
Satu bulan sebelumnya
Kriett
Suara pintu berderik menggema di seluruh ruangan, tak ada lampu yang hidup, satu-satunya pencahayaan yaitu dari arah pintu yang baru saja di buka.
“Dean?” Panggil cewek yang baru masuk itu. Tidak ada suara lain kecuali gema suaranya “stop deh yan jangan bercanda gini” kata cewek itu sedikit takut dan ngeri di ruang sepi itu.
Tiba-tiba layar proyektor di depan ruangan menyala, menampilkan foto-foto cewek itu yang diambil secara candid, melihatnya cewe itu seakan kehilangan kata-katanya.
“Roger target sudah masuk, sebentar lagi Bagan 1 selesai, aman 2 segera siap2”
“Woke aman dua masuk, hitungan mundur untuk aman dua dimulai dari 10 9 8 sekarang”
“Eh geblek yang bener dong ngitungnya” lampu ruangan tiba-tiba menyala bersamaan dengan jatuhnya kelopak-kelopak mawar di atas kepala cewek itu. Suasananya mungkin akan romantis jika saja kelopak bunga itu tidak semuanya langsung terjatuh.
“Woi gimana sih, itu bunga buat nanti goblok ngapa di jatuhin sekarang”
“Ya maap namanya juga reflek”
“Hei kalian eksekutif shut up, eksekutor akan menjalankan tugasnya” potong suara dari walkie talkie membuat mereka terdiam.
Bagan satu bertugas menyalakan layar proyektor, aman 2 bertugas menyalakan lampu dan menjatuhkan bunga-bunga, seharusnya rencana mereka akan berjalan sempurna. Ya memang dari awal tidak ada masalah, sebab yang menentukan keberhasilan rencana ini adalah sang eksekutor.
Suara petikan gitar mulai terdengar, meski bunyi yang dikeluarkannya masih kaku alias kurang enak di dengar, tapi siapapun yang mengenal orang yg memainkannya tidak bisa tidak respect dengan perjuangannya mendapatkan hati pujaan. Beruntung suaranya dapat menyelamatkan permainan gitarnya yang tidak bisa di bilang buruk juga.
Bersamamu akan ada seribu bahagia
Tiada kata dusta dari mulut ini
Percayalah sayang, aku mencintaimu
Hanya satu alasan untukku bisa mati untukmu, dan berikan satu jawaban untuk cinta ini dapat selalu tumbuh
Untukmu Vionaku jadilah pacarku
Selesai menyanyikan lagunya, Dean Radiansyah berlutut di hadapan Viona si cewek itu dengan setangkai bunga mawar di tangannya. “Will you be mine?”
“Tu orang nyanyi lagu apaan dah, g pernah dengar dengar tu lagu ?”
“Tau, Hasil ngarang kali” kata temannya acuh, tangannya sibuk mengumpulkan jatuhan bunga-bunga tadi “woi Vano goblok bantuin kek napa, mumpung tu dua orang lagi drama” cowok itu menunjuk ke arah Dean dan Viona yang masih belum selesai dengan ke uwuan mereka.
“Ck iya2 Varo geblek, ribet amat hidup Lo”
“Yang buat ribet juga siapa? Yang buru-buru jatuhin bunganya juga siapa?”
“Lah kan Lo yg ngitungnya g jelas gmn si?”
“Woi kalian kembar tak seiras, bisa berhenti dulu kagak, tu dua orang sudah selesai buruan cepat jalanin rencananya” perintah mendadak dari walkie talkie buru-buru di jalankan oleh kedua orang itu, mereka tidak tahu saja jika si penyuruh itu sedang mengerjai mereka.
“Yuhuu akhirnya kalian jadian” teriak Vano, sementara Varo melemparkan bunga-bunga ke atas Ia juga mengumpulkan bunga-bunga yang sudah jatuh untuk di lempar lagi.
“Akhirnya ya Yan penantian selama 3 tahun berbuah manis juga” Vano merangkul Dean yang masih dalam posisi berlutut “g sia-sia kau belajar main gitar selama 3 hari nonstop ini”
“Yo jangan lupa traktirannya 5 mangkok bakso beranak pak Rumanto oke” kata Varo ia masih saja melempar bunga-bunga keatas.
