
Bab 3
Time to get ready guys!!
Mereka ber empat pun melakukan prepare secara masing-masing, mempersiapkan keperluan apa saja yang akan mereka bawa untuk bekal kelak dikampung Sukagirang.
"Makanan ringan udah, mie instan udah, kopi juga udah nih. Apalagi ya, kira-kira?" ucap Sinta sambil memasukan makanan ke dalam ransel.
"Oh iya, Pembalut!!! Untung gue inget, nggak kebayang deh kalo gue lupa bawa Pembalut.. Mana lagi deras-derasnya ini.. Hahaha otak siput emang gue, lelet banget dah," tambah Sinta.
Sementara Anisa dan Indhi tampak cuek bebek tidak terlalu heboh seperti Sinta, mereka hanya fokus mempersiapkan diri menunggu hari keberangkatan tiba. Selebihnya mereka percayakan semuanya pada Riska yang memang ahlinya dalam hal mempersiapkan.
**
Riska merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia merasa sangat lelah setelah seharian sibuk berkemas.
Mencoba untuk memejamkan mata agar bisa tidur sebentar disore yang mendung itu. Namun nihil rasa kantuk yang ia tunggu tak kunjung datang.
Karena rasa kantuk belum juga datang, seketika terbesit kembali teringat dengan kampung Sukagirang dan hal-hal yang bersangkutan dengannya.
Akhirnya Riska mengambil Handphone-nya, lalu kemudian memasuki google dan langsung search mengenai Air Terjun kampung Sukagirang.
Betapa terkejutnya Riska setelah mengetahui nama Air Terjun yang berada di kampung Sukagirang, karena memiliki nama yang diluar perkiraan BMKG.
Jika tempat liburan lain memiliki nama yang begitu indah dan estetik agar pengunjung terpikat, namun berbeda cerita dengan nama air terjun yang satu ini.
Air terjun kampung Sukagirang ini bernamakan 'Grojogan Sewu Jiwo'. Saat itu juga Riska bercocoklogi dengan menafsirkan bahwa Grojogan Sewu Jiwo artinya air terjun seribu jiwa.
Bicara tentang jiwa, langsung saja pemikiran gadis itu melanglang buana dan berpikiran mengenai dunia makhluk tak kasat mata. Apalagi gadis itu mata batinnya sempat terbuka.
Jadi wajar saja bila Riska merasa ada yang aneh dengan nama air terjun tersebut, ditambah lagi dengan bulu-bulu di daerah tengkuknya yang mulai berdiri tanpa dikomandoi, semakin menambah keyakinan terhadap pemikiran cocokloginya.
Setelah berselancar dan membaca lebih jauh didalam situs website handphonenya Riska tidak menemukan barang secuil pun pernyataan yang ia inginkan terhadap kampung Sukagirang dan Air terjunnya.
Malah Riska merasa aneh dengan penjelasan yang ia temukan dalam handphone miliknya itu.
__ADS_1
Di dalam situs website tersebut hanya berisikan tentang kejadian kelam pada zaman dahulu. Yang mana mengisahkan tentang seorang kakek tua yang hidup berdua dengan cucunya.
Kakek tersebut bernama Mbah Mizan sedangkan cucunya bernama Irma. Orang tua Irma sudah meninggal tak lama setelah dirinya dilahirkan.
Kematian kedua orangtuanya pun terbilang aneh dan tanpa ada orang yang mengetahui kabar tersebut. Semua berjalan seperti baik-baik saja. Orang-orang sekitar pun mengira bahwa kedua orangtua Irma sudah pindah kampung.
Namun sepandai-pandai tupai melompat pasti ekornya akan nyangkut di batang pohon, begitupun dengan kabar kematian tersebut yang lambat laun mulai tercium oleh orang-orang kampung Sukagirang pada zaman itu.
Dalam artikel website tersebut dijelaskan juga bahwa hilangnya sosok Mbah Mizan beserta Irma pun terbilang aneh sama seperti kematian kedua orangtua Irma.
Terakhir kali orang-orang mengingat bahwa Mbah Mizan dan Irma dikepung oleh tentara kolonial Belanda pada saat itu.
Mbah Mizan dan Irma pun diketahui kabur dan berlindung di dalam hutan, lebih tepatnya bersembunyi dibalik pohon besar yang berada di dekat air terjun Grojogan Sewu Jiwo.
