HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Terbongkar


__ADS_3

“Hoek...Hoek” keluar dari mobil pak Mal langsung memuntahkan seluruh isi dalam perutnya. Kini giliran Nate yang menepuk-nepuk punggung pak Mal.


Sebenarnya ia kasihan melihat keadaan pak Mal yang seperti ini karena ulahnya, tapi mau bagaimana lagi kalau sudah bawaan ngidam.


“Minum dulu pak” Nate menyodorkan sebotol air pada pak Mal.


“Ampun dah non g lagi-lagi bapak naik mobil seperti tadi” Pak Mal mengangkat tangannya menyerah. Nate hanya tersenyum saja sebagai tanggapan.


“Maaf pak, Nate Janji g akan kayak tadi lagi, suer” tangan Nate membentuk huruf V, ia tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih, namun di balik senyum itu pak Mal merasa ada yang beda dari nonanya itu.


Senyum itu tak lagi seceria dulu.


“Non...”


“Oiya pak Mal Nate masuk dulu ya, badan Nate sudah sakit semua rasanya” kata Nate memotong ucapan pak Mal.


Pak Mal seperti disadarkan dari lamunan, ia lupa jika nonanya itu sedang sakit. “I-iya non, cepat sembuh ya non” kata pak Mal, Nate menanggapinya dengan tersenyum.


Rumah keluarga Darmawangsa dapat dibilang seperti istana, tak hanya besar dan mewah tapi ada banyak pelayan di dalamnya, ada kolamnya juga, baik indoor maupun outdoor, serta tamannya yang luas, mobil-mobilnya yang di garasi pun cukup beragam, orang lain yang melihatnya mungkin akan iri tapi bagi Nate semua yang ada di rumah ini memuakkan, bahkan rasa makanan disini menjijikkan jika saja ia tidak butuh makan dan menjaga perasaan para pelayan yang sudah memasak ia tidak akan mau memakan semua makanan itu.


Dan lagi, ada apa dengannya saat ini, ia akui ia memang tidak suka tinggal di rumah itu, tapi sampai muak...ia tidak akan menyangka. Apakah mungkin karena hamil ia jadi lebih sensitif? Ia merasa geli sendiri. Nate mengusap perutnya, mungkinkah anak-anaknya merasakan apa yang ibunya rasakan dan juga ikut-ikutan tidak menyukai apa yang ibunya tidak sukai maka ketidaksukaannya menjadi berkali-kali lipat? Ya siapa yang tahu.


“Fiuh” Nate bernapas dengan lega ketika akhirnya ia bisa melepas jaket tebal yang di pakainya sejak tadi. Ia perlu meralat, ia tidak sepenuhnya tidak menyukai segala hal yang berada di rumah ini, buktinya sekarang hal yang ia suka adalah rasa dingin dari AC, bukankah berarti masih ada hal yang ia sukai disini.


“Non sudah pulang non?” Sapa bi Rus pelayan paruh baya itu, ketika Nate sedang mengambil air di kulkas. “Bagaimana kata dokter tadi?” Tanya bi Rus sambil mematikan kompor sejenak menghentikan aktivitas masak memasaknya.


“G ada yang perlu dikhawatirkan kok bi, kata dokter cuman masuk angin biasa” jelas Nate yang tentu saja berbohong, ia ke rumah sakit tidak untuk memeriksa kesehatannya, tapi kandungannya.


“Masuk angin gimana to non, sampai-sampai buat non muntah-muntah seperti ibu hamil “ untung saja air yang diminumnya sudah Nate teguk kalau tidak, mungkin ia akan tersedak. “Tapi non g pa pa kan?” tanya bi Rus cemas, untuk hari ini baru dua orang yang menanyakan keadaannya, dan meski sedikit, kecemasan mereka membuat hati Nate hangat.


Nate tidak tau bagaimana harus menanggapi, ia hanya tersenyum. “Iya Nate g pa pa kok, oiya bibi sedang masak apa?” Tanya Nate mengalihkan topik.


