HaNaBi, My Lil Babies

HaNaBi, My Lil Babies
Rencana Hanabi


__ADS_3

Keesokan paginya, Hanabi menjalankan rencananya.


Awalnya, Hanan dan Bintang membuat keributan di kelasnya.


Caranya?


Yaitu dengan menakut-nakuti mereka semua dengan cerita hantu. Anak kecil mudah untuk ditakut-takuti, apalagi di takut-takutinya dengan cerita hantu, ditambah dengan adanya gangguan dari makhluk halus itu.


Hanan bertugas menceritakan kisah hantu dan menakut-nakuti, sedang Bintang bertugas menganggu teman-teman kelasnya dengan menyetel audio tertawa kuntilanak, menyebar asap dupa dalam kelas, dan menaruh boneka yang mirip kuntilanak di luar jendela, tidak lagi dengan wajah seram berlumuran cat merah mirip darah boneka itu yang merupakan hasil karya Hanan, sontak membuat para penghuni kelas berteriak histeris, ada yang menangis, pipis di celana, bahkan yang lari ke luar kelas ada.


Dan Hanan adalah salah satu yang lari keluar kelas itu, sedangkan Bintang ditengah kekacauan dalam kelasnya, ia diam-diam menyelinap masuk lewat jendela dan ikut-ikutan berteriak, ia pun ikutan keluar kelas juga, menghampiri Hanan yang duduk jauh dari yang lain, dia baru berhenti berteriak.


"Haus?" Tanya Hanan pada adiknya itu.


Bintang mengangguk, ia pun ikutan duduk di samping Hanan


"Hanan gak punya air, jadi hausnya Bintang tahan ya" Ucapnya dengan begitu entengnya, bahkan kasihan pun tidak.


"Hanan lalu ngapain nanya kalau gak mau ngasih Bintang air?" Gerutu Bintang.


"Jangan menggerutu, kata Bunda, jadi adik harus sopan ke kakaknya"


"Itukan bundanya Hanan yang bilang, kalau kata Daddy seorang kakak itu harus baik pada adiknya, kalau misal Kakaknya gak baik, adiknya boleh kurang ajar ke kakaknya"


"Bintang bohong, bunda gak pernah ya ngomong kayak gitu" ucap Hanan tidak terima


"Kan Daddy nya Bintang yang ngomong" kata Bintang tidak mau kalah.


Padahal yang mereka panggil Bunda dan Daddy itu adalah orang yang sama. Namun dasar Hanabi yang tidak pernah ada yang mau mengalah dan malah lanjut bertengkar.


Saat keduanya masih adu mulut, rencana untuk membuat keributan di sekolah yang mereka rencanakan berhasil memancing ibu Lasri untuk keluar dari ruangannya


"Ada apa ini ribut-ribut!" Teriak ibu Lasri.


Tidak menyianyiakan kesempatan, buru-buru Nara menyelinap masuk ke ruangannya.


Tidak mudah untuk membuat ibu Lasri keluar ruangannya, karena itulah ia menyusun rencana itu. Setelah masuk kedalam ruangan, segera ia menuju ke arah mejanya, membuka laci di urutan kedua, Nara akhirnya menemukan kertas dokumen itu.


Beruntung sebelumnya ia sudah mengawasi ibu Lasri, jadi aksinya menyelinap menjadi semakin mudah.


Dokumen itu adalah formulir pendaftarannya. Sebelumnya, ia berhasil menggagalkan formulir pendaftarannya yang dikirim secara online, meski semuanya berkat bantuan Father Ken nya, yang membantu waktu dia di serang balik saat menghack server GIS atau singkatan dari Garuda International Elementary high school.


Seharusnya setelah tidak berhasil mengirim formulir pendaftarannya, otomatis Nara gagal ikut seleksi masuk GIS. Namun karena bantuan orang dalam, ibu Lasri masih ada kesempatan untuk mengirim ulang formulir pendaftarannya secara manual.


Dan sekali lagi untuk menggagalkan dirinya diterima di sekolah itu, ia harus mengubah isi formulirnya.


