
Bab 14.
Matahari pagi mulai muncul di atas horizon sebelah timur langit kampung Sukagirang. Cahaya hangatnya menyebar rata ke seluruh penjuru semesta, kokok Ayam jantan di atas genting rumah seakan mendukung, ikut memberitahukan bahwa malam telah berganti siang.
Karena kendala waktu yang semakin malam, Bapak tua itu tidak banyak bertanya tentang perihal keberadaan mereka di kampung Sukagirang karena alasan apa. Beliau hanya memperlakukan mereka sebagimana tamunya sendiri dan menyuruh tidur setelahnya.
"Pantas saya baru liat kalian di kampung ini, ternyata kalian memang baru disini," ucap Bapak tua setelah mereka semua berkumpul di tengah rumah, selepas melaksanakan sarapan.
"Iya kek, eh, Pak maksudnya! Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak," jawab Anisa.
"Kalian boleh panggil saya Pak Sam, saya sampai lupa memperkenalkan diri saking asiknya mendengar cerita kalian. Lantas, kenapa kalian lebih memilih tempat berlibur ke sini?"
Disepanjang mereka sarapan tadi kadang mereka juga asik bercerita memperkenalkan diri pada Pak Sam.
Mereka mengangguk setelah Bapak tua tersebut memperkenalkan diri, namun mereka juga bingung dengan dengan pertanyaan Pak Sam yang terakhir. Apa maksudnya?
"Kebetulan kita belum pernah liburan ke air terjun sebelumnya. Mana lokasinya lumayan deket dari tempat tinggal kita, jadi yaudah gas aja." Anisa mewakili ketiga temannya.
"Apa kalian sudah tau kalau di kampung ini banyak sekali aturannya? Atau jangan-jangan salah satu dari kalian ada yang menyimpang. Maksudnya, datang dengan keadaan tidak baik barangkali?" tanya Pak Sam dengan heran.
Mereka hanya diam tertegun tanpa menjawab, seakan sedang menunggu Pak Sam untuk menjelaskan lebih banyak mengenai kampung Sukagirang.
Seakan mengerti apa yang mereka pikirkan, akhirnya Pak Sam pun langsung kembali berbicara.
"Baiklah, biar saya kasih tau beberapa peraturan yang harus kalian patuhi ketika berada di kampung ini. Tapi saya hanya akan menjelaskan beberapa poin saja, selebihnya saya percaya sama kalian. Kalian pasti paham betul bagaimana cara beradab dengan baik ketika hendak bertamu di rumah orang!"
Disaat Pak Sam ingin melanjutkan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, lantas mereka pun terdiam dan menjeda obrolan.
"Assalamualaikum, Pak. Saya pulang!" ucap seorang perempuan dari arah luar.
Dengan segera Pak Sam langsung menjawab salam dan bergegas membuka pintu.
"Waalaikumsalam, rupanya Ibu sudah pulang. Ayo Bu, sini. Kita kedatangan tamu dari kota." Pak Sam menjeda. "Perkenalkan ini istri saya, kalian bisa panggil Bu Diah," papar Pak Sam setelah istrinya berada di dalam.
Bu Diah pun tersenyum, kemudian menyalami mereka satu persatu dan ikut duduk setelahnya.
"Jadi semalam saya habis ngantar istri saya untuk mempersiapkan ritual, selepas pulang eh kebetulan liat mobil kalian sedang di ganggu, alhasil seperti itulah endingnya. Lebih baik saya nggak perlu ceritain lagi kejadian semalam, biar kalian bisa lebih tenang ketika berada disini!"
"Iya Pak nggak apa-apa, kita juga ngerti kok!" jawab Anisa.
__ADS_1
"Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa semalam seperti tidak ada orang? Apa orang-orang disini sudah meninggal kah?" celetuk Sinta tiba-tiba.
Sontak saja perbuatannya tersebut mendapatan tatapan tajam dari temannya serta senggolan tangan dari Riska dan Indhi yang kebetulan duduk berdekatan dengannya.
"Apasih?" gumam Sinta pelan kepada mereka. Sedangkan ketiga temannya hanya berdecak kesal ketika Sinta bekata seperti itu.
Tanpa memperdulikan, Pak Sam mengambil nafas dalam-dalam untuk kembali melanjutkan obrolannya yang sempat terhenti beberapa saat.
