HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Malam dengan Zoe


__ADS_3

"Krieet"


Suara derap kaki dan bunyi pintu terbuka membuat Nate beranjak duduk dari posisinya, ia menoleh kebelakang.


"Bapak?"


"Kau"


Kata mereka berdua bersamaan, orang yang datang itu adalah Zoe, Nate menatap Zoe heran namun laki-laki itu tidak menghiraukan keberadaannya, ia berjalan kearah pagar pembatas melewati Nate.


"Belum pulang pak?" Sapa Nate memecah keheningan diantara mereka.


Zoe menyulut sebatang rokok dan menghisapnya "Kau sendiri kenapa belum pulang?" Tanya Zoe balik


"Lagi males" Jawab Nate, ia berdiri di samping Zoe yang melihat jauh ke arah kejauhan di depannya.


Kembali suasana menjadi sunyi, baik mereka tidak ada yang berniat untuk bersuara, hingga suara desir angin menjadi begitu jelas di dengar.


1 menit, 3 menit, 5 menit, sungguh Nate tidak tahan dengan kesunyian ini. Tapi untuk bicara dengan bapak wali kelasnya itu, ia tidak mau...sebenarnya.


Namun apalah daya, setidaknya ia harusnya sedikit basa-basi, dan setelah mengumpulkan niat.


"Pak..." Panggilnya yang langsung di potong guru iblisnya itu.


"Kamu tidak perlu basa-basi sama saya kalau memang kamu g mau bicara" Ucapnya sedatar biasanya.


"Diih... bapak tau aja" Kembali suasana menjadi awkward.


Nate menyandarkan kepalanya di lengan di atas pagar pembatas, ia menatap Zoe yang masih menatap kejauhan.


"Kenapa?" Tanya Zoe melihat Nate terus menatapnya.


"Bapak kok belum pulang?"


"Kamu kan sudah tanya tadi?"


"Kan sama bapak belum di jawab?"


"Kalau saya tidak jawab, berarti itu bukan urusanmu" Ucapnya dingin bin judes.


Sungguh Nate tidak mengerti kenapa semua orang menyukai orang ini? Apalagi cewek-cewek.


Zoe melonggarkan dasinya dan melipat lengan bajunya keatas. Jika yang berada di tempat ini bukan Nate tapi siswi-siswi lain 100% Nate yakin mereka akan menjerit histeris.


Bagaimana tidak, jika penampilan Zoe yang biasanya saja begitu tampan, apalagi sekarang. Dasi yang di longgarkan, lengan baju yang di lipat, rambutnya yang biasanya klimis sedikit berantakan, ditambah sebatang rokok yang di selipkan di antara bibir kemerahannya. Membuat tingkat ketampanannya bartambah berkali-kali lipat.


Tapi untuk poin terakhir itu bagi Nate, mungkin adalah minusnya, bagaimanapun ia tidak suka dengan bau rokok, apalagi orang yang merokok.


"Pak emang g bisa apa g merokok? Baunya Nate tidak suka pak" Bukannya mematikannya, Zoe malah sengaja menghembuskan asap rokoknya ke arah Nate. "Uhuk...uhuk..."


"Kalau kamu g suka kenapa tidak kamu pergi saja sana"


"Uhuk...uhuk...setan" Nate berdiri memunggungi Zoe.


"Apa kamu bilang?"


"Masa g denger sih, kan tadi gue bilang Setan"


"Nate jangan tidak sopan ya pada saya, saya ini masih gurumu"


"Mantan Guru kali" Nate berjalan kearah tadi ia berbaring sebelum Zoe datang, mengambil sesuatu di lantai ia lalu kembali ke tempat Zoe "nih buat bapak" Nate menyerahkan mawar hitamnya pada Zoe.


Zoe tersenyum sinis "Yakin kamu mau ngasih saya ini?" Tanyanya menerima mawar itu dari Nate.

__ADS_1


Nate tersenyum lebar "Lah kenapa Nate g yakin, mawar itu cocok kok buat bapak"


"Sepertinya kamu masih menyimpan dendam ya pada saya?"


"Ya iyalah bagaimana gue g dendam coba, kalau setiap hari di hukum Mulu sama Lo" ucap Nate berapi-api.


"Lo? Nate saya ini gurumu, g sopan kamu bicara seperti itu pada guru"


"Lah emang Lo guru?"


"Kenapa saya tidak mungkin?"


"Entahlah sejak awal gue g ngerasa kalau Lo itu seorang guru, aura Lo itu beda dengan guru-guru yang lain" Jelas Nate


"Oke stop, saya punya nama kamu panggil saya dengan nama, jangan Lo Lo an"


"Oke Zoe" Kata Nate cepat


Memang sejak awal Nate tidak punya niat untuk terus-menerus memanggil orang itu dengan sebutan Bapak, tapi Nate tidak bisa seenaknya saja tiba-tiba memanggil nama dan karena Zoe sendiri yang memintanya jadi ia dengan senang hati akan memanggilnya dengan namanya.