“Bi rus, tolong buatkan bubur untuk Nalla, dia bilang sedang tidak enak badan sama dimana kamu menaruh obat sakit kepala?” Mama tiba-tiba muncul entah dari mana, tidak hanya tidak melihat keberadaan Nate mama juga menabrak pundaknya.


“Anu itu nya obat sakit kepalanya sudah habis” kata bi rus.


“Ya ampun kok bisa habis si bi? Nalla sedang sakit kepala Giman dong?”


“Ma Nate punya kok obat sakit kepala, kalau mama mau...”


“Tidak perlu” jawab mama tegas, bahkan untuk menunggu Nate selesai bicarapun mama seakan enggan. Ya Tuhan apa dosa yang sudah ia perbuat sampai-sampai mamanya bersikap seperti itu. “Bi suruh pak Mal untuk segera membelikan obat sakit kepala” Perintah Mama.


“Saya sudah menyuruh Narti buat beli obat nya, mungkin sebentar lagi ia akan datang” kata Bi Rus


“Oke, nanti suruh Narti bawakan obatnya ke Nalla”


“Iya nya”


“Oiya bi buburnya jangan lupa”


“Baik nya, tapi saya selesaikan masak dulu soalnya sudah hampir siang”


“Masak memasaknya bisa nanti sekarang bubur untuk Nalla yang penting, itu kamu masak apa?”


“Masak tumis tahu dan tempe nya”


“Nalla tidak suka makan tempe, kenapa bi rus buat itu?”


“Itu...?” Bi rus menatap Nate, tumis tahu dan tempe adalah makanan kesukaannya untuk hari ini bi rus sengaja memasak itu karena Nate juga sedang “sakit”.


“Sudahlah lupakan, untuk makan malam nanti bi rus buat ayam kecap manis, itu makanan kesukaan Nalla”

__ADS_1


Apa-apa Nalla yang mama pikirkan, Ia heran jangan-jangan anak kandung mama itu cuman Nalla, tapi mustahil juga ia dan Nalla punya wajah yang sama.


“Kau tadi pergi ke rumah sakit kan?” Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba mamanya bertanya padanya, benar-benar suatu hal yang langka.


“Iya”


“Bagaimana kata dokter?”


“Cuman masuk angin biasa”


Dan “oh” bahkan tidak dia katakan, mama pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


“Non apa mau dibuatkan bubur juga?” Tanya bi Rus, mama hanya meminta bi Rus untuk membuat bubur untuk Nalla bahkan sama sekali tidak ingat dengannya.


“Tak usah bi” Nate pergi menuju kamarnya, Kamarnya berada di samping kamar Nalla, melihat bagaimana mama begitu memperhatikannya, Nate merasa geli sendiri, ia tidak iri apalagi merasa tak adil lagipula dia juga tidak ambil pusing hanya untuk pura-pura bersikap baik untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.


Sudah beberapa hari berlalu, morning sickness dan bau matahari membuat Nate malas keluar dari kamarnya, rasanya ia terlalu mager dan hanya ingin rebahan, rebahan, dan rebahan saja. Selama ia “sakit”, selain bibi Rus tidak ada lagi yang datang ke kamarnya, tidak seperti di kamar sebelah dimana suara mama sering ia dengar hampir sepanjang hari.


Anak kembar sakit bersamaan memang biasa, tapi bagaimana mungkin Nalla bisa sakit selama ini dan sakitnya juga bersamaan dengan “sakitnya?” Entahlah siapa yang tahu.


Nate baru mau keluar dari kamarnya ketika merasa morning sicknessnya sudah agak mendingan dan tidak lagi mual pada bau matahari. Ia bergabung dengan mama dan papanya di meja makan, tidak ada suara ketika Nate bergabung dan memang seperti itu biasanya.


“Kata mamamu kau sakit?” Tanya papa datar.


“Iya, cuman masuk angin biasa” jawab Nate tak kalah datarnya.


Nate sudah tidak lagi mual mencium bau matahari, tapi sebagai gantinya ia mual dengan bau-bau makanan.


“Hoek...Hoek...Hoek” Nate berlari kearah wastafel, buru-buru para pembantu di dekatnya memberinya air dan menepuk punggungnya, sementara papa dan mamanya hanya melihatnya begitu saja.