Nara mengeluarkan flashdisk dari sakunya menyambungkannya ke laptop ibu Lasri, ia lalu mengetikkan password dan tidak butuh waktu lama untuk berhasil membuka laptop itu.

__ADS_1


Dengan cepat Nara mengetik di laptop itu, sembari berkali-kali melihat ke arah pintu, takut-takut kalau sampai ibu Lasri tiba-tiba masuk.


Setelah bunyi klik, mesin printer disampingnya menyala, mengeprint beberapa lembar formulir. Buru-buru ia mengambil formulir itu dan memasukkannya kedalam laci, sementara formulir aslinya sudah ia remas-remas dan di masukkan kedalam kantong celananya.


Waktu akan menutup laptop itu kembali, tidak sengaja ia melihat satu folder bernama rahasia, karena penasaran ia melihat isinya, tidak lupa ia mengcopy folder itu kedalam flashdisk nya, karena siapa tahu folder itu berisi informasi penting. Namun, belum juga selesai mencopy, suara langkah kaki membuatnya terpaksa menghentikan kegiatannya, buru-buru ia menutup laptop itu, dan keluar ruangan lewat jendela bersamaan dengan pintu ruangan yang di buka.


"Ya ampun, apasih yang orang-orang itu lakukan sampai membuat anak-anak berisik seperti itu, dasar tidak becus, aku harus memotong gaji mereka nanti" Ucap ibu Lasri.


Dengan mengendap-ngendap, Nara menjauh dari ruang ibu Lasri, sebelum keberadaannya di ketahui, ia lalu pergi ke tempat saudara-saudaranya itu berada.


"Sudah?" Tanya Hanan begitu Nara datang.


Nara mengangguk, namun ia merasa ada yang aneh melihat Hanan dan Bintang duduknya berjauhan.


"Kalian beltengkal?" Tanyanya.


"Nggak cuman perang lagi perang dingin" Ucap Hanan dan Bintang bersamaan.


"Hanan, jangan ikut-ikutan Bintang dong" Protes Bintang.


"Lah kan Bintang yang ikut-ikutan Hanan" kata Hanan tidak terima.


"Nggak ya, suara Bintang lebih keras dari suara Hanan jadi gak mungkin Bintang ikutan Hanan"


"Logika darimana itu, kalau suara keras berarti gak ikut-ikutan?"


"Anak-anaknya Mama Nate memang gak ada yang benal" Ucap Nara tidak habis pikir.


***


Tidak ada alasan ia akan bertemu lagi dengan Zoe?


Ralat, kini Nate punya banyak alasan untuk bertemu dengannya.


Berkat bantuan Zihan, Nate kini di terima bekerja di Zee Company yang sialnya perusahaan itu milik Zoe. Sialnya dia, sebelumnya tidak mencari tahu dulu siapa bosnya.


"Selamat pagi, tuan Zoe" Sapa Zihan pada sang pimpinan perusahaan, Zoe.


"Pagi" Zoe membalas singkat sambil melirik ke arah Zihan, namun waktu melihat perempuan bertopi putih di belakangnya, membuatnya menghentikan langkah. Perempuan itu, tidak salah lagi dia adalah Nate, namun belum sempat ia mau bicara, Rio sudah mengingatkannya kalau sebentar lagi rapat akan di mulai, dan dia harus segera sampai di tempat meeting.


Nate, begitu melihat Zoe tadi reflek menyembunyikan wajahnya di balik topi, berharap Zoe tidak akan melihatnya. Namun melihat bagaimana Zihan yang begitu sopan menyapa Zoe, membuat perasaannya tidak enak.


"Bang, itu tadi siapa?" Tanyanya, waktu Zoe dan rombongannya telah pergi.


"Tuan Zoe, CEO perusahaan ini" Jawab Zihan.


"CEO, berarti dia pimpinan kan?" Tanyanya lagi ragu-ragu, sekedar memastikan.

