
"Akselerasi?" Keenan menatap Nate tidak percaya, lalu tatapannya ia alihkan pada Nara yang tengah mengotak-atik laptop.
Nate menghela napas, menarik bibirnya lurus tidak tersenyum maupun sedih.
Tadi waktu ia di panggil, ia kira ada masalah apa, ternyata Bu Lastri hanya ingin memuji-muji anaknya Nara, seberapa pintarnya Nara, seberapa dewasanya Nara, bagaimana Nara akan memiliki masa depan yang cerah, lalu ibu guru itu menyarankan untuk Nara mengikuti kelas akselerasi atau alias menyarankan Nara masuk SD dua tahun lebih cepat dari anak seusianya.
"Ibu Nia, akan sangat disayangkan jika Nara masih berada di TK, kecerdasan anak ibu ada diatas rata-rata akan lebih baik kalau Nara mengikuti kelas akselerasi" Ucap Bu Lasri tadi.
"Ya gitu la kak" Kata Nate tidak semangat.
Bohong jika ia tidak bahagia anak-anaknya cerdas, hanya saja masuk kelas akselerasi berarti juga menambah pengeluarannya. Inilah yang membuat perasaan Nate campur aduk.
"Nara juga dia masih terlalu kecil untuk masuk SD, apalagi ia juga masih cadel, Nate takut kalau-kalau nanti Nara di bully teman-temannya" Keluh Nate menghawatirkan Nara.
Nate dan Keenan berada di dapur, sementara anak-anak berada di ruang tamu. Melihat dari pintu dapur, Nate melihat ke tiga anak-anaknya yang sibuk dengan kerjaannya masing-masing.
Dimana Hanan yang sibuk menggambar, Nara yang sibuk di depan laptop, dan Bintang yang malah sibuk menonton video dokumenter hutan Amazon.
"Nate Lo kira gue gak tahu, Lo itu bukan khawatir dengan Nara di sekolahnya nanti, kan Lo tahu sendiri semua anak-anak Lo itu bar-bar, jujur sama gue, Lo khawatir masalah biaya kan?" Tebak Keenan yang memang benar adanya.
"Nate cuman mempersiapkan uang untuk sekolah anak-anak umumnya, Nate gak tahu kalau Nara bakal masuk kelas akselerasi" Jujur Nate.
"Kalau Lo mau, gue bisa bantu kok"
"Kalau begini apa Nate kembali ngojek lagi ya kak?"
Ucap Nate dan Keenan bersamaan.
Keenan menatap Nate, ia lalu menggeleng "Gak, gue gak setuju Lo ngojol lagi" Tolak Keenan.
"Tapi kak, Nate gimana mau dapat penghasilan lebih kalau cuman kerja ngantar pesanan di restoran kakak? Bukannya mendingan Nate kembali jadi ojol"
"Gue bakal bayar Lo dua kali lipat, jadi jangan berpikir buat jadi ojol lagi"
"Gaji dua kali lipat dari kakak juga gak cukup buat nutupin pengeluaran Nate dan anak-anak"
"Tapi Lo ngojol itu keputusan buruk Nate" Keenan menepuk dahinya "Lo pikir mengendarai motor diatas 70 km/jam bakal buat Lo dapat bintang 5 dari pelanggan?"
Perkataan Keenan membuat Nate sadar akan kebiasaannya mengendarai motor di atas kecepatan rata-rata itu. Benar kata Keenan, ia kembali menjadi ojol adalah keputusan yang buruk, terkhususnya bagi para pelanggannya nanti.
Apalagi pengalamannya dulu menjadi ojol, ia jarang mendapat bintang 5, paling mentok bintang 2, dan bahkan ia juga mendapat bintang 1 karena kebiasaannya itu, yang alhasil membuatnya selalu kena suspend, dan parahnya lagi malah akunnya pernah di bekukan.
Sebelumnya Nate sering kali gonta-ganti pekerjaan, mulai dari waiters, office girl, bahkan penjaga kasir supermarket. Namun dari semua pekerjaan yang pernah ia lakukan, hanya menjadi ojol lah yang menurutnya paling sesuai dengannya.
Alasan mengapa pekerjaan-pekerjaan itu tidak sesuai dengannya, adalah karena ia sedikit ceroboh, kurang teliti, selalu membuat kesalahan, dan yang paling parah kurang sabar dan selalu membuat masalah, yang membuatnya selalu menghajar orang atau atasan yang menurutnya menyebalkan.
Dan karena alasan inilah mengapa di restoran Keenan, ia hanya menjadi pengantar pesanan makanan, karena kalau sampai ia jadi waiters, yang ada restoran kakaknya bakalan sepi gara-gara dia.
Nate menghela napas panjang "Lalu Nate harus kerja apa kak, apa Nate nge go-food aja ya?" Tanyanya pada Keenan, apalagi ia hanya tamatan SMA.
