
Bab 12.
Akhir-akhir ini suara tabuhan gong dan gamelan sering terdengar meriah di tengah hutan belantara kampung Sukagirang.
Kadang warga setempat juga merasakan adanya seseorang sedang melantunkan sebuah kidung yang belum pernah terdengar sebelumnya, namun bila mencuri dengar terasa menyayat hati membuat si pendengar kehilangan kesadaran atau bisa kerasukan.
Tak ayal warga setempat yang sedang ronda sering melihat sosok perempuan ditengah hutan mengenakan pakaian adat yang lengkap dengan selendang, sedang menari dibawah keremangan cahaya bulan tengah malam.
Kendati demikian, warga kampung Sukagirang sudah tidak kaget lagi dengan kejadian tersebut, mereka sadar betul bahwa sekarang sudah memasuki hari perayaan ritual tahunan kampung Sukagirang.
Maka tak heran gangguan dari makhluk beda alam tersebut semakin hari terasa nyata dan menakutkan. Selain itu tahun ini termasuk tahun yang sepesial bagi entitas jahat seperti mereka.
Sebab untuk tahun ini mereka dikejutkan dengan perayaan tambahan secara bersamaan yaitu penyambutan malam satu suro yang jatuh pada Sabtu pahing tanggal 30 juli 2022.
Kabar yang tak kalah mencengangkan lagi adalah hari sakral tersebut bertepatan dengan hari keberangkatan Anisa and the geng menuju kampung Sukagirang.
***
Indhi menceritakan semua kejadian yang menimpanya selama diperjalanan kepada teman-temannya, ia juga menumpahruahkan segala kerisauan hati kepada mereka termasuk dengan rasa berat untuk melanjutkan perjalanan.
Teman-temannya pun percaya dengan penuturan Indhi, namun karena kepalang nanggung mereka hanya meng-iya kan saja dengan keputusan akhir tetap akan melanjutkan perjalanan.
Anisa yang mengkomandoi menyimpulkan bahwa Indhi hanya kecapek-an hingga berdampak seperti itu, dengan berat hati mereka mengundurkan keberangkatan hingga beberapa jam ke depan membiarkan Indhi istirahat terlebih dahulu.
Tepat pada pukul tiga sore indhi sudah bangun dari tidurnya, mereka pun sepakat untuk melanjutkan perjalanan tak perduli walau hari sudah redup.
"Lo yakin mau nyetir?" tanya Anisa khawatir pada Indhi sebelum naik kedalam mobil.
Indhi mengangguk yakin. "Hey, gue nggak kenapa-kenapa kali. Kenapa lo lebay banget?" jawabnya.
"Siapa tau lo masih capek, kan? Anyway oke deh kalau begitu, gue duduk di depan ya biar nanti kalo lo capek kita bisa gantian,"
Indhi tersenyum mengangguk, melangkah masuk ke dalam mobil di ikuti Anisa yang duduk di jok depan sampingnya, serta Riska dan Sinta yang duduk di jok belakang.
Mobil sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota sore hari, jalanan tampak lengang dan terpantau ramai lancar tidak macet.
Satu jam perjalanan mereka lalui dengan hening tanpa obrolan, hanya deru mesin mobil yang terdengar. Anisa yang khawatir dengan kondisi Indhi sibuk mewanti-wanti melihat kanan kiri jalanan, tak ingin mengganggu fokus Indhi maka memilih diam memperhatikan keadaan.
Riska dan Sinta yang merasa tidak enak badan secara mendadak sebelum berangkat, terlihat sedang tidur di jok belakang, efek obat yang mereka minum.
Keduanya nampak pulas dengan posisi saling memeluk satu sama lain dengan balutan hangat dari hoodie yang mereka kenakan.
Di satu sisi lain, sang pengemudi terus saja melihat seseorang yang sedang berdiri dipinggir jalan dengan memegang poster bertuliskan 'Batalkan'.
Bukan hanya sekali, bahkan sampai beberapa kali Indhi melihat pemandangan aneh tersebut dengan orang yang berbeda. Terakhir saat di pemberhentian lampu merah, ia di datangi langsung oleh anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dan menyebutkan kata yang sama.
"Batalkan, lebih baik kakak putar balik!"
Kalimat itu terus muncul dalam pikiran Indhi membuat kacau sistem kerja otak hingga membuat kepalanya berdenyut-denyut.
