HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Anakmu sudah meninggal Zoe


__ADS_3

Melihat sang atasan yang tiba-tiba pergi, membuat Rio ingin sekali memaki-maki.


10 menit lagi akan ada rapat dengan mitra bisnis, apa yang harus ia lakukan jika Zoe, bossnya itu tidak datang tepat waktu?


Bukan masalah ia tidak bisa menghandle pekerjaan bosnya, hanya saja ia tidak bisa berurusan dengan sang mitra yang dari awal sudah mewanti-wanti kalau bukan Zoe sendiri yang menemuinya, ia tidak akan mau menyetujui kerjasama bisnis.


Berkali-kali ia mencoba menelpon bosnya, namun tak juga telponnya tersambung. Manalagi sang Mitra, nona Diora sudah menghubunginya kalau sebentar lagi ia akan sampai.


Stres!


Tentu saja Rio stress, tidak cukup dengan kelakuan aneh dan sekarep dewe sang Boss, ini lagi ditambah mitra bisnis yang banyak maunya.


"Ck untung atasan" Kesalnya, setengah berlari ia mencari keberadaan Zoe, tak lupa ia terus-menerus menelponnya.


"Saya tadi lihat pak Zoe masuk dalam lift pak Rio" kata security yang ia tanya.


"Kemana liftnya pergi?" Tanyanya.


"Saya kurang tahu, tapi sepertinya pergi ke lantai bawah" Selesai si security menjawab, buru-buru Rio pergi, namun karena jam makan siang membuat lift ramai, alhasil mau tak mau ia harus menggunakan tangga darurat untuk menyusul bosnya.


Begitu sampai di lantai bawah atau tepatnya lantai satu, ia melihat seorang perempuan keluar dari lift. Rio tidak tahu siapa perempuan itu, namun entah bagaimana ia merasa familiar.


"Tuan!" Panggilnya masih ngos-ngosan, karena tidak tahu di lantai berapa bosnya itu akan keluar, ia hanya bisa mengecek satu persatu setiap lantai.


"Rio cari informasi mengenai perempuan tadi, dimana ia tinggal, apa yang ia kerjakan, dan bagaimana kehidupannya selama ini" Perintahnya yang tidak memikirkan seberapa lelahnya asistennya itu.


Setelah sebelumnya Rio mengumpulkan informasi tentang plat motor yang ternyata bagi Zoe adalah informasi sampah yang tidak berguna. Kini, dia kembali menyuruhnya mencari informasi tentang seorang perempuan yang bahkan ia sendiri tidak tahu namanya siapa.


Rio sebenarnya ingin protes, namun melihat wajah Zoe yang gelap, menahan amarah. Ia mau tidak mau harus menjalankan perintahnya.


"Baik tuan, tapi siapa perempuan yang tuan minta selidik itu?" Tanyanya.


"Perempuan yang sama seperti sebelumnya" Katanya. Membuat Rio akhirnya ingat dimana pernah melihat perempuan itu sebelumnya.


"Baik tuan, sama mohon maaf tuan, nona Diora sudah sampai, beliau tadi menghubungi saya kalau sekarang sedang ada di parkiran dan tengah menuju ke sini" Kata Rio memberitahu.


"Kamu ikuti aku" Ujarnya, baru juga beberapa langkah mereka berjalan, ia tiba-tiba berhenti "Dan Rio, tolong selidiki juga kuburan di TPU Anyelir apakah disana ada kuburan anak kecil yang bernama Ara dan Lintang?" Perintahnya ragu-ragu, sebab ia sendiri tidak percaya dengan apa yang Nate katakan.


"Hah!" Spontan Rio "Tapi..." Bagaimana aku harus mencarinya tuan? Pekerjaanku disini sudah banyak, ditambah tugas yang sebelumnya dan kini tugas yang lainnya? Jerit batinnya.


"Baik tuan" Ucap mulutnya.


Sebenarnya apa yang terjadi pada bossnya itu? kenapa rasanya akhir-akhir ini banyak hal yang harus ia selidiki.?


***


Sebelumnya, di dalam lift.


Semenjak masuk ke dalam lift, baik Zoe maupun Nate tidak ada yang berbicara.


