
Ruang aula tempat pesta dilaksanakan sudah ramai dengan banyak orang, untuk acara seperti ini saja mereka semua tidak ada yang terlambat, bandingkan dengan saat upacara bendera, terlambat 5 menit, pura-pura pingsan, bolos, dan bahkan yang sampai tidak ikut, ada-ada saja cara yang akan mereka lakukan untuk sekedar tidak ikut upacara sampai akhir
Total ada 200 an siswa kelas 3 dari keseluruhan kelas baik kelas IPA dan IPS, Nate tidak banyak kenal dengan mereka semua, tapi rata-rata mereka semua kenal dengan Nate. Dan baru juga the Kampreto masuk ke aula, mereka sudah menarik perhatian semua orang terutama cewek yang berjalan dibelakang disamping Viona. Nate memakai gaun pesta adalah suatu hal yang langka, dan tidak sedikit yang mulai tertarik padanya.
Mereka mengakui Nate memang cantik, tapi secantik-cantik nya Singa ia masihlah seekor predator.
"Ini Nate" kata Viona sambil memberinya dua bunga, satu mawar merah asli dan satu lagi mawar hitam palsu.
Sudah tradisi pada malam prom night, para murid akan memberikan mawar merah asli pada guru yang mereka sukai dan mawar hitam palsu pada guru yang tidak mereka sukai, sama halnya waktu mereka pls (pengenalan lingkungan sekolah) dulu memberikan surat cinta dan benci pada senior.
Nate memutar-mutar bunga di tangannya, untuk memberikan mawar merah itu ke siapa baik Nate and the gank tak perlu berpikir.
"Gaes" panggil Nate yang langsung di mengerti oleh teman-temannya dan yg mungkin tidak mengerti disana adalah Viona, ia tahu mereka sudah merencanakan sesuatu dan ia tidak mau mengganggu.
"Aku ke sana dulu ya" pamit Viona pada mereka sebelum pergi ke arah teman-teman sekelasnya.
Seperti yang sudah di duga, kebanyakan yang mendapat mawar merah adalah si guru pengganti wali kelas Nate, meski dibilang masih guru baru, namun popularitasnya di mata anak-anak mengalahkan guru lama yang di kenal begitu baik seperti Bu Mina atau kata Nate si guru Menor karena dandanannya yang menor, terutama di kalangan cewek-cewek. Tak heran, ia tampan apalagi dengan memakai setelan jas aura ketampanannya meningkat.
Di banding seorang guru aura yang dipancarkannya seperti seorang pimpinan sejenis CEO mungkin?
Sedangkan pak Adim, guru BK satu itu tampak menyedihkan, ia mendapat banyak mawar hitam dan seakan tidak peduli ia duduk sambil memakan kue yang sudah di sediakan seorang diri. Melihatnya sontak para Kampreto berteriak memanggilnya, membuatnya hampir tersedak.
"Pak Adim!"
"Uhuk..uhuk..." Buru-buru pak Adim minum "kampret hampir saja bapak mati gara-gara tersedak, ada apa kalian panggil-panggil bapak?"
"Yaelah pak, g usah marah-marah gitu dong cepet tua nanti bapak"
"Ghendeng bapak memang sudah tua" pak Adim menendang bokong Varo.
"Ciaah pak kalem dong, jangan sering marah-marah, ininih yang membuat bapak selalu dapat mawar hitam"
"Bapak g peduli, mau hitam kek merah kek emang apa gunanya buat bapak, g bisa di makam juga. Kalian sendiri mau apa? Mau memberikan bapak mawar hitam juga?"
"Hmm...bapak suudzon Mulu jadi orang"
"Bapak kan sudah punya banyak mawar hitam, jadi sebagai gantinya.." Nate, Dean, Varo, dan Vano memberikan mawar merah pada pak Adim.
"Ini untuk bapak" kata mereka serempak. Pak Adim mengerutkan kening.
"Ada apa ini?" Tanya pak Adim curiga.
"Ini buat bapak terima dong pak" kata Nate "mawar merah ini sebagai bukti kalau kami saaayang bapak" Nate tersenyum lebar.
Pak Adim menerima bunga itu masih dengan rasa curiga, secara mereka semua adalah murid yang sering berurusan dengannya dan bisa-bisanya mereka malah memberinya mawar merah.
"Kalian g benci sama bapak? Secara yang sering berurusan dengan kalian kan bapak"
"Ya enggak dong pak, malah karena sering berurusan itu kita jadi saaaayang Ama bapak" kata Varo.
"Secara kan tanpa bapak The Kampreto g akan ada" imbuh Vano "iya g gaes?" Semuanya menggangguk setuju.
