
"Nia, sejak kapan kamu bekerja disini?" Tanya Sisi, waktu mereka sedang makan siang di kantin.
Di depan ruangan Zoe tadi, Nate tidak sengaja bertemu dengan Abram, setelah itu Abram mengajaknya untuk makan siang bersama dengan Sisi dan yang lainnya.
Duduk bersama dengan orang-orang itu membuat Nate merasa canggung. Pasalnya mereka semua begitu baiknya mengajaknya makan siang bersama. Bahkan mereka dengan baik hatinya menyuruhnya untuk makan lebih banyak lagi.
"Iya mbak, Nate baru aja kerja kemarin," kata Nate.
"Kemarin, kok kamu gak nemuin kita sih?" kata Daria
"Nia takut ganggu mbak, soalnya kan kalian sedang sibuk," jelas Nate, meski alasan sebenarnya adalah karena Zoe, jika saja kemarin dia tidak bertemu dengan laki-laki itu, dia pasti akan menemui mereka.
"Kita-kita sudah gak sibuk kok, Nia. jadi jangan sungkan nanti bareng kita makan waktu dah jam makan siang, ya?" ucap Daria.
Nate tersenyum, "Siap, mbak."
"Tapi Nia, kalau kamu kerja disini, kamu sudah gak nganterin pesanan lagi dong, di restoran itu?" kata Diana
"Nia masih antar pesan makanan, tapi sudah gak bisa setiap hari mbak Di."
"Loh kamu masih kerja disana?, kirain aku kamu sudah berhenti Nia, emang kamu gak capek harus kerja di dua tempat sekaligus?" Tanya Daria.
Semua orang disana menatap Nate penasaran.
"Ya capek sih, cuman Nia gak ada pilihan lain, daripada nantinya anak-anak rewel gak di kasih uang jajan," kata Nate sambil tertawa, tapi tidak dengan ke-4 orang yang sedang menatapnya.
"Jujur ya Nate, aku kagum sama kamu," kata Abram, "aku dulu seusiamu aja masih suka main ke sana kemari."
Andaikan tidak ada anak-anak, Nate mungkin sama seperti Abram. mungkin sekarang dia sudah ada di benua lain, memenuhi hasratnya untuk berkeliling dunia.
"Jelas beda lah Bram," sanggah Daria, "jangan samakan kelakuan playboy kek Lo sama Nia sekarang."
"Dar, Lo ngerti konteks ucapan gue gak sih, siapa juga yang menyamakan gue sama Nia. kan gue bilang, di usia Nia sekarang gue masih suka main kayak anak muda seusianya, emang Lo enggak?" ucap Abram kesal pada temannya satu itu.
Mendengar ucapan Abram, Daria hanya cengengesan, ia tidak menampik diapun sama seperti Abram yang suka main layaknya anak muda dulu.
"Lupa, gue juga sama." Abram mencibir Daria.
"Lipi, gii jigi simi, taik Lo." ucap Abram kesal.
"Sudah Abram, Daria, diam. Gak malu sama umur kalian, sudah besar masih saja suka bertengkar." Sisi menengahi sebelum Daria meledak saking kesalnya pada Abram.
"Si, gue masih belum ngomong apa-apa Lo, belum sampai bertengkar juga sama tu orang." Daria menunjuk pada Abram di depannya dengan jari tengahnya.
"Wah Dar, Lo nantangin nih nunjuk orang pakai jari tengah." Abram menyingsingkan lengan bajunya, sementara Daria menatapnya menantang.
"Gelut yuk kalian berdua, lumayan biar ada konten nih gue di toktik." Diana yang semenjak tadi diam saja mulai memanas-manasi, tidak lupa dia menyiapkan hpnya untuk merekam kelakuan kedua temannya itu.
Sisi hanya bisa menepuk dahinya melihat kelakuan teman-temannya. Dia yang merasa berbeda dari teman-temannya, merasa malu dengan kelakuan mereka. Meski dia sedikit merasa lega dengan kelakuan Diana, setidaknya sekarang Abram dan Daria tidak akan berani bertengkar lagi.
Baik Abram dan Daria sama-sama membuang muka. sudah pasti mereka tidak sebodoh itu mau di rekam oleh temanya itu, apalagi jika sampai di posting, tentu tidak lagi.
"Lah kalian gak jadi nih gelutnya? padahal gue semangat nih ngontenin kalian berdua." Sejujurnya Diana tidak ada niatan untuk memvideo ke-2 temannya itu, apalagi sampai mempostingnya di sosmed. Tapi jika tidak dia ancam seperti itu, sudah jelas kedua temannya itu tidak akan berhenti bertengkar, untungnya dulu dia tidak sengaja pernah memposting Abram dan Daria, jadi ancaman akan di rekam dan di posting di toktik nya masih mempan membuat mereka diam, tidak jadi bertengkar.
