Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo

Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo
Hari Apes Indhi.


__ADS_3

Bab 11.


Karena tujuan liburan kali ini adalah air terjun, tentu saja Indhi tidak ingin mempersusah diri sendiri dengan berpakaian yang berat-berat namun, ia juga tak ingin terlihat udik.


Bagaimana pun ia tetap harus instagramable, tampil simple namun terlihat modis. Dan pilihannya jatuh kepada white t-shirt dengan dipadukan black long sleeve t-shirt agar kulit tangan terlindungi dari sinar matahari, lalu jangan lupa pakai celana! Agar lebih trendy dan pas ia mengenakan celana highwaist loose wide leg jeans saja.


Untuk kesan kekinian gadis itu menambahkan step terakhir sebagai pelengkap atau penyempurna, dengan mengenakan bucket het yang sedang viral dan banyak digunakan oleh artis ternama ibukota.


Kembali gadis itu melihat pantulan dirinya di cermin kaca, terlihat sangat cantik dengan bantuan make up tipis di bagian wajah.


"Cantik, muda dan OOTD sekali!" ucap Indhi memuji dirinya sendiri.


***


"Semoga keberuntungan kali ini ada pada diri gue, dan gue harap lo nggak usah macam-macam. Apalagi sampai ada acara mogok ditengah jalan! Big no," ucap Indhi pada mobil sang Ayah sebelum berangkat.


"Untuk kali ini saja lo jangan mogok, oke? You understand?"


Saking excited-nya gadis itu hingga kebablasan dan lupa mengucap basmalah di awal kata sebelum meminta.


Tak patut untuk dicontoh!


Mobil yang Indhi kenakan adalah warisan dari Neneknya untuk sang Ayah, maka dari itu meskipun usianya sudah tua dan sering mogok. Sedikit pun tak ada niatan untuk menjualnya.


Sang Ayah lebih memilih mengotak atik sesuka hati dan rela mengabiskan budget yang cukup banyak ketimbang harus menyerahkan pada orang lain dengan cara dijual.


Ibarat kata, bila ada yang menawar dengan harga tujuh triliun pun tak akan dilepas oleh Ayah Indhi. Sungguh sang Ayah memilik sikap yang setia.


B*go sama setia beda tipis, hati-hati!


Belum juga dipertengahan jalan tiba-tiba mobil yang ia kendarai terasa aneh, laju jalannya tersendat-sendat macam orang yang hendak dicabut nyawa.


"Eh—eh.. Astaga, kenapa ini?" Pekik Indhi terbata karena kaget.


Indhi berpikir kemudian tersenyum, lalu memukul-mukul kemudi setir seperti dalam film yang sering ia tonton apabila mobilnya mulai terasa aneh.


Dalam ingatan gadis itu potongan scene film favoritnya seketika muncul, dimana dalam adegan tersebut sang tokoh utama memukul kemudi setirnya disaat mobil yang ia kendarai kedapatan mogok secara tiba-tiba. Dan endingnya pun sudah bisa dipastikan bahwa mobilnya dapat berjalan lancar kembali.


Ajaibnya hal itu terjadi pada Indhi, mobil kembali berjalan lancar setelahnya, bebas tanpa halangan setelah di pukul-pukul.


Indhi tersenyum. "Gimana rasanya setelah gue tabok? Sakit kan lo, makannya lain kali lo nggak usah nakal kalau nggak mau kena tabok," ucap Indhi bangga.


Beberapa menit setelah merasa bangga gadis itu harus menelan pil pahit kemudian, karena mobil yang ia kenakan harus berhenti di tengah jalan entah karena apa.


Aku pun tak tau!


"Sial*n lo, malah mogok beneran!" Pekik Indhi.


Kemudian bergegas mengambil handphone yang tersimpan pada nakas mobil untuk mengabari ketiga temannya bahwa dirinya akan datang terlambat karena mobil mogok.


Baru saja memegang handphone miliknya, tiba-tiba gadis itu dikejutkan melihat kepulan asap yang keluar dari kap bagian depan mobil. Tanpa jadi pengirim pesan ia langsung kabur meninggalkan mobil takut meledak terbakar.


