Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo

Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo
Padi Berbentuk Pocong.


__ADS_3

Bab 16.


"Diluar kok gaduh banget, ya? Mau kemana mereka, malam-malam begini?" tanya Indhi yang entah kepada siapa.


Kemudian mereka gegas berdiri untuk melihat keluar, setelah pintu terbuka sontak saja mereka terpana melihat pemandangan orang-orang yang berjalan rapi sambil membawa obor di tangannya. Rupanya hujan telah reda, meraka tak sadar karena terlalu fokus berbincang-bincang.


"Sesuai dengan yang saya katakan tadi! Bahwa malam ini adalah puncaknya perayaan malam satu suro dan pelaksanaan ritual tahunan kampung Sukagirang. Dan seperti inilah cara penyambutannya yang berakhir nanti di pohon besar samping air terjun sana," papar Pak Sam.


Mereka pun mengangguk mendengar itu, sedangkan matanya terus saja fokus, terkunci rapat melihat barisan manusia yang ada di depan. Mereka berbaris seperti hendak melaksanakan upacara, namun bedanya disini terdapat tiga baris saja.


Barisan kiri dan kanan di isi oleh jajaran Bapak-Bapak, sedangkan di barisan tengah di isi oleh Ibu-Ibu sambil memegang tapir dengan ukuran sedikit besar. Di dalamnya berisi berbagai macam makanan dan hasil panen lainnya. Sedangkan Bapak-Bapak hanya kebagian memegang obor saja dengan aksesoris golok yang di cantelkan di pinggang menggunakan sabuk.


"Oh gitu, rame juga yah ternyata!" balas Anisa.


"Seperti itulah. Ya udah kalo gitu saya sama istri saya mau siap-siap dulu. Kalian boleh tunggu diluar sini kalo tetep mau liat," ucap Pak Sam.


Mendengar itu, fokus mereka langsung tertuju pada Pak Sam kemudian berbalik menatap ke arah Pak Sam yang berada di belakang mereka.


"Emang Pak Sam mau kemana? Mau ikut sama mereka?" sela Sinta setelah mendengar jawaban Pak Sam.


Pak Sam terkekeh dan menggeleng mendengar itu, kemudian menjawab.


"Kalian pikir saya mau kemana malam-malam begini kalo bukan untuk ikut bergabung dengan mereka. Saya itu asli warga sini, jadi ya sudah jelas, bahwa saya pun akan ikut merayakan itu. Apa kalian lupa?" ungkap Pak Sam.


Mereka menganggukkan kepala dan sedikit tersenyum karena malu, kemudian kembali menatap ke arah orang-orang.


"Baiklah, saya mau siap-siap dulu!"


Setelah mengatakan itu Pak Sam pun bergegas ke dalam rumah untuk mengambil obor dan golok, sedangkan Sang istri tampaknya sudah siap sambil membawa sesajen, tinggal ikut bergabung dengan yang lain.


"Suami saya kemana? Kok nggak keliatan?" tanya Bu Diah setelah dirinya berada di samping mereka.


Karena kedatangannya yang tiba-tiba dari arah belakang rumah tanpa di ketahui oleh mereka, sontak saja perkataan Bu Diah membuat mereka terlonjak kaget.


"Astaga Ibu! Tiba-tiba langsung nongol aja udah kaya Mbak Kun. Kaget saya, Bu. Maaf!" ucap Sinta Refleks.


Bu Diah sedikit terkekeh melihat mereka mengelus dadanya sambil menormalkan deru nafas yang terdengar saling bersahutan karena kaget.


"Eh maafkan saya! Saya kira kalian tau kalo saya keluar dari pintu belakang, biasa tadi habis nyuci dulu sendal biar nggak licin," balas Bu Diah.

__ADS_1


"Pak Sam tadi ke dalam lagi, katanya mau siap-siap dulu takut terlambat dan gak bisa gabung. Makannya beliau buru-buru tadi!"


