
"Nate, kamu tidak apa-apa?" Tanya Zoe yang buru-buru menghampiri Nate di atap.
Nate yang baru saja naik tidak menjawab, bahkan melihat Zoe yang tampak kesusahan napas itu tidak. Ia malah sibuk melepas tali pengaman dari tubuhnya.
"Nate" Panggil Zoe lagi, kali ini dia mencoba memegang tangan Nate, namun buru-buru Nate tepis.
"Maaf, anda mungkin salah orang, saya bukan Nate" Kata Nate dingin.
Kali ini Zoe tidak menghiraukan kata-katanya, pandangan Zoe terfokus pada sarung tangan Nate yang terkoyak.
Zoe lalu memegang tangan Nate, menghiraukan teriakan protes Nate.
"Hey!" Teriak Nate waktu tangannya di pegang oleh Zoe, ia ingin melepas pegangan Zoe, namun lagi-lagi ia kalah tenaga, Zoe lebih kuat darinya.
"Lepasin, nggak!" Seru Nate.
Zoe melepas sarung tangan yang di pakai Nate, bukan hanya sarung tangan itu yang terkoyak, tapi juga telapak tangan Nate terluka "Tanganmu terluka" Ucap Zoe.
"Hanya luka kecil" Jawab Nate acuh.
Zoe mengeluarkan sarung tangan dari balik sakunya, ia lalu melilit luka Nate dengan sarung tangannya. "Nate, lukamu bukan luka kecil, kalau tidak segera diobati maka akan berakibat fatal"
"Terimakasih tuan atas perhatiannya, saya sendiri yang akan mengobati luka saya" Nate menepis tangan Zoe kasar "Sekarang permisi, saya harus kembali kerja" Saat Nate mau melepas sarung tangan yang dililitkan Zoe di tangannya, buru-buru tangan laki-laki itu mencegahnya.
"Jangan di lepas Nate!" Perintah Zoe, Nate menghela napas sembari memutar matanya.
"Baik, saya tidak akan melepasnya, tapi tuan tolong lepas tangan tuan dari tangan saya"
Melihat tatapan benci Nate membuat Zoe melepas pegangannya. Begitu Zoe melepas tangannya, Nate buru-buru pergi sembari membawa tali pengaman dan alat-alat kebersihannya, namun baru beberapa langkah ia berjalan panggilan Zoe membuatnya menghentikan langkahnya.
"Nate!"
"Bukankah saya sudah bilang saya bukan Nate, nama saya Nia, harus beberapa kali saya harus bilang pada anda untuk berhenti memanggil saya dengan nama itu" Kata Nate sedikit meninggikan nada suaranya.
"Nathania" Kata Zoe "Maafkan Saya" Zoe menatap Nate dengan tatapan bersalah.
Nate memutar bola matanya lagi-lagi ia menghela napas, rasanya sesak, ingin dia berteriak, meluapkan amarahnya pada lelaki itu, namun Nate sadar melakukan itu tidak akan membuatnya merasa lega, yang ada dia hanya akan buang-buang energi yang seharusnya dia pakai untuk bekerja.
"Saya sadar, perbuatan yang saya lakukan terhadapmu memang tidak bisa dimaafkan dan saya benar-benar menyesalinya Nate, tapi saya mohon Nate, beri saya kesempatan, tolong maafkan Saya, apapun akan saya lakukan asalkan kamu memaafkan saya" Ucap Zoe sungguh-sungguh penuh penyesalan.
"Apapun akan anda lakukan asalkan saya memaafkan anda?" Kata Nate mengulang ucapan Zoe "Baiklah kalau anda memang ingin dimaafkan, tolong menjauhlah dari saya, bersikaplah seakan anda tidak pernah mengenal saya" Pinta Nate.
Zoe awalnya keberatan, bagaimanapun dia tidak bisa melakukan apa yang Nate minta. Nate adalah ibu dari anak-anaknya, meskipun Nate bilang anak-anaknya sudah meninggal, namun Zoe tidak percaya, baginya Nate hanya tidak mau dia bertemu dengan anaknya.
"Tapi..."
"Saya tidak mau mendengar bantahan anda tuan, kalau memang anda mau saya maafkan, maka tolong ikuti permintaan saya" Buru-buru Nate memotong ucapan Zoe.
"Saya tidak bisa Nate!" Ucap Zoe.
"Kalau begitu maka saya tidak bisa memaafkan anda" Kata Nate tidak ambil pusing.
