean kampret:


Empat tahun? Emang Lo bisa balik Ro?


Varo kampret:


Kalau masalah itu tenang saja gue bisa urus kok, Sekarang kaliannya gmn?


Dean kampret:


Gue sih g ada masalah


Vano kampret:


Apalagi gue, yg jadi masalah itu si Nate


Woi Nate 4 tahun lagi Lo bakal ada dimana?


Nate:


Di tempat yg ada langitnya, mana gue tahu bangbang


Varo kampret:


Lo bisa g Nate kumpul lagi nanti?


Dean kampret:


Sejauh-jauhnya Lo pergi nanti, setidaknya sisipkan waktu buat kumpul bareng kita lagi Nate


Vano kampret:


Dan saat itu jangan lupa bawa oleh-olehnya, okai👌 


Nate tersenyum kecut, yang temannya tahu Nate adalah seorang cewek yang bermimpi bisa pergi berkeliling dunia pergi ke satu tempat ke tempat lain dan mimpi itu seharusnya sudah terealisasi ketika ia sudah lulus SMA. Namun kini, sosok Nate yang mereka tahu itu sudah hilang, dan mimpi itu sudah hancur, bahkan kini Nate tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padanya nanti.


Nate:


Y


Nate hanya bisa mengirim satu kata itu, ia tidak lagi sanggup melihat percakapan teman-temannya di grup. Nate takut, diantara kerumunan orang-orang yang sedang menunggu pergantian tahun, hanya Nate yang duduk sendirian di sudut bangku taman sembari memeluk sebuah tas hitam besar.


Beberapa jam sebelumnya


“Nate tidak mau aborsi pa” kata Nate tegas bahkan untuk menjawabnya Nate tidak perlu untuk berpikir.


Plak!


Kembali Nate mendapat tamparan papanya. Ternyata di tampar itu sakit, bahkan lebih sakit dari pada di bogem apalagi yang menampar adalah papa kandung sendiri.


“Kalau kau tidak aborsi, lalu bagaimana dengan wajah papamu ini? Bagaimana Dengan nama baik keluarga Darmawangsa? Apa kau sudah memikirkan itu saat melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki itu!”


“Bukannya Nate sudah bilang sebelumnya, Nate tidak melakukan itu dengan sengaja, Nate yg menjadi korban”


“Sebagai seorang perempuan kau seharusnya bisa menjaga kehormatanmu, hal seperti itu tak akan terjadi kalau kau tidak bertingkah” rasanya Nate ingin tertawa, ia tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang ibu mengatakan hal seperti itu, seakan apa yang terjadi padanya itu memang kesalahannya “kalau keadaannya sudah seperti ini apa yang bisa kami lakukan, menikahkan mu hanya akan menaruh kecurigaan orang-orang pada keluarga ini”


Lagi-lagi yang mereka khawatirkan hanyalah reputasi keluarga. Papa bahkan tidak lagi menanyainya tentang laki-laki yg menghamilinya dan bahkan seperti mama, papa juga menyalahkannya


“Tapi Nate tidak mau aborsi, Nate tidak mau merenggut nyawa anak Nate” Nate tetap kekeh dengan pilihannya “ Ma, bukankah mama seorang ibu seharusnya mama mengerti apa yang Nate rasakan” Nate menatap mamanya memohon, setidaknya ia berharap meski sedikit saja mamanya akan bersimpati, tapi harapan itu hanya tinggal harapan saja.


“Seharusnya dulu aku tidak melahirkan anak seperti mu” tatapan dingin mama dan perkataannya yang menusuk sudah menghancurkan sedikit harapan yang Nate punya, ia tidak tahu kapan tapi air mata itu jatuh begitu saja membasahi pipinya, rasanya sakit mendengar kata anak dan seharusnya tidak melahirkan keluar dari mulut seorang yang selama ini dia panggil mama.


Nate bisa tahan ketika keluarga ini menghiraukannya.


Nate bisa tahan dengan sikap mamanya.


Nate tahan ketika dianggap tidak ada oleh kedua orang tuanya.


Tapi mengapa ia tidak bisa tahan saat akhirnya mamanya mengakuinya anak, mengapa ia tidak tahan hanya karena ia bukan anak yang mama harapkan, mengapa? Kenapa rasanya hatinya sakit.


Jika ia mengingat lagi, tidak sekalipun mama mengatakan anak padanya, tatapan itu, sikap itu sejak ia dapat mengingat rasanya tidak sekalipun dari sikap mamanya yang berubah.