"Selain banyak aturan, kampung ini juga masih teguh memegang adat istiadat yang diturunkan secara turun temurun oleh Nenek moyang kami. Dan penyebab kampung ini terlihat sepi ketika malam hari, yaitu karena orang-orang sedang sibuk mempersiapkan persembahan untuk ritual malam ini! Termasuk dengan istri saya kemarin. Kebetulan ritual tahun ini bertepatan dengan penyambutan malam satu suro, sudah di pastikan orang-orang akan sibuk sekali. Di samping itu, mereka juga menghindari gangguan dari makhluk gaib dengan tidak keluar rumah di malam hari."
Mereka tercengang mendengar itu, rasa tidak percaya akan adanya makhluk tak kasat mata mulai menyebar masuk, meracuni pemikiran mereka. Berbagai spekulasi dan cocoklogi kejadian kemarin mulai mereka sangkut pautkan dengan makhluk tak kasat mata.
"Sudah tidak apa-apa, mereka tidak akan mengganggu jika kita tidak mengusik kehidupan mereka. Lebih baik kita banyakin berdoa, meminta perlindungan pada sang pencipta. Jangan mikir yang tidak-tidak. Sudah, ya!?" timpal Bu Diah yang seperti tau apa yang sedang mereka pikirkan.
"Kalau begitu Ibu ke dapur dulu, kebetulan persiapan ritual masih ada yang belum lengkap. Sekalian juga Ibu mau masak buat nanti makan siang," ucap Bu Diah kembali.
Kemudian Bu Diah bergegas ke arah dapur untuk melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Baiklah kalau begitu, lebih baik kita sudahi dulu obrolan kali ini! Biar nanti kita lanjut malam hari. Kebetulan hari sudah siang, saya harus segara berangkat ke kebun!" ucap Pak Sam.
"Oh iya Pak siap! Maaf sebelumnya udah bikin Pak Sam sama Bu Diah repot," balas Anisa tidak enak.
Mereka pun mengangguk paham, lalu mereka mulai berdiskusi setelah kepergian Pak Sam dari rumah untuk menyusun kegiatan mereka selanjutnya. Mereka juga memberitahukan pada Bu Diah jika mereka akan keluar dari rumah untuk mengelilingi kampung Sukagirang dan berjanji akan kembali pada sore hari. Bu Diah pun membebaskan mereka, sebab beliau juga akan pergi menyusul Sang suami ke kebun untuk sekedar bantu-bantu.
***
"Gue rasa sikap lo udah kelewat batas, Sin! Meskipun maksud lo bercanda tapi tetep aja itu keterlaluan banget! Kita sekarang lagi di kampung orang, seenggaknya lo hargain sedikit aja kepercayaan mereka. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa karena nggak bisa jaga omongan lo. Yang namanya lidah itu nggak bertulang, hati-hati!" ungkap Riksa dikala mereka sedang berjalan mengelilingi kampung Sukagirang.
"Iya deh iya, sorry! Tapi beneran kok gue, kalo tadi tuh cuma bercanda. Apa yang gue nggak tau ya langsung aja di tanyain!" balas Sinta.
"Bercanda juga ada tempatnya kali Sin! Masa lo bercanda sama orang yang baru lo kenal, mana sarkas banget tadi!" tukas Indhi.
Setelah itu hening, tak terdengar lagi obrolan dari mereka. Mereka sibuk menikmati pemandangan kampung Sukagirang.
Sesuai dengan apa yang Pak Sam katakan, kini mereka telah berjalan-jalan menyusuri setiap sudut kampung Sukagirang dengan berjalan kaki. Berbeda dengan malam hari, suasana di siang hari terasa lebih hangat dengan lalu lalang orang-orang yang sedang melakukan aktifitasnya.
Cahaya panas matahari tampak tak bisa masuk, karena terhalang rimbunnya dedaunan pohon yang tampak mengelilingi kampung Sukgirang. Rasa teduh dan nyaman khas perkampungan bisa mereka rasakan ketika hembusan angin tipis-tipis menyapu perkampungan itu.
Berkali-kali mereka menghembuskan nafas, berkali-kali pula mereka rasakan rasa betah yang menjalar dalam diri mereka untuk menetap lebih lama di kampung ini. Senyuman ramah dari orang-orang mereka dapatkan ketika tak sengaja pandangan mata mereka bersiborok beradu pandang.
__ADS_1
Disaat mata mereka sibuk menikmati pemandangan, tiba-tiba fokus mereka teralihkan pada satu pohon beringin yang berukuran tidak terlalu tinggi. Pohon itu nampak berukuran lumayan besar dan paling mencolok dari pohon-pohon lain.