"Sableng"
__ADS_1
"Eh pak jangan sering bicara kasar dong, nanti tahun depan g ada yang akan memberi bapak mawar merah gimana?" ucap Dean yang langsung mendapat jeweran dari pak Adim
"Dah dah sana pergi kalian sana pergi jangan ganggu bapak, hus hus nikmati pestanya sana" usir pak Adim yang langsung disambut wajah kecewa the Kampreto.
"Auw auw pak kuping Dean pak lepasin dulu" seru Dean yang telinganya masih di jewer pak Adim.
"Yah bapak" keluh Varo
"G asik ih bapak ini" sambung Nate
"Pergi g atau bapak pukul kalian satu-satu" the Kampreto lalu melarikan diri saat pak Adim bersiap akan memukul.
Sebenarnya alasan pak Adim mengusir mereka karena ia sendiri malu bagaimana harus bersikap, secara ini kali pertamanya ia mendapat bunga mawar merah dari murid-murid yang selalu berurusan dengannya membuat hati pak Adim sedikit tersentuh
Pak Adim menaruh mawar-mawar merah itu diatas tumpukan mawar yang ia punya, saat ia akan lanjut makan, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Mereka adalah the Kampreto yang setelah diusir mereka balik lagi.
"Bapak jangan nangis karena terharu ya" kata Vano
"Kalian.."
"Iy pak kami kembali" kata Nate
"Wuih tu kue kayaknya enak, minta ya pak?" Tanpa tahu malu Varo tiba-tiba mengambil kue yang di pegang pak Adim, membuat guru itu merasa terganggu dengan mereka.
"Kalian udah sana pergi!" Teriak pak Adim pada akhirnya. Para Kampreto itu hanya tertawa saja, mereka kembali melarikan "dasar"
Semakin malam acara pesta itu semakin meriah, Nate masih memegang mawar hitam itu, ia tidak tahu pada siapa ia akan memberikannya. Setelah dari pak Adim, kini the Kampreto mulai pergi sendiri-sendiri, Dean pergi mencari Viona, Vano sedang tampil diatas panggung, Varo diajak dansa oleh teman sekelasnya dan dia sedang asik makan kue-kue manis diatas meja, ia tidak tertarik dengan semua keramaian itu dan kue-kue ini bahkan lebih menggoda sekarang.
"Nate?" Panggil seseorang, Nate menoleh "rupanya ini benar kau, sumpah tadinya aku g percaya kau dandan seperti ini" Nalla memperhatikannya dari atas ke bawah, takjub dengan penampilan saudaranya itu.
"G kok kamu cantik malah apalagi bajumu, kayaknya waktu berangkat kamu g pakai baju itu deh"
"Oh ini aku di pinjami Ama Viona, make up ini juga ulahnya" jelas Nate.
"Ya syukurlah setidaknya kau tidak datang ke pesta ala kadarnya" kata Nalla
Tiba-tiba lampu ruangan mati dan tak lama sebuah lampu sorot hidup yang hanya menyoroti Nalla, dan terdengar sebuah alunan musik romantis, lampu sorot kedua nyala menyoroti seorang cowok yang semua orang pasti kenal.
"Aldian?"
Aldian Varega mantan ketua OSIS yang tidak banyak bicara, berprestasi dan juga populer. Ia juga tampan. Cowok itu tersenyum kearah Nalla, ia juga mulai berjalan mendekat, tak perlu bertanya apa yang dia lakukan kalau bukan mengungkapkan perasaanya dengan menembak Nalla.
"Wow" kata Nate takjub, epic memang di tembak di acara seperti ini dan di lihat oleh banyak orang.
Diam-diam Nate menyingkir, memberi keduanya ruang, ia juga tidak mau ada terlalu dekat dengan orang yang akan mengungkapkan perasaannya.
Ctiing
Hapenya tiba-tiba berbunyi
Dean kampret:
Woi yang mo bakso
__ADS_1
Varo kampret:
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Vano kampret:
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Mau
Dean kampret:
Ketempat biasanya kalau mau
Vano kampret:
Ok, otw
Varo kampret:
Siiiaap
Tempat biasanya yang di bilang Dean itu adalah atap sekolah, Nate sendiri tidak mau ketinggalan kalau acara makan-makan dan baru saja ia akan bergegas tiba-tiba ia bertabrakan dengan seseorang.
"Auw" Nate meringis mengusap jidatnya "bapak?" Panggilnya begitu melihat siapa orang yang menabrak.
Zoe hanya memandang Nate sekilas lalu pergi keluar dari aula. Meski sekilas Nate dengan jelas melihat ekspresi wajah bapak wali kelasnya itu. Antara mau marah, tidak terima, kecewa dan juga sedih, wajah tadi seperti orang yang sedang patah hati. Nate melihat kebelakang ke arah Nalla yang kini tampak Malu-malu di peluk oleh Aldian, dan kata "ohh" begitu saja lolos dari mulutnya.
__ADS_1
"Ohh pantas"