"Saya tarik kembali ucapan saya, kamu jangan panggil saya nama, panggil saya bapak lagi atau enggak kakak"


"Ogah ngapain juga gue panggil Lo kakak" kata Nate ketus


"Kamu ini g ada manis-manisnya sekali"


"Ya iyalah gue kan bukan le miner*l*"


Zoe menghela napas, anak didiknya satu itu memang ajaib, ada-ada saja ulahnya yang membuatnya tidak habis pikir, tidak seperti kembarannya Nalla.


Mengingat Nalla kembali, Zoe hanya bisa tersenyum pahit dan perubahan di wajahnya itu tak bisa lepas dari pandangan Nate.


"Mikirin Nalla ya?" Tebak Nate tiba-tiba, Zoe menoleh "Benarkan"


"Ya gue emang ga tahu, gue cuman nebak saja dan ternyata tebakan gue benar" Jelas Nate.


"Kau itu cenayang atau apa sih, bisa nebak pikiran orang"


"Gue? Gue Nate mantan murid Lo alumni SMA ini, emang siapa lagi?"


"Itu saya tahu mantan murid ku" Zoe mengacak-acak rambut Nate "Tapi bagaimana kamu tahu kalau yang ku pikirkan itu Nalla"


"Auw pak rambut Nate jangan diacak-acak" Nate menepis tangan Zoe dari kepalanya "Ya iyalah tau, orang ketara jelas kalau bapak suka sama dia" Kata Nate sembari merapikan rambutnya.


"Sepertinya kau sudah biasa ya manggil aku bapak" Kata Zoe mengingatkan Nate.


"Bapak juga sepertinya sudah biasa g manggil saya lagi" Kata Nate juga mengingatkan Zoe.


Merasa sama-sama diingatkan mereka berdua tidak bisa tidak tertawa.


"Konyol" Kata Zoe, ia memandang Nate kali ini tatapannya tidak sedingin biasanya, meski sedikit ada ekspresi lain di sana yang Nate sendiri tidak tahu ekspresi apa itu.


"Pak?" Buru-buru Zoe memalingkan wajah.


Meski ia akui ia suka pada Nalla, namun selama ini cewek yang membuatnya tertarik adalah orang disampingnya itu, segala tingkah dan perbuatan yang di lakukan oleh Nate tak pernah lepas dari pandangannya.


Ia selalu penasaran tingkah apalagi yang akan dilakukan Nate besok hari dan bagaimana ia akan menghadapinya adalah pikiran yang selama ini selalu di pikirkan, lalu kini ketika Gadis itu lulus entah mengapa rasanya lebih berat di terima daripada harus berpisah lagi dengan Lil saviornya, Nalla.


"Aku akui aku suka Nala, tapi hanya sebatas rasa sukaku pada penyelamat kecilku" Zoe tiba-tiba menjelaskan yang pada akhirnya ia sesali sendiri.


Bodoh untuk apa aku jelasin ke dia


"Terus kenapa Lo bilang ke gue, mau Nalla penyelamat Lo kek, pengantin Lo kek, itu g ada urusannya sama gue" untuk urusan yang bukan urusannya Nate memang tidak ambil pusing, dibanding cuek ia sejak awal memang memilih untuk tidak peduli.

__ADS_1


"Kau tidak mau tanya kenapa aku bilang Dia penyelamat kecilku?" Zoe mulai terbiasa tidak menggunakan bahasa formal.


"Entahlah gue tidak peduli, dan Lo jangan cerita" Ujarnya memperingatkan.


Zoe memiringkan sudut bibirnya tidak mengatakan apa-apa, ia lalu mengambil sebatang rokok dari bungkusnya.


"Woi kan gue sudah bilang jangan merokok!" Teriak Nate tiba-tiba, ia lalu merampas rokok itu dari tangan Zoe, namun yang dia rampas hanyalah bungkusnya saja Sementara rokok yang sudah di keluarkannya itu masih dia pegang.


Nate membuang bungkus rokok itu asal, ia lalu mencoba mengambil rokok yang di pegang Zoe. Namun karena perbedaan tinggi badan, ia tidak bisa sampai pada rokok yang diangkat Zoe tinggi


"Disini kan bukan area di larang merokok kenapa aku g boleh merokok?" Zoe berusaha menjauh dari Nate, tapi Nate tidak membiarkannya lepas dengan mudah. Ia masih menempel padanya, berusaha mengambil rokok di tangannya.


"Karena gue g suka bau rokok, kalau kamu mau merokok cari tempat lain sana, jangan disini" Kata Nate yang masih berusaha menggapai rokok itu.


"Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang pergi?"


"Kenapa juga gue harus pergi?" Ucap Nate tepat di wajah Zoe.


Jarak mereka begitu dekat hingga membuat Zoe dapat merasakan hembusan nafasnya.


Mau bagaimanapun, Zoe tetap lah seorang laki-laki, bohong jika ia tidak tergoda oleh Nate ketika dia begitu dekat dengannya.


Terutama bibir itu, ia tidak bisa untuk tidak tergoda, bibir merah itu begitu seksi ia tidak bisa berpaling dari bibir itu, ingin sekali ia ******* bibir itu dan segala pikiran kotor pun mulai menguasai kepalanya.


Nate mungkin kembaran Nalla, dan untuk situasi ini, ia bisa mengatakan ia tergoda pada Nate hanya karena ia mirip cewek yang ia sukai, tapi itu tidak mungkin. Ia bisa yakin kalau yang kini dihadapannya itu Nate bukan Nalla.


"Dapat!" Seru Nate, namun karena ia terlalu berjinjit ia akhirnya kehilangan keseimbangannya dan jatuh tepat di dada Zoe yang juga ikutan terjatuh "Lo g pa pa kan?" Tanya Nate khawatir pada Zoe yang ikut terjatuh karenanya.


Zoe tidak mendengarkan kata-kata Nate, dengan gadis itu berada diatas tubuhnya Zoe bisa leluasa melihat wajah Nate.


Zoe menggerakkan tangannya, menyelipkan rambut Nate yang jatuh tergerai ke telinganya, tak berhenti di situ jari-jarinya menelusuri pipi lalu berhenti di bibir gadis itu yang begitu menggoda.


"Cantik" Gumam Zoe.


"Zoe?" Panggil Nate yang mulai risih dengan sikap Zoe. Bahkan laki-laki itu menahannya ketika akan beranjak dari atas tubuhnya "Zoe apa yang kau mmfth..." Sebelum Nate selesai bicara tiba-tiba Zoe menciumnya, Nate ingin berontak tapi tenaga Zoe lebih kuat darinya.


Laki-laki itu bahkan membalik posisi mereka berdua dan mengungkungnya di bawah tubuhnya.


"Hah...hah...pak Zoe, apa yang bapak lakukan? Sadar pak Saya Nate bukan Nalla, murid bapak" Teriak Nate. Tubuhnya gemetaran antara takut dan marah, ia bahkan tanpa sadar berbicara sopan.


Zoe memeluk Nate, kembali ia menciumnya namun ciumannya kali ini lebih lembut "Aku tahu, kau Nate bukan Nalla kau adalah mantan muridku" Bisik Zoe di telinga Nate, dalam suara itu Nate bisa merasakan hasrat Zoe.


Tidak mungkinkan? Batinnya.


Nate berusaha mendorong tubuh besar itu tapi Zoe lebih dahulu menangkap tangannya tidak membiarkannya bergerak bebas, ia menarik dasinya dan mengikatkan dasi itu di tangan Nate, sementara tangannya mulai menggerayangi tubuhnya, dari wajah, dada, hingga ke area sensitifnya, Nate takut dan air matany terjatuh.


malam itu begitu cerah namun, awan gelap telah menggelapkan hati Zoe, membuatnya sepenuhnya di penuhi hasrat.


Malam itu begitu panjang, terasa begitu sunyi hingga menenggelamkan suara teriakan Nate, air mata tidak berhenti mengalir dari kedua mata Nate ketika laki-laki itu merenggut kesuciannya.


"Kau bisa melaporkanku ke polisi Nate, tapi sebelum itu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan"


Nate menatap nanar pria diatasnya, melaporkannya ke polisi? Lalu apa? Siapa yang akan percaya? Reputasinya sejak awal sudah buruk, sementara dia adalah guru yang di sukai semua orang, siapa yang akan mendengarnya? Nate takut perasaan itu kini menyelimuti dirinya.


"Hentikan pak" Nate memohon diantara engahannya, namun laki-laki itu tak hanya tidak berhenti, ia kembali menciumnya "B-bagaimana bagaimana kalau Nate hamil?" Ucapnya lirih


"Kau hamil? Tinggal aborsi saja" ucap laki-laki itu enteng sembari melempar senyum padanya.


Iblis!


Hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan laki-laki itu, tak hanya dunia seperti berhenti berputar bagi Nate, apa yang di katakan laki-laki itu sudah menghancurkan hatinya hingga tak tersisa.


Entah sudah yang ke berapa kalinya, air matanya kembali mengalir.

__ADS_1


Malam itu adalah malam panjang yang mengerikan, malam awal kehancuran hidup Nate, dan awal ketika mimpinya hanyalah menjadi mimpi.


__ADS_2