“Traktiran apa? 5 mangkok apa? Jadian apa?” Dean menyerahkan setangkai mawar itu ke tangan Viona, ia lalu menarik rambut Vano dan Varo si kembar tak seiras itu “Kalian ini, sudah merusak momen tau nggak”
“Auw auw auw babang tampan jangan marahin Vano yang imut ini dong”
“Sama Varo yang tampan ini juga dong, nanti gantengnya ilang, Viona nanti nyesel pacaran Ama babang gahar”
Vano dan Varo berusaha membuat reda kemarahan Dean, tapi alhasil bukannya semakin tenang Dean malah tambah marah. “Pacaran apa? Jadian juga belum, kalian tadi g dengar gue bilang apa? Kalian merusak suasananya. Viona tadi sudah mau jawab tapi kalian malah ganggu, dasar setan” Dean semakin menarik rambut keduanya. Tubuh Vano dan Varo tidak bisa di bilang pendek apalagi kurus, hanya Deannya saja yang terlalu besar terlalu tinggi juga, jadi kedua orang itu tak bisa melawannya.
“Aih bukannya kata Bagan satu...” Vano dan Varo saling pandang lalu mulai paham dengan situasinya.
__ADS_1
“Bhwawhwhwhah” tawa puas meledak dari dalam walkie talkie yang di pegang Varo “Goblok bwhahahhaha”
“Kampret!” Kata Vano dan Varo bersamaan, Varo membanting Walkie talkie itu ke lantai.
“Woi walkie talkie gue kenapa di banting, mahal tau belinya” ucap seorang cewek yang baru keluar dari persembunyiannya, ia memungut walkie talkie yang baru saja di lempar Varo “bhwahahahahah” baru saja tawa itu berhenti, kini tawa cewek itu malah menjadi-jadi, hingga membuat air matanya keluar.
“Kalian teman-teman Dakjal, bilangnya mau bantuin tau gini g usah aku terima bantuan kalian”
“Mamen tanpa bantuan kita Lo pikir hubungan kalian bakal ada perkembangan?”
“No-no-no” kata Vano dan Varo kompak.
Dean menatap datar teman-temannya, percuma ia meladeni mereka, ia menoleh ke arah Viona, cewek itu masih berdiri di tempatnya, masih memegang mawar yang tadi ia serahkan.
“V-viona maaf awalnya gue g mau nembak Lo kayak gini, gue pengen hari ini menjadi hari yang spesial buat Lo, buat kita, bukan malah jadi chaos kayak gini” Dean menggaruk belakang kepalanya grogi.
“Dia ngomong apa sih?” Vano kembali buka suara di waktu dan tempat yang salah.
“Mana saya tahu saya kan ikan” Varo juga malah menambahi.
“Sstt makhluk-makhluk astral diem dulu, sinetronnya bentar lagi nyampe klimaks”
Ingin rasanya Dean mengubur teman-teman kampretnya itu dalam-dalam ke tanah, terutama si satu-satunya cewek dalam grup mereka, Nathania Darmawangsa atau Nate. Dia kira yang di depannya ini tontonan apa sampai-sampai bawa pop corn dan duduk anteng di lantai segala, tidak lagi si kembar tak seiras itu yang juga ikut-ikutan.
Kampret!! Batinnya berteriak
“Vi gue masih menunggu jawaban Lo” keringat dingin mulai membasahi punggung Dean, ia grogi menunggu jawaban dari Viona.
Hening, cukup memakan waktu lama untuk menunggu Viona bersuara, dan ketika Viona akhirnya sudah akan buka mulut, ada-ada saja gangguan yang datang dari teman-teman kampretnya.
“Woi popcorn gue kenapa kalian habisin?” Lagi-lagi Dean kehilangan momen penting itu.
