
"iIttadakimasu! Bismillah" Baru juga Nate mau makan bakso yang di beli Dean, tiba-tiba Viona mengambil mangkoknya.
"Nate Lo g boleh makan" Larang Viona.
"Tapi gue laper" Kata Nate memelas.
"G boleh, Lo tau g make up Lo itu masterpiece gue, gue g mau ya karya gue itu rusak begitu saja"
"Ck" decak Nate "Tapi gue laper" Ucapnya mengulang kalimatnya.
"Nih Boba" Varo menyodorkan segelas Boba pada Nate.
"Dimana-mana orang laper itu makan bukannya minum" Meski marah-marah pada akhirnya Nate mengambil Boba yang di sodorkan "Thai teanya juga" Imbuhnya.
"Nate tau g, rasanya nih bakso sedapnya mantap" Pamer Vano pada Nate, sedang Nate yang melihatnya ingin menyiram tu makhluk dengan bobanya, tapi ia masih sayang kalau bobanya di buat menyiram "Rugi dah kalau Lo g makan" Vano menyuruput kuahnya kuat-kuat sengaja untuk membuat Nate tambah bete, tapi yang terjadi malah dia yang tersedak "Uhuk...uhuk..." Sontak yang lain tertawa karena ulahnya.
"Bwahaahahha, Maman tu bakso"
"Wkwkwwk No no,biasa aja kali makannya jangan ngegas gitu, kan tersedak jadinya" kata Dean
"Pffft...sial, gue hampir tersedak juga" Sambung Varo
"Uhuk...uhuk...sialan kalian, teman lagi dapat musibah malah diketawain"
"Lah yang dulunya buat masalah juga siapa? Kan... jadinya kena musibah" Kata Dean masih mentertawainya.
"Uhuk..sialan" Vano mengambil minuman yang sudah ada secara acak dan secara acaknya juga yang di pilih adalah thai tea punya Nate.
"Woi Thai tea gue woi jangan Lo minum" Nate menyambar Thai tea itu dari tangan Vano.
"Ck...Lo kan sudah minum Boba, ngapain masih mau Thai tea, serakah banget Lo jadi orang"
"Bodo emang gue pikirin, Lo kan sudah makan bakso ngapain masih pengen Thai tea"
"Dimana-mana orang kalau makan itu harus minum..." Belum sempat kalimatnya selesai, Varo mencekoknya dengan air.
"Lo mau minumkan nih minum"
"Hmpt..hmpft..." Vano melempar botol air itu, ia hampir tersedak lagi gara-gara di cekoki air oleh Varo "Setan" Umpatnya
"Woi kampret lihat-lihat dong kalau mau bercanda" Teriak Dean marah "Airnya nyiprat ke gue nih"
"Tuh Yan salahin Varo, dia dulu yang mulai"
"Lah kok gue, kan gue hanya bantuin Lo, Lo kan bilang Lo mau minum Yaudah gue kasih" Kata Vano membela diri.
"Ya ngasihnya dengan cara biasa kan bisa?"
"Enggak" Jawab Vano "G greget kalau gitu" Tambahnya
"Anjir" baru juga Vano mau melemparnya dengan botol aqua di sebelahnya, saat tanpa sengaja ia menyenggol gelas Boba hingga tumpah.
__ADS_1
"Vano!" Teriak Dean yang terkena tumpahan Boba. Ia lalu menarik rambut Vano geram.
"Auw auw Yan sori Yan gue g sengaja, kalau mau marah marahin tu Varo dia yang awalnya cari gara-gara" sementara Varo yang dibicarakan itu tidak henti-hentinya tertawa, sama halnya dengan Nate.
Bagi Nate sendiri pemandangan seperti ini yang nantinya akan ia rindukan. Bahkan belum apa-apa ia sudah merasa rindu dengan mereka.
"Lah kan Lo yang numpahin" Kata Varo tidak mau disalahkan.
"Kan itu gara-gara Lo" Kata Vano tak terima.
"Bacot kalian berdua" Dean akhirnya menarik rambut Varo juga, membuat Vano tertawa puas "Lo juga sama Ro"
"Wkwkwkwk rasain tu"
Cekrek!
Mereka semua serempak menoleh kearah bunyi kamera "UPS! Gue lupa matiin bunyinya" Kata Viona.
"Vi bilang-bilang dong kalau mau foto kan gue bisa siap-siap " Kata Varo yang rambutnya masih ditarik Dean.
"G perlu la, yang alami jauh lebih baik"
"Jelek itu pasti hasilnya" Kata Varo yang rambutnya juga sama, masih ditarik Dean.
"Eits jangan salah, gini-gini gue itu anak fotografi dan gue jamin hasilnya akan bagus"
"Nanti fotonya kirimin ke gue ya Na" Kata Nate "Itung-itung buat ngelepas rindu kalau gue lagi kangen kalian"
"Lo mungkin belum tahu Vi" Kata Dean "Setelah lulus nanti Nate akan pergi"
"Hah mau pergi kemana emang?"
"Di bilang pergi pun mungkin lebih tepatnya jalan-jalan"
"G ada jalan-jalan yang sampai bertahun-tahun Nate, itu namanya berpetualang" Kata Varo.
"Ya terus antara jalan-jalan dan berpetualang bagi gue itu sama saja"
"Lalu Nate kalau lo 'jalan-jalan' lalu gimana dengan kuliah Lo?" Tanya Viona
"Gue pending" Kata Nate santai.
