HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Rutinitas pagi


__ADS_3

"Kakak cosplay jadi panda?" tanya Nate waktu melihat Keenan keluar kamar dengan lingkaran hitam di matanya.


"Nggak lagi cosplay jadi genderuwo." jawab Keenan asal, dia meminum teh yang di bawa Nate ke ruang makan.


"Bohong, mana ada genderuwo ganteng." mendengar apa yang dikatakan Bintang seketika membuatnya tersenyum lebar.


Keenan mengusap kepala anak yang memang suka bicara manis itu, "bagus, nanti father kasih uang jajan lebih buat Bintang."


Bintang lalu menengadahkan tangannya, "sekarang father, kalau nanti takutnya father lupa."


Senyum yang tadi cerah itu seketika sirna mendengar apa yang anak kecil itu katakan. Pagi-pagi gini mana ada dia pegang uang, semua uangnya ada di dalam dompetnya di kamar, dimana dia sangat malas untuk ke kamarnya.


"Kalau gak ada uang jajannya, gantengnya father boong," ucap Bintang kemudian yang membuat seorang Keenan merasa masuk ke dalam jebakan anak satu itu buat dapat uang jajan lebih.


"Emang father ganteng?"


Ditambah pertanyaan Hanan yang membuat Keenan semakin berwajah masam. Tidak lagi Hanan bertanya dengan nada serius.


"Nggak tahu."


"Terus kenapa tadi Bintang bilang father ganteng, ha?" kembali Keenan mengacak-acak rambut Bintang, kali ini sampai membuat rambut Bintang menjadi berantakan.


"Emang yang bilang Father ganteng siapa? kan tadi Bintang bilang 'mana ada genderuwo ganteng' emang father ngerasa jadi genderuwo?" ucapan polos Bintang membuat Keenan speechless.


Sungguh anak-anak Nathania menurutnya aneh bin ajaib, mereka yang bisa bertindak lebih dewasa dari seusia mereka kadangkala juga bisa bertingkah layaknya anak-anak yang masih polos.


Tidak mereka tidak polos, tapi terlalu cerdik untuk ukuran anak-anak seusia mereka.


"Iya.. enggak sih, tapi kan Father juga ganteng."


"Mana ada orang ganteng jarang mandi kayak Father," tambah Hanan yang saat itu tengah meniup susunya yang masih panas.


"Terus lagi, gak ada orang ganteng yang ngaku ganteng Father," imbuh Bintang.


bukan sekali dua kali Keenan berdebat dengan Hanabi, kadang dia sendiri merasa heran, kenapa setiap kali mereka berdebat selalu dirinya yang di pojokkan, membuat harga dirinya sebagai orang dewasa terluka.


"Kata siapa gak ada orang ganteng yang ngaku ganteng, buktinya ini Father." tidak mau kalah, Keenan menunjuk pada dirinya sendiri.


layaknya orang dewasa, Bintang berdiri diatas kursinya untuk menepuk bahu Keenan yang memang tubuhnya lebih besar dari tubuhnya.


"Father." katanya, "orang kayak gitu bukannya ganteng."


"Tapi orang narsis," kata Bintang dan Hanan bersamaan.


"Bodo amat, mau kalian bilang Father narsis kek apa kek, yang jelas Father kalian ini ganteng, good looking, good rekening titik." jelas Keenan masih tidak mau kalah.


"Good rekening iya, good looking hmm...enggak, apalagi ganteng."


"Bintang." panggil Keenan.


"Father jarang mandi, kakinya juga brewokan, apalagi badannya."


"Bau." tambah Bintang.


"Pokoknya Father gak good looking lah, gak enak dilihat soalnya," jelas Hanan.


Sungguh ucapan seorang anak kecil seperti mereka memliki damage yang tak kalah besarnya dari mamanya.


Mengabaikan percakapan Keenan dan kedua anaknya, Nate yang selesai menaruh makanan di atas meja makan pergi ke kamar Keenan untuk membangunkan Nara, anaknya yang tidak biasanya belum bangun di jam segini.


Seperti kapal pecah.