Setelah mustahil mendapat kasih sayang papanya, setidaknya sekali ia ingin mendapatkan kasih sayang dari mamanya. Tapi percuma, bahkan untuk melihat ekspresi lain di wajah mereka Nate di penuhi rasa keingin tahuan yang menggebu, hanya dengan melihat ekspresi itu Nate sudah di penuhi kepuasan setidaknya ia tahu bagaimana ekspresi papa dan mamanya selain ekspresi mereka biasanya.


“Baiklah Nate kalau kau tidak mau aborsi maka kau pergi dari rumah ini, jangan membawa apapun selain pakaian saat kau pergi, bahkan jangan pernah membawa nama Darmawangsa, Sekarang dan untuk selamanya kau tidak ada hubungan lagi dengan keluarga ini” keputusan akhir papanya sudah tidak ada artinya bagi Nate, sejak ia mendengar kalimat mamanya tidak ada alasan lagi ia berada di rumah ini.


Nate mungkin bermimpi dapat mengelilingi dunia, namun pada akhirnya mimpi yang paling ia inginkan adalah memiliki keluarga yang hangat.


Nate tidak mengatakan apa-apa lagi ketika kakinya dengan ringan membawa tubuhnya kembali ke kamarnya. Ia tidak perlu memilih, keputusan akhirnya sudah sejak awal ia putuskan. Anak-anaknya lebih berharga daripada tinggal dalam keluarga semu ini.


“Nate kau memutuskan untuk pergi?” Tanya Nalla, ia mengikuti Nate masuk ke dalam kamarnya. Nate hanya tersenyum.


Tak banyak barang yg akan ia bawa, untuk membawa bajunya saja ia tidak perlu menggunakan koper, sebagai orang yang tadinya akan berkeliling dunia, Nate sudah tahu bagaimana membawa banyak pakaian dengan hanya tas ransel dan tanpa membawa apa-apa lagi ia bisa membawa lebih banyak pakaian dalam tasnya.


“Nate kau tidak perlu sampai harus pergi, kenapa kau tidak ikuti saja apa kata mama papa”


Tadinya Nate ragu mau membawa ponselnya apa tidak, tadi papanya bilang selain pakaian ia tidak boleh membawa barang lainnya, tapi ponsel itu ia dapatkan dari teman-temannya ketika ia ulang tahun yang berarti ponsel itu bukan ia beli dengan menggunakan uang dari keluarganya, jadi akhirnya Nate memutuskan untuk membawanya saja. 


“Gugurkan saja kandungan mu Nate”


Perkataan Nalla sejenak membuat Nate menghentikan aktivitasnya.


“Aku tidak bisa Nal”


“Nate seharusnya kau tidak perlu menderita seperti ini hanya karena bayi itu, kenapa kau masih kekeh mempertahankannya?”


“Mereka lucu, aku tidak tega” Nate selesai mengepakk pakaiannya, tidak perlu berlama-lama ia langsung keluar dari Kamarnya.


“Apa? Nate apa maksudmu?” Nalla mengikuti Nate keluar dari kamar, ia terus mencerca Nate dengan pertanyaan dan permohonan agar Nate berubah pikiran.


Tapi keputusan Nate sudah bulat.


Di ruang keluarga, mama dan papanya masih ada disana, papa berdiri memunggunginya sementara mama masih santai meminum tehnya.


“Nate akan pergi, seperi yang papa bilang selain pakaian Nate tidak membawa barang apapun lagi dari rumah ini” sepi tidak yang bersuara.


“Ma, Pa, Nalla mohon ubah keputusan kalian, jangan biarkan Nate pergi dari rumah, Nalla mohon” bahkan ketika anak kesayangan keluarga ini sampai memohon untuknya, kedua orang tua itu masih bergeming. Nalla akan memohon lagi, tapi Nate mencegahnya.


“Kalau begitu Assalamualaikum papa mama” tenggorokan Nate seakan kering ketika mengatakan kata itu, dan mungkin ini adalah terakhir kalinya ia memanggil mama dan papa pada orangtuanya.


“Nate!” Teriak Nalla, Nate tidak lagi menoleh ke belakang kini jalannya sudah terbentang di hadapannya. 


“Sayang kau mau kemana kau masih sakit jangan jalan terlalu jauh” untuk pertama kalinya Nate merasa iri pada kembarannya, bagaimana nasib mereka begitu berbeda? Padahal mereka itu saudara. Mengapa hanya dia yang dibenci oleh mama papanya.


Nate mendongak, tak membiarkan air matanya kembali terjatuh.


