
Bab 8.
Keduanya telah berada di halaman rumah Anisa, di sana juga telah terlihat mobil sedan tua warna hitam milik Ayah Indhi yang sudah terparkir di halaman rumah.
Ralat! Bukan dihalaman rumah tapi dipinggir jalan, biasanya mobil siapa pun dilarang parkir dipinggir jalan seperti itu dengan alasan agar tidak menghalangi pengguna jalan lain.
Rumah Anisa berada di tengah-tengah rumah penduduk lain, akses jalan menuju jalan utama pun hanya berupa gang kecil yang hanya muat dilewati oleh satu mobil berukuran besar dan motor saja.
Sebab itulah parkir di sembarang tempat tidak diperbolehkan, berhubung sekarang sudah memasuki jam makan siang maka jalanan pun sedikit lengang dari padatnya kendaran lain.
Sehingga dengan leluasa Indhi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dan tidak lupa juga ia memasang sebuah kertas dengan tulisan 'Mobil ini rusak sedang dalam perbaikan' di beberapa bagian kaca mobil agar terlihat oleh orang lain dan tak ada komplain.
Sungguh diluar nurul!
Indhi juga sudah diberitahukan sebelumnya oleh Riska melalui sambungan telpon dan memintanya untuk datang ke rumah Anisa.
Kabar itu pun diterima baik oleh Indhi dibuktikan dengan kedatangannya di rumah Anisa dengan on time tanpa telat, bahkan sepertinya sudah menunggu lama bersama Anisa.
"Assalamualaikum.." Ucap Riska setelah sampai di depan pintu rumah Anisa.
Anisa pun sepertinya sudah memperkirakan kedatangannya dan membiarkan pintu rumah sedikit terbuka agar ketika temannya datang bisa langsung masuk.
sedangkan Anisa dan Indhi entah sedang sibuk apa di dalam kamar.
"Waalaikumsalam.." Jawab Anisa dan Indhi bersamaan setelah keluar dari kamarnya.
"Langsung aja masuk, gue udah nunggu lama kedatangan lo karena penasaran," sambut Anisa.
Riska dan Sinta mengangguk paham.
Entah kenapa kini suasana diantara mereka menjadi serba malu-malu seperti ini, padahal sebelumnya mereka terbiasa memalukan di depan banyak orang.
Mungkin mereka sudah sembuh, aku pun tak tau!
Anisa membawa mereka menuju ruang tamu terlebih dahulu untuk memberinya minum sebagaimana memperlakukan seorang tamu agung saja.
Riska, Sinta dan Indhi mengekor dari belakang.
"Gak usah bikin minum kita udah kenyang, malah kita bawa cindera mata buat perut kalian. Nih makan dulu sana!" ucap Riska yang seakan tau dengan apa yang tuan rumah tawarkan.
Lantas Anisa mengambil bungkusan keresek hitam dari Riska kemudian memberikan kembali pada Indhi untuk menuangkannya kedalam wadah lain.
"Terima kasih."
Indhi menerimanya lalu bergegas ke arah dapur. Tak lama setelah itu dua mangkok seblak yang sudah siap makan Indhi bawa ke ruang tamu.
Anisa dan Indhi yang kebetulan lapar karena belum makan pun dengan secepat kurir JNT memakan seblak pemberian Riska dengan sekejap mata berkedip.
__ADS_1
Bahkan mereka sampai menjilati mangkok bekas seblak tersebut hingga tandas bersih macam sudah dicuci ulang.
Sungguh menjijikan sekali, macam hewan menggonggong saja!
***
Pindah posisi! Kini mereka berempat sudah berada di dalam kamar Anisa setelah beres menemani Anisa dan Indhi menghabiskan seblak tadi.
Riska pun dengan percaya diri menceritakan kembali maksud dari kedatangannya kemari karena hal apa.
Tak lupa ia juga membeberkan sedikit berita yang ia curi dengar di warung seblak tadi.
Ia juga menceritakan dengan sedetail mungkin, secara rinci dan terperinci agar temannya paham dengan betul keseluruhan cerita yang ia beberkan.
"Lo ngumpulin kita cuma mau bilang gitu doang? What the hell? Are you kidding me?" komplain Anisa nanar tak mengerti setelah Riska beres bercerita.
Riska tersenyum getir menanggapi itu, seketika ekspresinya berubah terlihat serius. Kilatan aneh dimatanya pun muncul.
"Terdengar klise bukan? Tapi ini nyata adanya! Lo minta bukti gue bawa, lo nggak percaya mari kita tanyakan langsung sama narasumber yang gue maksud. Bahkan Ibu-Ibu disana jauh lebih tau ketimbang kita yang ngakunya masih anak muda ini!" jawab Riska menggebu menatap manik hitam milik Anisa.
Anisa tak terima lantas menggebrak kasur kemudian berdiri.
"Anj*ng! Maksud lo apa bilang kaya gitu, hah?"
Dengan santai Riska ikut berdiri menghadap Anisa. Tersenyum kemudian menjawab.
"Nggak usah pura-pura bego! Nggak usah egois lo udah dewasa bukan anak kecil lagi. Atau.. Lo lanjutin keinginan lo buat pergi liburan ke kampung Sukagirang, tapi sorry gue nggak ikut! Adil bukan?"
"Nggak usah munafik! Lo sama gue sama-sama egois yang tetep kekeh dengan keinginan kita sendiri! Dan satu yang lo harus tau, alasan lo basi nggak usah bawa orang lain dan setan buat memperkuat alasan lo, najis!"
"Oke kalau itu mau lo! Sekarang gue mau nanya satu hal. Alasan lo tetep nggak mau rubah tempat liburan apaan,hah?"