Padahal menurutnya, Daria dan Abram sangat cocok menjadi pasangan, tapi entah mengapa keduanya tidak pernah akur, selalu saja setiap harinya ada aja yang mereka berdua ributkan.
"Kak Bram sama mbak Ria cocok ya jadi pasangan." Bahkan Nate mengakui kalau keduanya cocok menjadi pasangan.
Baik Abram dan Daria menoleh pada Nate.
"Darimananya kita berdua cocok?" ucap Abram dan Daria bersamaan.
"Itu," kata Nate.
"Sudah kalian berdua pacaran aja dah," Diana yang duduk di sebelah Nate mendorong kepala Daria yang di condongkan ke depan.
"Ogah gue pacaran sama Daria, kalau di suruh milih mending gue pacaran sama Sisi aja." Abram menoleh pada Sisi yang saat itu sedang meminum jusnya.
"Abram, kamu lupa aku sudah punya suami."
"Maksud gue, kalau di suruh milih mending gue pacaran kayak cewek seperti Lo Si, yang kalem, cantik, baik hati, gak bar-bar kayak orang di sana itu," ralat Abram.
"Sayangnya Lo gak bisa milih Bram, kan enak kalau kalian pacaran, jadi kalian gak bakal bertengkar lagi setiap harinya, iya kan Nia?" Diana meminta persetujuan Nate.
Nate mengangguk, meski dia sendiri tidak yakin jika Abram dan Diana sampai pacaran mereka tidak akan bertengkar.
"Dih, bisa kiamat kalau gue pacaran sama dia." kembali Daria menunjuk Abram dengan jari tengahnya, "lagian nih ya tipe gue itu cowok pekerja keras, tapi gak keras juga orangnya, yang baik hati, hatinya lembut, ya kayak kamu ini Nia. Sayangnya kamu cewek, coba kalau kamu cowok."
"Dih, jadi cowok juga Nia gak bakal suka kali Ri ke kamu, emang kamu lupa Nia itu sudah punya pasangan."
Nia tersenyum canggung mendengar perkataan Diana. Sejak dia kecil hingga sekarang di usianya yang hampir 23 tahun dia sekalipun masih belum punya pasangan. Lagipula bagaimana dia akan punya pasangan, kalau selama ini dia sibuk kerja dan mengurus anak-anaknya itu.
__ADS_1
"Tapi Nia, kenapa kamu mau menikah di usia muda?" tanya Abram.
Menikah muda adalah alasan Nate ketika orang-orang bertanya kenapa dia sudah punya anak di usianya yang masih muda.
"Karena cinta kak," bohongnya, jangankan cinta dia bahkan tidak pernah sekalipun mencintai seseorang apalagi lawan jenisnya. "Nia kira, menikah atas dasar cinta saja sudah cukup, lagian dulu daripada Nia nantinya terjerumus ke hal-hal yang tidak benar, mendingan Nia langsung menikah saja dengannya. Yah meskipun sekarang Nia sadar kalau menikah saja tidak cukup hanya sekedar cinta."
"Kamu benar Nia," Daria mengangguk-angguk setuju, "aku juga nantinya tidak mau menikah hanya sebatas cinta, minimal lah laki-laki yang nantinya jadi suamiku harus punya mobil dan tabungan yang isinya diatas 6 digit."
Diana menatap pada Abram yang memain-mainkan sedotan di gelasnya, Abram merasa aneh dengan tatapan Diana yang seakan menggodanya.
"Bram, dengarkan yang Ria katakan?" Diana mengangkat alisnya menggoda Abram.
"Apa sih Di." Abram membuang mukanya sambil mendengkus.
"Nia, maaf kalau aku tanya ini," ucap Sisi berhati-hati, "suami mu kemana ya? kenapa hanya kamu yang bekerja?"
"Dia...merantau mbak, entah kemana, sampai sekarang juga belum ada kabarnya."
Mendengar ucapan Nate, Sisi merasa bersalah. "Aduh, maaf ya Nia kalau pertanyaan ku membuatmu tersinggung."
Nate tersenyum, "nggak apa-apa kok mbak, bukan salah mbak juga, lagian gak mungkin dong Nia tersinggung."
"Ya ampun Nia, hatimu memang sedalam lautan, bagaimana kamu bisa tegar dengan keadaan mu ini?" Ucap Daria lebai sembari mengelap air mata fiktifnya dengan jari.
Nate tersenyum, "anu, mbak Ria, bisa jangan lebai nggak? Nia jadi geli lihat mbak kayak gini."
Seketika Abram tertawa terbahak-bahak, sedangkan Diana dan Sisi sebisa mungkin menahan tawanya.
Hanya Daria yang memanyunkan bibirnya, kesal.
"Nia," panggil Daria.
