HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Melihatmu lagi Nate


__ADS_3

Nate berkali-kali mengecek jam di tangannya, dengan tergesa-gesa ia setengah berlari di lobby kantor menuju ke arah lift guna mengantar pesanan makanan pelanggan dari restoran tempatnya bekerja.


Zee Company adalah salah satu perusahaan ternama, dan Nate seringkali keluar masuk perusahaan ini untuk mengantar makanan, jadi tak heran ia cukup akrab dengan pegawai disini sampai-sampai ia diizinkan langsung mengantarkan makanan tanpa perantara receptionis maupun ob, atau saptam.


"Yo Nia, tumben kamu telat" Sapa seorang laki-laki berkacamata begitu masuk ke dalam lift.


Laki-laki itu adalah Zihan, ketua hrd di Zee Company dan juga salah satu pelanggan di restoran tempat Nate bekerja.


"Eh bang Han, iya nih bang agak siangan, soalnya anak di rumah lagi rewel" Jelas Nate sembari menyeka keringat di dahinya.


"Tapi kamu gak apa-apa kan Nia? Itu wajahmu pucat dan lingkaran hitam di matamu juga sangat gelap" Tanya Zihan khawatir.


Padahal Nate sudah memakai topi, tapi dasar HRD satu Ini cukup jeli.


Nate menggeleng ia lalu tersenyum "Gak apa-apa kok bang, cuman lelah sedikit saja ngurusin anak" Semalaman, lanjutnya dalam hati.


Dan setelah itu ia masih bertengkar dengan Keenan, sebenarnya bukan bertengkar tapi Nate yang ngomel-ngomel ke Keenan yang berakhir dengan Nate mengusirnya dari rumah.


Semalam ia juga hanya bisa tidur setengah jam gara-gara Bintang yang rewel tidak mau tidur dan minta di puk-puk punggungnya.


Tidak lagi pagi tadi, yang gantian Hanan yang menangis, setelah gambarnya yang mau ia ikutkan dalam perlombaan di robek oleh Nara.


Nate sendiri bahkan bingung, sebenarnya ia sedikit lelah atau lelahnya membuatnya mati rasa hingga tidak merasa lelah? Tapi yang pasti rasanya Nate mau nangis, karena tingkah anak-anaknya menguji batas kesabarannya. Mau marah Nate tidak tega, apalagi alasannya kalau bukan karena anak-anaknya itu terlalu imut menurutnya.


"Mengurus anak memang penting Nia, tapi kamu jangan lupa untuk mengurus diri sendiri jangan lupa jaga kesehatan"


"Maunya sih gitu, tapi ya gimana ya bang kalau mengurus mereka Nate tidak bisa tidak lupa waktu, apalagi mereka imut, ya....meski tingkah mereka masyaallah"


Zihan menaikkan kecamatannya dengan jari telunjuknya, tersenyum tipis.


Zihan cukup lama mengenal Nate, bahkan sebelum Nate jadi pengantar makanan tetap di perusahaannya, ia juga mengenal baik anak-anaknya itu. "Kamu Nia, kalau ngomongin anak sama kayak mbak mu Ratih" Zihan mengelus kepala Nate, cukup lama mengenal ia bahkan menganggap Nate seperti adiknya sendiri.


Nate tersenyum lebar, Ratih adalah istri Zihan. Nate cukup akrab dengannya, selain karena Ratih adalah guru TK di tempat anak-anaknya sekolah, ia juga pernah menolong perempuan itu dari para perampok.


"Hehehe namanya juga emak-emak bang, btw kabar mbak Ratih dan si kembar gimana?"


"Mbak mu itu selalu nanyain kamu, katanya kamu sekarang jarang jemput anak-anak di sekolah, dan kalau untuk si kembar Alhamdulillah, setelah masuk SD mereka jadi berkurang nakalnya"


Nate akui, ia memang sudah lama tidak bertemu dengan Ratih, alasan ia jarang menjemput anak-anak juga karena ia sibuk bekerja, lagipula anak-anaknya cukup pintar untuk dapat pulang sendiri.


