Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo

Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo
Hello Everyone, We Are..


__ADS_3

Bab 1


"ANJ*NG IH—"


"HAHAHA.. EH SORRY GUE NGGAK SENGAJA. SUMPAH!"


"Danc*k lo! Padahal tadi gue udah bilang buat hati-hati dan jangan sampai dorong-dorongan kek tai gitu,"


"Akhirnya apa coba? Gue juga kan yang kena? Mana lumpurnya bau banget ini, lebih bau dari lumpur lapindo. Huek—"


Sinta merasa bersalah karena sudah membuat Anisa terdorong mengenai lumpur, kemudian ia meminta maaf agar urusannya pun tak berkepanjangan.


"Iya-iya gue ngaku gue salah. Sekali lagi gue minta maaf yah! Beneran nggak sengaja tadi, speechless banget liat pemandangan di depan soalnya. Lain kali gue bakal lebih fokus dan hati-hati lagi kalo jalan."


"Bac*t lo Kambing! Pas tadi di ingetin kemana aja? Giliran udah kejadian aja baru deh lo minta maaf. Nggak habis tingking gue sama lo,"


Sambar Anisa dengan geram melihat tingkah laku Sinta yang benar-benar diluar angkasa.


Persetan dengan kelakuan Sinta! Ia memang berbeda dari kedua teman Anisa yang lain. Selalu ada saja tingkah laku nyentrik dari Sinta yang akan membuat siapa saja menggelengkan kepalanya sampai mau copot dari tempatnya.


***


Perkenalkan! Ini kisah tentang persahabatan diantara empat orang gadis yang berbeda kepribadian namun di satukan dalam ikatan tali pertemanan.


Bukan teman tapi menusuk, melainkan teman sampai mati.


Anisa, Riska, Indhi dan Sinta sudah berteman sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar, bahkan tak sampai disitu tali pertemanan mereka terus terjaga hingga menginjak bangku sekolah menengah pertama.


Ke empat gadis itu selalu menempel dimana pun berada seperti halnya prangko dan surat yang tak bisa dipisahkan.


Lagi dan lagi disaat mereka memasuki jenjang sekolah menengah atas pun kembali dipertemukan dalam satu sekolah yang sama dan semakin menambah rasa kesolidaritasan pertemanan diantara mereka.


Seperti tak lekang oleh waktu hubungan persahabatan mereka semakin hari semakin terjaga, terbukti dengan mereka sudah bekerja pun kesolidan dan tali silaturahmi diantara mereka tetap terjaga baik walaupun berbeda pekerjaan.


Tibalah suatu hari dimana hari itu akan menjadi penentu antara selamat atau tidaknya jiwa dan nyawa ke empat gadis tersebut.


Layaknya seperti karma, semesta kali ini sedikit egois.


Semesta seakan menuntut atas kebahagiaan yang selama ini mereka rasakan dengan memberi ke empat gadis tersebut cobaan.


Cobaan yang berujung kematian, lalu siapakah yang akan menerima ganjaran tersebut?


***


Mode panggilan VCS Grup.


"Fiuh.. Hidup gue bosen banget setelah bekerja. Tiap hari kerja terus gak ada waktu buat liburan, giliran ada waktu libur malah nggak ada temen buat pergi liburan!"


Ucap Anisa kepada temannya melalui panggilan VCS Grup.


"Sabar, roda kehidupan itu berputar. Tapi kalo lo ngerasa hidup lo dibawah terus positif tingking aja mungkin rodanya eror." Jawab Riska.


"Whoaa.. Setuju banget gue sama apa yang Riska bilang. Hidup yang susah bukan lo doang kali Nis! Banyakin aja bersyukur biar nggak kufur." Sahut Indhi.


Sementara Sinta hanya diam saja memperhatikan.


"Iya juga sih tapi jujur gue tuh pengen banget bisa liburan bareng-bareng sama kalian, kita juga udah lama banget nggak meet lagi. Apa kalian nggak ada kepikiran buat bikin acara meet bareng lagi gituh?" tanya Anisa.


"Ya nggak gitu juga Nisa, kan lo tau sendiri kalo jatah libur kita selalu beda, mo gimana lagi? Yaudah biar nanti weekend gue main ke rumah lo deh mumpung libur. Itung-itung ngobatin rasa rindu kita karena belum bisa kumpul bersama lagi." Jawab Riska dengan mantap jiwa.

__ADS_1


Merasa kaget sekaligus bahagia Anisa pun menjawab dengan antusias.


"Anj*ng! Kenapa lo nggak bilang dari tadi kalo weekend nanti lo libur, b*ngke? Gue juga sama weekend nanti libur!"