Dengan secepat kilat gadis itu membuka kap mobil dan membubuhkan air mineral yang sempat ia bawa sebelumya di atas kabel-kabel mobil yang terlihat mengeluarkan kepulan asap.


" Hallo Ayah!" Ucap Indhi setelah panggilan telpon terhubung.


"Iya Nak kenapa?" tanya sang Ayah yang jauh disebrang sana.

__ADS_1


"Minta tolong kalo nggak sibuk, dia kumat lagi!"


"Begitukah? Kasian si Herby kesayangan,"


Herby adalah panggilan sayang sang Ayah terhadap mobil sedan tua warisan neneknya, padahal Indhi sudah tak ingin mendengar sang Ayah menyebutkan kata itu. Namun apa daya karena situasi mendesak maka tak ada pilihan lain lagi.


"Lebih baik Ayah kesini aja, nanti Indhi share lokasinya!"


"Baiklah! Tunggu Ayah Nak, Herby."


Setelah panggilan telpon berakhir indhi memutuskan menunggu di bawah rindangnya pohon bambu sebrang jalan mengingat cuaca juga sedang panas-panasnya.


Dengan menjadikan tangan sebagai kipas, Indhi terus mengibas-ngibas ke atas dan ke bawah sambil mondar mandir macam setrikaan menunggu kedatangan sang Ayah.


Sebuah tepukan kecil dari arah belakang berhasil mendarat di bahu Indhi.


Puk..


Indhi terkaget. "Astaga!" kemudian menoleh kebelakang. "Ya ampun Nek, ngagetin aja."


Sosok Nenek tersebut hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata.


Sinta membalas tersenyum, kemudian memegang kedua bahu Nenek tersebut.


"Nenek kenapa?"


"Tolong anterin Nenek pulang, Cu!"


Belum juga menjawab, tiba-tiba Indhi kembali dikejutkan oleh teriakan Bapak-Bapak dari arah belakang.


"Neng.. Neng.."


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"


Dengan nafas ngos-ngosan Bapak tersebut menjelaskan. " Maaf Neng sebelumnya saya lancang, dibelakang sana ada kecelakaan korban tabrak lari, rencananya saya mau minta repanol dan obat merah sama si Neng. Barang kali si Neng punya kotak P3K di dalam mobil? Kebetulan punya saya habis belum beli lagi!"


Indhi mengangguk panik, kemudian bergegas lari menuju mobil untuk mengambil repanol dan obat merah yang disebutkan oleh Bapak tersebut dan di ikuti dari belakang oleh Bapak itu.


Setelah barang yang di maksud ditemukan, lantas Indhi memberikan sekalian dengan kapas dan perban agar tidak kesusahan lagi.


"Terima kasih Neng, terima kasih banyak! Sebelumnya saya minta maaf bila tidak sopan," ucap Bapak itu setelah menerima obat merah dari Indhi.


"Sama-sama, Pak! Kalau boleh tau itu korbannya masih mudakah?" tanya Indhi penasaran.


"Nenek-Nenek korbannya Neng ditabrak motor pas lagi nyebrang! Kalau begitu Bapak izin pamit, mari."


Mata Sinta mendelik ke arah pohon bambu sebrang jalan, kemudian tersentak karena sosok Nenek yang ia maksud tak ada di sana.


Sekelebat bayangan tentang arwah Nenek korban tabrak lari seketika memenuhi ruang kepala gadis itu, pikirannya kalut berpraduga pada hal yang tak kasat mata.


"Indhi.. Indhi..."


Sampai sebuah panggilan datang kembali menyebut namanya, sayup-sayup dari kejauhan suara itu tak henti menyeru namanya. Lambat laun semakin terdengar jelas ditelinga dan menyadarkan lamunan.


Dengan lutut yang gemetar, urat-urat yang melemas dan sisa tenaga yang ada Indhi mencoba menguatkan diri dan melihat sosok yang memanggil namanya sedari tadi.