"Tidak bisakah kamu mengubah syaratnya Nate? Saya tidak bisa menjauhimu, apalagi kamu adalah ibu dari anak saya"
"Anda ini maunya apa sih?" Tanya Nate kesal "Tadi anda bilang apapun akan anda lakukan agar saya memaafkan anda, tapi saat saya meminta anda untuk menjauhi saya, anda malah mau bernegosiasi, saya tahu anda pengusaha tapi semua hal tidak bisa anda tawar seperti anda bertransaksi"
Mendengar perkataan Nate, membuat Zoe terdiam. Sejujurnya dia tidak tahu lagi harus bagaimana, di satu sisi dia ingin mendapat maaf dari Nate, namun disisi lain ia tidak ingin menjauhinya. Selama lima tahun ini, dia selalu di hantui rasa bersalah pada Nate, dia selalu berdoa asalkan dia dapat menemui Nate, dia akan memperlakukan wanita itu sebaik mungkin bahkan jika perlu dia akan menanggung hidup Nate.
"Saya hanya ingin bekerja dengan tenang disini Tuan, saya hanya tidak ingin terlibat masalah dengan anda selalu di sekitar saya, apakah Anda bahkan tidak memikirkan tentang apa yang saya rasakan, tolong menjauh lah jangan membuat saya risih dengan keberadaan anda" Nate sudah merasa lelah, sedikit juga merasa heran, mengapa Zoe yang dulu dia kenal begitu dingin padanya sekarang malah memohon-mohon padanya.
Padahal dia tidak meminta pertanggungjawaban lelaki itu, tapi mengapa Zoe malah ingin bertanggung jawab?
Zoe menarik napas "Hanya di kantor" Ucapnya, membuat Nate mengernyit tidak mengerti.
"Saya hanya akan memenuhi syarat mu selama di kantor, di luar itu saya tidak bisa Nate. Dan maaf kalau kamu merasa tidak nyaman dengan saya"
"Tidak masalah" Ucap Nate, karena di luar pun tidak mungkin mereka akan saling bertemu "Sekarang saya permisi, saya mau kembali bekerja" Nate pun pergi meninggalkan Zoe yang mematung sembari menatapnya.
Begitu sampai pintu, dia berpapasan dengan Rio asisten Zoe yang juga merangkap sebagai sekretarisnya.
__ADS_1
"Tuan" Panggil Rio sembari melewati Nate yang akan keluar lewat pintu, namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.
"Oh iya Tuan" Nate berbalik menatap Zoe "Peralatan untuk para pembersih kaca benar-benar sudah usang" Sembari mengangkat sarung tangannya dan tali pengaman yang di pegang "Saya harap sebagai pemimpin, Anda lebih memperhatikan keselamatan pekerja Anda" Tidak repot-repot menunggu jawaban Zoe, Nate lalu berbalik melanjutkan langkahnya untuk pergi.
"Rio, kau dengar kan yang dia bilang?" Kata Zoe, begitu Nate sudah pergi "Ganti semua peralatan para pembersih kaca dengan yang baru" Titahnya yang hanya diangguki oleh Rio.
Sekretarisnya itu cukup lelah, setelah Zoe tiba-tiba pergi menuju atap, dia mendapat telepon dari Tuan besar, ayah Zoe, yang membuatnya buru-buru menyusul Zoe ke atap.
"Kamu, ada masalah apa menyusul ke atap?"
Setelah menata napasnya agar kembali teratur, Rio lalu menjawab "Tuan besar tadi menelpon saya, dia meminta anda menemuinya di rumah utama"
"Kenapa ayah tidak langsung menelpon ku?"
Karena hp anda saja tidak anda urus tuan, ucap Rio dalam hati.
Ketika mengingat benda pipih itu yang tergeletak begitu saja dimeja ruangannya.
"Mungkin karena anda lupa mencharger ponsel anda, Tuan"
...***...
"Auw!" Ringis Nate saat tangannya yang terluka tidak sengaja dia gunakan untuk memegang Bintang yang mau keluar malam-malam.
Mendengar ringisan mamanya, anak-anaknya atau Hanabi nya mendekatinya.
"Bunda kenapa?" Tanya Hanan.
"Mama tidak apa-apa kok, cuman tangan Mama sedikit terluka" Kata Nate sambil tersenyum, dia tidak ingin anak-anaknya itu khawatir.
Bintang lalu memegang tangan Nate, anak kecil itu lalu mengelus-elus tangannya dan meniupnya dengan lembut "Tangan Daddy luka gara-gara nahan Bintang ya?" Tanya anak bungsunya itu yang matanya sudah menggenang.