Sampai akhirnya Zoe membuka mulut "Nate..."


"Bapak tidak perlu basa-basi dengan saya" kata Nate memotong ucapan Zoe.


Zoe pun kembali diam, Nate tidak hanya tidak mau melihatnya, namun juga tidak mau bicara juga. Ia memang sudah menduganya, ia tahu perbuatan yang dia lakukan di masa lalu salah.


Tapi, jauh di lubuk hatinya ia begitu lega melihat Nate, melihat dia baik-baik saja.


"Maaf" Ucapnya, mendengarnya Nate pun menoleh "Maaf kan saya Nate"

__ADS_1


"Untuk apa bapak meminta maaf? Memang dengan bapak meminta akan mengubah keadaan?"


"Saya tahu Nate, saya salah. Saya memang tidak bisa mengubah keadaan, tapi setidaknya tolong beri saya kesempatan Nate, untuk menebus dosa saya padamu" Pinta Zoe.


"Memangnya apa yang mau bapak lakukan kalau saya memberi kesempatan pada bapak?" Tanya Nate, ia menatap kedua mata Zoe dengan tatapan nanar "Kalau bapak meminta saya untuk memaafkan bapak, baiklah saya akan memaafkan. Tapi tolong, jangan meminta lebih dari itu, jangan meminta saya untuk memberi bapak kesempatan"


"Sebenci itukah kamu pada saya?" Tanya Zoe yang langsung ia sesali, bagaimanapun tanpa ia bertanya, sudah jelas kalau Nate membencinya.


Namun di luar dugaan, Nate menggeleng "Saya tidak membenci bapak, melainkan iblis dalam diri bapak yang saya benci. Iblis itu sudah menghancurkan masa depan saya, dan saya tidak mau lagi bertemu dengan iblis itu. Jadi, lebih baik bapak tolong menjauh dari saya" Ucap Nate masih berusaha bicara sopan, ia tidak ingin dirinya dikuasai amarah, bagaimanapun ia masih harus bekerja, kalau sampai ia diliputi amarah, bagaimana ia akan menyelasaikan pekerjaannya itu, lalu bagaimana ia akan menghasilkan banyak uang?.


"Tapi Nate.."


Lift terbuka sebelum Zoe menyelasaikan kalimatnya, buru-buru Nate ingin segera keluar. Berdua dengan Zoe di dalam lift membuatnya merasa sesak.


"Nate!" Zoe memegang tangan Nate, ia buru-buru menutup kembali lift sebelum ada orang lain yang masuk.


"Lepasin!" Teriak Nate, bersentuhan dengan Zoe membuatnya kembali mengingat malam itu.


"Maaf Nate, tapi saya tidak bisa. Tidak mungkin saya menelantarkanmu dan anak kita di luar sana"


Nate menoleh kearah Zoe, terkejut "Bagaimana..." Tanyanya tidak melanjutkan kalimatnya.


"Saya tahu Nate, setelah malam itu kamu hamil anak saya, saya ingin bertanggung jawab. Setidaknya tolong Nate, demi anak kita, tolong beri saya kesempatan, apa kau tega membiarkan anak kita tumbuh dewasa tanpa seorang ayah?"


Nate tertawa "Anak kita?" Ulangnya "Kalau bapak ingin saya memberi kesempatan karena anak itu, bapak terlambat, mereka sudah lama meninggal" Kata Nate membuat Zoe bak tersambar petir.


"Tidak, K-kamu bohong kan?" Tanyanya, tidak percaya.


Nate tersenyum sinis "Untuk apa saya main-main soal nyawa pak? Nate mengandung anak kembar, tapi karena kandungan Nate lemah, salah satu bayi itu meninggal setelah di lahirkan, dan lainnya dia meninggal karena sakit" Jelas Nate.


Zoe mencengkram bahu Nate "Kamu pasti bohong kan Nate, kamu hanya tidak mau saya bertemu dengan anak saya kan?"