__ADS_1


"Kamu ini ngomong apa sih? Ya jelaslah kalau CEO berarti pimpinan, sudah ayo lanjut jalan lagi" Kata Zihan.


"Mampus" Ucap Nate spontan. Ingin rasanya ia resign saja dari pekerjaannya, namun ia sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja yang membuatnya tidak bisa begitu saja mengundurkan diri.


"Hanya sedikit pelamar kerja yang mendaftar menjadi pembersih kaca, sementara semakin banyak pembersih kaca di perusahaan yang memutuskan resign, karena itu perusahaan membuat kontrak kerja selama satu tahun, dan selama itu para pekerja tidak diizinkan untuk resign, kecuali membayar denda pemutusan kontrak" Terang Zihan waktu ia bertanya kenapa harus menandatangani kontrak kerja, yang salah satu poinnya adalah terikat kontrak dengan perusahaan selama satu tahun.


"Bang kalau mau resign tanpa bayar denda gimana?"


"Menunggu satu tahun" Jawab Zihan, seperti yang Nate pikirkan "Ada apa Nia?"


Nate hanya menggeleng "Tidak, tidak ada apa-apa kok bang" Jawabnya, meski sebenarnya ia sangat ingin resign. Namun Nate sadar, mencari pekerjaan saat ini begitu sulit, apalagi ia mendapatkan pekerjaan ini karena Zihan, ia tidak mungkin tiba-tiba bilang mau resign.


Sial! Nate tidak suka berada di situasi yang membuatnya tidak memiliki pilihan seperti ini.


***


Selesai rapat, Zoe meminta Rio untuk jangan keluar dulu dari ruangan.


"Ada apa tuan?" Tanya Rio.


"Kemaren aku memintamu mencari informasi tentang Nate, apa sekarang kau sudah dapat?" Tanya Zoe balik, membuat Rio menghembuskan napas kasar.


"Tuan Zoe, mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat saya, tapi saya harus bilang, anda meminta saya mencari informasi mengenai perempuan itu, sementara anda memberi saya banyak sekali pekerjaan, jadi beritahu saya mana dulu pekerjaan yang harus saya kerjakan?"


"Kamu kan sekertaris saya, seharusnya kamu dapat memprioritaskan pekerjaan mana yang harus kamu kerjakan lebih dulu" Ucap Zoe yang seakan tidak peduli dengan kesulitan sekertarisnya itu


"Karena saya sekertaris anda, maka saya lebih memprioritaskan pekerjaan saya di kantor" Kata Rio.


"Lupakan pekerjaan di kantor, kamu cari tahu dulu informasi tentang Nate" Perintah Zoe tiba-tiba, membuat Rio melongo.


"Tuan.."


"Sama kamu cari tahu, karyawan baru bernama Nathania, perempuan itu, Nate, dia bekerja di bagian apa?"


Saat itu, dari arah luar gedung, Nate tiba-tiba muncul untuk membersihkan kaca gedung, Rio yang awal melihatnya hanya mengembuskan napasnya.


"Tuan tidak perlu meminta saya mencari tahu, kalau Tuan mau tahu di bagian apa dia bekerja tuan dapat melihatnya sendiri" Rio lalu menunjuk ke arah Nate yang tengah membersihkan kaca di luar.


Zoe yang saat itu menoleh ke arah yang Rio tunjuk, tanpa sengaja tatapannya bertemu pandang dengan Nate, kaca gedung itu transparan jadi Nate dapat melihat kedalam ruangan.


Waktu tatapan mereka berdua bertemu, baik Zoe dan Nate sama-sama dibuat terkejut, bahkan Nate sampai berhenti membersihkan kaca.


"Nate" Panggil Zoe.


Nate yang sudah sadar dari keterkejutannya, lalu buru-buru membersihkan kaca, namun waktu dia memegang tali pengamannya berniat untuk kembali ke atas, tidak sengaja kakinya terpeleset kaca licin yang baru dia bersihkan.


Melihat Nate yang hampir terjatuh, Zoe pun spontan berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


"Astaga, Nate!"


__ADS_2