HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Setelah 5 tahun


__ADS_3

Tinggal lama di luar negri membuat Zoe melupakan, kalau hubungan intim di luar nikah bukanlah hal yang lumrah, bahkan masih dianggap tabu di negri ini. Apalagi ia melakukan hal itu hanya karena dorongan nafsu.


"Sial!" Meski malam itu sudah bertahun-tahun yang lalu, namun hingga saat ini, Zoe tidak bisa melupakannya.


Biip biiip


Suara alarm yang di setel di ponselnya berbunyi diatas nakas di samping vas dengan mawar hitam di dalamnya.


Mawar itu, adalah mawar yang Nate berikan padanya.


Zoe mengambil mawar itu, alih-alih mematikan alarm handphonenya.


Mawar hitam adalah mawar yang diberikan pada guru yang dibenci, memang tepat Nate memberikan mawar itu padanya. Ia adalah orang yang patut dibenci, yang dengan gelap mata memaksa gadis itu untuk memuaskan nafsu birahinya tepat di tanggal ini lima tahun yang lalu.


Ia bahkan membenci dirinya sendiri yang meski ia tahu ia salah, tapi ia tak menampik kalau ia menikmati malam itu.


Bau tubuh Nate, air matanya, suaranya, bahkan semua yang ada di tubuh Nate seakan menjadi candu baginya.


Sekali, ia ingin merasakannya lagi. Mengungkung gadis itu di bawahnya, ia ingin sekali lagi mendengar ******* Nate.


"Sial!" Zoe memukul kaca jendela dengan tinjunya, membuat jendela tebal itu retak dan tangannya berdarah.


Lagi-lagi ia kembali di kendalikan nafsunya, rasa obsesinya pada Nate makin hari kian bertambah, apalagi saat ia mendapat informasi tentang Nate dari anak buah yang dimintanya untuk mencari keberadaan Nate.


Informasi itu hanya beberapa kalimat dengan bukti foto yang menyertainya.


Informasi itu berisi kalimat yang mengatakan kalau Nate hamil, dan foto itu diambil diam-diam saat Nate yang perutnya sudah besar sedang berbelanja di pasar.


Zoe berjalan kearah tempat tidurnya, mengambil foto Nate yang didapatnya 5 tahun lalu itu yang di taruhnya dibawah bantal.


Zoe mengusap-usap foto itu lembut, ada perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya.


5 tahun lalu, usia Nate bahkan belum menginjak 20 tahunan, namun ia sudah menanggung beban berat mengandung anaknya.


Entah bagaimana selama ini ia bertahan hidup, lalu bagaimana dengan anaknya? Apakah Nate membesarkan anaknya dengan baik? Lalu bagaimana dengan pendidikannya.


Pikiran Zoe mulai kusut, 5 tahun lalu andaikan ia bisa menemukan keberadaan Nate, ia akan bertanggung jawab sepenuhnya.


Nate dan anaknya mereka tidak bersalah, namun mereka hidup terlantar diluar sana.


Brengsek kau Zoe, lelaki macam apa kau ini.


Ia sudah merusak masa depan muridnya itu dan kini ia tidak tahu jejak keberadaan Nate dan anaknya, sekeras apapun ia mencari dan sebanyak apapun anak buah yang ia kerahkan, namun hasilnya nihil, mereka tak juga bisa ditemukan.


Nate, maafin saya Nate, kumohon beri saya kesempatan untuk menebus kesalahan saya.


Nate dimana kamu sebenarnya berada.


...***...


Lima tahun lalu, Nate hanya seorang remaja biasa yang baru saja lulus sekolah.


Tapi sekarang, ia bukan lagi remaja. Usianya baru diawal 20-an tahun, tepatnya 22. Tapi dirinya malah dibuat pusing oleh anak-anak tercintanya.


"Huwaaa..." Tangis anak keduanya yang sudah satu jam lebih berguling-guling di lantai "Mommy hik poko eh knya belihikn, Nala obat hik" Ucap anaknya yang manis itu disela-sela tangisnya, sambil sesenggukan yang membuat suaranya tidak jelas.