Kejadian itu sudah beberapa jam yang lalu, namun setiap kata dan adegannya Nate masih ingat dengan jelas. Mimpi Nate adalah mengelilingi dunia, ia ingin secepatnya pergi dari rumah itu dan menggapai impiannya, namun saat akhirnya ia keluar Nate malah merasa takut alih-alih senang. 


Ya Nate takut, berbagai pikiran buruk mulai menghampirinya. Ia kini sendirian, tidak ada lagi yang akan bersamanya, bagaimana ia akan menjalani hidupnya nanti, bagaimana ia akan membesarkan anak-anaknya. Nate memegang ponselnya erat-erat, bagaimana anak-anaknya nanti tumbuh, bisakah ia menjadi ibu yang baik. Nate tidak tahu, kini ia tidak bisa berpikir. Anak-anaknya apakah ia bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mereka? Ia masih muda apakah ia bisa menjadi sosok ibu yang baik?


Saat pikiran Nate begitu Kacau, letusan kembang api mulai mewarnai langit awal tahun baru, begitu singkat kembang api itu bersinar, namun begitu indah.


“Mama” suara itu tiba-tiba masuk kedalam kepalanya, Nate mencari-cari Asal suara itu. Meski ia tidak bisa  menemukan asalnya, ia hanya bisa menganggap jika suara itu hanyalah ilusi.


Air mata Nate terjatuh, ia menangis. Ilusi itu mengingatkan Nate jika ia tidak sendirian, ia masih memiliki bayinya. Lalu kenapa kalau ia masih muda, apa yang perlu ia takutkan dalam hidup ini, ia hanya perlu menjalaninya, hanya perlu berusaha lebih keras untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya, bagaimanapun mempertahankan mereka adalah keputusan yang telah ia buat, ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Mereka adalah hal terindah yang Nate miliki, seindah kembang api di langit sana.


“Hanabi” gumam Nate disela-sela Isak tangisnya, ia memeluk perutnya yang masih rata, ada kehidupan di sana Nate tidak boleh lemah. Tidak untuk anak-anaknya, ia lalu mengusap air matanya.


Nate berjalan menyusuri jalanan yang dipadati orang-orang, ia tidak berhenti hingga sampai diatas jembatan yang hanya ada sedikit orang disana. Sebuah mobil merah melintas dari arah yang berlawanan dengannya, melihat mobil itu lagi-lagi mengingatkan Nate pada sosok iblis yang telah merenggut kesuciannya, iblis itu juga punya mobil berwarna merah dan sungguh kebetulan yang tidak menyenangkan jika mobil itu memang benar milik dia.


“Nate?” mobil itu berhenti tak jauh di belakangnya, tak ada alasan bagi Nate untuk menoleh ke asal suara itu . Nate reflek memegang perutnya, ia melanjutkan lagi langkahnya menghiraukan laki-laki yang memanggilnya.


“Nate berhenti” namun bukannya berhenti Nate semakin mempercepat langkahnya, semakin cepat,  ia mulai berlari. Laki-laki itu masih mengejarnya ia juga berlari, namun secepat apapun ia berlari ia tidak bisa mengejar Nate, Nate berlari kearah kerumunan membuat laki-laki itu kehilangan jejaknya.


“Nathania!” teriak laki-laki itu, namun suaranya tenggelam diantara bunyi letusan kembang api dan sorakan orang-orang “sial!”


“Tuan” seru seseorang memanggilnya


Laki-laki itu memegang kerah jas orang yang tadi memanggilnya “temukan perempuan tadi” perintahnya.


“T-tapi pak malam ini” orang yang merupakan sekretaris laki-laki itu mencoba mengingatkan jika ia harus segera pergi.


“Perempuan itu lebih penting daripada menghadiri pesta bodoh itu” Teriaknya di depan wajah sekertarisnya.


Sudah dua tahun sekertaris itu bekerja dengan laki-laki yang merupakan CEO di perusahaan tempatnya bekerja, namun sekalipun ia tak pernah melihat bossnya bersikap seperti sekarang hanya karena seorang perempuan. Ia tidak mau berasumsi, tapi firasatnya mengatakan kalau perempuan tadi akan menjadi boss besarnya juga suatu hari nanti. 

__ADS_1


“B-baik pak!” seru sekertarisnya sebelum ia pergi dari hadapannya.


“Nate” laki-laki itu mengusap wajahnya hingga memerah dengan kedua tangannya “sial!” makinya entah pada siapa.


__ADS_2