HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
NATHANIA & KANALLA


__ADS_3

“auw” bahkan saat merintih pun suaranya begitu lembut.


“Lo g pa pa Nal?” Tanya Nate pada orang yang di tabrakannya itu yang wajahnya mirip dengannya.


“Hanya sakit sedikit tapi aku g papa” katanya sembari tersenyum.


Kanalla Darmawangsa atau Nalla adalah kembaran Nate, selain wajah tidak ada kesamaan diantara keduanya, apa yang Nate suka Nalla tidak suka begitupun sebaliknya, jika Nalla gadis yang lembut maka Nate si gadis bar bar. Meski dari wajah mereka sama, orang-orang yang melihat akan mudah membedakan mereka berdua, secara aura Nalla lebih lembut mudah baginya untuk mendapat perhatian semua orang, tipe cewek yang akan membuat orang yang melihatnya ingin melindunginya.


Ibarat Kanalla adalah boneka Barbie sementara dia boneka Chucky.


“Lo ngapain nall bawa buku banyak-banyak gini? Sudah lulus juga, tu ibu menor g bisa minta tolong ke murid-muridnya apa” Tanya Nate sembari membantu Nalla mengambil buku-buku yg berserakan. Nalla semenjak masih SMA memang di kenal sebagai anak kesayangan para guru, khususnya Bu Menor yang tadi Nate bilang, saking sayangnya sampai-sampai Nalla sudah dianggap anaknya sendiri dan apa-apa Nalla yg di panggilnya untuk dimintai tolong. Seperti sekarang, tanpa di beri tahu, Nate juga bisa menebak dilihat dari kumpulan buku-buku sejarah yg di bawa Nalla.


“Aku kan juga muridnya Nate, lagian Bu Me-Mina sedang ada jam mengajar sejarah Sekarang, jadi aku menawarkan diri untuk membantunya”


“Ya maksud gue murid yang masih berstatus murid bukan alumni dan Lo juga Nal baik hati sih boleh, tapi polos jangan” kata Nate mengingatkan, ia kadang merasa kasihan pada Nalla yang apa-apa sering dimintai tolong, mana kalau nolongin g ngotak lagi. Buktinya sekarang, sudah tau buku yang dia bawa tebal-tebal dan ada lebih dari dua puluh buku, masih juga sok kuat bawa sendiri “ini mau di bawa kemana biar gue bantu bawain” kata Nate setelah selesai mengumpulkan buku-buku itu


“G pa pa kok aku bisa bawa sendiri” tolak Nalla, tapi saat ia mencoba mengangkat buku-buku itu ia merintih “auw” akibat tabrakan tadi tangannya masih sakit, mungkin terkilir.


“Tanganmu masih sakit karena tabrakan tadi kan?” Nalla mengusap-usap tangan kanannya yang sedikit merah “anggap saja sebagai permintaan maaf, biar gue yang bawain”


Saat Nate mengangkat buku-buku itu, Nalla mengambilnya beberapa “aku g enak kalau kamu bawa semuanya sendiri” katanya


“Tengkiu my sis, ini mau dibawa kemana emang?”


“Ke perpus”


“Oiya Nate nanti malam kamu datangkan?”


“Nanti malam? Datang kayaknya kenapa?”


“Kita bisa berangkat bareng nggak?” Pinta Nalla.


Sudah tradisi di SMA Panca setelah kelulusan, anak-anak kelas 3 akan mengadakan acara pesta, perpisahan, prom night atau apalah namanya itu dan biayanya semua di tanggung sekolah, jadi bagi kelas 3 semuanya harus datang tanpa terkecuali. Nate sendiri sebenarnya malas, ia bisa saja tidak datang tapi berhubung terlanjur janji dengan teman-temannya mau tak mau ia juga harus datang.


“Yakin Lo mau pergi dengan gue, emang Baginda ratu mama ngizinin?”


“Mama bakalan ngizinin kok, kamu tenang aj”


Baru juga Nate dan Nalla sampai di persimpangan koridor saat tanpa sengaja Nate bertabrakan dengan seseorang, beruntung ia tidak sampai jatuh hanya beberapa buku yang di bawanya saja yang terjatuh dan hampir mengenai Nalla.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya laki-laki itu


“Aku tidak apa-apa ” Laki-laki itu bukannya bertanya pada Nate yang ia tabrak malah menanyai keadaan Nalla, ia juga membantu Nalla mengumpulkan beberapa buku yang jatuh itu.