"Lho! Ini kebetulan atau kek mana ya? Kok tumben banget kita bisa libur barengan gini? Gue juga sama dong liburnya weekend nanti." Sahut Indhi.


Yang tadinya diam saja kini Sinta pun ikut menjawab.


"Wah.. Wah.. Wah.. Puji dewa Matahari yang selalu menyinari dunia, gue juga sama weekend nanti libur. Kuylah kita liburan! Mari kita gemparkan rumah tangga orang lain, kita rebut suaminya sampe ***** darah penghabisan!!"


Anisa, Riska dan Indhi tertegun mencerna setelah mendengar penuturan Sinta.


Sejurus kemudian Anisa angkat bicara.


"Apasih lo B*bi? Nggak jelas banget candaan lo ih, garing tau nggak ada lucu-lucunya yang ada gue pen jabak tuh bibir!"


Riska dan Indhi tertawa mendengar itu, sedangkan Sinta yang tidak terima pun kembali angkat bicara.


"Bodo amat gue nggak peduli yang penting gue bahagia. Ha.. Ha.. Ha.."


Setelah dipikir-pikir lagi Anisa pun sependapat dengan apa yang Sinta katakan. Karena tak ingin menysia-siakan kesempatan emas untuk berkumpul Anisa berinisiatif untuk merencanakan liburan bersama.


Ngomong-ngomong tentang liburan,gadis itupun kepikiran tentang sebuah kampung yang didalamnya memiliki air terjun yang sangat cantik.


Maka dari itu Anisa mencetuskan untuk pergi berlibur ke kampung tersebut.


"Mumpung libur kita samaan, gimana kalo hari libur nanti kita pakai aja buat liburan bersama? Apalagi sekarang lagi viral tuh air terjun yang ada di kampung Sukagirang,"


"Dan yang lebih kerennya lagi air terjun itu belum terekspos oleh siapapun! Gimana? Excited banget nggak sih? Apalagi kalo kita bisa jadi orang pertama yang bisa nikmatin keindahan tuh air terjun, bisa viral kita!"


"Widih boleh juga tuh, skuylah gaskeun! Apalagi jaraknya juga lumayan deket. Kapan lagi kita bisa nemu air terjun yang deket plus bagus kek gitu? Gila! Beruntung banget kita." Balas Indhi dengan girang seperti tante-tante pirang.


"Kampung Sukagirang? Bukannya kampung itu dikenal sebagai kampungnya orang mati!? Sejenis kampung bunian gitu?"


"Serius kalian mau liburan kesana? Heh B*bi nggak usah ngada-ngada! Lo berdua mau cari mati apa pake liburan kesana segala?"


Anisa mengetahui bahwa kabar yang Riska ucapkan tersebut hanyalah kabar angin semata yang belum jelas kebenarannya.


Kemudian Anisa pun menyangkal alasan tersebut dan menganggapnya lucu.


"Hahaha.. Lawak banget sih lo D*jal! Ayolah Baby, sekarang tuh zaman moderen. Lo nggak usah dengerin kabar kek gituan segala, itu cuma mitos aja dan lo jangan mudah percaya kalo nggak ada bukti!"


"Tapi kalo lo tetep percaya sama hal kek gituan apalagi nggak ada bukti nyata, fix lo tolol akut! Musti di kawinin sama Domba Garut piaraan Mang Eman tetangga gue."


Tak ingin kalah Riska pun menjawab.


"Ya ampun Nisa itu tuh beneran ada bukan mitos! Alasan tempat itu belum ke ekspos sama wisatawan lain ya karena itu. Mereka pada takut dan nggak berani apalagi kalo harus menetap singgah di kampung Sukagirang terlebih dahulu. Merepotkan saja banyak aturan!"


"Alah b*cot! Nggak usah lo jelasin panjang lebar kek gitu apalagi sampai bawa-bawa orang lain segala, kalo penakut ya penakut aja kali."


"Kalo emang gue penakut emangnya kenapa hah? Ada masalahkah? Terserah lo B*bi mau nganggep gue kek mana, yang jelas gue tuh mikirnya panjang termasuk dengan resiko apa yang akan kita terima jika nanti jadi berangkat."


"Whoaa.. Pake bawa-bawa reskio kedepannya segala lagi, lo hebat! Sejak kapan ganti profesi jadi peramal? Baru tau gue! Lagian yang namanya hidup itu realistis Ris semuanya udah ada yang atur. So, lo nggak usah deh mendahului takdir yang sudah Tuhan tetapkan, pamali!"


