Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo

Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo
Risalah Hati Bu Diah.


__ADS_3

Bab 18.


Pagi hari.


Bu Diah yang melihat mereka belum menampakan batang hidungnya merasa khawatir, apalagi melihat lampu rumah dalam keadaan padam dan sampah berserakan di depan rumah akhirnya memutuskan untuk melihat kondisi mereka.


Sesampainya di depan rumah kedua miliknya, beliau terdiam sejenak melihat keadaan sekitar yang terlihat berantakan.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum..,"


Suasana pagi hari yang sepi membuat pendengarannya befungsi dengan tajam. Tak jauh dari di balik pohon samping rumah itu diam-diam terdapat sosok pemilik mata merah yang sibuk mengawasi.


"Kok nggak ada sahutan, ya? Apa semalam terjadi sesuatu dengan mereka? Astagfirullah, semoga mereka dalam keadaan baik-baik saja!"


Bu Diah berinisiatif mengelilingi rumah itu dengan harapan ada tanda-tanda keberadaan mereka. Terlebih lagi di halaman belakang, beliau berharap bisa menemukan mereka sedang asik mandi.


Nihil harapannya tidak menghasilkan jawaban, orang yang dicari tidak ada di kamar mandi. Sayup-sayup dari kejauhan terlihat sesuatu yang tidak asing baginya. Sesuatu yang tak aneh bagi kaum hawa itu tampak tergeletak di samping tong sampah.


"Siapa yang berani membuang bekas pemb4lut dengan sembarangan begitu? Eh, apa iya itu pemb4lut? Atau mungkin cuma salah liat aja?" ucap Bu Diah menerka-nerka dari jauh.


Meskipun sudah pagi, tapi entah kenapa ia merasa tengkuknya terasa merinding seperti sedang di awasi oleh banyak pasang mata. Karena rasa takut yang semakin menjadi ia tak berani mendekat dan lebih memilih untuk kembali ke depan.


Sementara Riska yang sudah terbangun, ia terdiam sejenak mengumpulkan kesadaran. Mengingat kembali semua kejadian yang telah mereka alami sebelumnya. Setelah mengingat semuanya ia menghela nafas berat.


Kemudian ia bergegas membangunkan temannya satu persatu hingga terbangun. Lalu bergegas keluar kamar untuk melihat jam, tak lama setelah membuka pintu kamar terdengarlah bunyi ketukan pintu dari luar.


Tok.. Tok.. Tok..


"Assalamualaikum..," ucap Bu Diah kembali setelah mengelilingi rumah.


Riska langsung menyalakan saklar lampu rumah, kemudian mempercepat laju jalannya dan segera membuka pintu depan.


"Waalaikumsalam.. Eh Ibu?! Ya ampun, silahkan Bu masuk dulu. Biar kita bicaranya di dalam," balas Riska setelah pintu terbuka.


"Tidak usah repot begitu. Saya hanya khawatir, melihat lampu rumah padam sama halaman depan yang berantakan. Apakah semalam terjadi sesuatu? " cerocos Bu Diah khawatir, wajahnya yang terlihat cemas kini terlihat lega setelah melihat Riska.


"Cuma sedikit, Bu! Nggak apa-apa, kok. Maaf kalo sudah bikin Ibu cemas,"


Bu Diah tersenyum mendengar itu, kemudian mengangguk pelan. "Syukurlah! Kalian udah sarapan?" tambahnya.


Riska menggelengkan kepalanya, karena mereka memang belum sarapan. Ia tak bisa berbohong karena pikirannya sibuk menerawang jauh.


"Kebetulan sekali kalo begitu! Lebih baik sekarang kalian bersih-bersih dulu, habis itu langsung kita sarapan sama-sama di rumah saya, mengerti?"


Matanya melihat sekelebatan bayangan hitam di belakang Bu Diah sampai membuat fokusnya buyar.


"Eh nggak usah, Bu! Rencananya saya mau masak mie instan ini," tukas Riska merasa tidak enak.


Bayangan hitam itu tak muncul lagi setelah ia memicingkan kembali matanya ke belakang Bu Diah.


"Nggak baik pagi-pagi makan yang instan begitu, pokoknya saya tidak menerima penolakan, ya?"


Mendengar itu ia tak bisa menolak lagi selain pasrah. Sinta yang sedari tadi memikirkan sesuatu akhirnya mengingat bahwa ia belum memindahkan bekas pemb4lutnya semalam.


Dengan langkah buru-buru ia turun dari kasur dan segera mengambil handuk dan peralatan mandi lain dikamar sebelah.


"Gue mandi duluan ya!? Nanti kita kumpul di ruang tengah aja, oke?" ucapnya sambil berjalan menuju pintu belakang.