“Eh bapak, yang di tabrak bapakkan Nate bukan Nalla” Nate protes, jelas-jelas tadi tu orang menabraknya, tapi malah Nalla yang di tanyain.


“Kau kan tidak apa-apa” kata laki-laki yang dipanggil bapak oleh Nate itu


Bapak itu bernama Zoe, seorang guru pengganti yang baru 3 bulan mengajar di kelas Nate. Wali kelas Nate, bapak Erfan tiba-tiba mengalami kecelakaan, dan guru pengganti itu datang untuk menggantikan pak Erfan sementara sampai pak Erfan sembuh yang otomatis juga menggantikan posisinya sebagai wali kelas dikelasnya.


“Makasih pak” kata Nalla, saat ia akan mengambil buku dari laki-laki itu tanpa di duga Zoe malah mengambil buku yang di pegangnya.


“Biar saya bantu bawain ya? Anggap sebagai permintaan maaf saya” kata Zoe dan meski samar senyum simpul terukir di wajahnya.

__ADS_1


Selama ini, guru muda itu di kenal dingin, ia jarang bahkan tidak pernah sekalipun terlihat tertawa ekspresi wajahnya juga melempem, datar sepanjang waktu. Jika sedikit saja ada perubahan mimik di wajahnya otomatis itu akan menjadi viral se sekolahan, secara ia termasuk si guru tampan populer seantero sekolah versi makhluk hidup berkromosom xx di SMA Panca.


Nate akui makhluk hidup laki-laki yang bernapas itu memang tampan, memiliki kulit putih, dan bibir yang sedikit kemerahan, di tambah hidungnya yang mancung, tidak lagi mata tajam yang sekali melirik akan membuat para cewek-cewek melting, lalu juga ditambah badannya yang tegap plus tingginya yang di atas rata-rata cowok Indonesia. Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada ciptaan Tuhan yang seindah itu? Nate tidak suka.


Meski tampan guru muda itu kejam, terutama padanya. Bahkan untuk masalah killer, pak Adim guru BK-nya tidak ada apa-apanya di banding makhluk kejam satu ini.


“Diih modus” Nate memutar bola matanya, untuk orang yang sering berurusan dengan bapak satu itu, Nate tahu betul kalau gurunya itu punya perasaan untuk kembarannya. Jika dilihat sekilas memang ekspresinya masih dingin seperti biasa, tapi kalau dilihat lebih seksama, ada kelembutan yang terpancar dari mata itu. Bahkan untuk masalah tingkah, bapak satu itu begitu hati-hati ketika bersama Nalla.


“Nate bapak bisa dengar yang kamu katakan” Nate tertawa kaku mendapat tatapan tajam Zoe, padahal ia tadi tidak mengatakannya keras-keras. Apa tu orang punya pendengaran super?


“Eh... Nate g ngomongin bapak kok, tuh ada cicak disana sedang modus” dalih Nate sambil menunjuk ke arah dinding, lalu ia menatap Zoe dengan senyum jenakanya “bapak ngerasa ya?”


Zoe mendengus, ia memalingkan wajahnya dari Nate. Sementara Nalla tidak mengerti dengan situasinya, dan hanya bisa tertawa hambar.


“Bukankah kalian sudah lulus untuk apa kalian ke sekolah?”


“Saya ada keperluan pak dengan Bu Mina, jadi saya mengajak Nate ke sekolah” terang Nalla lembut seperti biasanya.


“Dan kamu Nate?” Kali ini Zoe bertanya pada Nate


“Itu tadi sudah di jelasin sama Nalla, masa bapak g denger?”


“Cuman ikut saja kan? Kamu tidak  buat masalah kan?” Tanya Zoe curiga, dan tepat, Nate dan teman-temannya memang sudah buat masalah dan jika sampai wali kelasnya itu tahu, habis sudah ia tidak tahu hukuman apa yang orang itu berikan padanya.


“E-enggak kok” kata Nate berbohong “lagian kan dah biasa disini anak kelas 3 main-main ke sekolah setelah lulus”


“Saya tahu itu Nate, tapi pertanyaan saya kamu disini tidak buat masalah lagi kan?”