Jika cewek seumurannya, tengah berbahagia di hari wisuda kelulusan, Nate malah disibukkan menenangkan tangis anaknya.


"Sayangnya mama, Nara" Nate menggendong putranya Nara yang masih saja menangis "Mama harus cari kemana nak obat yang kamu mau"


"Hiks hi gak hik tahu, po-pokoknya Mommy haluc beliin Nala huwaa (gak tau pokoknya harus beliin Nara)"


Nate menepuk dahinya, tapi cadel gak ada obatnya anakku batinnya. Tidak berani mengatakannya secara langsung dihadapan anaknya yang menangis itu.


"Cadel gak ada obatnya Narrrra" Kata putri pertamanya mengatakannya, ia sengaja menekan huruf r di nama Nara.

__ADS_1


Membuat Nara semakin menjadi tangisnya. Nate memegang dahinya, pusing.


"Hik nggak hik hik pok heh pokok yah heh ha hik rus heh ada (nggak, pokoknya harus ada)" Susah payah Nara bicara meskipun suaranya tenggelam oleh sesenggukannya.


"Susah ya bicara dengan Narrra, keras kepala" Cicit Hanan putrinya, yang berwajah imut yang tak sekalipun pandangannya teralihkan dari buku gambar didepannya.


Bahkan sama sekali tidak merasa bersalah membuat adik kembarnya menangis.


"Hanan sayang, sudah berapa kali mama bilang, pensil warnanya jangan ditabur dimana-mana, kalau hilang bagaimana?"


Hanan menatap Nate dengan mata bulatnya yang besar.


Imut, batin Nate. Merasa gemas sendiri melihat putrinya.


"Kan ada bunda yang beresin." Ucapnya acuh tak acuh "Kalau bunda gak beresin, lalu gunanya ada bunda buat apa?"


"Eeh berani ya ngomong gitu sama mamanya" Nate menjewer telinga Hanan.


"Bunda, telinga Hanan sakit Bun" Teriak Hanan, yang wajahnya seketika memerah.


Meski Nate tahu, wajah putrinya memang mudah memerah, namun ia masih saja tidak tega menjewer putrinya itu lama-lama. Seakan karena jewerannya, Hanan merasa kesakitan hingga wajahnya memerah.


"Minta maaf dulu sama mama" Perintahnya pada sang putri, ia tidak mau kalau sampai putrinya itu jadi anak yang kurang ajar "Hanan memang mau, Mama pergi meninggalkan Hanan sendirian? Biar Hanan beresin sendiri pensil warnanya?"


Hanan mengusap-usap telinganya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali, jeweran mamanya bahkan tidak bisa dianggap jeweran, terlalu lembut mamanya itu menjewer.


"Maafin Hanan bunda" Ucapnya sembari menunduk, namun kalimatnya masih ada lanjutannya "Lagian kalau bunda mau pergi, pergi saja. Paling, gak sampai 5 menit juga balik" Jawab anak kecil itu acuh.


Yaiyalah nak, bagaimana bisa mamamu ini meninggalkan kalian lama-lama.


Tapi ya tuhan, ya Allah, Masyaallah, kenapa anaknya bisa bicara sekurang ajar itu, teriak batinnya.


"Huwaaaa hik hik mo heh mmy hi ga heh k sa-sayang Nala (Mommy gak sayang Nara)" Teriak Nara yang merasa diabaikan mamanya.


Melihat tangisan anak keduanya dan ke acuhan anak pertamanya, Nate memasang wajah lelah.


"Bintang, dari mana saja kamu kenapa baru balik"


Bintang memiringkan wajahnya, dibanding dengan saudaranya yang lain, kulit Bintang lebih gelap, namun itu tidak mengurangi tingkat ketampanan anak bungsunya itu.


"Bintang habis menjelajah jalan rahasia Dady" Ucapnya penuh antusias.


Jalan rahasia yang anaknya itu maksud adalah tempat baru yang baru saja di datanginya untuk pertama kali.


"Mama Bintang, bukan Dady" Kata Nate meralat panggilan putranya padanya.