__ADS_1
'Apa yang harus dibatalkan? Kenapa harus putar balik? Ada apa ini sebenarnya?' tanya Indhi dalam hati.
Terbawa akan sembrawutnya pemikiran, ia sampai tidak sadar bahwa jalan yang dilewati hanya berputar-putar tanpa menemui ujung.
Estimasi waktu tempuh yang menghabiskan waktu dua jam kini pupus sudah, nyatanya ia terus saja berputar-putar dilingkup jalan perbatasan tol dengan jalan kampung Sukagirang.
Mobil terguncang cukup keras akibat ban mobil yang masuk ke dalam jalan aspal berlubang, sontak mereka tersadarkan dari kegiatan masing-masing.
"Aduh..," pekik Riska dan Sinta bersamaan, rupanya kepala mereka tak sengaja saling beradu.
Indhi melihat pada kaca spion depan. "Eh sorry, gue nggak sengaja ganggu tidur kalian," ucapnya.
Riska tersenyum, kemudian menjawab. "Hmm, lain kali lo hati-hati. Jangan kaya gitu lagi, sakit tau!"
Sementara Anisa yang sedari tadi mengawasi akhirnya tumbang terbawa tidur, rasa kantuk yang menjalar cukup mendukung dengan suasana sore hari menuju sandekala yang sepi temaram.
"Udah nyampe mana nih? Masih jauh nggak?" tanya Riska setelah terbangun dari tidurnya dan tak dapat ditidurkan lagi.
"Mmm gue juga nggak tau nih?!" jawab Indhi tak yakin.
Karena memang fokus Indhi terbagi sejak tadi, maka hanya kalimat itulah yang mampu ia berikan terhadap Riska.
"Ya ampun Tuhan, coba lo cek navigasi google maps biar tau kita dimana,"
"Bentar." Indhi menghidupkan handphone." Jalan yang kita tempuh nggak terdeteksi disini," katanya.
"Ya gue liat google maps jugalah, cuma karena takut baterainya lowbat ya gue matiin tuh handphone gak stay di nyalain terus,"
"Terus kenapa bisa nyasar gini sih?"
"Ya sorry, gue juga nggak tau!"
Mereka berdua panik, setelah mengetahui bahwa mobil membawa mereka ke arah yang salah, namun apa daya situasi sangat tidak memungkinkan jika mereka terus kalut dalam kepanikan.
"Coba lo nanti turun dulu kalau ada orang, terus lo tanyain jalan ke kampung Sukagirang."
Indhi mengangguk dan kembali fokus menyetir, di jok belakang Riska mencoba berdoa menepis rasa takutnya dan memohon perlindungan dari sang Khalik.
Belum kering bibir Riska setelah berucap, di depan mobil terlihat seorang Kakek di sebrang jalan yang hendak menyebrang, tanpa pikir panjang indhi segera menepikan mobil untuk menanyakan jalan.
Kemudian ia turun dan menghampiri sang Kakek. "Permisi Kek, maaf Kek saya mau nanya. Kalau jalan ke kampung Sukagirang apa betul jalannya ke arah sini?" tanya Indhi dengan sedikit membungkukkan badan.
Kakek tersebut nampak tersenyum mengangguk, kemudian menjawab. "Kelewat atuh Neng, harusnya di belakang tadi si Neng belok ke arah kiri bukan ngambil yang kanan," Jawab Kakek tersebut.
indhi mengangguk kemudian menjawab.
"Baiklah Kek, kalau begitu terima kasih! Saya permisi undur diri, mari." Sinta berpamitan lalu kembali kedalam mobil.
"Lo darimana?" tanya Riska heran, melihat Indhi menepikan mobil dan terlihat keluar lalu kembali masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Habis nanya jalan lah! Apalagi?"
"Jangan ngaco! Disini nggak kelihatan ada orang,"
"Masa lo nggak liat di sebrang sana ada Ka.., " ucap Indhi terpotong ketika melihat sosok Kakek yang ia maksud sudah tak ada di sekeliling.
Bulu-bulu halus di sekitar tengkuknya mulai berdiri menyadari bahwa mereka tengah berada di jalan tak berpenghuni, suasana mencekam bisa ia rasakan setelah melihat pinggir-pinggir jalan yang di penuhi jejeran pohon mahoni menjulang tinggi.