Setelah itu mereka menghilang tanpa kabar dan bahkan sampai sekarang keberadaan Mbah Mizan dan Irma belum diketahui masih menjadi tanda tanya segede helm.
Tak lama setelah menghilangnya Mbah Mizan beserta sang cucu, tentara kolonial Belanda dikabarkan tewas secara massal dengan keadaan yang sangat mengenaskan.
Tak cukup sampai disitu, musibah Angin put*ng beliung pun datang melanda kampung Sukagirang selang beberapa bulan setelah tewasnya tentara kolonial Belanda.
Bila pada kasus Tsunami di kota Aceh yang terjadi pada tahun 2004 silam dan menyisakan bangunan masjid Rahmatullah yang tetap berdiri kokoh dan tegak ditengah dahsyatnya hempasan gelombang Tsunami.
Maka di kampung Sukagirang terdapat air terjun Grojogan Sewu Jiwo beserta pohon-pohon yang mengelilinginya bebas tak tersentuh oleh musibah Angin put*ng beliung kala itu.
Benat-benar fakta yang pemikirannya diluar angkasa.
Desas desus tentang keanehan tersebut pun disangkut pautkan oleh orang-orang kampung Sukagirang dengan kejadian hilangnya Mbah mizan.
Mereka berasusmi bahwa Mbah Mizan serta Irma sengaja mengorbankan diri mereka agar kampung Sukagirang aman dan makmur terbebas dari tuntutan bala yang akan datang di kemudian hari.
Maka sejak saat itulah orang-orang kampung Sukagirang mulai melakukan ritual menyembah air terjun Grojogan Sewu Jiwo dengan rutin dan memberikan sesajen setiap harinya di bawah pohon besar samping air terjun.
Mereka berpikiran bahwa air terjun itu adalah tempat yang kramat dan berpenunggu dan menyimpan kekuatan astral tak tertandingi oleh kekuatan manusia.
Pada zaman itu juga sangat minim dengan yang namanya ilmu. Entah itu ilmu sains ataupun ilmu agama sehingga mereka dengan mudah masuk kedalam lubang jahanam penuh dosa.
__ADS_1
Kabar ke angkeran Grojogan Sewu Jiwo sempat menggemparkan khalayak umum, saking boomingnya pada zaman itu sampai masuk kedalam berita tercetak berupa koran dan majalah bobo bahkan menjadi tranding.
Kurang lebih seperti itulah sedikit ulasan yang berhasil Riska dapatkan dari hasil penelusurannya di laman internet.
Meskipun merasa tidak nyambung dan tidak sesuai dengan ekspektasi namun gadis itu tetap membacanya sampai di halaman akhir kabar angin tersebut.
"Cukup panjang dan rumit ceritanya. Tidak ada yang aneh namun entah kenapa gue malah tertarik untuk menelusuri lebih dalam lagi? Apalagi kasus tentang hilangnya Mbah Mizan dengan Irma, patut diselidiki!" Riska berbicara sendiri.
Ditengah-tengah keheningan sore itu tiba-tiba pintu kamarnya terbuka secara perlahan.
krieet..
Krieet..
Krieet..
Bunyi derit pintu yang terbuka pun terdengar menggema ditelinga Riska, tengkuknya berasa ditiup efek perubahaan hawa dingin yang mendadak.
Tiba-tiba Riska tersadar bahwa sore itu adalah hari kamis menuju jum'at malam, ditambah lagi kedua orang tuanya pun terbiasa pulang seminggu sekali di hari minggu.
Deg!
"Astaga! Sekarangkan bukan jadwalnya Ayah dan Ibu pulang. Lalu siapa yang membuka pintu kamar?"
"Nisa, Gindil, Sintut keluar lo semua! Sekarang waktunya sandekala kalian nggak usah tolol pake main kek gituan segala!" tuduh Riska.
Hening— tak ada jawaban.
Riska bangun dari posisi tidurnya, dengan langkah gontai dan pelan serta penuh ketakutan ia memberanikan diri untuk melihat sosok di balik pintu kamar.
Tenggorokan yang tadinya adem kini terasa serak seperti ada sesuatu yang mengganjal, darahnya berdesir panas, degup jantungnya memompa dengan cepat menimbulkan aliran tak beraturan yang menyebabkan kacau semua sistem indra.
Riska memegang handle pintu, dengan paksa menariknya perlahan demi perlahan. Tiba-tiba...
"AAAARRGGGHH... "
__ADS_1
See u next bab and thanks!