Ia heran ke anak-anaknya, padahal ia sudah memanggil dirinya Mama didepan mereka, tapi mereka malah punya panggilannya masing-masing.


Hanan yang memanggilnya bunda, Nara yang memanggilnya mommy, dan yang lebih parah Bintang, yang memanggilnya daddy.


"Dady, Bintang haus ambilin minum" Perintahnya dengan tidak sopannya.


"Ambil sendiri sana di dapur, mama sedang sibuk menenangkan kakakmu, Nak"


Berpikir sebentar, Bintang lalu menggeleng "Nggak jadi deh hausnya" Lanjutnya membuat Nate memutar bola matanya, mau tak mau ia juga yang harus mengambilkan anaknya itu air, daripada anaknya itu dehidrasi nantinya.


Selesai meminum air yang Nate ambilkan, Bintang lalu menghampiri Nara yang tengah Nate gendong, mencolek-colek kakinya.


"Nara masih nangis karena belum dibeliin Dady obat ya?"


Nara yang awalnya tenang, kembali menangis.


"Huwaaaa....Mommy, hik hik be heh heh liin Nala o ohh baht hek, pok hi pokoknya halus hek halus beliin! (beliin Nara obat, pokoknya harus beliin)" Rengeknya seraya menarik-narik rambut Nate.


"Nak berhenti dulu ya nangisnya, nanti Nara suaranya serak kalau kebanyakan nangis, kalau nanti suara Nara hilang bagaimana?" Mencoba mengalihkan pikiran Nara dari obat.

__ADS_1


"Hi gak o hik bat beli heh in Nala obat! (Gak, obat beliin Nara obat)" Teriaknya.


"Gak ada yang jual obat untuk menghilangkan cadel Nara" Akhirnya Nate mengatakannya juga


"Ma hik ma heh heh boho hik bohong, mama jahat, hanya Nala yang gak bisa ngomong L, Hanan dan Bintang bisa" (Mommy bohong, Mommy jahat, hanya Nara yang gak bisa ngomong 'R', Hanan dan Bintang bisa)


"Nara bisa kok ngomong 'L' yang gak bisa itu ngomong 'rrrr'" Kembali Hanan mengompori Nara untuk semakin menangis.


"Hanan, sudah diam" Bentak Nate.


"Nara, Nara, coba deh ngomong 'rrrrr'" Kali ini Bintang yang mengompori.


"Huwaaaa" Tangis Nara yang semakin menjadi-jadi.


Kalau untuk membuli Nara, baik Hanan maupun Bintang keduanya kompak. Penyebab Nara menangis sampai kejer, tak lain karena mereka berdua yang selalu meledekin Nara yang tidak bisa bilang 'r' itu.


Dasar bocah, keluh Nate.


Nara, anak keduanya itu bukan anak yang suka menangis, tapi ketika menangis maka akan susah untuk membuatnya diam.


Kedua anaknya yang lain pun juga sama, jarang menangis. Mereka bertiga juga dapat dibilang tidak sama dengan anak-anak seusia mereka.


Ketika anak-anak yang lain masih suka bermain layaknya anak-anak, maka mereka bertiga berbeda.


Hanan, putri pertamanya atau kembar sulung, dia cukup tertutup dan suka mengurung diri di rumah, daripada bermain, ia lebih suka menghabiskan waktu untuk menggambar. Bahkan diusianya yang baru menginjak usia 5 tahun, dia sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan menjual hasil gambarnya itu.


Sedangkan Nara, putra keduanya atau kembar kedua, untuk masalah kepribadian, dia hampir sama dengan Nara, lebih suka menghabiskan waktunya sendiri daripada bermain dengan teman-teman sebayanya. Hanya bedanya, Hanan suka menyendiri karena memang tidak berminat, sedangkan Nara menganggap bermain dengan teman sebayanya itu buang-buang waktu, apalagi ia yang meski cadel tapi cukup pintar dikalangan anak seusianya, dan bahkan diusianya ini, ia sudah pandai meretas. Meski kemampuannya itu lebih sering ia gunakan untuk meretas WiFi orang.