"Gue tau hidup itu realistis! Tapi lo juga harus ingat bahwa dalam setiap keputusan yang lo ambil pasti disitu akan ada resiko yang bakal lo tanggung camkan itu. Dan lo juga harus tau kalo gue nggak bermaksud buat melangkahi takdir tuhan, gue hanya berpartisipasi saja sedia payung sebelum hujan.. "


"Tciih Najis! Terus sekarang mau lo apa?"


"Telinga gue sakit kalo terus-terusan denger lo ngebac*t."

__ADS_1


Riska menghela nafas lega mendengar itu, kemudian menjawab.


"Rubah tempat liburan yang akan kita kunjungi, lebih baik kita cari tempat wisata lain, lupakan kampung Sukagirang dan dengerin gue kali ini!"


"Maksud lo apa ngomong kaya gitu? Nggak ada ya, no way.. "


Riska yang sudah tau akan watak dari Anisa yang sekeras macam batu karang itu pun hanya mampu mengusap buah dadanya.


"Baiklah kalo itu mau lo. Lanjutin aja kemauan lo itu gue nggak apa-apa, namun dengan berat hati sorry gue nggak bisa ikut!


Jleb!


Anisa semakin dibikin geram oleh Riska yang tak kunjung mau mengalah juga, akhirnya Anisa pun diam sejenak untuk berpikir.


Sementara Indhi dan Sinta hanya mampu menyimak saja tak mampu berucap. Jangankan berucap menyimak saja sampai bikin mereka shock berat.


Indhi dan Sinta terlihat pucat pasi dibuatnya, mata mereka melotot sempurna seperi mata ikan fatin sidqia lubis, sedangkan mulutnya terlihat menganga lebar membentuk seperti donat.


Terbesitlah sebuah ide di kepala Anisa setelah meihat kondisi Indhi dan Sinta yang sebentar lagi akan mengejang itu saking shock sekali.


"Sebaiknya lo jangan egois dulu deh dengan buru-buru nyimpulin secepat itu. Apalagi lo lihat sendiri kalo kita ini ada empat orang bukan sendirian. Jadi lebih baik kita diskusikan ini bersama, gimana?"


Riska yang tau maksud dari perkataan Anisa pun menyanggupi itu.


"Oke siapa takut! Jangan panggil aku anak kecil uncle."


"Sip! Mari kita gunakan sistem vote saja untuk menentukan keberangkatan kita nanti, bagaimana?"


"Terserah, atur saja gimana baiknya kalo gue, terus kalo kalian berdua gimana? "


Riska balik bertanya kepada Indhi dan Sinta.


"Oke gaskeun.. "


Jawab Indhi dan Sinta bersamaan.


"Deal ya kita akan ngambil sistem vote buat nentuin jadi atau nggak nya kita berangkat, selain itu juga agar kita tahu diantara kita lebih banyak yang mau berangkat atau nggak,"


"Dan untuk lo Ris, kalo hasil akhirnya nggak sesuai sama apa yang lo inginkan gue harap lo nggak nanges. Nggak ada buat beli balon soalnya. Ha.. Ha.. Ha.. " Canda Anisa mengakhiri.


"Brisik.." Jawab Riska.


Setelah selesai membahasa tentang keberangkatan mereka yang sedikit diwarnai dengan percekcokan antara Anisa dan Riska, mereka pun melanjutkan obrolan mereka ke tahap selanjutnya.


Mungkin seperti itulah yang dimaksud dengan istilah 'teman rasa keluarga' sebagaimana jauh mereka bertengkar secepat itu pula terselesaikan.


'Jika cobaan kita seluas lautan, maka sabar kita pun harus seluas langit.'


Dan perlu digaris bawahi bahwa mereka berempat memang lah kadang seperti itu, jadi tak perlu khawatir lagi bila kedepannya terjadi hal semacam itu.


Mereka akan terus beradu argumentasi seperti dua orang musuh bebuyutan yang sedang saling serang. Mereka akan berhenti jika sudah menemui titik terang dan bila terjadi sebaliknya maka mereka akan kelelahan sendiri kemudian sadar dan tak melanjutkan perdebatannya.


Itulah sebabnya Indhi dan Sinta tidak melerai, karena mereka sudah terbiasa melihat pemandangan seperti itu dan seperti biasa mereka tak akan ikut campur lebih memilih jadi penonton story wa saja.


Kecuali jika mereka di ajak untuk join atau dimintai untuk bersuara, maka dengan sigap mereka angkat bicara.


*VCS Grup disini artinya Video Call Syari'ah, bukan VCS yang onoh.


—Mohon maaf apabila masih berantakan dan banyak sekali kesalahan dari segi apapun itu, harap maklum dan jangan lupa untuk memberikan kritik sarannya.

__ADS_1


__ADS_2