
"Jelek" Ucap Keenan, pada kedua kembar Hanan, Nara, yang wajahnya sama-sama sembap.
"Father lebih jelek" Kata Hanan "Narrra pun juga jelek" Lanjutnya.
Nara menatap sinis Hanan "Hanan gak jelek emang, tapi butek, dekil, ****** mandi"
"Narrra juga sering ngompol, sudah gede juga masih ngompol"
Keduanya pun terlibat cekcok mulut, Keenan sendiri tidak ada niatan untuk melerai mereka. Percekcokan si kembar menjadi hiburan tersendiri bagi Keenan dan pengunjung restoran pagi menuju siang itu.
Alasan kenapa mereka begitu menghibur adalah karena keduanya sama-sama imut, sama-sama sembap dan hampir tidak bisa membuka mata, dan sama-sama bermulut tajam.
"Dasar anak pungut, mangkanya gak bisa ngomong 'r' sendiri"
"Hanan sendili anak setan, bilang Nala anak pungut, sendilinya sendili belum tentu anaknya Mommy"
"Kata siapa Hanan bukan anak bunda? Gak lihat ya wajah Hanan kan mirip Bunda, sedangkan Narrra mirip siapa?"
Di ejek seperti itu oleh Hanan, membuat wajah Nara memerah, marah. Ia pun lalu melempar pensil warna di hadapan Hanan ke lantai hingga berhamburan.
Keenan yang sejak tadi hanya fokus pada pertengkaran keduanya, tidak menduga situasi akan jadi seperti ini.
Selain pensil warna yang tadi Nara lempar menganggu pengunjung restoran, juga membuat perhatian semua orang tertuju pada ke dua anak kecil itu.
"Ambilin nggak pensil warna Hanan!" Perintah Hanan pada Nara, sedang yang di perintah menatapnya masa bodoh.
"Aduh kalian ini, sudah jangan bertengkar lagi, Hanan biar Father yang ambilin oke?" Kata Keenan menengahi, ia tidak mau pertengkaran keduanya menjadi semakin serius.
Hanan pun menggeleng "Yang lempar Nara, jadi Nara yang harus ambilin"
"Nggak mau, suluh siapa Hanan jahat ke Nala" Ucap Nara.
"Bangsat! Kalau Hanan suruh ambil ya ambilin, gak ingat kata bunda, sebagai adik, Nara harus nurut apa yang kakak perintah."
"Nggak mau, anjing! Modelan kakaknya saja macam setan, ngapain Nala halus nulut"
"Oi Kids, shut up!"
Buru-buru Keenan menampol wajah kedua anak kecil itu dengan telapak tangannya, membuat keduanya diam.
Ia tidak menyangka anak sekecil mereka akan berkata-kata kasar, tak hanya dia saja, bahkan pengunjung restorannya pun juga sama.
"Bisa gawat kalau sampai Mama kalian dengar kata-kata kalian"
"Fathel Ken, tangannya minggilin bau" Nara mencoba melepas tangan Father Ken-nya itu dari wajahnya.
"Father gak cuci tangan ya?" Lanjut Hanan yang melakukan hal serupa dengan Nara
"Gak sebelum kalian berhenti bertengkar dan berhenti bicara kasar kayak tadi"
"Iya, iya Father Hanan janji, tapi tangannya dulu lepasin, bau rokok anjir!" Umpat Hanan di akhir
"Iya Nala pun janji, jadi lepasin Fathel, anjil tangannya bau"
"Ya Tuhan ya ampun kids, kalian belajar dari siapa sih bicara kasar gini, kalau sampai Mama kalian dengar gimana?" Bisa mati aku di tangan Mama kalian, lanjut Keenan dalam hati.
"Belajar dari siapa? Dari Father lah" Kata Hanan yang sukses membuat Keenan speechless.
"Kan Fathel yang seling bicala sepelti itu" Lanjut Nara.
Tapi perasaan ia tidak pernah bicara toxic di depan mereka.
"Eeh curut dua, kapan Father Ken ngomong kasar, jangan fitnah ya?"
"Yang fitnah juga siapa?" Teriak Hanan dan Nara berbarengan.
Lalu mereka pun mengingatkan Keenan yang memang tanpa dia sadari, memang sering keceplosan bicara kasar di depan anak-anak.
Keenan yang mendengarnya hanya bisa nyengir kuda.
Ia lalu memegang bahu kedua anak itu.