Lalu yang terakhir Bintang, anak keempatnya atau kembar bungsu, jika Hanan dan Nara memiliki sikap yang hampir sama, maka Bintang berbeda dari mereka. Diantara anak-anaknya, Bintang lebih sering menghabiskan waktunya di luar, bermain-main dengan teman sebayanya, dan yang paling ceria diantara anak-anaknya. Jika diibaratkan, Bintang adalah duplikat diri Nate yang juga mewarisi jiwa petualangannya. Bahkan diusianya ini, ia sudah berani bepergian sendiri ke tempat baru, rasa penasarannya juga tinggi sampai-sampai membuatnya berani melakukan hal-hal nekat.


Kadang Nate sendiri merasa bingung, mereka adalah anak-anaknya, juga anak kembar. Namun kepribadian mereka sungguh bertolak belakang. Ibarat Hanan dan Nara, mereka berjalan kearah timur dan barat, sedangkan untuk Bintang sendiri ia malah berjalan kearah utara.


Nate capek


Namun keberadaan mereka adalah anugerah untuknya. Hanan, Nara, Bintang adalah HANABI nya sumber kekuatannya, namun juga dapat menjadi sumber petaka, apalagi waktu anaknya nangis seperti sekarang.


"Nara, kamu dikasih tahu siapa sih nak, kalau cadel ada obatnya?." Tanya Nate yang tidak habis pikir, bagaimana anaknya itu bisa kepikiran tentang mencarikannya obat cadel.


Kalaupun obat itu memang ada, tapi anaknya itu tidak membutuhkannya. Pasalnya anaknya itu saja masih kecil, masih umur 5 tahun.


Nara, yang kini mulai tenang setelah saudara-saudaranya yang lain Nate suruh masuk ke kamar, tidak langsung menjawab pertanyaannya, atau dapat dibilang kesulitan untuk bicara. Setelah menangis untuk waktu lama, kini anaknya itu masih sesenggukan.


"Hanabi, father's home!" Teriak seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah.


Baik Nate maupun Nara menoleh ke sumber suara, sedang empunya menatap heran Nara yang digendong mamanya itu.


"Kakak. Masuk rumah itu harusnya mengucapkan salam, jangan teriak-teriak seperti monyet gitu." Tegur Nate ke pria itu.


"Hehe sori honey, Kakak lupa, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Ini Hanabi kemana? Kok cuman tinggal Naranya saja, dan tumben ni anak nangis?." Tanya pria itu.


Nara yang saat itu masih sesenggukan, hanya menatap pria itu "Fathel Ken"


"Yes, baby" Kata pria itu yang dipanggil father Ken oleh Nara.


Nara menggeleng "Bu hik bukan, Hi hik fa-fathel Ken hik ya hi ng kk min hik ta hik hik Nala untuk hhh memin hik ta Mommy hik hik mem hik hik belikan hik Nal hh Nala o-bat (Bukan, father Ken yang minta Nara untuk meminta Mommy belikan Nara obat)" Jelas Nara susah payah "Ka-kata Fathel Ken hik hik hhh Na hik Nala bakal hh nggak hik hik hh ca-cadel lagi kal hh kalau minum hik hik obat itu (kata Father Ken Nara bakal nggak cadel lagi kalau minum obat itu)"


Father Ken atau Keenan menatap tidak mengerti Nara, sedangkan Nate yang mendengarkan penjelasan anaknya itu, seketika menatap tajam Keenam.


"Kenapa?" Tanya Keenan masih tidak mengerti situasi.


"Jadi kakak, yang menghasut anak Nate buat dicariin obat cadel sampai nangis kejer gini!" Teriak Nate sambil menendang kaki pria itu.

__ADS_1


"A-apa, what tunggu. Ahh...soal itu" Keenan cengengesan, menghindari tendangan Nate untuk kedua kalinya.


Awalnya ia tidak mengerti, namun kembali ia mengingat apa yang sudah ia katakan ke anak adiknya itu.


__ADS_2