Nate menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "maaf mbak." ucapnya mengatupkan tangannya sambil cengengesan.
Setiap harinya, gank Abram dkk memang di kenal berisik oleh pegawai kantor yang lainnya, apalagi kalau sudah jam makan siang, selain memesan makanan dari kantin, gank mereka juga biasa memesan makanan dari luar yang ajaibnya makanan itu selalu saja habis tidak tersisa. Dapat di bilang, Abram dan yang lainnya adalah orang-orang asik yang Nate temui di kantor ini. Setidaknya dengan keberadaan mereka, mungkin dia bisa tahan kerja selama satu tahun sebelum dia mengajukan surat pengunduran dirinya.
Dari jauh, seorang laki-laki menatap Nate yang tertawa lepas. Orang itu tak lain adalah Zoe.
Rasanya sudah lama dia tidak melihat seorang Nate tertawa lepas begitu, padahal dulu Nate selalu tertawa, saat dia hukum berdiri hormat pada bendera di siang yang terik saja, perempuan itu masih bisa tertawa dengan teman-temannya.
Sungguh, Zoe menyesali perbuatannya pada Nate, andaikan dulu dia tidak melakukan hal bejat itu, Nate kini dapat menjalani hidup yang lebih baik, tidak harus bersusah payah bekerja seperti sekarang.
Ponselnya berdering, Zoe mengangkat panggilan dari sekertarisnya itu yang tidak henti-hentinya menelepon.
"Aku kan sudah bilang, aku tidak akan datang ke pesta itu, tolong suruh Mama berhenti untuk menggangguku dan juga berhentilah jadi perantara ku dengan Mama," ucap Zoe tidak memberi kesempatan orang di seberang telpon untuk bicara.
Orang di seberang telepon. menghela napasnya, "Maaf tuan, tapi alasanku menelpon anda bukan karena masalah itu," jawab Rio tenang.
"Lalu ada apa kamu menelpon ku?"
"Ini soal kuburan yang anda minta saya untuk selidiki. tuan."
Zoe memindahkan ponselnya dari tangan kiri ke tangan kanannya.
"Bagaimana, apa sudah ada perkembangan, kuburan itu, itu tidak ada kan?" harap Zoe yang langsung dipatahkan oleh Rio.
"Sayangnya, kuburan itu benar-benar ada tuan."
Deg!
Seketika, jantung Zoe seperti berhenti berdetak, dan kembali berdetak dengan cepat hingga rasanya dadanya menjadi sakit.
"Ka-kamu tidak bohong kan Rio?"
"Sayangnya tidak tuan, kalau anda tidak percaya, apa perlu saya mengirimi bukti foto pada anda?"
"Tidak perlu, A-aku sendiri yang akan pergi kesana, kamu kirim saja alamatnya dimana."
"Baik tu..." belum sempat Rio menyelesaikan kalimatnya, Zoe buru-buru mematikan teleponnya.
Sedikit bergegas dia berjalan ke luar kantor, bahkan dia mengacuhkan para pegawainya yang menyapanya.
Di tempat lain.
"An." Rio menghela napasnya, kebiasaan Bosnya selalu mematikan teleponnya sebelum orang lain selesai bicara.
Rio kembali menatap ke dua kuburan kecil di depannya. Meski kuburan itu merupakan kuburan lama, tapi kedua kuburan mungil itu masih begitu terawat. Rio mencabut rumput yang tumbuh di kuburan yang bertuliskan nama Lintang.
Setelah mencabut rumput-rumput besar di sekitar kedua kuburan itu, Rio mengirim alamat pemakaman ini pada Bossnya. Sengaja dia tidak langsung mengirim alamatnya tadi, untuk memberi pelajaran pada Bosnya yang tidak sabaran itu.
'Sebenarnya kalian ada hubungan apa dengan Bos ku itu?' tanyanya dalam hati, Rio bangkit dari jongkoknya, kakinya sudah mati rasa karena kelamaan berjongkok.
__ADS_1
Untuk pertanyaannya tadi, ia berharap akan mengetahuinya cepat atau lambat. Akan lebih baik kalau Zoe sendiri yang memberitahunya, dan sejak dulu juga dia penasaran ada hubungan apa antara Zoe dan Nate sampai Zoe menyuruh semua anak buahnya untuk mencari perempuan itu.
Meski dia sudah punya dugaan kalau mereka punya hubungan yang tidak biasa, namun dia tidak hanya ingin menduga-duga saja, melainkan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
'Apa dulu mereka punya hubungan yang spesial sampai punya anak ya, atau mungkin Zoe mengha...ah tidak. Laki-laki seperti Zoe tidak mungkin berani melakukan hal itu, pasti jika mereka melakukan hal itu karena saling cinta, bukan karena Zoe yang memperkosa perempuan itu, kan?'