“syukurlah kalau kamu tidak buat masalah, dan lebih syukur lagi kalau bukan kamu dan teman-temanmu di ruang pertemuan tadi” kata-kata Zoe sukses membuat Nate bergidik, pasalnya memang tak mungkin hanya pak Adim saja yg tahu, secara mereka berdua kompak kalau urusan murid yang melanggar, jadi kalau pak Adim tahu Zoe pasti juga tahu. Tapi syukurlah meski Zoe curiga, tapi ia tidak punya bukti kalau dirinya dan teman-temannya di ruangan itu.


“Pak, bapak g punya kerjaan lain apa selain ngikutin kita berdua?” Tanya Nate mengalihkan topik, meski si Zoe tidak punya bukti, namun jika tetap membahas hal itu, lama-lama Zoe juga akan tahu atau bahkan kecurigaannya semakin bertambah, Apalagi kalau sampai guru itu mulai mencercanya dengan pertanyaan. Selain itu ia bertanya juga karena  penasaran melihat Zoe juga ikut pergi dengan mereka.


“Emang ada masalah? Saya kan hanya sedang menolong murid bapak”


“Kalau begitu tolong bawain buku-buku ini juga dong” Nate menyodorkan buku-buku di tangannya kearah Zoe.


“Kamu kan punya tangan, kenapa harus minta bantuan bapak?” Kata Zoe judes.


Bangsat! Untung guru, kalau nggak tak bejek-bejek tuh mahkluk satu.


“Ciih dasar guru iblis” kali ini Nate hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Sengaja biar bapak pemilik pendengaran super itu tidak mendengarnya.


“Kamu mengatakan sesuatu?”


“Enggak kok, dasar geer”


Zoe sudah terbiasa dengan sikap lancang Nate, diantara murid-murid di kelasnya Nate paling sering berurusan dengannya. Ada saja tingkah gadis itu yang membuat para guru tak habis pikir, bahkan Pak Adim guru BK yang terkenal killer itu pun tidak sanggup mengatasi dia dengan ganknya dan alhasil sebagai wali kelasnya dialah yang harus menangani gadis itu.


Tapi untunglah selain ada Nate si biang masalah di kelasnya, ada juga kembarannya Nalla yang sifatnya 180 derajat berbeda dengannya, jika disuruh memilih ia lebih memilih berurusan dengan Nalla dari pada Nate, setidaknya seorang Nalla tidak akan melakukan hal-hal ajaib yang membuat kepalanya pusing.


“Nate kau masih kuat bawa bukunya?” Tanya Nalla yang melihat Nate Mulai kesulitan membawa buku-buku itu.


Dibilang kuat Nate sebenarnya masih kuat, cuman ia mulai kesulitan membawa buku-buku itu. Nalla tiba-tiba mengambil beberapa buku dari tangannya sebelum ia mengatakan sesuatu.

__ADS_1


“Kau pasti kesulitan bawa buku banyak begini biar aku bawa sebagian saja ya?” Rasanya Nate seperti mendapat Oase ketika beban yang dibawanya mulai berkurang. Baru juga ia mau bilang makasih ketika buku yang di pegang Nalla tiba-tiba diambil oleh guru iblis itu, membuatnya tidak bisa tidak protes.


“Sini biar saya yang bawakan”


“Bapak, sama muridnya jangan pilih kasih gini dong, kalau mau bantu bawain sekalian nih yang Nate pegang”


“G usah banyak ngeluh kamu, sebentar lagi juga sampai ke perpus” kata Zoe dengan sikap coolnya yang menjijikkan.


“Kalau gitu kenapa bapak g biarin saja Nalla bawa sendiri bukunya, kan sudah mau sampai di perpus?” Tanya Nate masih tidak terima.


“Kau tidak lihat bagaimana kondisi tangan Kanalla” Zoe menunjuk tangan Nalla yang memang merah “kalau sampai ada apa-apa dengan tangannya bagaimana?” Untuk masalah itu, Nate akan sependapat dengan Zoe. Ia lupa jika tangan Nate seperi itu karena ulahnya dan ia juga tidak akan membiarkan Nalla membawa buku dengan kondisi tangan seperti itu.


“Tangan Nalla tidak apa-apa kok pak, nanti juga akan sembuh” kata Nalla lembut.


“Hal kecil seperti ini jangan kamu sepelekan Nalla, jangan sampai masalahnya jadi besar baru kau akan menyesal” Nate dapat melihat di mata Zoe ada sedikit kecemasan, jika menyangkut Nalla sikap gurunya itu akan berubah dari sikap biasanya terutama tatapan matanya.