Setelah berbincang dengan Zihan di dalam lift, akhirnya Nate sampai di lantai tujuannya, meninggalkan Zihan yang harus naik satu lantai lagi.


"Duluan ya bang" Pamitnya sembari melewati pintu lift.


"Jangan lupa istirahat dulu, makan yang banyak jangan terlalu over kerja" Ingat Zihan.


"Iya bang, iya. Abang juga jangan lupa makan" Nate tiba-tiba mengingat sesuatu, ia lalu berbalik ke arah lift mencegah pintu lift tertutup dengan tangannya "Oiya, tumben hari ini Abang gak pesen makanan?"


"Lagi puasa" Jawab Zihan singkat, ia bukan tipe laki-laki cuek, namun memang bicaranya kadang irit "Sudah sana kamu pergi antar makanan, aku juga bentar lagi ada rapat"


"Okei bang, sampaikan salamku ke mbk Ratih ya?" Teriak Nate waktu pintu lift mulai menutup lagi, Zihan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.


...***...


"Nia!" Panggil seorang wanita berhijab, melihat seorang perempuan bertopi celingukan mencari seseorang di ruangan yang tengah ramai saat itu.


Nate yang merasa dipanggil itu seketika menoleh, ia pun berjalan kearah wanita berhijab dan teman-temannya itu berada.


"Maaf mbk Sisi, Nia telat ngantarnya"


Nate pun menaruh makanan dan minuman yang dibawanya diatas meja wanita berhijab itu, yang lansung di sambar teman di sampingnya.


"Bodo amat Lo telat, yang penting makanan gue dateng" Kata Diana teman di samping Sisi menyahut.


"Diana makannya pelan-pelan nanti tersedak" Peringat Sisi, iapun menoleh karah Nate "Gak papa kok Nia, lagian kita-kita juga baru istirahat ini" Kata Sisi tersenyum.


Nate melihat kesekeliling ruangan, meski Sisi bilang mereka baru saja istirahat, nyatanya di ruangan itu masih banyak yang sibuk bekerja, ada yang sibuk bekerja di depan komputer, ada yang tengah memeriksa dokumen, dan bahkan ada yang berjalan kesana-kemari sambil menelepon.


"Lagi sibuk ya mbak?" Nate duduk di atas meja di sebelah Sisi yang kosong sembari bersedekap tangan.


Sisi mengangguk


"Iya Nia, sibuk banget, mana gajian masih lama lagi" Sahut Daria


mengeluh, yang baru saja bergabung dengan Diana dan Sisi untuk makan.


"Kalau kerja jangan banyak ngeluh" Kata seorang laki-laki yang Nate tahu namanya Abram tiba-tiba datang dan memukul kepala Daria dengan tumpukan dokumen "Jadinya gini kan, kerjaannya banyak yang salah" Abram menyerahkan dokumen itu ke Daria "Perbaiki lagi" Perintahnya.


"Ck, iya iya, gak bisa nunggu orang selesai makan apa? Dasar atasan biadab"


Abram memutar bola matanya, lelah menghadapi bawahan seperti Daria.


Untung Lo teman Dar, batin Abram.

__ADS_1


"Nia maaf ya, kamu sampai repot-repot ngantar makanan kita ke sini" Kata Abram, merasa tidak enak.


Mereka berempat memang biasa memesan makanan, namun jika pun diantar, itu tidak sampai ke ruangan tempat mereka kerja, paling jauh juga diantar ke kantin di lantai 2.


Tapi berhubung mereka semua tengah sibuk, jadi terpaksa makanan mereka Nate antar keruangan mereka.


"Gak apa-apa kok kak, lagian Nate juga penasaran dengan ruangan kerja kak Bram sama mbak-mbak yang lain"


"Kamu tertarik Nia, untuk kerja disini?" Tanya Sisi.