"Kids dengar ya? Kalian jangan bicara seperti itu di depan mama dan jangan beritahu Mama kalian juga soal ini" Ingatnya pada Hanan, Nara dan tanpa ia sadari, mama yang di maksud sudah ada di belakangnya.
"Jangan beritahu soal apa kak?" Tanya Nate yang baru juga sampai.
"E-eh Nate, nggak kok, gak ada apa-apa" Elak Keenan menutup-nutupi.
Namun tidak dengan si kembar "Father Ken tadi minta Hanan dan Nara tidak beritahu bunda kalau tadi bicara kasar" Jawab Hanan yang langsung mendapat pelototan Keenan.
"Kakak!" Teriak Nate.
"Lah kan anak Lo Nate yang bicara, kenapa Lo malah kek nyalahin gue sih?"
"Ya kan gara-gara Abang juga yang sering bicara kasar, padahal Nate kan sudah bilang jangan bicara kasar di depan anak-anak"
Suasana restoran pun kembali di buat ribut oleh Nate dan Keenan, sementara anak-anak sudah pergi ke arah meja mereka, setelah seorang pelayan membawakan makanan mereka, menghiraukan cekcok mama dan father mereka yang terlihat seperti cekcok pasangan.
"Makan!" Teriak Hanan, begitu melihat makanan di meja mereka.
__ADS_1
Nara menaruh sayuran ke piring Hanan, sedangkan Hanan menaruh telur ceplok ke piring Nara.
Meski dapat dibilang mereka masih belum baikan, namun bukan berarti mereka tidak saling sayang, hanya bedanya mereka tidak mengatakannya secara langsung melainkan dengan tindakan.
Para pelanggan cewek yang semenjak tadi memperhatikan si kembar tidak bisa tidak dibuat gemas, setelah tadi habis adu mulut kini mereka tampak begitu akur.
"Mbak" Panggil salah satu pelanggan cewek itu, pada pelayan yang tadi menaruh makanan di meja si kembar.
"Iya kakak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu ramah.
"Itu" Tunjuk cewek itu pada Nate dan Keenan yang sekarang tengah negosiasi, terlihat dari Keenan yang merangkul Nate dan Nate yang menganggukkan kepala.
Sayangnya mereka berada jauh, jadi mereka tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Saat cekcok tadi, Keenan menyeret Nate ke pojok restoran yang sepi agar tidak menganggu pengunjung restorannya.
"Mereka itu pasangan ya?" Tanya cewek itu membuat temannya yang duduk di sampingnya harap-harap cemas.
"Bukan kok kak, mereka berdua memang sering bertengkar tapi mereka bukan pasangan, mohon maaf kalau membuat kakak tidak merasa nyaman"
"Oh, eng enggak kok mbak kami gak apa-apa" Ucap cewek itu, sedangkan temannya yang sejak tadi menunduk menghela napas lega.
Setelah mengucapkan terimakasih, pelayan itu pun pergi. Teman mereka yang ada di depan mereka mulai menggoda.
"Aman Na, Lo masih punya kesempatan" Katanya, membuat cewek itu merona tersipu.
Hanan yang melihat para cewek-cewek itu, lalu membuka suara "Tante" Panggilnya pada mereka yang duduknya tepat di sampingnya "Tante suka ya pada Father Ken?" Tanyanya pada cewek-cewek itu, membuat cewek yang tadi merona tersipu, kini memerah wajahnya.
"Sebaiknya Tante menyelah saja pada Fathel Ken, dia itu Playboy, yang ada nanti Tante yang disakitin" Lanjut Nara.
Cewek yang merona itu tersenyum "Terimakasih adek pengertiannya, tapi Tante tidak akan menyerah" Karena sejak awal ia sudah tahu siapa itu Keenan.
"Father Ken playboy yang kebetulan berwajah tampan loh tante, mantannya banyak, kalau di buat tim bola, jajaran mantannya lebih dari cukup, yakin Tante masih mau?" Tanya Hanan memastikan.
Cewek itu pun mengangguk mantap.
"Tapi Fathel Ken umulnya sudah 30 tahun"
Selesai bicara, kepala Nara di pukul oleh Keenan "Sudah 30 tahun apa? Father kalian ini masih 28 tahun ya?"
"Kan hampil 30 tahun" Kata Nara tidak mau kalah.