Tatapan Zoe, Nate sudah biasa melihatnya di sekeliling Nalla, entah sudah berapa banyak orang-orang yang menatap Nalla dengan tatapan seperti itu, sedangkan dirinya satu kali pun... tidak,  jika ia memperhatikan sekitarnya, masih ada orang-orang yang juga menatapnya seperti itu.


“Ya ampun sayang ada apa dengan tanganmu?”


Meski tatapan itu bukan dari orang yang  ia harapkan.


Sesampainya di rumah mereka di sambut oleh mamanya, sebenarnya bukan mereka yang disambut. Seperti biasa mamanya hanya peduli pada Nalla, bagi dia keberadaan Nate seperti angin antara ada dan tidak.


“Tangan Nalla g pa pa kok Ma, cuman sedikit terkilir saja, dan sudah diobati oleh guru Nalla” jelas Nate, tadi setelah dari perpustakaan, Zoe mengobati tangan Nalla di UKS, meski kesannya dingin tapi dia begitu telaten mengobati. Bahkan balutan perban ditangan Nalla begitu rapi.


“Tapi bagaimana bisa tanganmu sampai seperti ini” tanya mamanya cemas.


“Nalla tadi g sengaja jatuh, tapi g pa pa kok Ma, mama tak perlu khawatir” Nalla masih berusaha menenangkan mamanya.


Ekspresi cemas mamanya, kapan Nate pernah melihat ekspresi itu ditujukan padanya? Tidak pernah. Ia menghela nafas, memberanikan diri ia memanggil mamanya.


“Ma” detik sebelumnya ekspresi mamanya di penuhi kecemasan, namun kini, ekspresi itu begitu dingin saat menatapnya.


“KAMUKAN PASTI YANG MEMBUAT TANGAN ANAKKU SEPERTI INI?” Marah mama pada Nate. Nate sudah biasa dimarahi seperti ini oleh mamanya, bahkan untuk masalah-masalah kecil yang menimpa Nalla ia selalu yang menjadi sasaran kemarahannya. Tapi apa-apaan dengan kata anakku itu, seakan Nate bukanlah anaknya.


“Ma ini bukan kesalahan Nate kok, Nalla sendiri yang jatuh tadi” Nalla berusaha menenangkan mamanya, tapi itu percuma, sekali sesuatu terjadi dengan anak kesayangannya, Baginda mama tidak akan berhenti marah sampai kemarahannya reda sendiri.


“Tidak mungkin sayang, mama tahu kau tidak mungkin seceroboh itu sampai-sampai bisa terjatuh” lembut “PASTI DIAKAN PENYEBABNYA, SEHARUSNYA AKU TIDAK MEMBIARKAN ANAKKU PERGI DENGANMU, SEHARUSNYA AKU SADAR KAMU ITU PEMBAWA SIAL DI KELUARGA INI” kasar


Sungguh perbedaan sikap yang kontras ibu satu ini.


“Ma”


“sayang mulai sekarang kamu jauh-jauh dari dia, dia membawa pengaruh buruk untukmu”


Niat hati ingin jadi anak yang berbakti dengan salaman pada mamanya, apalah daya ia harus mendengar kata-kata seperti itu dari mamanya. Nate menarik sudut bibir lurus, ia lalu memberi isyarat pada Nalla kalau ia akan ke kamarnya. Sebelum ia melihat anggukkan kepala Nalla, Nate sudah pergi dari tempat itu, sementara Nalla masih manenangkan mamanya supaya berhenti marah-marah.


“Non?” Panggil bibi Rusmi, pelayan paruh baya di rumah ini, ia sudah lama bekerja di sini bahkan mungkin sebelum ia dan Nalla lahir, jadi bi rus begitu sapaan akrab Nate sudah tahu betul dengan apa yang terjadi di rumah ini.


Bi Rus menatap Nate cemas, tatapan yang membantu Nate survive di tempat yang menyesakkan ini. Nate tersenyum pada bi rus sebagai pengganti jawaban ia baik-baik saja, jadi bi rus tidak perlu mencemaskannya.


Sesampainya di kamar, Nate membanting tubuhnya diatas kasur, sungguh ia merasa lelah terutama ketika dia di rumah ini, ingin rasanya ia segera cepat-cepat keluar dari rumah ini, keliling dunia seperti Mimpinya. Tapi sebelum itu ia ingin bermimpi, sejenak melupakan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2