__ADS_1


Anisa dan Indhi saling pandang dan mengedikan bahunya tak mengerti.


"Sekarang kok dia jadi beda yah? Kaya nyembunyiin sesuatu gitu dari kita? Ngerasa nggak sih?" tanya Anisa.


"Hmm, iya! Tapi kalo dipikir-pikir lagi kayanya nggak mungkin deh, mana berani dia main sembunyi-sembunyian sama kita. Dahlah nggak usah dipikirin," jawab Indhi ragu.


Tak lama setelah itu Riska datang menemui mereka, setelah selesai berbicara dengan Bu Diah. Lantas ia memberitahukan perihal kedatangan Bu Diah kepada mereka.


"Tadi Bu Diah nyuruh kita buat sarapan bareng di rumahnya, gue juga udah nyoba nolak tadi. Tapi dia nggak menerima penolakan katanya. Gimana?" tanya Riska setelah menceritakan obrolannya dengan Bu Diah.


"Boleh aja sih, tapi masalah yang semalam gimana? Ceritain ke mereka apa diem aja?" sahut Anisa.


"Gimana baiknya nanti aja! Toh sekarang kita juga nggak kenapa-kenapa ini. Eh si Sinta kemana? Kok nggak keliatan?"


" Dia mandi duluan katanya, sekarang dia jadi aneh. Heran gue sama dia!"


"Hmm!"


Ia juga merasakan hal serupa dengan temannya, namun karena tak ingin menambah beban pikiran. Alhasil lebih memilih diam tak merespon.


***


Tepat pada pukul tujuh mereka telah menghabiskan sarapan pagi bersama, ketika sedang asik mengobrol mereka sesekali terdiam karena mengirup bau kembang melati yang bercampur bau anyir darah. Namun karena tak ingin merusak momen akhirnya mencoba acuh.


Rasa hangat kekeluargaan bisa mereka rasakan saat itu, bahkan mereka juga menceritakan semua kejadian janggal semalam kepada Pak Sam dengan santai tak ada tekanan. Lantas suasana yang hangat pun tiba-tiba mereda setelah Pak Sam menanyakan sesuatu.


"Apakah sebelum kejadian, kalian ada melakukan sesuatu yang aneh? Maksud saya, apakah di antara kalian ada yang mencoba melanggar peraturan? Coba ingat-ingat," tanya Pak Sam sambil menatap mereka satu persatu.


Mereka saling pandang satu sama lain dengan heran, kemudian menggeleng. Namun beda halnya dengan Sinta.


Sejak awal sarapan Sinta terlihat tidak mau diam dan menghindari tatapan kontak mata secara langsung dengan yang lain. Ia juga terlihat aneh karena tidak aktif seperti biasanya.


Pak Sam terdiam berpikir, mendengar itu. Sebab korban sebelumnya adalah sekumpulan orang nakal yang melanggar peraturan. Namun dalam kasus ini ia merasa sangat janggal.


Bu Diah yang menyimak lantas mengeluarkan suara setelah mengingat sesuatu.


"Tadi kalo nggak salah saya liat bekas pemb4lut di tong sampah samping kamar mandi? Apa itu bekas kalian?" tanya Bu Diah penuh selidik.


Mereka tercengang, kemudian fokusnya terarah pada Sinta yang semalam sempat ke kamar mandi. Sinta yang merasa canggung karena terus ditatap akhirnya berdalih.


"Apa? Gue nggak tau ya! Semalam gue ke air cuma sikat gigi doang sama cuci muka, udah gitu doang nggak lebih. Nggak usah berburuk sangka sama gue!" elak Sinta dengan nada tinggi.


Mereka tersentak mendengar itu, pasalnya mereka tidak melakukan apapun selain berdiam menatapnya. Karena tak ingin terjadinya pertengkaran diantara mereka, akhirnya Bu Diah terpaksa mengalah dan tak berniat untuk melanjutkan.


"Sudah tidak apa-apa. Nggak usah dilanjutkan! Mungkin itu pemb4lut bekas tetangga sebelah aja yang iseng, kita lupakan saja dan banyak-banyak berdoa agar kejadian semalam tidak terulang lagi," sahut Bu Diah, tersenyum ramah.


Tak lama setelah itu Pak Sam pamit undur diri karena temannya sudah tiba dan mengajak pergi ke kebun. Begitupun dengan mereka yang buru-buru ikut pamit dengan alasan mau bersiap dulu untuk pergi ke air terjun.


"Baiklah. Kalian tetap hati-hati, ya!? Tetap jaga keselamatan dimana pun berada. Usahakan pulang sebelum langit mulai gelap, jangan sampai melanggarnya jika kalian mau selamat. Ya?" Bu Diah menutup pembicaraan dan direspon dengan anggukan oleh mereka.