Begitulah tanggapan Nate saat masuk ke dalam kamar Keenan. Ada banyak tumpukan baju yang berserakan dimana-mana, Nate tidak tahu apakah baju-baju itu kotor atau masih bersih, buku-buku juga tidak kalah berserakan di mana-mana, padahal di pojok kamar itu ada sebuah rak untuk menyimpan buku. tanaman yang ada di atas meja di samping laptop juga sudah layu, dia yakin tanaman itu jarang di siram dan di taruh di bawah sinar matahari oleh Keenan. Diantara baju-baju dia atas tempat tidur, Nate melihat putranya yang begitu lelapnya tertidur.


Nate menepuk kepalanya, padahal baru tiga hari lalu dia berbaik hati membersihkan kamar ini, tapi rupanya tidak sampai seminggu kamar Keenan kembali berantakan seperti sebelum dia membersihkannya.


"Nara, bangun ayo. sudah jam berapa ini nanti kamu telat sekolahnya,"


Nate membuka jendela kamar, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam kamar, dia juga memindahkan tanaman malang dari atas meja ke jendela. Mendengar suara Mommy nya, Nara menggeliat tapi tak juga kunjung bangun.


"Nara," panggil Nate lagi. dia duduk di samping putranya, mengelus kepala Nara dan menciumnya, "Ayo bangun."


"Lima menit lagi, Mommy."


Nate menghela napas, dia melihat jam di tangannya. Tidak ada waktu lima menit lagi, dia pun menggendong Nara menuju kamar mandi. Baru juga dia menyiram air ke atas kepala Nara, anaknya itu seketika berteriak karena airnya yang dingin.


"Mommy, dingin." Teriaknya yang sampai terdengar ke ruang makan, dimana saudara-saudaranya dan Keenan berada.


"Udah tahan sebentar, dinginnya nanti juga hilang." Kata Nate memandikan anaknya.


Mengabaikan Nara, Bintang dan Hanan malah ribut gara-gara ayam goreng. Mereka yang sudah mendapat masing-masing bagian ayam gorengnya masih menginginkan lagi ayam goreng yang hanya tinggal satu biji itu.


"Hanan ngalah dong, kan tadi Hanan sudah dapat bagian dagingnya," kata Bintang.


"Nggak mau, kan kamu juga sudah dapat bagian pahanya," kata Hanan tidak mau kalah.


"Pahanya kan ada tulang, gak kayak punya Hanan yang cuman daging doang."

__ADS_1


"Bintang kok gitu sih, padahal ayamnya juga banyakan punya Bintang."


"Banyak apanya kalau ada tulangnya, lagian Hanan juga makan ayamnya paling banyak."


Padahal yang paling banyak adalah Keenan, namun diam-diam Keenan suka melihat pertengkaran keduanya. Dia yang selesai sarapan sejak tadi memilih untuk tetap di ruang makan sembari melihat pertengkaran mereka, yang sepertinya sudah menjadi rutinitas pagi hari.


"Kalian ini, cuman kurang di botakin ya biar sama kayak tokoh kartun yang TK forever itu," sela Keenan.


kedua kembar itu menatap tajam Keenan.


"Father diam."


"Jangan buat rusuh aku dan Bintang."


Kalimat keduanya saling melengkapi, lagian tanpa Fathernya mereka berdua juga sudah rusuh.


"Kalian juga dari tadi sudah rusuh." Keenan mengambil piring yang berisi ayam goreng itu.


"Father," keluh keduanya.


"Kids dengar ya, yang mau makan ayam goreng juga bukan kalian berdua aja, masa kalian tega Nara gak makan ayam goreng tapi kalian makan, kalian harus ingat sesama saudara..."


"Harus saling berbagi," ucap keduanya kompak.


Keenan tersenyum, "Good, ajaran Father berarti kalian ingat." lanjutnya lagi merasa bangga.


Hanan dan Bintang mendengus.


Tidak lama, Nate datang membawa Nara yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Nara masih menggertakan giginya, kedinginan.


Bau semerbak minyak telon memenuhi seisi ruangan.


"Nate, Lo ngasih minyak telonnya berapa botol sampai baunya semerbak gini."


"Minyaknya tadi gak sengaja tumpah yaudah Nate usapin aja ke badan Nara."


Nate menyiapkan sarapan untuk Nara, terlihat dia tampak begitu buru-buru.


"Kak, kamu gak ada kerjaan kan hari ini, bisa minta tolong anterin anak-anak ke sekolah nggak? Nate soalnya buru-buru mau berangkat kerja."