"No no no Nia, jangan sia-siakan hidupmu, pokoknya jangan Nia, kerja di sini itu ga enak apalagi di tim ini ada tuh" Daria menunjuk ke arah Abram dengan tatapan matanya.


"Woi Dar, Lo mau kerjaan Lo gue tambah" Emosi Abram pada akhirnya.


"Biasa aja kali pak Bram, aku kan cuman mengingatkan Nia kalau kerja disini itu ga enak, maksudnya kerja kayak kita-kita ini" Jelas Daria.


"Kalau kamu gak suka, kenapa gak resign saja kamu sana"


"Abram" Panggil Sisi, menyuruh laki-laki itu untuk diam.


Daria mendengus mendengar ucapan Abram.


"Yee Lo kira gue gak mau apa, kalau bukan karena bapak satu di rumah, sudah lama juga gue mau resign"


Baik Sisi, Abram, Diana, dan Daria sudah berteman sejak lama, mereka semua juga tahu alasan Daria kerja di sana adalah karena paksaan orang tuanya khususnya ayahnya.


"Mbk Ria tenang saja, lagian Nia juga gak ada niatan jadi budak korporat kok"


Mendengar ucapa Nate, Daria mengacungkan jempolnya.


"Ck kalian ini daritadi ngajak Nia bicara, tapi gak ada yang nawarin dia buat duduk atau makan bareng" Sela Diana, membuat mereka semua seketika sadar.


"Masyaallah aku lupa, ayo Nia makan bareng kita" Ajak Sisi.


"Lah Lo sendiri kalau ingat kenapa gak nawarin sih bestie?" Tanya Daria


Diana mengangkat bahu, nyengir kuda "Masalahnya gue juga lupa"


"Makasih banyak mbak, tapi gak usah, Nate juga harus segera balik kerja, ini ada orderan lagi soalnya" Nate memperlihatkan chat dari bosnya yang memintanya segera balik karena ada orderan.


"Setidaknya kamu bawa ini" Abram menyodorkan es tehnya.


"Tapi kak Bram..." Belum sempat Nate menolak, Bram sudah menaruh es tehnya di tangannya.


"Makasih banyak Kak Bram, mbk Ria, mbk Diana, mbk Sisi, dan ya, ini..." Nate menyerahkan selembar uang 50 ribu dari tasnya "Sisa uang kembaliannya"


"Buat kamu saja Nia, anggap saja rezeki buat anak-anak di rumah" Kata Sisi, jika sudah menyangkut anak-anak Nate pun tidak bisa menolaknya.


"Makasih banyak ya kakak, mbak-mbak semuanya, Nia pamit dulu, assalamualaikum bye bye" Pamit Nate sebelum pergi.


"Waalaikumsalam" Serempak mereka semua menjawab.


Bersama dengan keempat orang itu membuat Nate entah mengapa merasa sedih. Mereka mengingatkan Nate pada ketiga sahabatnya, bohong jika Nate tidak rindu mereka, apalagi selama lima tahun ini ia memutus kontak dengan mereka.


Ingin Nate kembali bertemu dengan mereka, namun pikiran itu buru-buru ia tepis, baginya sekarang yang lebih penting adalah anak-anaknya, ia tidak ada waktu memikirkan masa lalu, dan kini yang perlu ia pikirkan adalah bagaimana mencari uang yang banyak, agar anak-anaknya tidak hidup menderita lagi seperti sebelumnya.


Cting


Bunyi suara notifikasi di ponselnya, begitu melihat siapa pengirimnya, Nate tidak berminat untuk membalasnya.


Pesan itu dari Keenan yang juga merupakan bos di restoran tempatnya bekerja, selain memberitahunya kalau ada orderan baru, Keenan mengirimnya pesan yang intinya merayunya untuk memaafkannya, namun Nate tidak ada niatan memaafkannya di waktu dekat ini. Dan jadilah ia mengabaikannya.


...***...