"Hey, Nak! Kamu kenapa?"

__ADS_1


Tumbang sudah gadis itu menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang Ayah, takut sekaligus bahagia ia rasakan setelah mengetahui sosok pemilik suara adalah sang Ayah.


"Kamu sehatkan, Nak? Coba cerita sama Ayah kamu kenapa, hum?" tanya sang Ayah kembali.


Sang Ayah melepas pelukan, kemudian memegang kedua bahu gadis itu dan tersenyum.


Indhi menggelengkan kepala dan menghambur kembali memeluk erat sang Ayah.


"Aku nunggu lama, mobil kesayangan Ayah kumat lagi. Bagian kap depan berasap kaya mau meledak, beruntung aku nggak kenapa-kenapa," celoteh Indhi dalam pelukan sang Ayah.


Sang Ayah terkekeh mendengar itu. "Biar Ayah lihat dulu, kamu tunggu disini."


Indhi mengangguk dan melepas sang Ayah.


Beberapa puluh menit berlalu mobil sudah selesai dibenarkan, Korsleting listrik karena pemasangan beberapa kabel yang dirasa kurang rapih adalah penyebab utama kerusakan mobil saat ini.


Karena notabenenya sang Ayah adalah seorang pekerja di bengkel mobil, jadi tak butuh waktu lama untuk memperbaiki itu semua, sang Ayah langung pamit pada Indhi dengan alasan masih berada dalam jam kerja dan tak enak bila izin terlalu lama.


Beliau hanya menitipkan pesan agar selalu berhati-hari dimana pun berada dan semoga bisa menjujung tinggi yang namanya adab, selepasnya beliau pergi untuk kembali bekerja.


***


In hale.. Ex hale.. In hale.. Ex hale..


Indhi mencoba rileks sebelum dirinya benar-benar melajukan kembali kendaraan roda empat tersebut. Sejuta pertanyaan kini bermunculan dalam benak. Memaksa masuk untuk mengisi setiap ruang dalam lamunan.


Apakah ini satu isyarat sebuah pesan dari semesta?


Dut.. Dut.. Dut.. Dut..


Suara panggilan telpon dari seseorang yang entah ke berapa kalinya berhasil mencuri kesadaran gadis itu dari belenggu kesendirian di dalam mobil.


Sinta mengernyit heran. "Sinta..?" gumamnya tak sadar.


"Oh ****!! Gue lupa ngabarin mereka ya Tuhan!!"


Dengan cepat Indhi mengangkat panggilan tersebut dan berusaha se-rileks mungkin agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan, ia sadar betul bahwa temannya tak akan berhenti bertanya jika belum mendapatkan jawaban yang sesuai.


"Hallo Sin, why?"


"Kemana aja lo sampai sekarang belum juga nyampe?" balas Sinta dengan sewot.


"Biasalah, ada sedikit masalah. Sekarang udah beres, lo tenang aja!"


"Masalah apa itu?"


"Udahlah lupakan, nggak penting ini!"


"Berarti kita disini lebih nggak penting dong ketimbang permasalahan yang lo hadapi barusan? Sampai lo nggak ngasih kabar sedikitpun sama kita saking nggak berartinya kita dalam hidup lo? Betul?"


"Nggak kaya gitu juga konsepnya Sin! Biar nanti gue ceritain kalo udah sampai. Sekarang gue mau fokus nyetir dulu, bye.."


Indhi mematikan panggilan telpon secara sepihak tanpa menunggu persetujuan dari Sinta, ia melempar handphone-nya ke atas nakas lalu menggaruk kasar rambutnya yang tak gatal.


"Sial.. Sial.. Sial..," racaunya.


Beberapa jam kebelakang rasanya begitu sesak dirasakan, suasana hati yang semula terkontrol kini ambyar sudah tak berupa. Rasanya berkecamuk tak bisa berpikir jernih.

__ADS_1


"Hari apes memang tidak ada di kalender! Tapi, apa maksud dibalik semua ini?"


Bersambung.


__ADS_2