Melihat kedatangan Keenan, cewek itu pun bergegas pergi dari restoran yang di susul oleh teman-temannya. Keena melihat kepergian cewek itu cukup lama, mengingat-ingat dimana ia pernah melihat cewek itu yang terasa familiar.
"Father kenal Tante itu?" Tanya Hanan, melihat fathernya yang masih menatap ke arah si Tante tadi pergi.
"Hanya kenalan lama" Kata Keenan acuh tak acuh, ia lalu menaruh pensil warna yang tadi di lempar Nara di atas meja.
"Mama kalian lagi kerja dan kalian berdua jangan ribut lagi, duduk yang anteng, father mau ke belakang dulu sebentar"
Setelah berjanji menaikkan gaji Nate dua kali lipat, akhirnya ia bisa berbaikan dengannya, akan repot kalau sampai Nate masih marah padanya, bisa-bisa ia tidak punya tempat untuk tinggal nanti.
***
Setelah mengantar pesanan pelanggan, Nate pergi ke sekolah anak-anaknya, selain untuk memenuhi panggilan guru ia juga berniat menjemput anak bungsunya Bintang.
Namun seperti yang di duga, anak itu tidak masuk sekolah alias membolos.
"Nia?" Panggil seseorang, Nate menoleh.
"Mbak Ratih" Ratih lalu memeluk Nate.
"Ya ampun Nia, sudah lama mbak nggak lihat kamu, kemana saja sih, kenapa gak pernah menemui mbak mu ini hah?" Keluh Ratih.
"Hehehe maaf, Nia sibuk kerja jadi gak ada waktu bertemu mbak"
Ratih menghela napas, ia pun memaklumi kesibukan Nate.
"Oiya Nia, tumben anak-anak gak masuk sekolah, kemana mereka?" Tanya Ratih sebagai guru TK.
"Bintang gak masuk?" Tanyanya yang diangguki Ratih "Tadi pagi anak-anak habis berantem mbak, jadi gak ada yang mau sekolah" Terang Nate.
"Anak-anakmu ternyata bisa berantem juga ya? Padahal kalem-kalem gitu anaknya, gak kayak anak mbak yang kayak tikus dan kucing kalau bersama?"
"Diluar mungkin kelihatannya kalem, tapi di dalamnya mereka sama kayak anak-anak lain, sering berantem"
"Pasti capek ya kamu ngurus anak tiga Nia"
"Capek sih mbak, tapi Nia seneng kok ada mereka" Nate tersenyum yang membuat Ratih juga tersenyum.
Sosok Nate bagi Ratih adalah wanita tangguh, ia yang masih begitu muda sudah harus membesarkan anak-anaknya sendiri. Tanpa suami, maupun keluarga yang menemani, dan entah kesulitan apa yang sudah Nate alami hingga membuatnya mampu tersenyum seperti ini.
"Ngomong-ngomong mbak, ruang guru di mana ya?"
"Kamu di panggil Bu Lasri Kan? Ayo mbak temenin" Ajaknya, ia lalu membawa Nate ke ruangan Bu Lasri
"Emang ada apa ya mbak, kok Nia di panggil"
"Nanti kamu juga tahu sendiri Nia"
__ADS_1
***
Bintang merasa tidak semangat yang mau sekolah waktu saudara-saudaranya tidak ada yang sekolah, ia ingin juga tidak sekolah, tapi Nate mamanya, memaksanya untuk sekolah sendiri.
Alhasil Bintang lebih memilih bolos sekolah saja, daripada sekolah sendiri sementara kakak-kakaknya enak-enakan di rumah atau tidak di restoran Father Ken.
Bintang, sama seperti Nate, ia suka jalan-jalan. Mimpinya juga sama seperti mamanya, yaitu menjadi traveler yang mengelilingi dunia. Namun karena masih kecil, ia hanya bisa jalan-jalan menyusuri jalanan, membuat Bintang hafal jalan-jalan dan tempat yang sudah ia lewati, dan ini membuat Nate sedikit merasa lega karena kemungkinan anaknya ini tersesat hampir dapat dibilang mustahil.
Sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti, tepat di depan Bintang yang tengah duduk selonjoran di trotoar jalanan yang lengah.
Pengemudi mobil itu sepertinya tersesat, pikir Bintang.
"Permisi dek" Sapa pengemudi yang tampak seumuran daddy-nya itu menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Iya om?"