"Iya, gara-gara Bintang" Sela Hanan lalu merebut tangan Nate yang Bintang pegang, juga sama seperti Bintang dia mengelus-elus luka di tangan Nate "Mangkanya Bintang nurut apa kata Bunda, kalau malam-malam jangan keluyuran mau jadi tuyul di luar?"
"Hanan diam, Bintang tidak bicara dengan Hanan tapi sama Daddy"
"Kalian berdua sudah diam, mama luka bukan karena Bintang, tapi Bintang dengerin apa kata kakakmu, anak kecil gak boleh keluar malam-malam"
"Nak kamu tahu darimana sih tentang gedung itu?"
"Dari orang, gak tahu siapa, Bintang tidak sengaja dengar soalnya"
Tidak mungkin anaknya itu tidak dengar, apalagi akhir-akhir ini gedung itu menjadi populer di kalangan anak muda. Setelah seorang fotografer memamerkan hasil jepretannya di tempat itu.
Nate sendiri tahu tentang gedung itu karena dulu tempat itu adalah tempat biasanya dia dan teman-temannya berkumpul, jaraknya tidak cukup jauh dari rumahnya, terletak di bukit di pinggir kota, sekaligus tempat yang strategis untuk melihat pemandangan malam kota yang indah, tidak lagi Bintang-bintang juga jelas terlihat dari tempat itu.
Dulu tempat itu adalah favorit Nate.
"Nak, dengar ya? Berbahaya anak kecil keluar malam-malam, lagipula mama juga khawatir kalau kamu pergi sendirian"
"Kalau gitu bareng Daddy" Kata Bintang tiba-tiba "Father Ken, Hanan, dan Nara juga bisa ikut, kita pergi sama-sama kesana" Usul Bintang, membuat Nate tidak bisa berkata-kata.
"Hanan gak mau ah, mending di rumah aja"
"Pemandangan disana katanya bagus, Hanan memang tidak mau menggambarnya?"
"Kapan Bunda kita kesana?" Tanya Hanan yang termakan rayuan Bintang.
"Ck, kalian ini, tangan Mama kalian luka bukannya diobati malah sibuk pengen pergi" Kata Keenan yang baru saja kembali dari dapur membawa segelas jus untuk diminum.
Hanan dan Bintang keduanya menepuk dahi mereka "Iya ya" Jawab mereka serempak.
"Bunda tunggu disini, Bintang ambilkan obatnya" Kata Bintang, namun baru juga dia mau pergi, Nara datang membawa kotak obatnya.
Tadi, begitu melihat luka di tangan Mommynya, buru-buru Nara pergi mencari kotak obat untuk mengobati tangan Mommynya.
"Awas minggil, Nala mau mengobati tangan Mommy" Ucapnya pada kedua saudaranya.
"Emang Nara bisa?" Tanya Hanan yang tidak yakin dengan kemampuan Nara mengobati.
__ADS_1
Tapi Nara dengan percaya dirinya malah berkata.
"Bisa kok"
Nate hanya bisa tertawa miris selesai Nara 'mengobatinya', perban yang di balut asal-asalan, obat merah yang dikasih terlalu banyak, hingga Nate sendiri dapat membayangkan kalau itu darah bukannya obat merah, bahkan tangannya sedikit perih akibat obat merah itu yang mengenai lukanya.
"Nara, bukan begitu mengobatinya" Kata Hanan, dia lalu membuka kembali perban di tangan Nate, lalu meneteskan obat merah tepat di luka Nate, membuatnya meringis kesakitan.
"Hanan, obat melahnya jangan di kasih di lukanya" Teriak Nara.
"Nara memang tahu apa?" Tanya Hanan tidak menggubris kata-kata Bintang, dia lalu melilitkan perban di tangan Nate.
"Eughh..Nak pelan-pelan" Ringis Nate meminta Hanan pelan-pelan, kali ini tangannya bahkan lebih perih dari sebelumnya.
Hanan yang tahu kalau Bundanya kesakitan, lalu buru-buru melepas perbannya.
"Hanan, kenapa di buka lagi?" Tanya Nate
"Hanan juga sama buruknya dengan Nara waktu mengobati" Ucap Hanan.
"Hanan lebih buluk dali Nala" Kata Nara tidak terima.
"Nara" Panggil Nate menyuruh anaknya itu diam "Nggak kok Hanan dan Nara gak buruk" Cuman lebih baik gak usah si, lanjut Nate dalam hatinya.
Hanan menatapnya lalu dia berkata "Kalau tidak, kenapa Bunda sepeti mau menangis?" Tanyanya yang memang benar mamanya mau nangis "Pasti karena sakit kan?" Tebaknya yang memang benar adanya.