“Sayang kenapa kau keluar dari kamarmu, kau kan masih sakit”


“Nalla tidak apa-apa ma, tapi Nate?”


Nate mengacungkan jari jempolnya “Sans gue g pa pa” kata Nate masih memunggunginya.


“Nate apa kamu sering muntah-muntah begini?” Tanya Nalla tiba-tiba “Sebenarnya kamu sakit apa?” Nate sudah dapat menebak kemana pertanyaan ini akan berujung.


“Apa maksudnya sayang?” Tanya mamanya.


“Ma kamarku dan Nate bersebelahan dan setiap pagi aku selalu mendengar Nate muntah-muntah, Nate sebenarnya kamu tidak sakit kan tapi hamil”


Seketika suhu diruangan itu menurun, baik mama, papa, dan para pelayan semua tidak ada yang bergerak, tak ada suara sunyi. Jantung Nate berdegup kencang, sial di saat seperti ini Nate malah tidak sabar dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, disamping takut Nate malah penasaran dengan reaksi apa yang akan mama dan papanya buat.


Anggap ia masokis, tapi untuk melihat reaksi selain datar, dingin dan marah di wajah orang tuanya, hanya menjadi masokis itu masih tidak ada apa-apanya.


Nalla menunjukkan alat test pack yang di pegangnya, pada semua orang.


“Aku menemukan test pack ini di depan kamar Nate, tadinya ku kira ini milik salah satu pelayan tapi...maaf Nate aku tidak bisa tidak mencurigai mu”


Nate juga tidak sepenuhnya bisa menyalahkan Nalla, toh cepat atau lambat kebenaran tentang kehamilannya juga akan terungkap, mau itu nanti atau sekarang pada akhirnya tetap dialah yang akan disalahkan.


Dan test pack itu? Apa itu punyanya?


“Nate katakan sesuatu”


“Cukup” entah cukup apa yang papanya itu maksud “apa benar Nate kau hamil?” Tanya papanya masih tenang seperti biasanya, tapi Nate tahu dibalik ketenangan itu papanya sedang menekan amarahnya.


“Iya, Nate hamil” jawab Nate santai, papa dan mamanya seketika berdiri dari tempat mereka duduk.


Plak!

__ADS_1


Nate yang tidak siap dengan tamparan mendadak papanya itu kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh, beruntung di belakangnya ada wastafel jadi ia tidak sampai jatuh ke lantai.


“Non!” Pekik bi Rus mengkhawatirkannya, hal itu bagi Nate sudah biasa yang tak biasa adalah bagaimana mungkin ada seorang ibu yang bahkan ketika anaknya dalam kondisi semenyedihkan ini masih tidak melakukan apa-apa bahkan untuk sekedar berekspresi khawatir pun tidak. Dan tatapan itu, setidaknya Nate bisa melihat ada perubahan dari tatapan itu, jika biasanya tatapan mama padanya itu dingin dan acuh kali ini tatapan itu begitu dingin dan menghina.


Jarak antara meja makan dan wastafel tidak cukup jauh, tapi bagaimana papanya bisa berada di depannya tadi masih begitu luar biasa kalau di pikir-pikir. Apa papanya punya kekuatan teleport bisa berpindah tempat dalam sekejap? Atau tadi papanya terbang?.


“Siapa laki-laki itu?” Suara yang keluar dari mulut papanya tidak lagi datar, jelas papanya sangat marah.


“Aku tidak tahu” jawab Nate lirih, mendengar jawaban Nate emosi papa menjadi tidak terkendali, ia membanting barang yang ada di sekitarnya, gelas, piring, bahkan buah-buahan tidak lepas dari amarahnya.


“JANGAN BERBOHONG NATE!” teriak papanya “KATAKAN SIAPA LAKI-LAKI ITU? SIAPA LAKI-LAKI YANG MENGHAMILIMU?”


Kali ini Nate tidak menjawab


“JAWAB PAPA JANGAN DIAM SAJA!”


“MAU BERAPA KALIPUN PAPA BERTANYA JAWABAN NATE TETAP SAMA PA, NATE TIDAK TAHU!” Teriak Nate pada akhirnya.