"Om? Panggil kakak ya dek? Kan Kaka masih muda?" Pinta si pengemudi yang tidak mau dipanggil om.
"Om ada perlu apa ya? Kalau gak ada perlu, Bintang pergi ya mau pulang" Ucap anak kecil itu cuek, yang malah mengingatkan si pengemudi pada sahabatnya.
"Oke, oke dek jangan pergi dulu, kakak cuman mau tanya alamat ini, adek tau nggak?" Si pengemudi memperlihatkan ponselnya.
"No, Lo gila ya nanya alamat ke anak kecil gitu, dia mah mana tahu" Bisik teman di sampingnya
"Lalu mau nanya sama siapa lagi Varo goblok, gak lihat ini jalan sepi" Kata si pengemudi yang namanya Vano.
"Ya kan bisa cari orang lain?"
"Ribet Lo, gue capek tahu sudah satu jam ini kita cuman mutar-mutar jalan"
"Sensi Ama sih Lo, dasar Vano geblek"
"Bodo"
"Om, ini alamatnya gak salah? Setahu Bintang Jalan Alter cuman sampai nomor VI gak ada yang nomornya VII"
"Yang bener dek, coba ingat-ingat lagi takutnya malah adek yang salah" Kata Varo
Bintang memutar matanya "Kalau gak percaya sama Bintang terserah, yang rugi juga bukan Bintang tapi om-om berdua"
"Lama-lama adek kayak sahabat kakak ya?" Ucap Vano, ia lalu menyuruh Varo menelpon si pengirim alamat, meski sebenarnya Varo malas.
"Oiya om, emang sama apanya?" Tanya Bintang penasaran.
"Sama-sama cuek"
"Emang karena sama cuek, jadi dianggap sama gitu?" Tanya Bintang.
"Ya gak juga sih, pokoknya lihat adek, kakak seperti lihat sahabat kakak" Karena meski sedikit, anak kecil itu mirip Nate, sahabatnya yang sekarang entah berada dimana.
"Anjir Lo Yan, kalau ngasih alamat yang benar dong, gue dan Vano jadi mutar-mutar gak jelas nih." Teriak Varo, mengirim Voice Note ke temennya itu.
"Kenapa Ro?"
"Alamatnya salah" Kata Varo, ia lalu menunjukkan alamat yang di kirim ulang ke Vano.
"Anjir!" Umpat Vano, ia lalu menunjukkan alamat itu ke Bintang "Adek tau nggak" Tanyanya.
Bintang mengangguk "Om putar balik dari sini, ketemu lampu merah om belok kiri terus lurus ke temu pasar om belok Kanan, lalu lurus lagi sampai melihat polres lalu belok kanan..."
"Tunggu-tunggu dek" Sela Vano memotong "Ro, Lo catat tadi yang si adek bilang" Perintahnya pada Varo.
"Gak ada kertas yang mau catat"
"Lo gunanya punya hp buat apa, kalau gak bisa buat nulis hah?" Berdecak, Varo lalu membuka ponselnya.
"Adek, tadi bisa diulang lagi gak?" Tanya Varo yang membuat Bintang kembali memutar matanya.
"Malas Bintang yang mau ngulang, Bintang antar saja ya om?" Tawarnya.
"Nanti adek pulangnya?" Tanya Vano.
"Om tenang saja, rumah Bintang sejalan kok"
Mendengar kata-kata Bintang, Vano dan Varo pun lalu mengangguki, begitu Bintang masuk mobil, mereka pun segera meluncur pergi.
"Nama adek Bintang kan? Kenalin nama kakak Vano dan kakak ini Varo"
"Vano, Varo? Bintang kayak pernah dengar namanya?"
"Oiya, dengar dimana dek? Atau dengar dari siapa?" Tanya Varo.
"Gak tahu lup...ohh ya, Bintang ingat pernah denger dari Daddy" Ucap Bintang membuat Varo menghela napas.
Awalnya meski sedikit ia berharap anak kecil ini pernah dengar nama mereka dari Nate , sahabatnya. Tapi rupanya kebetulan itu terasa mustahil.
"Sama ingat juga, anak kembar yang tadi Bintang lihat bareng ibunya namanya juga Vano, Varo. Om berdua ini juga kembar ya?" Tanyanya, Varo tersenyum ia lalu menggeleng.
"Bukan kok, om berdua gak kembar" Kata Varo.
__ADS_1
Mikir apa sih kamu Varo, batinnya.