Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo

Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo
Wanita Yang Sedang Menggendong Bayi.


__ADS_3

Ban 13.


Suara sirine mobil ambulance dan polisi terdengar meraung-raung membelah kerumunan orang-orang. Para polisi dengan segera memasang garis penghalang agar tidak dapat dilalui oleh orang-orang.


Guna menyelidiki lebih dalam lagi, polisi seharusnya menanyakan langsung pada pihak keamanan setempat, berhubung tempat tersebut jauh dari adanya kehidupan, maka aparat berwajib tersebut pun terpaksa membawa langsung mayat tersebut ke rumah sakit.


Dengan sigap, petugas mobil ambulance langsung memasukan mayat Kakek tersebut ke dalam kantong mayat yang telah mereka sediakan dan dimasukan kedalam mobil ambulance setelahnya untuk dibawa ke rumah sakit.


"Udah yuk, lanjut aja jalan!" ajak Riska kepada Anisa yang sedari tadi fokus menyaksikan kejadian tersebut.


"Btw kasian ya Kakek itu. Udah tua, meninggalnya malah nggak wajar lagi!" celetuk Anisa.


"Lebih baik kita do'akan saja, semoga beliau mendapatkan tempat yang terbaik di sisi sang Pencipta."


Ucapan Riska pun di amini oleh ketiga temannya. Tanpa mereka ketahui, terdapat sosok khorin yang tampak tersenyum lebar di atas mobil mereka ketika mendengar dirinya sedang dibicarakan.


Sinta yang sedang haid merasa tidak enak, perutnya mulai terasa sakit. Lantas Sinta bergegas mengambil minyak gosok di dalam tas yang terletak di belakangnya.


Sayup-sayup ia melihat bayangan kaki yang menjuntai di kaca belakang mobil, dengan buru-buru ia langsung mengambil tasnya lalu memindahkannya ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang.


***


Tak terasa hari semakin gelap, mobil kembali melaju membelah jalanan malam yang di iringi dengan gemercik air hujan. Kilatan cahaya guntur menimbulkan suara menggema yang memekakkan telinga.


Riuh angin malam meniup dedaunan yang bertengger di atas dahan ranting pohon mahoni pinggir jalan. Kesunyiannya seakan terusik oleh intensitas gaib yang kuat.


"Coba lo cek lagi google maps-nya Nis, takut nyasar!" pinta Riska khawatir, takut terulang kembali kejadian sebelumnya.


"Aman Ris! Nanti di depan kita belok kiri terus masuk gapura."


"Oh, baiklah."


***


Mobil mereka kini sudah berada tepat di depan gapura pintu masuk, gapura yang terbuat dari besi itu nampaknya masih kokoh berdiri meskipun sudah berkarat dimakan oleh waktu.


Hamparan kuburan di sana sini menghiasi pemandangan di dalam sana, kuburan itu nampaknya tidak terurus hingga di penuhi dengan belukar yang cukup tinggi. Kendati demikian kuburan di sana tak akan tertukar karena di tandai dengan batu nisan bercat putih dengan bentuk yang cukup aneh. Seperti kayu balok dengan lebar 20cm dengan ketebalan 3cm dan panjang 100cm. Cukup panjang dan memang aneh.


Setelah melewati kuburan terakhir mereka kembali dikejutkan dengan pemandangan selanjutnya yang harus mereka tempuh. Di depan sana terlihat sebuah jembatan yang terbuat dari kayu, jalan satu-satunya penghubung kampung Sukagirang.


Di samping jembatan tersebut terdapat pagar pemisah yang memberitahukan kepada orang-orang bahwa di depan sana terdapat sungai kecil dengan debit air yang cukup deras. Setiap pagar yang membentang di sisi-sisi sungai tersebut diletakan beberapa obor diatasnya sebagai penerang jalan kala malam tiba.

__ADS_1


Namun, karena sebelumnya terjadi hujan maka sudah dipastikan obor-obor tersebut kini sudah padam.