Saat Nate keluar dari area perusahaan, di jalan raya ada kecelakaan antara pengendara sepeda motor dan truck, dan tak jauh dari lokasi kecelakaan Nate melihat seorang anak usia sekitar 4-5 tahun yang ditinggal di trotoar begitu saja dengan stroller bayi yang di dalamnya ada bayi.


Besar kemungkinan orang tua dari anak-anak itu, tengah menolong korban kecelakaan.


Karena tak tega melihat kedua anak itu, akhirnya Nate memutuskan untuk berhenti dan mengawasi mereka berdua sampai orang tuanya kembali, namun baru juga Nate menepikan motornya, tiba-tiba stroller itu bergerak mundur meluncur di trotoar yang lengah tanpa ada pejalan kaki maupun orang disana, buru-buru Nate berlari mengejar stroller itu sebelum meluncur kearah jalan raya, sedangkan anak kecil itu berteriak-teriak memanggil ayahnya.


Hampir saja, stroller itu meluncur ke arah jalan raya namun beruntungnya Nate berhasil menangkap stroller itu.


"Syukurlah" Ucap Nate menghela napas lega, kalau saja ia terlambat satu detik lagi mungkin bayi di dalam stroller itu tidak akan selamat.


Saat Nate menangkap stroller, sebuah mobil hitam melaju di sampingnya.


Penumpang di dalam mobil begitu sibuk memeriksa laporan di laptopnya.


Hingga mobilnya tiba-tiba berhenti yang membuatnya akhirnya mengalihkan perhatian.


"Ada apa Rio?" Tanya sang penumpang yang merupakan seorang bos kepada asistennya yang tengah mengemudi.


"Di depan sepertinya ada kecelakaan tuan" Jawab Rio.

__ADS_1


Mendengar jawaban darinya, Bosnya itu menghela napas. Ia lalu memberi perintah "Rio telpon Zihan, kita mungkin akan terlambat datang, jadi katakan rapat di undur sampai nanti siang"


"Baik tuan Zoe" Dengan segera Rio menjalankan perintah Bosnya, ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon orang yang bossnya itu katakan.


Saat Zoe akan kembali berkutat dengan laptop di depannya, sebuah suara yang begitu familiar terdengar olehnya.


"Terima kasih pak"


Suara itu masih sama seperti yang ia dengar 5 tahun yang lalu.


Buru-buru Zoe menoleh kearah suara, namun ia tidak menemukan sang pemilik suara.


Ia pun keluar dari dalam mobil, mengacuhkan Rio yang memanggilnya.


"Tuan Zoe, anda mau kemana?"


Tidak, aku tidak mungkin salah dengar jelas itu adalah suara Nate. Batinnya


Namun bayangan perempuan itu saja, Zoe tidak melihatnya.


"Nate!" Panggilnya.


Ia pun mencari-cari keberadaan Nate di tempat itu, namun ia tidak melihatnya.


"Nate!" Panggilnya begitu melihat sosok perempuan yang perawakannya hampir sama dengan Nate, namun perempuan itu bukan Nate "Maaf" Ucapnya pada perempuan itu.


Saat Zoe fokus mencari keberadaan Nate di antar kerumunan orang-orang, sebuah motor begitu saja melaju melewatinya, Zoe menoleh kearah motor itu pergi, meski sudah lima tahun berlalu namun ia masih ingat jelas sosok Nate, dan yang mengemudikan motor itu, jelas itu adalah Nate


"Nate!" Teriaknya, namun sayang suaranya tenggelam oleh bunyi sirine mobil ambulance yang baru saja tiba, dan waktu ia berteriak lagi untuk kedua kalinya motor sudah pergi jauh


Sial! Umpatnya dalam hati.


Dua kali Nate! Dua kali aku hampir menemukanmu.


"Tuan Zoe" Panggil Rio yang menyusulnya.


"B 265 hwk" Kata Zoe tiba-tiba membuat Rio bingung "Kamu cari siapa pemilik plat nomor itu, dan saya mau, besok informasi itu harus ada di meja saya" Perintahnya.