"Simple, alasannya karena gue bukan tipikal orang yang menjilat ludah gue sendiri dengan membatalkan kepergian kita ke kampung Sukagirang terlepas dari apapun itu yang bikin kita batal berangkat termasuk dengan alasan yang lo beri. Dan harusnya lo sadar itu tanpa harus menanyakan lagi,"
"Punya otak itu dipake! Harusnya lo sadar kalau alasan lo itu terlalu Fu*k buat gue, bukannya luluh gue malah jijik!"
Posisi Anisa dan Riska masih saling berhadapan seperti dua orang musuh yang sudah siap untuk saling jambak.
Indhi dan Sinta yang melihat itu merasa was-was macam tak betul. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk menengahi keduanya agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.
Pun dengan Sinta yang sudah berjanji terhadap Riska untuk ikut membujuk Anisa dan Indhi agar membatalkan keberangkatan liburan mereka.
Apalagi mengingat alasan Anisa yang tetep kekeh ingin pergi hanya karena alasan sepele yang tidak masuk akal bahkan terdengar konyol membuat Indhi dan Sinta jadi berpihak pada Riska.
Lantas Indhi berdiri menyamakan posisi kemudian merentangkan kedua tangannya sedikit mendorong Anisa dan Riska sehingga memberi jarak diantara mereka bertiga.
"Kalian jadi panas gini pasti efek seblak tadi deh sepertinya, lebih baik kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Sedingin lelaki incaran gue contohnya," Indhi menengahi.
__ADS_1
Usaha Indhi membuahkan hasil, Anisa dan Riska kian luluh dan kembali ke posisi awal yaitu duduk sama rata dengan yang lain.
"Kalau kondisinya seperti ini, mending kita ikutin aja apa keinginan Riska. Maaf sebelumnya bukan gue bela dia, soalnya gue juga ngerasa kalau liburan kesana tuh bukan kesan yang baik deh, apalagi gue juga lihat sendiri kejadian aneh yang sebelumnya belum pernah terjadi dalam hidup gue," papar Sinta membuka suara.
Indhi pun demikian, dia juga mengatakan apa yang Sinta katakan.
"Setuju! Bisa kan Nis?" tanya Indhi kemudian menatap ke arah Anisa.
Anisa yang sejak tadi telah luluh kini menjadi panas kembali, darahnya memanas dan berdesir hebat seakan dirinya dicap salah, tak di anggap oleh ketiga temanya.
Lantas Anisa kembali berdiri lalu mulutnya terbuka sudah siap untuk berkomentar.
Jederr!!
Tiba-tiba suara petir menggema dengan keras menghentikan obrolan paksa semua makhluk bumi yang berada dibawah naungannya termasuk dengan Anisa yang mendadak diam.
Rintik air hujan mulai turun tak berselang lama setelah itu, siang hari yang tadinya terang benderang kini tampak menghitam dengan banyak dihiasi awan hitam diatas langit.
Sayup-sayup semua merenung bergelut dengan pikirannya masing-masing, meratapi setiap perlakuan yang telah mereka lakukan.
Fenomena alam tersebut tak ayal seperti halnya peringatan untuk ke empat gadis tersebut agar tak melanjutkan liburan mereka.
Seakan semesta tak meridhoi setiap langkah mereka yang hendak pergi menuju kampung Sukagirang. Namun sepertinya percuma karena mereka tak menyadari itu semua.
Pikirannya tertutup rapat seolah tak ada celah, tertuju fokus pada satu permasalah sehingga tidak bisa berpikir jernih akan bantuan dari campur tangan sang semesta.
Warna langit berubah menjadi orange kemerahan yang menandakan hari telah berganti menjadi senja setelah hujan reda.
Mereka telah kembali ke setelan awal dan tak lagi membahas kepergian mereka kelak.
Kini mereka sudah berada di depan pintu rumah Anisa bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Mereka bertiga melakukan kegiatan sebelum pulang yang dilakukan seperti perempuan lain pada umumnya, melakukan cipika cipiki, cium sana cium sini, dan yang terakhir mereka berpelukan satu sama lain.
Ketika ketiga temannya hendak pergi pulang tiba-tiba Anisa berkata.
"Perihal yang tadi gue minta maaf! Dan sebaiknya kalian lupakan saja kalau nggak mau ikut. Paling nanti gue berangkat sama paman aja nggak apa-apa! Have fun aja."
Sontak Riska, Indhi dan Sinta menoleh ke arah belakang, kemudian berhamburan saling memeluk Anisa.
"Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Gue juga ikut deh sama lo, asal janji aja nggak usah lama-lama, gimana?" tawar Riska pada Anisa.
Dirasa pun tak akan merubah keadaan jika Riska tetap kekeh dengan keputusannya, alhasil ia meluluh dan akan ikut pergi liburan ke kampung Sukagirang dengan visi untuk menjaga temannya agar tetap dalam keadaan baik-baik saja.
Senyuman yang merekah kini terpampang jelas di wajah mereka setelah mendengar keputusan Riska. Maka sudah dipastikan Indhi dan Sinta akan ikut juga melupakan keputusan mereka yang sebelumnya.
"Terima kasih!" ucap Anisa mengakhiri.
__ADS_1
'Semoga ini bukan dekapan terakhir bersama kalian, gue harap ini cuman rasa cemas gue aja yang berlebihan terhadap kalian. Karena sejatinya gue juga nggak tau maksud dari hati gue tuh apa? Rasa gelisah seperti ada yang mengganjal selalu hadir ketika nama kampung Sukagirang disebutkan.' Riska membatin dalam hati.
Bersambung.