__ADS_1
"Lo pikir selama ini Lo kerja apa hah?lagian kalau bicara gaji, kerja disini di restoran kakakmu ini malah lebih terjamin dari pada jadi driver go-food" Nate memang mengakui itu, selama kerja di restoran kakaknya ia sering kali di gaji dua kali lipat oleh Keenan.
"Dan kalau untuk biaya sekolah Nara, kakak Lo ini bisa bantu Nate, jadi Lo gak perlu khawatir" Kata Keenan tulus ingin membantu, namun buru-buru Nate menolaknya.
"Nggak kak, HANABI anak-anak Nate, jadi Nate yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan mereka, lagian restoran kakak juga baru saja keluar dari situasi krisis, jadi mendingan kakak fokus ke restoran kakak itu" Kata Nate memberi alasan.
"Tapi Nate..." Belum juga Keenan selesai berbicara, Nara lebih dahulu menyela.
"Fathel Ken" Panggil Nara yang tiba-tiba datang menemui sambil membawa laptop yang terlalu besar ia bawa. "Nala sudah selesai buat codingnya" Lapornya ia lalu menyerahkan laptop itu ke Keenan untuk di periksa.
Keenan selain pemilik restoran, ia juga adalah seorang hacker, di sela-sela waktunya ia juga mengajari Nara yang tertarik dengan pekerjaan sampingannya itu. Baru satu tahun sejak Nara belajar darinya, anak kecil itu sudah bisa meretas wifi, kamera pengawas, komputer yang tingkat keamanannya rendah.
"Bagus, murid Father memang pintar" Pujinya melihat pekerjaan Nara "Tapi masih lebih pintaran yang mengajarnya sih" Imbuhnya, membuat Nara memutar mata.
Nara memang mudah belajar, namun Fathernya sering membanggakan diri kalau dia bisa coding karena diajarinya. Padahal Keenan jarang mengajari dan lebih sering menyuruhnya mencoding setelah dia mencontohkannya sekali.
"Anjir, ini kenapa tiba-tiba laptop Father di serang, kamu tadi ngapain curut?" Ucap Keenan, sambil menggerakkan tangan kanannya mengetik cepat di laptopnya.
"Nala tadi coba ngeletas laptop doang kok paman, tapi kalena keamanannya tinggi jadi yang ngeletas gak jadi, dan Nala gak tahu kalau bakal diselang kek gini" Jelas Nara.
"Anjir!" Umpatnya lagi yang mendapat pukulan dari Nate.
"Kakak, di depan anak-anak jangan mengumpat, gimana kalau anak Nate jadi ikutan mengumpat juga?" Ia lalu mendorong Keenan untuk keluar dari dapur, karena Keenan tidak mendengarkan dan fokus pada laptopnya.
Setelah Keenan pergi, Nara memeluk kaki Nate, menyembunyikan wajah di perut ibunya itu.
"Nala gak mau masuk kelas akselelasi" Katanya, mendengarnya Nate lalu menggendong anaknya itu.
"Kenapa sayang, kok gak mau? Bukannya Nara bilang sudah bosan ya di TK?" Nara tidak menjawab, dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nate.
Meski tidak sepeka Hanan, Nara bukannya tidak tahu kalau misal ia masuk akselerasi itu malah akan membebani Mommynya.
Terlebih setelah mendengar percakapan Mommynya dan Father Ken tadi.
"Nggak, Nala gak bosan lagi" Jawabnya, yang Nate tahu kalau itu bohong.
"Nara, kamu tadi mendengar pembicaraan Mama dan father Ken ya?" Tanyanya yang tepat sasaran, Nara terdiam "Nak, Mama tidak apa-apa kalau kamu masuk kelas akselerasi, malah Mama bangga artinya anak Mama ini pintar, jadi anak Mama yang ganteng ini gak perlu khawatir, yang penting Nara harus sungguh-sungguh belajarnya nanti, karena tidak semua anak bisa masuk kelas akselerasi, ya nak?"
"Tapi Nala gak mau Mommy telbebani" Ucap Nara membuat Nate tersentuh anaknya menghawatirkannya.
"Kata siapa Mama terbebani? Mama gak merasa terbebani kok, yang penting Nara belajar dengan sungguh-sungguh, masalah biaya Mama yang urus, jadi Nara tenang saja, oke" Nate meyakinkan, ia pun lalu tersenyum membuat Nara juga tersenyum.
Nate selalu ingin menjaga senyum anak-anaknya itu, ingin juga ia memberikan apa yang anak-anaknya minta, namun karena keadaan lah yang membuatnya tidak bisa.
Tiga bulan lagi adalah tahun ajaran baru, yang juga hari pertama Nara masuk sekolah Dasar. Dan tidak tanggung-tanggung sekolah TK anak-anaknya merekomendasikan Nara ke Garuda International Elementary high school, sekolah menengah dasar berskala internasional yang juga memiliki kelas akselerasi, bahkan pihak sekolah juga sudah mendaftarkan anaknya itu kesana.