“Lo si Nate bawa popcorn nanggung kan g puas kitanya” kata Varo yang di iyakan Vano
“Itu popcorn buat gue sendiri bangsat, ngapain kalian ikutan makan”
“Vano sayang, yang bakalan kena azab duluan juga kalian, Azab akibat mengambil makanan teman seenaknya akhirnya mati karena kesedak dan g ada air buat minum mau Lo gue sumpahin gitu”
“Sumpahin aja sana, makanannya juga sudah habis tu Aaa” Vano membuka mulutnya di hadapan Nate.
“Vano bau” Teriak Nate, buru-buru Varo menyumpal mulut Vano dengan bunga.
“Azab akibat mengganggu teman yang tidak melakukan apa-apa akhirnya mati tersumpal Mawar karena tidak bisa napas” kata Varo menimpali, ia yang berada di tengah-tengah Nate dan Vano tidak bisa tidak merasa terganggu oleh kedua orang itu.
“Uhuk uhuk sialan” umpat Vano memuntahkan bunga-bunga dari mulutnya
“Popcorn gue” Nate menatap sedih pada popcornnya yang kini hanya tinggal wadahnya saja.
“ Woi kalian kalau cuman mau ganggu sebaiknya keluar aja sana” teriak Dean pada akhirnya.
“ Ya g bisa gitu dong, masa di hari bahagia teman, kita g datang” protes Nate yang di setujui Vano Varo.
“G butuh sikap setia kawanan kalian sekarang, kalau kalian memang mau melihat gue bahagia sebaiknya kalian diam duduk manis, kalian g tau apa seberapa groginya gue nunggu jawaban Viona dan kalian dari tadi malah gangguin mulu”
“Sudah ceramahnya?” Kata Varo pada Dean.
“Yaelah ngapain pakek grogi segala sih kalau kalian saling cinta pacaran aja sana, kita tuh disini cuman pemanis untuk bumbu cinta kalian”
“Saksi hidup dari penyatuan dua hati yang saling mendamba” sambung Vano
“Preet bahasa klean gees, asli dah bikin merinding” kata Varo.
“Kaum sodom diam aja deh”
“Bangsat, gue sodom Lo apa Lesbong”
__ADS_1
“Sorry ya gue itu ughty”
“Naughty iya”
“Wahai kalian kafir cinta, kalau kalian g segera diam maka tak akan lama orang di depan kita akan meledak”
“Fakir cinta goblok” kata Varo dan Nate secara bersamaan “dan apa-apaan wajah sok alim itu, mentang-mentang yang punya pasangan”
“Apa hubungannya woi dengan gue yang punya pasangan mentang-mentang kalian g pernah jatuh cinta nyalain orang sembarangan”
“Ga ada angin g ada hujan marah-marah, ngajak ribut”
“Sudah-sudah woi pusing gue dengan kelakuan kalian” Dean menoleh pada Viona, takut cewek itu terganggu dengan ke absurdan teman-temannya, tapi yang ia lihat adalah bahu Viona yang naik turun, cewek itu menutup wajahnya dengan tangan, cekikikan samar terdengar diantara sela-sela jarinya.
The kampreto siapa yang tidak kenal dengan gank ini, terdiri dari empat anggota, Dean, Vano, Varo, dan satu-satunya cewek di grup ini Nate. Mereka memang di kenal sebagai biang masalah, sering berantem, suka bolos, langganan keluar masuk ruang kantor dan BK, berpenampilan urakan, apalagi yang tidak pernah mereka lakukan, slogan untuk gank ini juga unik yaitu hidup seperti Larry, dan siapa itu Larry bukan si lobster merah dalam film Spongebob, tapi si tikus percobaan yang berhasil kabur dari kandangnya satu jam sebelum di jadikan alat praktek. Meski begitu alih-alih gank ini membuat para siswa takut, tingkah laku mereka malah membuat para siswa terhibur, mereka gank yang semaunya sendiri, konyol.
“V-viona?”
Viona menghentikan cekikikannya, ia menatap mata Dean, tersenyum “aku mau kok”
Ia mungkin adalah gadis beruntung, bagaimana tidak 3 tahun ia memendam perasaan pada salah satu anggota The Kampreto, Dean dan akhirnya perasaan itu tersampaikan.