Keenan menaruh ayam goreng yang tadi dia amankan ke piring Nara. Mau-mau saja dia mengantar si triplet ke sekolah.


"Nggak masalah sih, tapi inikan masih pagi Nate."


"Karena masih pagi Nate harus buru-buru biar gak telat sampai kesananya."


Tidak seperti dari restoran Keenan, jarak antara perusahaan tempatnya bekerja dan rumahnya terbilang cukup jauh, yaitu 30 menit perjalanan menggunakan sepeda motor, itupun kalau tidak macet, kalau macet memakan waktu lebih lama lagi.


Ke tiga anaknya mengangguk, mereka tidak hanya mengerti tapi sudah hafal di luar kepala nasihat Mama mereka.


"Mengerti!" ucap mereka bersamaan.


"Bagus, yaudah Mama berangkat dulu ya." Nate setengah berlari mengambil tas ransel dan helmnya dari kamar.


"Nggak makan dulu Nate?" tanya Keenan, waktu melihat Nate tengah mencari-cari sesuatu di dalam tasnya.


"Gak nanti aja kak, Nate makannya," kata Nate tanpa menoleh.


"Nate," panggil Keenan lagi, saat Nate menoleh, Keenan melemparinya dengan kunci motor yang dari tadi dia cari-cari. "Hati-hati, jangan ngebut bawa motor."


Nate menangkap kunci motornya, "Nate titip anak-anak ya kak. daah Nate berangkat dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Keenan


"Bunda," panggil Hanan "Uang saku kita mana?"


Nate menepuk dahinya, dia lupa memberi uang saku untuk mereka, tapi sekarang dia sudah memakai sepatunya sudah siap mau berangkat.


"Kalian minta dulu ke Father Ken, bilang aja nanti Mama balikin uangnya," kata Nate dari depan pintu.


ke tiga anak itu menatap ke arah Keenan, dari luar terdengar bunyi motor yang di starter.


"Apa?"


"Kata Daddy tadi."


Keenan mendengus, "Uangnya nanti, sekarang selesain dulu makannya."


"Aku sudah selesai dari tadi father," kata Hanan.


"Aku pun juga," lanjut Bintang.


"Tapi Nara belum,"


Mereka berdua melihat Nara, "Apa lihat-lihat Nala?" tanya Nara, sembari memasukkan sesendok penuh nasi ke mulutnya.


"Yak, kalian sudah jangan bertengkar," ucap Keenan antisipasi takut-takut ada sequel pertengkaran mereka. "Father mau mandi dulu kalian yang anteng dulu disini, oke."

__ADS_1


****


"Nate sini deh, kita punya alat keamanan baru." teriak senior Nate waktu Nate datang.


Nate hanya tersenyum, dia ikut bahagia melihat para seniornya bahagia mendapat alat baru. Memang di bidang pekerjaannya ini, alat keamanan memang yang paling penting. Kemarin, pertama kali dia bekerja, dia memakai alat keamanan yang menurutnya sudah usang, untuk kelayakannya memang masih layak, hanya saja dia masih khawatir akan keselamatannya waktu bekerja. Bagaimanapun dia masih belum siap meninggalkan anak-anaknya itu tanpa seorang ibu.


"Ha ha ha," seniornya yang lain memukul punggung Nate, membuat Nate hampir saja terjatuh ke depan. "kamu memang bawa keberuntungan Nate, padahal baru kerja sehari, tapi lihat setelah kedatanganmu alat-alat diganti dengan yang baru."


"Pak Adam bisa aja, bukan karena Nate kok." Nate mencoba berdalih, meski sebenarnya dia merasa alat-alat di ganti juga karena dia.


Dia ingat percakapannya kemarin dengan Zoe, sebenarnya dia tidak berharap Zoe akan mendengarkannya dan mengganti semua alat-alat keamanan.


"Pak Adam, mukulnya jangan keras-keras, Nate hampir saja jatoh tadi," sela Robin, yang usianya tak jauh beda dari Nate.


Menyadari apa yang sudah dia lakukan, pak Adam buru-buru meminta maaf pada Nate.


"Ya ampun, Nate. Maaf bapak terlalu bersemangat tadi."


Nate hanya tersenyum, "nggak apa-apa kok pak."


"Kebiasaanmu Dam, dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah," kata Pak Tino, salah satu senior yang sudah lama bekerja itu menggelengkan kepalanya.