"Pak!" Air mata mengalir dari kedua mata Nate "Mereka berdua juga anak-anak saya, selama ini saya memang bengal, urakan, dan pembuat onar. Tapi saya masih punya hati, untuk apa saya berbohong tentang kematian anak sendiri, memang apa manfaatnya bagi saya, kalaupun saya ingin menjauhkan anak saya dari bapak, saya pasti akan mencari alasan lain, bukan main-main dengan nyawa anak sendiri" Jelas Nate panjang lebar, Zoe mengendurkan cengkraman nya.


Jujur dalam hatinya, Zoe tidak percaya dengan apa yang Nate katakan, ia yakin Nate berbohong. Namun seperti yang Nate bilang, dia mungkin gadis urakan. Tapi Nate, sebagai seorang ibu tidak mungkin main-main dengan nyawa anaknya sendiri, dan dari apa yang ia tahu, Nate yang ia kenal tidak mungkin berbuat nekat sampai sejauh itu.


Lift pun kembali terbuka, kini Zoe tidak menahan Nate yang ingin pergi. Namun, belum juga keluar dari pintu lift, ia berhenti "Kalau bapak tidak percaya apa yang saya katakan, bapak bisa pergi ke TPU Anyelir, dan cari makam dengan nama Ara dan Lintang, lalu bapak bisa membuktikan sendiri apa yang saya bilang ini bohong apa tidak"


***


Keluar dari area perusahaan, Nate menepikan motornya dipinggir jalan. Air mata tidak hentinya keluar dari matanya, ia lalu mengusapnya dengan kedua tangan.


Pertemuannya dengan Zoe kembali membuka luka lamanya. Tubuhnya tidak hentinya bergemetar. Sudah 5 tahun berlalu, tapi ia masih mengingat jelas kejadian malam itu.


Dia tidak pernah mengira akan bertemu lagi dengan Zoe, apalagi ketika kini kehidupannya dan anak-anaknya mulai membaik di banding sebelumnya.


Kenapa kau harus datang lagi, Zoe? teriak batinnya.


Nate mengusap-usap wajahnya kasar dengan kedua tangannya.


Tenang Nate, kau harus tenang, jangan biarkan dirimu terbawa suasana, Zoe cuman masa lalu jangan kau pikirkan lagi.


"Ayo Nate, semangat!" Ucapnya menyemangati dirinya "Ingat anak di rumah" Ingatnya untuk berhenti memikirkan masa lalunya, dan kembali bekerja.


Lagipula tidak ada alasan, ia akan bertemu lagi dengan Zoe.


***


"Ibu Lasri, anda tidak bisa seenaknya menentukan kemana Nara akan melanjutkan sekolah, yang paling berhak untuk menentukannya adalah Nathania dan Nara sendiri, bukan ranah ibu untuk ikut campur" Kata Ratih, memprotes keputusan ibu Lasri kepala sekolah tempatnya mengajar.

__ADS_1


"Ibu Ratih, saya hanya mendaftarkan Nara ke sekolah yang terbaik, saya hanya ingin Nara mendapat pendidikan yang layak yang sesuai dengannya, apa saya salah kalau mengharapkan yang terbaik untuk anak didik saya?"


"Tapi ibu, Nathania bukan orang berada, memasukkan Nara ke sekolah itu hanya akan menjadi beban baginya"


"Bukankah saya sudah bilang, ibu Nia dapat mengajukan beasiswa..."


"Tapi itu setelah dia sekolah selama satu tahun, lalu bagaimana dia akan membayar biaya sekolah selama satu tahun itu?" Kata Ratih memotong ucapan ibu Lasri.


Ibu Lasri, dia tidak peduli bagaimana Nate akan membayar uang sekolah itu, mau Nate berhutang, menjual organ, bahkan menjual dirinya sendiri ia tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah Nara bisa masuk di Garuda International Elementary high school.


"itu hanya untuk satu tahun, apa masalahnya?" Ucap Bu Lasri yang membuat Ratih tidak habis pikir.


"Ibu Lasri, anda sangat keterlaluan. Meski hanya satu tahun, tapi biayanya sudah sangat membebani Nathania ibu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada ibu, saya mohon ibu batalkan pendaftaran Nara. Biarkan Nara sendiri yang memilih dimana dia akan bersekolah"


"Sepertinya, sudah jam masuk. Ibu Ratih sebaiknya kembali ke kelas" Usir ibu Lasri, Ratih sebenarnya masih mau protes, namun ia sudah terlebih dahulu diusir keluar oleh ibu Lasri.