"Hm baiklah. Kalo gitu saya titip pesan ya buat Pak Sam ke kalian!? Nanti tolong bilangin sama Pak Sam, kalo saya mau berangkat duluan, nanti saya tungguin di dekat air terjun, ya?!"


"Dengan senang hati, biar nanti kita sampaikan! Lebih baik Ibu segera berangkat sekarang biar nggak terlambat dan tertinggal jauh."


"Kalian memang baik, terima kasih! Nggak perlu buru-buru begitu, toh acara juga belum dimulai. Kalian nggak perlu khawatir ya! Santai aja. Berhubung sudah siap semuanya, lebih baik saya berangkat saja! Mari... "


Mereka mengangguk sambil tersenyum dan tak lupa menitipkan pesan agar berhati-hati, setelah itu siluet Bu Diah tak terlihat lagi terhalangi oleh siluet Bapak-Bapak.


Beberapa menit kemudian datanglah Pak Sam dari dalam rumah dengan lengkap menggunakan golok dan membawa obor yang belum dinyalakan.


"Kalian masih disini rupanya? Saya kira kalian sudah istirahat tadi," ucap Pak Sam setelah berada di depan pintu dan tepat berada di belakang mereka.


"Eh Pak! Iya nih kita masih penasaran, jadi pengen liat terus bawaannya. Katanya Bu Diah mau berangkat duluan gabung sama yang lain. Nanti Bu Diah tunggu Pak Sam di depan air terjun sebelum acara dimulai," jawab Anisa.


"Hmm, pantesan di rumah nggak keliatan, baiklah terima kasih!"


"Iya Pak! Sama-sama."


Suara kukuk burung hantu mulai terdengar menembus indra pendengaran. Didepan sana terlihat segerombolan Bapak tua yang baru saja datang dengan membawa sesuatu dipangkuan tangannya.


"Hus.. Jangan terlalu keras, nanti kalo kedengaran sama warga lain bisa bahaya. Bukan pocong atau pesugihan, itu hanyalah padi hasil panen yang dibungkus dengan kain kafan dan dibentuk menyerupai manusia. Sebagai sarat saja! Pengganti manusia beneran," balas Pak Sam dengan hati-hati.


Mendengar itu pemikiran mereka langsung melanglang buana menembus langit ke tujuh, spekulasi dan praduga tentang adanya manusia yang dijadikan tumbal untuk kepentingan ritual kampung Sukagirang mulai menghantui kepala mereka.


"Berarti sebelumnya ada tu.., " ucap Sinta terpotong karena Anisa langsung menarik tangannya dengan kuat.


Anisa menarik tangan Sinta agar tidak melanjutkan pertanyaan bodohnya karena tau jatuhnya akan seperti apa. Terkadang, rasa ingin terlalu tau akan sesuatu itu tidak lah selalu baik, maka berhentilah mencampuri urusan yang seharusnya tidak kita campuri. Beruntungnya Sinta sadar akan itu dan tak melanjutkan perkataannya.


Riska dan Indhi pun demikian, mereka berdua sadar. Kemudian ikut bergeser seperti Sinta agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dengan begitu Pak Sam berpikir bahwa maksud mereka bergeser untuk memberinya jalan.


"Kenapa?" tanya Pak Sam dengan dahi berkerut karena Sinta tak melanjutkan.


"Biasalah Pak, Sinta mulai ngantuk sepertinya. Dia tuh emang ***** banget Pak, orangnya! Baru nempel aja ke bantal udah langsung molor. Hehe..," sahut Anisa berbohong.


Sinta tersenyum mengangguk mengiyakan apa yang anisa katakan.


Pak Sam terlihat diam beberapa saat, kemudian tersenyum dan bergerak ke depan.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian langsung aja istirahat. Sesuai dengan apa yang telah kita bicarakan tadi, kalian langsung aja pindah ke rumah saya yang satunya lagi, kuncinya tadi sudah saya berikan toh?" balas Pak Sam kemudian.