"Apa...tapi...baik tuan" Kata Rio pada akhirnya yang tidak berani untuk bertanya lebih jauh.


Zoe mengusap wajahnya kasar, kembali ke dalam mobilnya.


Untuk ketiga kalinya aku tidak akan melepaskanmu Nate.


Sementara itu, sebelumnya, Nate.


Setelah berhasil menangkap Stroller, Nate menggendong bayi di dalamnya, bayi perempuan.


Meski hampir saja bayi itu celaka tadi, namun si bayi malah tertawa begitu ia gendong.


"Alisya!" Teriak seorang pria yang usianya Nate kira 30 an tahunan yang tengah menggendong anak kecil tadi, raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran, Nate mengenal baik raut wajah khawatir itu, karena ia pun juga memiliki anak dan orang tua mana yang tidak akan khawatir saat anaknya ada dalam bahaya, kecuali orang tuanya sih.


"Ya ampun syukurlah Alisya kamu baik-baik saja nak" Pria itu pun mengambil Alisya putrinya dari gendongan Nate, Berkali-kali ayah satu itu mencium anaknya "Maaf, maaf kan ayah Alisya" Setelah puas menciumi anaknya, pria itu lalu menoleh ke arah Nate "Terimakasih, terimakasih sudah menyelamatkan putri saya"


"Sama-sama pak, lain kali jangan biarkan anak-anaknya lepas dari pengawasan bapak kayak tadi" Nasehat Nate, karena tadi ia hanya beruntung melihat kedua anak itu yang mengingatkannya pada anak-anaknya, andaikan tadi dia tidak melihat, entah bagaimana nasib bayi mungil itu sekarang.


Bapak itu berkali-kali mengucapkan terimakasih padanya, awalnya si bapak mau memberinya imbalan, namun buru-buru Nate tolak, karena Nate ikhlas menolong Alisya.


Setelah bapak dan kedua anaknya itu sudah pergi, ia pun juga harus segera pergi apalagi semenjak tadi Keenam menelponnya.


"Iya iya ini gue lagi otw entar lagi sampai" Kata Nate saat mengangkat telpon dari Keenan entah untuk yang keberapa kalinya. "Dah ya gue tutup" Sebelum mendapat balasan dari laki-laki itu, Nate mengakhiri telponnya.


"Maaf, mbak kan ya yang punya motor itu?" Seorang bapak-bapak tiba-tiba menghampirinya, dan menanyainya tentang motornya yang ia tinggal begitu saja.


Melihat ke arah yang di tunjuk si bapak itu, Nate lalu mengangguk "Iya pak itu motor saya, ada apa ya pak?" Tanya Nate.


Bapak itu tersenyum "Gak ada apa-apa mbak, tadi saya kebetulan lihat mbak tergesa-gesa lari, jadi saya mengambil kunci motor mbak, takutnya nanti ada yang nyuri kalau di tinggal begitu saja, dan ini mbak kuncinya" Bapak itu lalu menyerahkan kunci motornya.


"Terimakasih pak" Kata Nate sembari tersenyum, bapak itu lalu membalas tersenyum sebelum si bapak pamit untuk pergi.


Saat Nate tengah berjalan menuju motornya, tiba-tiba telponnya berbunyi.


"Ya halo" Nate tidak sadar saat ia tengah sibuk menerima telpon, seseorang tengah mencari keberadaannya.


Dapat dibilang Nate dan orang itu begitu dekat, namun keduanya tidak saling melihat.


"Baik bu, nanti saya akan kesana, terimakasih Bu" Nate menutup telpon dari guru TK anak-anaknya yang memintanya untuk datang kesekolah. Ia tidak tahu alasan ia di panggil, tapi ia sudah bersiap kalau alasannya adalah karena anak-anaknya membuat masalah.


Nate pun menghela napas, pasrah.


Begitu Nate menaiki motornya untuk pergi dari tempat itu, ia samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya, namun ia hiraukan.


Mungkin orang itu memanggil temannya yang namanya sama dengannya. Pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2