Dan bagi Dean sendiri, kalimat itu begitu indah untuk menjadi kenyataan “a-apa?” Ia ragu jika saat ini ia tidak sedang bermimpi. Kalimat itu, ia selalu membayangkan jika suatu hari ia akan mendengarnya dari wanita yang ia cinta. Dan ia ingin wanitanya mengatakan kalimat itu lagi.
“Dia bilang dia mau kok jadi pacar Lo” tapi bukannya Viona yang mengatakan, malah Vano yang bicara. Dean menatap tajam Vano.
“Ni orang tadi nge lag sekarang mendelik situ sehat?”
“Situ juga apa kabar g peka banget sih jadi orang” kata Nate
“Gimana sih yang sudah punya pasangan kok g paham situasi” sambung Varo “ masa kau g paham babang kita itu ehem dia mau ceweknya mengulang kalimat itu, dan ehem kalau bisa di tambahi kalimat bumbu penyedap”
“Aku mau kok, a-aku juga mencintaimu Dean-kun” kata Nate mempraktekkan, sok malu-malu.
Mendengar itu wajah Viona memerah seperti kepiting rebus, sebenarnya tadi ia akan mengatakan kalimat itu, tapi waktu Nate yang mengatakannya entah bagaimana itu terdengar menggelikan. Tentunya juga tanpa ada tambahan Kun di belakangnya.
“Ck kalian ini...”
“Woi kalian ngapain di sana!” Teriak sebuah suara dari arah pintu.
“Mampus kita ketahuan, kabur gaes” peringat Nate, dan tanpa aba-aba mereka semua lari berpencar.
“Nate bukannya Lo bilang g akan ketahuan ya?” Tanya Dean yang sedang menggandeng Viona
“Itu tadi sekarang beda lagi” jawab Nate enteng. Ruang pertemuan yang mereka tempati tadi adalah tempat yang tidak bisa di masuki sembarang orang terutama oleh siswa, biasanya ruangan itu di pakai ketika ada acara atau pertemuan yang bersifat resmi. Tapi bukan kampreto namanya jika mereka tidak bisa menggunakan tempat itu untuk kepentingan mereka, dan yang mengusulkan tempat itu adalah Nate, alasannya cukup sederhana karena di tempat itu ia tinggal memakai layar proyektor tanpa susah mempersiapkan sebelumnya.
“Dasar kampret sudah lulus juga masih saja nyusahin” kata pak Adim guru BK yang memergoki mereka.
“Hahahaha maaf pak kami janji ini yang terakhir, suwer” kata Varo setengah berteriak, ia dan Vano lari ke arah yang berlawanan dengan Nate dan Dean.
“Gendheng, memang tidak ada lain kali dasar anak-anak setan”
Pak Adim meski seorang guru, kata-katanya sangat kasar ia di kenal cukup killer dan ketika marah segala sumpah serapah dan makian akan ia lontarkan dan diakhir amarahnya akan ada kata-kata mutiara yang akan ia katakan. Sungguh seimbang kata-kata yang keluar dari mulut beliau.
Dari kejauhan Nate dan Dean mendengar suara tawa Vano dan Varo, mereka ikut tertawa, kali ini sama saja dengan hari-hari biasanya, mereka berurusan dengan pak Adim. Jika biasanya para siswa akan menghindar berurusan dengan bapak satu ini, maka lain halnya dengan the Kampreto, bahkan asal-usul nama gank mereka juga dari bapak Adim yang selalu memanggil mereka kampret.
Jika the Kampreto sudah biasa berurusan dengan pak Adim, maka tidak dengan Viona, sebenarnya ia takut jika sampai di tangkap pak Adim, apalagi pak Adim di kenal killer. Dean yang merasakan kalau ceweknya ketakutan mengeratkan pegangan tangan mereka, ia tersenyum padanya mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
“Yan kita pisah di jalan depan sana” akan barabe kalau kembar tak seiras itu tak dapat menahan pak Adim, bisa-bisa mereka bertiga tak akan lama di tangkap.
Dean mengerti maksud Nate, ia dan Viona lalu berbelok ke arah kiri sementara Nate tetap berlari sepanjang koridor, baru juga ia akan masuk ke dalam ruangan tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Bruk
“Adaw”
__ADS_1
“Auw”