Memang benar apa yang dikatakan Riska, mana mungkin ditengah rindangnya pohon mahoni yang berjejer rapi seperti ini terdapat makhluk hidup yang sedang beraktifitas, sedangkan rumah tempat mereka bernaung pun tak terlihat di sekitaran sini.
Indhi menggelengkan kepala menepis semua kejadian yang aneh sekaligus menyeramkan tersebut.
"In lo baik-baik aja kan?" tanya Riska kembali.
"Lupakan! Gue salah jalan rupanya!" jawab Indhi bohong.
"Oh, ya udah.."
***
Ketika sampai di belokan sebelumnya, terlihat beberapa orang sedang berkerumun entah sedang mengerumuni apa sampai menghalangi jalan. Terpaksa Indhi harus turun kembali meminta untuk sedikit menepi agar tidak menghalangi akses jalan.
"Ini ada apa ya? Kok pada berkerumun begini? Halo permisi," tanya Indhi yang entah kepada siapa setelah turun dari mobil dan berada di depan kerumunan orang-orang.
"Ini Neng, ada yang buang mayat sembarangan! Mana mayatnya udah membusuk lagi, ih serem. Apalagi kondisi badannya juga memprihatinkan, matanya nggak ada satu dan jari tangannya juga seperti habis dipotong. Lebih baik si Neng nggak usah liat deh, takut terbayang-bayang," ucap seseibu menjelaskan sambil menutup hidung dengan tangan.
Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya ia bergegas menerobos ke dalam kerumunan orang-orang untuk melihat kondisi mayat yang dimaksud.
Setelah berhasil melihat sosok mayat tersebut, langkahnya kembali mundur. Ia tak kuasa melihat pemandangan di depan, mayat seorang Kakek tua dengan kondisi mengenaskan memang benar adanya. Otot-otot kaki melemas seperti tak kuat lagi untuk menopang badannya setelah menyadari bahwa sosok tersebut adalah sosok yang sama dengan yang ia temui sebelumnya. Kakek tua yang sempat ia tanyai jalan tadi.
Ia berlari menuju mobil dan tergugu di dalam mobil. Anisa dan Riska yang terkaget langsung menanyakan kondisi Indhi.
"Astaga, lo kenapa Gindil? Siapa yang berani jahatin lo sampai bikin mewek gini?" Anisa yang baru terbangun dari tidurnya langsung mencerca setelah Indhi kembali ke mobil dengan keadaan menangis sedu sedan.
Indhi terus saja tergugu mengingat wajah Kakek tersebut. Terlalu mustahil rasanya jika disebut kebetulan, ada apa ini?
"Coba lo rileks In! Tarik nafas, terus keluarin secara perlahan. Habis itu lo nyerita sama kita, ada apa sebenarnya!" Riska mencoba menenangkan dan menyodorkan sebotol air mineral.
Setelah meneguk sebotol air mineral, akhirnya Indhi merasa sedikit baikan dan mencoba menjelaskan.
"Lo ingat dibelakang tadi gue sempat menepi dan keluar dari mobil?" tanya Sinta menjeda. "Itu gue lagi nanyain jalan sama Kakek-Kakek yang ada di pinggir jalan, anehnya setelah gue lihat lagi malah nggak ada, gue juga bingung sebenarnya kenapa. Dan yang bikin shock lagi adalah penemuan mayat Kakek-Kakek di depan sana, itu adalah sosok Kakek yang gue temuin dibelakang tadi, Ris!" lanjutnya.
Anisa tampak menutup mulutnya dengan mata melebar tanpa mengucap kata apapun. Riska memandang sebentar ke arah depan sebelum menjawab.
"Lebih baik lo banyakin berdoa aja, mungkin Kakek tadi cuma mau bantu kita. Sekarang gantian biar Nisa yang nyetir ya, dan lo istirahat aja, oke?" Riska tak ingin menambah panik suasana walau dalam penglihatannya memang melihat sosok Kakek tua yang sedang tersenyum ke arah mobil yang mereka tumpangi sambil sesekali melambaikan tangan.
Riska pun tak mengerti maksud dari Kakek tersebut apa, bau kapur barus seketika menyeruak memenuhi indra penciuman gadis itu. Seiring dengan menghilangnya sosok Kakek tersebut bau kapur barus pun ikut hilang.
Bersambung.
__ADS_1