
Bab 7.
Tak terasa hari semakin siang, kedua gadis itupun masih sibuk menghabiskan seblak pesanannya yang belum juga kunjung habis.
Ditengah-tengah aktivitas mereka yang sedang menyuapkan seblak pada mulut mereka.
Tiba-tiba terdengar suara berisik yang berasal dari sandal swalow yang berpapasan dengan aspal panas sehingga menimbulkan bunyi aneh.
Plok.. Plok.. Plok.. Plok..
Kedua gadis itu menoleh ke arah belakang bersamaan, dimana arah bunyi suara tersebut berasal.
Keduanya tampak kaget melihat kedatangan seorang Ibu-Ibu bertubuh tambun dan mengenakan daster oversize motif bunga bangkai berjalan dengan tergopoh-gopoh menuju arah warung Ceu Wati.
"Hai Udin.."
"Hai kalian.."
Sapa Ibu tersebut sok akrab kepada Ceu Wati dan dua gadis itu dengan melambaikan tangan.
"Ha.. Hai.." Balas Riska dan Sinta terbata.
Keduanya merasa canggung karena merasa belum pernah bertemu dengan sosok Ibu-Ibu tersebut.
Sedangkan Ceu Wati malah menampakan ekspresi yang berbeda, beliau terlihat seperti antusias sekali menyambutnya.
"Ehh si Imron!"
Balas Ceu Wati dengan kedua pipi yang mengembung karena menahan tawa.
"Bhahahaha.."
Suara tawa yang begitu keras keluar dari mulut Ceu Wati dan sosok Ibu-Ibu tersebut secara bersamaan.
"Silahkan duduk dulu, saya mau eksekusi seblak pelanggan online dulu," terang Ceu Wati pada Ibu tersebut.
Si Ibu mengibaskan tangan mengerti sambil sesekali mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.
"Apa lihat-lihat? Pangling ya melihat wajah saya yang memancarkan aura kecantikan luar dalam ini?!" tanya si Ibu kepada Riska dan Sinta setelah sadar bahwa dirinya di tatap oleh mereka yang berada di sampingnya.
"Bu Imron pede banget deh, siapa juga yang bilang seperti itu?" celetuk Sinta.
"Kamu itu sembarangan banget punya bibir! Nama saya itu Idah bukan Imron," balas Ceu Idah dengan sewot.
Ternyata sosok Ibu tersebut adalah Ceu Idah pemirsa, next time jangan salah lagi ya panggil nama beliau biar nggak kena semprot.
"Lho bukannya tadi Ceu Wati manggil nama Im.." Sinta menggantung ucapannya ketika melihat Ceu Wati datang menghampiri mereka.
"Ini temen saya namanya Ceu Idah bukan Imron, kalau Imron itu nama Bapaknya jangan salah, nah kalau Udin itu nama Bapak saya, oke?" jelas Ceu Wati terkekeh.
"Waduh saya baru tahu, saya minta maaf kalau begitu," Sinta meminta maaf.
"Sudahlah lupakan, lebih baik kau habiskan saja makanan mu itu gadis muda! Sebelum habis dimakan sama setan," canda Ceu Idah.
__ADS_1
Riska dan Sinta hanya manggut-manggut saja sambil cengengesan.
Ceu Wati tersenyum.
"Mau pesen berapa bungkus nih bela-belain sampai datang ke sini segala?" tanya Ceu Wati.
"Satu aja Ceu cukup, biasa lagi diet. Sekalian dibungkus aja sama minumannya, ya?"
"Oke."
Kemudian Ceu Wati bergegas membuat seblak pesanan Ceu Idah tanpa menunggu lebih lama lagi.
Suasana kembali hening, hanya terdengar suara cipratan minyak yang beradu dengan air yang menjadi kuah seblak, ditambah lagi suara perabotan dapur yang sedang digunakan oleh Ceu Wati yang memecah keheningan siang itu.
Sementara Riska dan Sinta tampak masih setia menghabiskan seblak mereka, sedangkan Ceu Idah kini tengah sibuk memainkan handphone miliknya.
"Wah sepertinya ada kabar terbaru lagi nih Ceu.. " Ucap Ceu Idah tiba-tiba kepada Ceu Wati.
"Arisan lagi?" Ceu Wati bertanya kembali dengan alis yang terangkat sebelah dan bibir manyun lima centi.
"Kabar terbaru tentang air terjun Grojogan Sewu Jiwo itu lho Ceu yang lagi viral."
"Yang kemarin sempet ada korban bukan?"
"Dan yang lebih parahnya lagi sekarang kembali memakan korban, nih liat!" Ceu Idah menunjukkan berita viral dalam handphone ke arah Ceu Wati.
"Nggak kelihatan atuh Ceu, bentar dulu ini sedikit lagi nanggung," balas Ceu Wati dari kejauhan.
Uhuk.. Uhuk..
Bahkan kalangan Ibu-Ibu sepertinya sangat up to date sekali sampai mengetahui tentang air terjun tersebut memakan korban jiwa akhir-akhir ini.
Suara batuk tersebut sampai mengingatkan Ceu Idah bahwa di sampingnya juga terdapat dua sosok gadis yang sempat tidak disadari keberadaannya oleh Ceu Idah.
Lantas Ceu Idah pun menoleh ke arah samping lalu menegurnya.
"Lain kali kalau makan itu hati-hati, minimal jangan sampai tersedak seperti barusan, sudah seperti dikejar setan saja. Nggak bakal ada yang minta ini!" tegur Ceu Idah dengan sedikit ketus.
"Saya minta maaf, saya terlalu menikmati seblak buatan Ceu Wati sampai lupa sendoknya mau saya makan juga, untung mangkoknya enggak," canda Riska dengan senyum mengembang.