Pak Adam hanya menyengir lebar sembari memegang belakang kepalanya.


"Sudah sekarang ayo mulai bekerja," kata Pak Tino.


Segera para pekerja pembersih kaca, mulai bersiap-siap. Kecuali Nate, semua pekerja disini adalah pria, total ada 10 pekerja pembersih kaca pagi ini, termasuk dirinya.


Waktu dia akan bersiap-siap juga, Robin tiba-tiba mengajaknya bicara.


"Kamu tidak apa-apa?"


Nate menoleh kearah Robin yang terlihat jelas di wajahnya tidak ada semangat sama sekali.


Nate berpikir mungkin Robin menanyakan soal tadi, waktu pak Adam memukulnya.


"Tidak apa-apa kok, pak Adam juga gak terlalu kuat waktu memukulku tadi." Nate memegang bahunya.


Robin menggeleng, "bukan soal itu, tapi tanganmu." Robin menunjuk pada perban di tangannya.


"Oh ini." Nate melihat tangannya, "nggak apa-apa kok, cuman luka biasa."


Robin tidak bertanya lagi, dia hanya mengangguk-angguk saja.


"Tapi gak mengganggu pekerjaan mu kan?"


Nate mengacungkan jempolnya, "aman soal itu." Nate tersenyum lebar.


Dia bersama Robin berjalan ke tepi gedung, bersiap akan bekerja, setelah memastikan tali keamanan terpasang dengan baik.


"Nate, nanti siang mau makan bareng gak?" tanya Robin tiba-tiba, sebelum mereka bersiap akan turun.


"Nanti? kayaknya aku gak bisa, gimana kalau besok?"


Robin mengernyitkan dahinya, "Kenapa?"


"Itu, aku ada urusan nanti."


"Ooo." tidak mengatakan apa-apa lagi, Robin duluan turun.


"Janji ya?" Meski samar, Nate dapat mendengar suara laki-laki itu.


Nate pun mengangguk, "Iya," jawabnya meski dia tidak yakin apakah Robin mendengarnya.


sebelum jam makan siang, pekerjaan Nate sudah selesai. Ada waktu 10 menit sebelum jam makan siang.


Nate buru-buru pergi ingin menemui Zoe, dia ingin segera mengembalikan sapu tangan laki-laki itu. Namun sayangnya Zoe sedang tidak ada di ruangannya.


"Pak Zoe sekarang sedang ada rapat, kamu bisa menunggunya disini sampai pak Zoe datang," kata Rio, sekertaris Zoe yang dia temui di depan ruangan Zoe.


Nate malas untuk menunggu, "Maaf pak, tapi saya buru-buru tidak bisa menunggunya, pak Rio bisa tolong kasihkan ini ke dia?" Nate mengeluarkan sapu tangan itu yang sudah dia cuci bersih sebelumnya.


Rio tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Bosnya dan perempuan di depannya itu. Tapi mengingat bagaimana selama ini Zoe mencarinya, bukankah lebih baik kalau sekarang kedua orang itu bertemu langsung.


"Pak Zoe akan lebih suka kalau kamu sendiri yang memberikannya langsung padanya." kata Rio, "lagipula, sekarang saya ada pekerjaan di luar, jadi maaf saya tidak bisa memberikannya ke beliau." lanjut Rio memberi alasan yang masuk akal.


Padahal Nate tidak bilang harus memberikannya hari ini, kapan saja juga bisa. Dia hanya tidak mau lama-lama memegang barang milik laki-laki itu.


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Rio pada Nate.


"I-iya pak."


Setelah kepergian Rio, Nate bingung haruskah dia mengembalikan langsung sapu tangan itu ke Zoe atau haruskah dia membuangnya saja. Tapi kalau dia buang rasanya sayang, sapu tangan itu pasti harganya mahal, atau dia jual saja, tapi Zoe tidak memberikan sapu tangan itu ke dia.


Sebisa mungkin dia tidak mau bertemu dengan laki-laki itu. Meski awalnya dia mau mengembalikan sapu tangan itu, tapi kalau bisa dia ingin menitipkannya pada orang lain untuk di berikan ke Zoe.


Tapi siapa yang bisa dia titipkan?

__ADS_1


Saat Nate sedang bingung ke siapa dia akan menitipkan sapu tangan itu. Seseorang memanggilnya.


"Nia?"


__ADS_2