Sebelumnya Pak Sam dan Bu Diah telah sepakat untuk menyuruh mereka pindah ke rumah milik mereka yang satunya lagi, posisinya pun tidak terlalu jauh hanya terpaut beberapa puluh meter saja di samping rumah Pak Sam.


Namun karena mereka tak enak hati, maka lebih memilih tinggal bersama saja karena tidak ingin menambah beban kerepotan di keluarga Pak Sam, apalagi itu semua gara-gara Sinta.


"Iya Pak sudah! Tapi apakah itu tidak berlebihan? Kita nggak mau bikin Pak Sam dan Bu Diah tambah repot,"


"Itu cuma perasaan kalian saja, kita tidak merasa direpotkan sama sekali. Belum lagi nanti saya akan pulang tengah malam, otomatis bakal ganggu waktu istirahat kalian kalo tidur disini."


Karena tak enak menolak tawaran Pak Sam, akhirnya mereka luluh untuk pindah ke rumah Pak Sam yang satunya lagi. Meskipun rumah itu tidak ada yang menempati, namun Pak Sam dan Bu Diah selalu membersihkannya setiap hari. Jadi sudah pastikan bahwa rumah tersebut bisa langsung di pakai tanpa harus bersih-bersih dulu.


"Sepertinya saya harus berangkat sekarang, saya minta tolong buat kunciin pintu rumah saya kalo kalian sudah beres mengambil barang-barang kalian. Kuncinya kalian taruh saja di bawah pot bunga itu," ucap Pak Sam sambil menunjuk ke arah pot bunga yang berada tak jauh depan rumahnya.


"Pak Sam tenang aja biar nanti saya yang atur! Jangan lupa hati-hati dijalan. Keselamatan tetap nomor satu!" balas Anisa.


Pak Sam mengangguk dan bergegas meninggalkan kediamannya yang nampak masih berdiri kokoh meski sudah lama tidak di renovasi itu, beberapa bagian temboknya terlihat sudah mengelupas karena habis dimakan waktu.


Tak lama setelah itu Pak Sam terlihat membalikan badan dan kembali berjalan menuju ke kediamannya, mereka yang melihat kelakuan Pak Sam lantas bertanya-tanya.


"Apa ada yang ketinggalan, Pak?" tanya Anisa kepada Pak Sam yang kini telah berdiri di hadapannya.


"Ah tidak, saya hanya kelupaan sesuatu."


"Apa itu ,Pak?"


Pak Sam mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan mereka, setelah merasa cukup beliau pun langsung menjawab.


"Tolong dengar baik-baik, dan saya harap kalian bisa menuruti apa yang saya katakan. Jika nanti kalian sudah beres berbenah, kunci semua pintu, jendela dan akses yang memungkinkan orang lain bisa masuk. Setelah lewat jam sepuluh malam keadaan rumah harus sudah tertutup dan jangan ada yang berani keluar kalo kalian mau selamat. Jangan pernah menerima tamu jika sudah lewat jam sepuluh malam, siapapun itu jangan ada yang berani buka! Kalian abaikan saja sampai menghilang dan pura-pura tidak dengar. Cepat tidur dan jangan lupa banyakin berdoa meminta perlindungan pada sang Pencipta," balas Pak Sam dengan wajah serius, terlihat dari kilatan matanya yang menandakan ke khawatiran.


Mereka terhenyak mendengar bait kalimat yang di lontarkan oleh Pak Sam, seakan larut dalam penuturan yang beliau katakan sampai suara orang-orang yang semakin gaduh menyadarkan mereka.


"Iya Pak, siap!"


Hanya kata itu yang terucap, sebenarnya mereka ingin bertanya lebih banyak lagi. Namun melihat kondisi sekitar sepertinya tidak mendukung, apalagi Pak Sam terlihat buru-buru. Alhasil mereka memilih bungkam dan membiarkan Pak Sam berangkat saja.


Setelah itu Pak Sam kembali melanjutkan keberangkatannya, hingga siluet tubuhnya benar-benar tak terlihat dimakan oleh gelapnya malam dan banyaknya orang-orang.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2