Plak! Kembali tamparan papa mendarat di pipinya hingga membuat sudut bibirnya berdara


“JANGAN MENINGGIKAN NADA SUARAMU KETIKA BICARA PADA PAPA NATE” Nate tertawa, tapi tidak ada yang tahu ia menundukan kepalanya dalam-dalam.


“KAU BENAR-BENAR MEMBUAT MALAU NAMA KELUARGA”


Kapan Nate tidak pernah tidak buat malu


“MAU DI TARUH DIMANA WAJAH PAPA JIKA ORANG LUAR SAMPAI TAHU”


Di depanlah kan wajah papa tidak bisa di pindah-pindah.


Ingin rasanya Nate bersikap tengil di hadapan papanya, tapi ia sadar kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


Nate menghela napas “Maaf” ucap Nate lirih


“MAAF SAJA TIDAK CUKUP, KAU SUDAH DI BESARKAN DI KELUARGA YANG BAIK-BAIK TAPI BEGINI BALASANMU PADA KAMI, KAU...DASAR ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG”


Kami siapa yang papa maksud?, selama ini Nate tidak pernah merasa sudah di besarkan oleh kalian, yang kalian berikan pada Nate adalah nama dan tempat untuk tinggal, kapan kalian pernah memperhatikan Nate? Dan ketika Nate salah, kenapa kalian harus repot-repot memarahi Nate? Kalian seharusnya tidak perlu sampai seperti itu.


“Bukankah ada rapat di kantor hari ini, papa tidak akan berangkat?” Kata mama mengingatkan.


“Ma kurung anak tidak tahu diri ini di kamarnya, jangan biarkan ia keluar dari kamarnya sebelum aku perintahkan” papanya lalu pergi begitu saja. Kemarahan papa bukanlah hal yang mudah dia lihat, jadi melihat papanya yang biasanya begitu datar dan tenang menjadi hiburan tersendiri untuknya.


“Kau tadi sudah dengarkan apa yang papamu katakan? Sekarang masuk ke kamarmu dan jangan berani ke luar”


“Apa mama tidak akan memarahiku?”


“Sejak awal aku sudah menduga hal ini akan terjadi, kau itu membawa pengaruh buruk untuk keluarga ini” kata mama dingin, ia pun juga pergi dengan membawa Nalla meninggalkan ia disana. Dan satu-satunya orang yang tidak pergi adalah bi Rus, pelayan paruh baya itu memeluknya.


“Ya Allah non, bagaimana ini bisa terjadi pada non” bi Rus menangis untuknya, tidak ada mata menyalahkan di mata itu.


“Bi, bibi percaya g kalau Nate di perkosa” orangtuanya bahkan tidak bertanya bagaimana ia bisa hamil, mereka hanya peduli pada nama baik mereka, dan meski ia memberi tahu mereka nama laki-laki yang menghamilinya lalu bagaimana?


“Ya Allah” tangisan bi Rus semakin menjadi-jadi, di tempat itu hanya ada Nate dan bi Rus, para pelayan semenjak papa marah-marah sudah menghilang entah kemana. “Bibi percaya non, non tidak mungkin berbohong. Laki-laki bajingan itu siapa dia non biar bibi marahi dia” entah kenapa perkataan bibi Rus yang sungguh-sungguh itu terdengar lucu bagi Nate, bi Rus seperti seorang ibu yang membela anaknya yang berkelahi lalu kalah dan mengadu ke ibunya.


Nate hanya menanggapinya tersenyum “entahlah bi aku tidak tahu” bohong, Nate bukannya tidak tahu ia hanya tidak bisa mengatakannya, lagipula siapa yang akan mempercayainya.


Laki-laki itu bahkan tidak menginginkannya, apalagi anaknya.


“Kau hamil? Tinggal aborsi saja”


Kata-kata itu selalu terngiang di kepala Nate, dengan entengnya dia laki-laki iblis itu mengatakan hal itu padanya. Siapa yang tidak akan marah mendengar orang yang memperkosanya mengatakan kata itu. Nate mungkin urakan tapi ia punya hati.

__ADS_1


__ADS_2