'Kan setannya lo Ceu, minimal sering-sering kek bercermin biar bisa sadar diri.' Sinta berguman dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Ya sudah, lanjutkan makannya dan jangan lupa bayar kalau sudah habis."
"Heh kamu, anak seorang dukun ya? Nggak dimana nggak dimana komat kamit terus tuh bibir," tambah Ceu Idah melihat ke Arah Sinta.
Riska mengacungkan jempol tangan sebagai tanda yes, sedangkan Sinta terkaget ternyata ucapannya sedikit dicurigai oleh Ceu Idah.
"Saya anak Bapak sama Ibu, saya cuma setuju aja kalau seblak Ceu Wati memang mantap, malah saya pengen nambah lagi rencananya," elak Sinta dengan mantap.
"Anak zaman sekarang memang diluar perkiraan nalar, itu perut apa waduk? Kok gede banget kapasitas penyimpanan makanannya. Terkejut saya!"
"Nggak gitu juga atuh Ceu konsepnya, gimana sih? Tega bener ngatain saya kaya gitu,"
__ADS_1
"Cuma bercanda gak usah baper! Lanjutkan saja makannya takut dihabiskan setan,"
"Setan lagi? Maksudnya temen saya setannya gitu?"
"Kamu ini, pandai betul bikin saya mati kutu," tukas Ceu Idah.
"Masih mending cuma mati kutu dan nggak mati beneran. Kalau sampai saya mati beneran, saya pastikan akan datangin kalian terlebih dahulu untuk dicekik.. Hi.. Hi.. Hi.." Tambah Ceu Idah.
"Ya ampun Ceu sadis bener,"
Ceu Idah tersenyum puas sedangkan Sinta bergidik ngeri dan memilih melanjutkan kegiatan sebelumnya.
Tak lama setelah itu Ceu Wati datang menghampiri Ceu Idah untuk sekedar menuntaskan rasa penasarannya.
"Saya jadi penasaran kronologisnya seperti apa sampai air terjun tersebut kembali memakan korban, saya juga jadi bertanya-tanya apakah betul air terjun tersebut memang angker?"
"Sama Ceu, apalagi disini cuma dijelaskan kalau si korban ini jatuh terpeleset saat mau ngambil foto didekat pohon besar air terjun. Selain itu korban yang satu ini adalah turis, seorang pendatang baru yang kedatangannya tidak diketahui oleh orang-orang kampung Sukagirang."
"Oh begitu, terus keselamatannya bagaimana? Masih terselamatkan atau mati mengenaskan?"
"Aman Ceu katanya, nggak ada luka berat atau luka fisik apapun pada dirinya. Yang bikin aneh dan jadi pertanyaan cuma kondisi psikisnya saja yang terlihat seperti orang amnesia gitu,"
"Maksudnya?"
"Ya aneh aja nggak nyambung, ditanya namanya siapa, dia bilang nggak tau, ditanya alamat rumah dimana, dia juga sama nggak tau dan yang lebih mencengangkan adalah ketika dia ditanya bisa tergeletak di dekat pohon karena apa, eh dia malah jawab pengen kawin! Serem sekali bukan?"
"Har, gimana ceritanya bisa melenceng jauh begitu? Atau jangan-jangan dia datang kesana dengan tujuan tidak baik lagi? Seperti ada niatan buat memperkosa gadis di kampung Sukagirang, maybe?"
"Ah masa sih seperti itu? Di luar negeri juga lebih banyak kali wanita-wanita cantik yang mau ditiduri, pada mulus lagi!"
"Iya juga sih kalau mikir kesana. Tapi jangan salah juga, biasanya baik atau buruknya niat kita datang ke suatu tempat bisa juga mempengaruhi keselamatan kita ditempat yang akan kita tuju kelak."
"Ya udah lah lupain, saya mau kembali lagi liat seblak takut gosong. Soalnya tadi cuma dikecilin doang apinya nggak dimatiin," pamit Ceu Wati mengakhiri.
Ceu Idah pun mengangguk paham dan kembali memainkan handphone.
Riska dan Sinta kini sibuk berperang dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berkejawaban di dalam kepalanya masing-masing.
Seketika saja Ceu Wati datang membuyarkan fokus membawa bungkusan keresek hitam yang berisi seblak pesanan Ceu Idah yang lengkap dengan minuman pop ice rasa coklat.
"Ini saya ambil pesanannya dan ini uangnya," sambut Ceu idah menerima keresek tersebut sambil menyodorkan uang bayar.
"Semoga suka dan nggak bosen buat jajan lagi kesini. Terimakasih karena sudah mau jajan disini!" balas Ceu Wati dengan senyum sumringah.
"Ah iya sama-sama Ceu, kalau begitu saya pamit. Mari semuanya!"
Ceu Idah pun melenggang pergi dari warung seblak Ceu Wati yang di ikuti anggukan dari tiga orang wanita yang melihat kepergian Ceu Idah yang kini mulai tak terlihat lagi dari pandangan mata.
Ceu Wati pun kembali bergegas bekerja membersihkan kompor serta bagian lain yang terkena cipratan kuah seblak selagi menunggu pesanan datang.
Riska dan Sinta pun sudah selesai menghabiskan seblak mereka, dan sekarang tinggal membayar keseluruhan total jajanan yang mereka beli termasuk dengan seblak yang sengaja di bungkus untuk dua temannya yang lain.
Ceu wati pun melepas kepergian pelanggan terakhirnya setelah proses pembayaran selesai, beliau juga sempat menitipkan pesan agar selalu hati-hati dimana pun berada kepada dua gadis tersebut.
__ADS_1
Bersambung.