Meskipun tidak terlalu tinggi namun pohon itu di singgahi tanaman rambat cukup lebat yang merambat di seluruh badan pohon, sehingga terlihat seperti pohon dengan usia yang cukup tua, belum lagi dengan daunnya yang rimbun membentuk seperti sebuah payung raksasa membuat sekitarnya terlihat redup dan gelap.
Di satu dahan pohon tersebut terdapat sebuah ayunan dengan tempat duduk berbahan kayu dan terdapat satu lonceng disisi kayu yang berhasil mencuri perhatian, ayunan tersebut tergantung kokoh dengan tambang berbalut lumut yang menjadi tumpuan dan di talikan pada dahan atas pohon.
Sedangkan di bawahnya terdapat sebuah tapir yang berisi banyak sekali buah-buahan dan terletak rapi di sela-sela akar pohon tersebut yang mencuat ke atas tanah.
"Hey! Coba lihat di sana!?" ucap Sinta sambil menunjuk ke arah pohon beringin dengan jari telunjuknya.
Mereka bertiga mengernyit, tak mengerti dengan apa yang ia maksud. Kemudian Sinta pun menjawab.
"Bagaimana kalo kita liat lebih dekat lagi? Gue penasaran!" ajaknya.
"Aneh!" cibir Anisa. Meskipun begitu mereka tetap menemani Sinta untuk melihatnya dengan jarak lebih dekat.
Mereka berjalan mendekat dan berhenti ketika berjarak beberapa meter dengan pohon tersebut. Mereka tatap pohon tersebut dengan lamat, sayup-sayup tubuh mereka terasa dingin seperti ada yang meniup. Padahal cuaca di sekitar terbilang cerah tidak ada lagi hembusan angin seperti tadi.
Tak ada yang aneh dengan pohon tersebut, mereka hanya melihat pohon beringin dengan sesajen dibawahnya. Namun dalam sudut pandang lain, Riska justru merasa sangat merinding ketika berada tak jauh dengan pohon tersebut.
Ia melihat banyak sekali anak kecil sedang bermain di sekitar pohon, belum lagi di atas pohon yang sedang bergelantungan seperti Kera. Sungguh tak ingin gadis itu berlama-lama berada di sana, apalagi melihat wajah anak-anak tersebut. Rasanya begitu ngeri karena wajahnya begitu hancur dan tak berbentuk.
"Udah yuk! Kita lanjut keliling lagi sebelum hari mulai sore," ajak Riska kemudian.
"Buru-buru banget si, lo! Sebentar dulu lah, kita abadikan dulu ini!" jawab Sinta. Kemudian ia mengeluarkan benda pipih miliknya untuk digunakan memotret dirinya.
"Pohon Beringin aja musti foto-foto segala, dasar norak!" cibir Anisa.
Setelah dirasa cukup memotret, mereka pun melanjutkan kembali perjalanan. Ketika sudah beberapa langkah menjauhi pohon, tiba-tiba Sinta berbalik kembali dan mengambil satu buah apel yang disediakan untuk sesajen di bawah pohon. Namun di saat membalikan badan kakinya terbelit rambatan akar kecil sehingga dengan refleks ia menggerakkan kakinya ke depan dan belakang dengan cukup keras, karena tak sengaja naas kakinya menendang kendi yang terdapat di dalam tapir tersebut sehingga membuat kendi pecah berserakan dan air bunga yang di dalamnya merembes keluar membasahi setiap sesajen yang ada di atas tapir.
Karena panik dan takut ketahuan ia pun mengambil langkah seribu dengan segera lari menjauh, menyusul teman-temannya sebelum di sadari oleh temanya.
Setelah cukup jauh berjalan tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung. Langit yang tadinya cerah bersih, kini berubah menjadi hitam pekat dan ditutupi awan. Kilatan guntur di atas sana tampak benderang dan menimbulkan gemuruh hebat yang disertai angin kencang.
Para warga berlarian kecil masuk ke dalam rumah dan mengunci setiap pintu serta menutup jendela rumah. Melihat itu, mereka pun segera pergi untuk kembali pulang menuju rumah Pak Sam sebelum hujan turun. Sinta yang kaget, dengan spontan melempar apel yang sedang ia makan ke sembarang arah dan ikut berjalan pergi.
Sementara di balik pohon Beringin tadi terdapat sosok berbadan besar berwarna hitam dengan di tumbuhi bulu lebat di sekujur tubuh sedang tersenyum lebar menyeringai.
"Lihatlah pembalasanku wahai manusia tidak punya adab! Kau harus mendapat balasan yang setimpal karena sudah mengambil yang bukan hak mu..!" ucapnya dengan suara yang menggelegar dan mata merah yang menyala-nyala.
__ADS_1
Bersambung.