"Kalian merasa serem nggak, sih? Padahal sekarang baru jam delapan malam loh. Apa nggak sebaiknya kita minta tolong aja sama orang-orang disini? Gue ngerasa disini tuh kaya banyak siluman gitu, gimana nanti kalo kita di terkam?" tanya Sinta kembali karena merasa sangat merinding. Ditambah cuaca dingin selepas hujan semakin membuat bulu kuduk meremang.


"Nggak usah mikir yang aneh-aneh kalau lo mau selamat, positif thinking aja. Kalau lo takut lebih baik lo tidur aja," balas Indhi.


"Gimana gue bisa tidur kalau suasananya mencekam gini? Yang ada gue mati konyol karena takut, bukan tertidur!"


Mereka hening, tak ada yang menimpali karena mendengar bunyi sesuatu.


Krak.. Krak..


Suara seperti ranting yang terinjak itu terdengar jelas di telinga ketika mobil sudah berada ditengah-tengah jembatan kayu. Suara debit air sungai yang deras sampai tersamarkan saking kerasnya suara kayu patah tersebut.


Dengan hati-hati, Anisa terus melajukan mobilnya. Meskipun ragu namun tak ada pilihan lain selain terus berjalan maju.


Mereka bisa bernafas lega setelah mobil berhasil melewati jembatan tersebut dengan selamat, deru nafas mereka masih memburu seakan baru terbebas dari ancaman malaikat maut.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa melewati jembatan tersebut dengan selamat. Syukurlah!" ucap Riska. Tak henti-hentinya ia menyebut kata syukur karena berhasil melewati jembatan yang dirasa ekstrim olehnya.


Mobil masih melaju dengan kecepatan pelan, membelah rimbunnya hutan kampung Sukagirang. Sesekali mobil mereka harus merasakan selip karena ban mobil yang tak kuat menginjak jalanan yang licin dan bercampur tanah merah.


"Gais! Coba kalian liat ke depan sana, kalian liat Ibu-Ibu lagi gendong bayi, kan?" tanya Anisa panik sambil menunjuk ke arah depan. Pasalnya, sedari tadi ia tidak melihat adanya lalu lalang manusia di sekitar. Namun entah kenapa, secara mengejutkan ia melihat sosok Ibu-Ibu sedang menggendong bayi muncul berada di depan mobilnya.


"Nggak ada apa-apa, lo lanjutkan aja jalan!" jawab Riska datar.


Sedangkan Sinta dan Indhi tampak terkejut mendengar itu, mereka menoleh pada Riska seakan meminta penjelasan lebih. Mereka bahkan dengan jelas melihat sosok tersebut nyata adanya. Tapi, mengapa Riska berkata demikian?


"Lo jangan gila! Gue nggak mau nyelakain orang lain dan jadi pembunuh!" tolak Anisa padanya.


"Nurut aja sama gue, lo jalan aja dan jangan berhenti."


"Lo aneh! Gue nggak mau! Gue nggak bakal denger apa yang lo minta."


Tanpa menunggu jawaban darinya, Anisa langsung menghentikan mobil ketika sudah berada tepat di depan sosok Ibu tersebut.


"Gue bilang jalan Nisa! Dia bukan manusia!" teriak Riska kemudian sehingga membuat temannya terbengong kebingungan.


Bersamaan dengan itu sosok ibu tersebut terlihat melayang, tubuhnya mulai mengapung tak menapakkan kaki. Sedangkan bayi dalam gendongannya ia hempaskan dan berhasil jatuh di atas mobil mereka.


Kepala yang tadi tertunduk dan terhalang oleh geraian rambutnya, kini perlahan mulai menengadah memperlihatkan wajah aslinya yang hancur tak berbentuk.

__ADS_1


Sosok wanita tersebut tertawa cekikan setelah wajahnya terangkat dan terlihat jelas, kedua tangannya direntangkan memperlihatkan kuku hitam tajam miliknya.


"Bangkitlah anakku, puaskan dahaga mu..," ucapnya menggelegar dengan lengkingan yang khas kepunyaannya.