Sebenarnya ada alasan lain mengapa ibu Lasri sangat kekeh memasukkan Nara ke Garuda International Elementary high school.


Semakin lama, semakin sedikit yang mendaftar di sekolahnya ini. Yang membuatnya was-was, bagaimana kalau sampai tidak ada lagi yang akan mendaftar nantinya?. Apalagi, sekolahnya hanyalah sekolah kecil yang bahkan tidak ada apa-apanya di banding dengan TK lain yang lebih maju dibandingkan dengan TKnya?.


satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan adalah dengan memanfaatkan Nara. Anak itu memiliki kecerdasan diatas rata-rata, akan mudah baginya untuk dapat diterima di Garuda International Elementary high school. Dengan begitu, ia bisa menjadikan anak itu untuk mempromosikan sekolahnya, mengatakan pada orang-orang kalau meski dari sekolah kecil, namun anak muridnya dapat diterima di sekolah elit itu.


Bukankah itu rencana yang bagus? Persetan dengan Nathania yang tidak mampu membayar uang sekolah, itu bukan urusannya.


Asalkan semakin banyak yang mendaftar, yang berarti semakin banyak uang yang dapat ia kumpulkan. Dia tidak peduli dengan Nathania.


"Ibu muda sepertinya memang tahu apa? Cuman orang bodoh" Ucapnya meremehkan Nate. Yang tanpa ia sadari di luar ruangannya tepatnya di bawah jendela yang menghadap ke halaman sekolah, tiga orang anak kecil duduk sembari mendengarkan perdebatan tadi.


"Ck" Decak Hanan, dari bicaranya Hanan tahu ibu gemuk itu merendahkan bundanya.


"Padahal aku sudah bilang ke ibu Lasli kalau aku tidak mau sekolah disana" Kata Nara.


"Lasri itu mana mau mendengarkan, yang penting bisa dapat uang, ia tidak akan peduli dengan yang lain, tipikal ibu-ibu serakah.., tidak dia memang orang yang serakah"


"Tapi Bintang masih tidak paham apa hubungannya dengan Nara masuk ke sekolah itu dengan si Ibu itu dapat uang?" Tanya Bintang.


Hanan lalu menjelaskan "Kalau Nara masuk sekolah itu, otomatis dia akan menjadikan Nara untuk mempromosikan sekolah ini untuk menarik para orang tua yang mau memasukkan anaknya ke TK. semakin banyak orang tua yang memasukkan anaknya, maka uang yang masuk ke kantongnya semakin banyak juga" Jelas Hanan panjang lebar, tapi Bintang masih tidak mengerti.


"Jadi intinya.."


"Intinya Nala cuman jadi alat untuk menarik uang masuk ke kantong Lasli" Kata Nara.


"Ooo" Kata Bintang paham "Tapi bagaimana kalian tahu, kenapa cuman Bintang yang tidak tahu?"


"Kami tahu dari Father Ken, waktu Bintang gak ada di rumah"


"Mangkanya Bintang jangan keselingan main-main di lual, kan jadinya gak tahu apa-apa"


Bintang nyengir memperlihatkan deretan giginya yang kecil-kecil "Lalu sekarang bagaimana? Apa Lasri akan dibiarkan begitu saja?"


"Ya tentu tidak lah" Kata Hanan dan Nara bersamaan, lalu buru-buru mereka menutup mulut, takut ibu Lasri mendengar mereka.


"Nala sudah menyusun lencana, jadi Hanan dan Bintang bantuin Nala ya?" Hanan dan Bintang keduanya mengangguk.


Nara lalu membisikkan rencananya pada Hanan dan Bintang. Selesai mendengarkan, mereka lalu mengangguk-angguk mengerti.


"Hanan, Nara, Bintang!" Panggil seorang guru mencari mereka "Kalian ada dimana?"


"kalena kalian sudah mengelti, kita mulai lencananya besok, oke?" Ucap Nara, yang di setujui keduanya.

__ADS_1


Setelahnya mereka lalu berpencar, menghindari ditangkap basah oleh guru yang mencari mereka.


__ADS_2