"Hanan, Nara, minggir kali ini giliran Bintang yang obatin Daddy" Dibanding kedua saudaranya, Bintang lebih simpel mengobatinya, tidak perlu perban maupun obat merah, cukup menempeli luka Nate dengan plester luka.
"Sudah" Ucapnya seakan bangga. Akibat obat merah, plester luka itu bahkan tidak menempel dengan sempurna di lukanya, malahan panjang plester luka itu kurang dibandingkan dengan lukanya yang panjang.
Melihat kelakuan Hanabi, Nate menatap Keenan, meminta bantuan laki-laki itu untuk mengobatinya.
Keenan yang semenjak tadi gemas sendiri dengan kelakuan Hanabi, langsung saja mengambil alih mengobati Nate, tidak butuh waktu lama sampai tangan itu selesai diobati, perban yang membalut tangannya juga begitu rapi.
"Dah ya, Bunda, Mommy, dan Daddy kalian sudah diobati, sekarang ayo kalian tidur sudah malam, gak baik anak kecil begadang nanti ga tumbuh-tumbuh"
"Nala mau tidul ama Fathel Ken" Ucap Nara.
"Lah ni bocil ngapain sih, tidur bareng saudara-saudara mu kan bisa?"
Nara menggeleng "Nggak, maunya tidur bareng Father Ken"
Baru juga Keenan mau menolak, tapi Nate buru-buru menyela.
"Sudahlah kak, malam ini saja biarkan Nara tidur bareng kakak"
"Ck" Decak Keenan sembari melotot pada Nara yang menatapnya dengan mata bulatnya, Nara lalu merentangkan tangannya minta di gendong "Awas kalau sampai ngompol dikamar father, tak buang nanti ke sungai, biar dimakan ikan sekalian" Ancamnya sambil menggendong Nara "Aku ke kamar dulu ya Nate" Pamitnya pada Nate.
"Nara jangan dibiarkan bergadang ya, kak" Pesan Nate yang hanya di balas acungan jempol oleh Keenan.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Keenan lalu menurunkan Nara di atas tempat tidurnya.
"Jadi tadi kamu minta tolong apa ke Father" Tanya Keenan, saat menggendong Nara, anak itu berbisik padanya meminta tolong padanya.
Nara lalu mengeluarkan flashdisk dari sakunya dan menyerahkannya pada Keenan "Tadi Nala belhasil mengubah dokumen pendaftalan, tapi Nala tidak sengaja nemu foldel lahasia di laptop Bu Lasli, kalena Nala gak ngelti isinya apa, jadi Nala minta tolong Fathel buat memeliksanya" Jelas Nara.
Keenan lalu mengambil flashdisk itu dari tangan Nara "Isinya gak mungkin video b*k*p kan?" Gumam Keenan, yang sebelumnya sudah trauma membuka folder rahasia di laptop temannya yang isinya malah video 21+ itu, manalagi waktu dia membukanya di cafe lagi yang tengah ramai-ramainya, tidak lagi dengan volume suaranya yang tidak ia sadari begitu tinggi.
Nara memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang fathernya itu gumam kan "Video b*k*p apa Fathel?" Tanyanya begitu polosnya.
"Bukan apa-apa, itu video dari dark web jadi Nara jangan sekali-kali penasaran apalagi sampai mencaritahu, oke"
Buru-buru Nara menggeleng "Nggak bakalan" Kata Nara tegas, Keenan lalu mengacungkan jempolnya.
"Bagus"
Sebagai seseorang yang nantinya berkecimpung di dunia Maya, Nara sudah mengenal apa itu dark web maupun deep web, dan semua itu ia ketahui dari fathernya, bahkan sekali ia pernah penasaran tentang dark web, alhasil meski fathernya sudah melarang, ia masih nekat mencaritahu, dan hasilnya seminggu ia tidak mau makan daging ataupun menyentuh laptop, entah video apa yang sudah Nara tonton sebab laptop yang dipakainya saat itu ia lempar begitu saja ke lantai, hingga tidak bisa digunakan kembali.
Ctak..ctak... ctak
__ADS_1
Suara ketikan keyboard menggema di seluruh kamar Keenan, setiap kali tangannya mengetik, tatapannya menjadi semakin tertarik, ia lalu melihat kearah Nara yang sebelumnya bilang ingin menemaninya, tapi nyatanya malah duluan tertidur di tempat tidurnya.
"Tau gini tadi aku buat kopi, agar kuat begadang semalaman" Ucapnya, ia lalu kembali menatap layar laptopnya dan fokus pada apa yang ia kerjakan.