Tangan yang tadi direntangkan seperti sayap, kini menunjuk ke arah Sinta dengan kuku hitamnya.


"Lihatlah dia! Manusia bodoh yang berani datang dengan keadaan tidak suci dan mengunjungi rumah kita. Ambil-lah anakku, bukankah kau menginginkan darahnya?" ucap sosok tersebut dan tertawa dengan keras setelah mengatakan itu.


Bulir bening sebesar biji jagung terus berjatuhan keluar membasahi tubuh mereka setelah mendengar itu, tenggorokan mereka tercekat tak bisa bersuara. Sedangkan tubuh mereka seperti di hipnotis untuk terus memperhatikan sosok yang ada di depannya tanpa bisa berpaling sedikit pun.


Sosok yang berupa bayi tadi, kini mulai terlihat bergerak-gerak di kap depan mobil mereka. Lama kelamaan tangan dan kakinya terus membesar hingga seukuran dengan tangan dan kaki anak balita. Kepalanya yang botak mulai menengadah menatap ke arah kaca mobil memperlihatkan mata bulatnya yang hitam dan mulut yang menganga dengan gigi tajam.


Bayi berbadan kurus tersebut merangkak maju dan menggedor-gedor kaca mobil, mulutnya yang terbuka lebar terus saja mengeluarkan liur. Udara di sektiar seketika berubah, angin yang tadinya hening kini bertiup kencang menerbangkan dedaunan kering dan menghamburkannya di atas.


Sampai datanglah seseorang dari arah depan mobil dan berkata dengan lantangnya.


"ULAH NGAGANGGU ANAK AING! KADITU GEURA BALIK, DI PAEHAN SIAH ANAK SIA KU AING!" ucap Bapak tua yang tiba-tiba datang dari arah depan sambil menenteng lampu petromaks di tangannya.


"Jangan ganggu anak saya! cepat sana pulang, sebelum anakmu saya bun*h! "


Qodarullah, setelah Bapak tua tersebut mengatakan itu kedua sosok tersebut pun menghilang, berubah menjadi kepulan asap dan tak terlihat kemudian.


***


Kini mereka telah sampai di kampung Sukagirang. Bahkan kini mereka sudah berada di dalam rumah dan sedang menikmati secangkir teh hangat yang dicampur dengan perasan air lemon. Rasa-rasanya, secangkir teh hangat saja terasa sangat nikmat sekali kala diminum di tengah-tengah rasa dingin yang menjalar di seluruh tubuh seperti sekarang.


Setelah kejadian tadi, Bapak tua itu rupanya membopong ke empat gadis kota tersebut menuju rumahnya. Memberi mereka rasa aman dari gangguan makhluk gaib beraura jahat serta menawarkan rumah untuk disinggahi oleh mereka selama di kampung Sukagirang.


Mereka pun hanya mengangguk setuju tanpa berpikir lebih, sekarang mereka pasrah. Pikirannya buntu dan tak tentu arah lagi.


Hingga pada tengah malam, tepatnya pukul dua belas malam. Ketika mereka sedang beristirahat dan tertidur pulas, mereka di kagetkan dengan suara meriah tabuhan gong dan gamelan yang entah dari mana sumbernya berasal.


Tak hanya itu, mereka juga mendengar jelas suara perempuan sedang melantunkan sebuah kidung. Di saat mereka terbangun karena suara gaduh tersebut dan ingin melihatnya dari balik jendela kaca rumah, tiba-tiba dikejutkan kembali dengan suara Bapak tua.


"Jangan coba-coba melihatnya! Mereka bukan manusia, sebaiknya kalian kembali tidur. Anggap saja seolah kalian tidak mendengar suara dari alunan musik tersebut. Apalagi mereka sedang berpesta!"


Merekapun mengangguk dan kembali merebahkan diri di atas kasur lantai.


Balum kering Bapak tua tersebut berucap, di luar rumah sana rupanya telah berlabuh kereta kencana emas seorang Nyai alam lain, dengan membunyikan suara loncengnya yang khas.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2