***


Sekitar jam satu siang mereka sudah bersiap untuk melanjutkan tualang menuju air terjun. Cuaca mendung siang itu tak membuat mereka gentar untuk membatalkan kepergian.


Berjalan menyusuri setiap belukar yang tinggi di sana sini. Pohon-pohon menjulang tinggi berjejer rapi, membentuk seperti sebuah labirin.


Sampai di satu ujung jalan mereka dihadapkan oleh tiga jalan. Terlihat seperti terowongan gelap yang setiap sisinya dibatasi oleh pohon lain di sekat-sekat.


"Gimana ini? Kita ambil jalan yang mana?" tanya Indhi yang entah kepada siapa.

__ADS_1


"Kampret! Kok bisa kita lupa nanya. Mana udah terlanjur jauh lagi," sahut Anisa


"Kita balik lagi aja yuk, perasaan gue jadi nggak enak. Besok kita kesini lagi minta anter Pak Sam!" jawab Riska.


Acuh tak memperdulikan ucapan Riska, selang beberapa menit keluar lah seorang pria dewasa dari jalan sebelah kiri sambil membawa cangkul. Dengan hati gembira dan senyum yang tersungging lebar Anisa segera mencegat pria dewasa tersebut untuk di tanyai.


"Mas.. Mas.. Tunggu..," panggil Anisa kepada pria tersebut sambil berlari kecil ke arahnya.


Pria dewasa itu berhenti dan melihat ke arah Anisa. Kemudian menjawab setelah berhadapan dengan dirinya.


"Iya, kenapa?" katanya kepada Anisa.


"Maaf sebelumnya saya ada ganggu, saya cuma mau nanya kalo jalan ke air terjun ambil arah yang mana?"


Keningnya nampak berkerut kemudian menjawab. "Cuaca mendung begini yakin mau pergi ke sana?" tanya pria itu.


"Maksudnya?"


"Lebih baik kalian putar balik, lanjut besok kalo cuaca sedang bagus. Sekarang mendung, pasti suasana di sana terasa menakutkan."


"Jadi.. Kemana jalan menuju air terjun?"


Ia tak mengindahkan kan ucapan pria itu, ia berpikir bahwa semua pria hanyalah tukang modus.


Pria itu mengeluarkan nafas berat kemudian terpaksa menjawab. "Ambil saja arah jalan yang sebelah kanan kalo kalian mau menuju air terjun, dan ambil jalur yang kiri kalo kalian mau ke kebun. Kalo yang tengah, lebih baik kalian jangan ke sana. Sebab itu adalah jalan menuju hutan larangan, siapa saja yang masuk ke dalamnya maka sangat jarang bisa kembali keluar dengan selamat. Jangan lupa! Kalian harus pulang sebelum malam hari, kalo mau selamat."


Bersamaan dengan itu semilir angin dari barat berhembus, menyapu lembut kulit pria itu. Tengkuknya merinding sampai bergidik mengusapnya beberapa kali, kemudian ia memutuskan pergi saja tanpa menoleh ke belakangnya.


Anisa yang sudah tak perduli tampak acuh dan mengedikan kedua bahunya bodo amat.


"Gimana katanya?" tanya Riska setelah Anisa kembali.


"Sebelah kanan menuju air terjun, sebelah kiri menuju kebun dan yang tengah menuju hutan larangan. Dan kalo kita mau selamat jangan pernah ada yang coba masuk ke hutan larangan dan pulang sebelum malam. Paham?" papar Anisa.


"Kok sama kaya pesan Bu Diah! Balik lagi aja yuk, lanjut besok aja."


"Nggak usah ngada-ngada! Ayok jalan,"


Dengan hati yang berat dan pikiran yang kalut ia bergegas melanjutkan perjalanan. Mereka di hadang dengan jalan sempit seperti jalanan sawah. Anisa yang memimpin di depan mereka berjalan memanjang dan di akhiri dengan posisi Sinta yang paling ujung.


Lamat-lamat Sinta mendengar ada suara lirih memanggil namanya. Suara gemerisik dari daun yang bergesekan karena tiupan angin membuat seru-an tersebut terdengar tumpang tindih tidak jelas.


"Sinta.. Sini.. "


"Ayo.. Kesini.. "


"Sinta.. "


Suara itu terus saja bermunculan mengganggu indra pendengarannya. Karena penasaran ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Sini lo muncul! Dikira gue takut apa!?" cetus Sinta.


"Si4lan!!"


Pandangannya berpendar mengelilingi setiap sudut hutan yang di penuhi pohon yang tinggi, lantas ia berbalik kembali setelah tidak menemukan adanya seseorang.


"Astaga.. "


Ia membekap mulutnya yang menganga lebar, sorot matanya nampak berbinar melihat sesuatu di hadapannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2