Beruntung ada Ratih yang berbicara ke ibu Lasri mengenai ekonomi keluarganya, tapi tanggapan ibu satu itu membuat Nate ingin sekali menghajar mukanya itu.
"Untuk masalah biaya tidak perlu khawatir, setelah satu tahun belajar ibu Nia dapat mengajukan permohonan beasiswa untuk Nara, kebetulan adik saya yang bertugas menangani beasiswa di sekolah itu, nanti saya akan membantu ibu Nia untuk mendapatkan beasiswa untuk Nara"
__ADS_1
"Setelah Satu tahun gigimu, ni orang gak mikir apa, bagaimana kamu membayar uang SPP nya untuk satu tahun itu, dikira uang bisa jatuh begitu saja dari langit" Kata Ratih semalam waktu menelponnya. Nate hanya tersenyum saja sebagai tanggapan.
Bohong kalau ia tidak kesal seperti Ratih, sebagai lulusan sekolah berskala internasional, Nate bukannya tidak tahu berapa SPP dan uang muka waktu pendaftaran, apalagi ibu Lasri itu mengiranya bodoh apa?, yang mudah di pengaruhi dengan iming-iming akan di bantu mendapat beasiswa.
Kalaupun mau bantu, kenapa tidak sekalian bantu Nate membayar SPP selama satu tahun itu juga?
"Nia, pokonya kamu tenang saja, mbak mu ini akan bicara lagi dengan ibu Lasri, mbak akan paksa dia untuk menarik kembali pendaftaran sekolah Nara, karena yang berhak menentukan kemana anak sekolah itu kamu dan Nara, bukannya ibu-ibu gendut itu." Kata Ratih, sebelum pembicaraan mereka semalam berakhir.
Kalaupun Ratih gagal, ia sendiri yang akan menemui ibu satu itu. Ia memang ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, tapi ia juga akan berpikir dua kali untuk memasukkan anaknya ke sekolah itu. Lagipula anaknya tidak hanya satu, dan tidak mungkin juga ia hanya akan fokus pada Nara dan mengabaikan Hanan dan Bintang.
***
"Kenapa Nia, mukamu di tekuk begitu, pms ya?" Tanya Abram waktu Nate mengantar pesanan.
"Gak Bang, Nia cuman lagi kesel saja sama ibu-ibu" Kata Nate.
"Ibu-ibu di jalan bawa motor yang nyalain lampu sen kanan malah belok kiri ya, Nate?" Tanya Daria.
"Bukan mbak, malah lebih parah dari ibu-ibu di jalan" Jawab Nate membuat Daria dan Abram reflek mengernyit tidak mengerti, hari ini hanya Abram dan Daria yang masuk kerja, Diana dan Sisi keduanya tengah mengambil cuti.
"Nia pergi dulu ya mbak Ria, Kak Bram" Pamitnya.
"Gak mau duduk dulu Nia" Tanya Abram, Nate menggeleng.
"Gak kak, Nia mau lanjut ngantar pesanan"
Untuk persiapan Nara masuk SD, Nate harus bekerja ekstra untuk mengumpulkan uang, sembari mengantar pesanan ia juga sambil mencari-cari lowongan pekerjaan.
"Nia!" Panggil seseorang, Nate menoleh.
"Bang Zihan"
"Aku sudah dengar tentang Nara dari mbak mu" Kata Zihan, Nate tersenyum "Nara memang cerdas, tapi memasukkan Nara ke Garuda International Elementary high school itu bukan pilihan yang tepat mengingat kondisi keuangan mu, Nia"
"Nia juga mikirnya gitu bang, Nia juga sebenarnya gak setuju sekolah merekomendasikan SD itu, boro-boro mikirin SPP selama setahunnya, bayar uang muka waktu pendaftarannya saja Nia tidak mampu"
"Abang untuk masalahmu ini tidak bisa banyak membantu, tapi Abang bisa memberimu pekerjaan, kebetulan ada lowongan kerja pembersih kaca gedung, jam kerjanya juga tidak setiap hari, dan untuk masalah gaji memang tidak seberapa..."
"Nia mau kok bang" Kata Nate buru-buru memotong ucapan Zihan.
Sekarang ia memang tengah mencari pekerjaan, apalagi kata Zihan jam kerjanya tidak setiap hari, jadi ia bisa membagi waktu antara bekerja mengantar makanan di restoran dan bekerja menjadi pembersih kaca gedung.
Mendengar perkataan Nate, Zihan lalu meminta Nate untuk datang kembali besok dengan membawa persyaratan yang dibutuhkan.
Setelah berpisah dari Zihan, di dalam lift, waktu Nate mau menekan tombol lantai, seseorang tiba-tiba menahan pintu lift agar terbuka kembali, begitu melihat siapa orang itu, Nate tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Lo!" Kata Nate pada laki-laki itu, ia lalu mundur ke belakang, bayangan lima tahun lalu kembali ia ingat melihat orang itu.
"Lama tidak bertemu, Nate" Panggil laki-laki itu. yang bagi Nate tak lebih adalah seorang iblis.
__ADS_1