"Kenapa tidak selesaikan dulu kuliah lo? lalu bagaimana dengan kebutuhan lo? bagaimana lo akan pergi? Dan Lo hidupnya nanti gimana? Makanan Lo, dimana Lo bakal tinggal?" Tanya Viona panjang lebar
"Woi neng, nanyanya satu-satu" Kata Nate "Mak gue aj g sampai segitunya nanya"
"Lah emang kapan Lo punya emak?" Tanya Vano
"Diam Lo kantong kresek" Kata Nate pada Vano "Kalau masalah kuliah, gue bisa kuliah nanti kalau gue mau, dan untuk masalah yang Lo tanyain itu, Lo tenang aja selagi nama belakang gue masih Darmawangsa hal seperti uang bukan jadi masalah"
"Tapi gue tidak bisa tidak khawatir Nate, meskipun belum 24 jam gue kenal baik Lo, tapi Lo udah gue anggep sahabat gue sendiri tau" Viona tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dean lalu mengelus kepala ceweknya "gue sedih tahu Nate dengar Lo bakal pergi, padahal gue pengen lebih mengenal Lo, lebih Deket dengan Lo, Nate"
__ADS_1
"Yah kami sebenarnya juga merasa sedih" Kata Dean "Setelah malam ini, kita akan berpisah dan jalan sendiri-sendiri. Beberapa tahun kedepannya kita semua mungkin akan berkumpul lagi, tapi kita tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi dengan Nate"
"Secara Nate dah kayak burung, g bisa untuk g diam di satu tempat" Lanjut Vano.
Nate tersenyum, saat ia mengatakan apa yang ia akan lakukan setelah lulus SMA pada teman-temannya, reaksi mereka juga sama persis dengan Viona, tapi Nate bersyukur setidaknya mereka mendukung apa yang menjadi keputusannya.
"Lo tahu g Na? Malam ini langit begitu cerah, bintang-bintang begitu indah berserakan di langit, meski gue g tahu nama-nama bintang, tapi gue penasaran dengan keberadaan bintang-bintang di luar sana, apakah seindah ini juga?" Nate menatap bintang-bintang di langit, pancaran kelembutan terpancar di matanya, dan ia tak bisa untuk tidak tersenyum.
The Kampreto sudah biasa dengan reaksi Nate ketika membicarakan tentang mimpinya, mereka tidak bisa untuk tidak ikut bahagia ketika melihatnya bahagia. Meski sedih dengan keputusan Nate, namun jika hal itu membuat Nate bahagia mereka akan mendukungnya.
Selama ini Viona hanya mengenal seorang Nate yang urakan, ceria, dan apa adanya. Namun ia tidak pernah menduga seorang Nate akan terlihat begitu kekanakan dengan mimpi yang hanya ingin melihat bintang di luar sana.
Nate yang selama ini ia kenal memiliki tatapan ceria, jail, dan kadang tatapannya akan begitu kosong dan tidak hidup. Namun kini tatapan itu tampak begitu damai, begitu hidup, dan aura kebahagiaan begitu kuat terpancar dari mata itu.
Ia yang mungkin hanya orang baru yang Nate kenal saja dapat merasakannya, maka tidak mungkin teman-temannya tidak akan merasakan hal yang sama.
"Kalau itu memang Keputusan lo, sebagai teman gue g bisa mengatakan apa-apa lagi" Meski sedih Viona tetap memaksakan untuk tersenyum "Jadi karena ini adalah hari terakhir kalian di SMA, kenapa tidak sekalian mengambil foto bareng"
"Ide bagus tu, yuk gaes kita foto-foto untuk terakhir kalinya di SMA" Ajak Vano yang setuju dengan usulan Viona
"Oke gue yang fotoin ya" Viona berdiri akan mencari posisi yang pas untuk memfoto, saat tiba-tiba Nate menariknya.
"Mau kemana, kita foto bareng aja" ucapnya sambil mengambil Hp di tangan Viona "Dean Lo yang pegang" Nate melempar ponsel itu pada Dean yang langsung ditangkap oleh laki-laki itu.
"T-tapi kan gue..."
"Kenapa? Mau bilang kalau Lo orang luar" Tebak Varo akurat.
"Sans aj kali Vi, Lo itu bukan orang luar lagi, secara the Kampreto udah kayak saudara dan karena Lo pacarnya Dean berarti Lo itu saudara ipar kami juga, ya g gaes" Vano meminta persetujuan teman-temannya yang langsung di balas anggukan kepala.
Dean hanya tersenyum dengan kelakuan teman-temannya "oke gaes siap ya, 1 2 3"
"Cheese" Kata mereka bersamaan.
Selama ini Viona terkenal dengan ke supelan nya, baginya mudah untuk akrab dengan orang lain. Namun semua orang yang telah ia kenal, mereka tak sama dengan The Kampreto. Seperti kata Vano, the Kampreto sudah seperti keluarga dan berada bersama mereka membuat Viona Merasa nyaman.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30, Nate tidak tahu sejak kapan pesta berakhir, semenjak ia dan teman-temannya ke atap, ia tidak lagi turun dan kembali ke pesta.
Udara dingin mulai menusuk, kini Nate sendirian di tempat itu, teman-temannya sudah balik lebih dulu menyisakan ia dan sampah-sampah makanan.
Bahkan sampai akhir pun Viona masih juga melarangnya untuk makan bakso, dia hanya bisa puas dengan minum Boba dan Thai tea.
Nalla sis:
Nate malam ini aku bakal pulang bareng Aldian, kamu g pa pa kan pulang sendiri?
Pesan Nalla satu jam lalu yang membuatnya semakin malas untuk beranjak dari tempat itu.
Langit malam semakin terang, bintang-bintang begitu indah berkilau. Nate mengarahkan tangannya keatas ingin menggapai bintang-bintang itu.
Rasanya begitu tenang, suasana damai seperti ini yang Nate sukai membuatnya semakin tidak sabar untuk mulai petualangannya. Namun kedamaian ini tidak bertahan lama.
__ADS_1
"Krieet.."