Rio menggeleng kepalanya menepis pikiran negatif dalam kepalanya itu.
***
"Father, Bunda belum pulang?" tanya Hanan waktu Keenan menjemput Hanabi pulang sekolah.
"Mama kalian masih kerja, Hanabi ku. kenapa kangen sama Mama?"
Ketiga kembar itu bersama mengangguk kepalanya, bagaimanapun Hanabi masihlah seorang anak kecil, mereka pasti sedih melihat teman-teman mereka yang lain di jemput oleh ayah atau ibu mereka, sedangkan mereka di jemput olehnya.
Keenan merasa terharu, dia ikut sedih melihat Hanabi bersedih.
"Mommy padahal janji mau beliin kita maltabak hali ini."
Keenan yang tadinya mau menghibur Hanabi seketika mengurungkan niatnya mendengar ucapan Nara.
"Besok sudah hari Minggu, toko martabaknya pasti tutup." Tidak lagi dengan ucapan Bintang.
"Hanan bahkan sengaja gak beli jajan banyak-banyak hari ini biar tidak kenyang biar bisa makan martabak, tapi masak gak jadi sih." dan ucapan Hanan.
Rasa harunya tadi seketika terasa sia-sia saja.
"Hei, kiddo. kembalikan rasa haru Father tadi."
ketiga kembar itu menatap sebal Keenan.
"Father Ken gak ngerti perasaan kita nih," kesal Hanan, "dari kemarin kita menunggu untuk bisa makan martabak, Father. Sekarang masak harus menunggu lagi."
"Ya maaf, Father kalian ini tidak peka. sudah ayok, kita pulang."
"Father coba bayangkan, wanita hamil yang ngidam habanero tapi tidak kesampaian, kan kasihan. sama kayak kita bertiga."
"Ampun kid, umpamanya seram kali, ya kali orang hamil ngidamnya cabai, buset dah tuh wanita hamil, gak kasihan apa sama anaknya."
Keenan membuka pintu belakang mobilnya, menyuruh ketiga anak itu untuk masuk. Meski ketiganya kesal, mereka setidaknya tidak berguling-guling di sana dan menolak untuk diajak pulang.
"Fathel, kan tadi pagi Mommy nyuluh Fathel buat jagain kita, peka dikit lah Fathel." protes Nara yang belum masuk kedalam mobil.
"Kan Father sudah bilang, Father tidak peka, lagian perasaan tadi pagi Mama kalian nyuruh Father nganter kalian ke sekolah doang, gak nyuruh jagain kalian. sudah sana masuk."
Tapi Nara tidak juga kunjung masuk, anak satu itu bersedekap dada dan mengembangkan pipinya, kesal. Nara ceritanya marah tapi bukannya menyeramkan, anak kecil itu malah menjadi imut .
"Fathel kan di suluh ngantelin kita juga kalena fathel suluh jagain kita, nah kalena hali ini fathel yang jaga kita menganggantikan Mommy, Fathel juga sehalusnya menganggantikan Mommy beliin kita maltabak."
Sungguh Keenan gemas dengan Hanabi ini. Mereka sama-sama bersedekap dada dan mengembangkan pipi mereka.
Keenan mencubit pipi Nara yang menggemaskan, "Ya ampun, kalian ini gemas sekali sih. Pengen deh Father karungin."
"Bilangnya kalian, kok cuman Nala yang di cubit sih," protes Nara mengusap pipinya yang merah di cubit Keenan.
"Biarin, biar kamu ngewakilin saudara-saudara mu yang lain." Padahal sebenarnya kenapa hanya Nara yang dia cubit, adalah karena Nara yang belum masuk ke mobil, Keenan mengangkat Nara dan mendudukkannya di kursi di samping kembarannya yang lain.
"Father, kasihan Nara pipinya merah." Hanan mengusap kasar pipi adiknya itu.
"Bintang kasih tahu Daddy nih, Father nyubit Nara," ancam Bintang.
"Aduin aja sana, kalau gak mau Father beliin martabak."
Mendengar ucapan Keenan, Bintang melihat pipi Nara, dan Hanan yang berhenti mengusap pipi Nara.
"Nara pipinya sakit?" tanya Bintang.
"Enggak kok, kan Fathel tadi cuman ngusap pipi Nala, jadi gak sakit." Nara tersenyum lebar pada Fathernya.
"Father ayo buruan jalan, nanti keburu tokonya tutup." kata Hanan.
Keenan tertawa geli melihat perubahan sikap anak-anak kecil itu.
"Kalian duduk yang diam, Father gak mau melihat kalian berantem di dalam mobil."
"Iya Father/Fathel," ucap mereka bersamaan.
"Good."
Waktu Keenan menutup pintu belakang mobil, ketiga kembar itu tersenyum licik pada Father mereka.
__ADS_1