
Bab 5.
Seperti apa yang telah Riska katakan disaat sebelum dirinya tertidur kemarin. Gadis itu benar-benar berniat untuk mendatangi rumah temanya satu persatu.
Rumah pertama yang akan Riska kunjungi tentu saja rumah Sinta, karena hanya Sintalah yang memiliki jiwa absurd yang diluar bioskop dan paling beda diantara yang lain.
Dengan harap-harap cemas Riska berharap semoga Sinta bisa berpihak pada dirinya dan membantunya untuk meyakinkan Anisa dan Indhi kelak.
Kini Riska sudah berada di dalam kamar Sinta.
Bahkan posisinya sudah terlihat santuy berada duduk di pinggiran kasur Sinta. Sedangkan Sinta sibuk sendiri memainkan benda pipih kesayangannya dengan posisi tengkurap.
Tanpa ba bi bu Riska pun langsung to the point menyampaikan maksud dari kedatangannya karena apa.
Riska juga menjelaskan secara Rinci dan detail mengenai peristiwa yang ia alami tanpa terlewat sedikit pun dan tanpa skip.
Dan di akhir pembicaraannya Riska pun menjelaskan asumsinya bahwa kejadian tersebut ada sangkut pautnya dengan keberangkatan mereka ke kampung Sukagirang.
"Betulkah begitu? Atau jangan-jangan lo nakutin gue lagi biar gue nggak jadi ikut berangkat kesana?"
Tanya Sinta penuh selidik setelah mendengar penjelasan yang telah Riska paparkan.
Kemudian Sinta merubah posisinya menjadi duduk dipinggiran kasur bersampingan dengan Riska menghadap pintu kamar.
"Terserah lo mau nanggepin omongan gue seperti apa!"
"Diterima syukur, nggak juga nggak ada masalah!"
"Intinya gue tuh peduli sama lo semua dan kalau lo semua pengen selamat, lebih baik nggak usah berangkat ke kampung Sukagirang dan batalkan. Karena gue rasa kejadian semalam ada hubungannya sama kampung itu." Jawab Riska mantap.
Sinta mengernyitkan alis sampai terangkat sebelah, kemudian terkekeh kecil.
"Ya ampun Tuhan! Lo kenapa sih, hm? Coba sini nyerita sama gue sebenernya lo kenapa? Ada apa sama diri lo?"
"Oke gue terima ke khawatiran lo terhadap kita semua, gue juga ucapin terima kasih sebelumnya. Tapi lo nggak usah bilang kaya gitu segala Ris!"
"Lo punya bukti apa sampai bisa menyimpulkan seperti itu hah?" Sinta balik bertanya.
Riska menelan saliva dengan susah, pasalnya baru sekarang Sinta berkata bijak seperti itu.
"Lo emang bener kali ini Sin, gue nggak punya bukti apa-apa dan seperti apa yang lo bilang kalau gue nggak berhak buat berkata seperti tadi,"
"Tapi gue punya hati Sin! Firasat yang datangnya langsung dari hati tak akan pernah salah alamat! Sekali saja lo berani mempermainkan urusan hati, maka lo harus siap dengan resiko yang harus lo tanggung dikemudian hari!"
Jawab Riska menggebu sambil menunjuk ke arah dadanya, seakan menunjuk ke dalam hati.
Sinta tertegun sebentar kemudian menepuk-tepuk jidatnya sendiri.
"Demi janda sepaket yang diborong habis oleh duda karatan yang giginya ompong tinggal dua lalu hinggap di jendela lo tol*l! "
"Sekarang zaman udah canggih dan kekinian. Harusnya lo bisa berpikir jernih dahulu sebelum menyimpulkan apa-apa, Ris! "
"Dan harusnya lo sadar kalau kejadian ganjil sekecil itu tuh mana bisa disebut sebagai firasat? Lo nggak bisa gitu. Lo harusnya tau kalau itu cuma rasa parno lo aja yang berlebih, sadar dong Ris." Ucap Sinta dengan satu tarikan nafas.
Kini Sinta terlihat ngos-ngosan setelah mengatakan hal itu.
Riska yang tak habis pikir dengan jawaban yang Sinta berikan lalu kembali menjawab.
"Parno lo bilang?"
"Lo kenal gue itu udah lama kali Sin! Harusnya lo juga nggak lupa kalau mata batin gue tuh dulu pernah terbuka dan harusnya lo ingat itu baik-baik Sin!"
__ADS_1
"Lo harusnya juga sadar kalau gue itu lebih sensitif diantara kalian bertiga terhadap hal-hal yang berhubungan dengan makhluk tak kasat mata!"
"Dan satu lagi yang harusnya jangan pernah lo lupakan bahwa masalah terbesar yang terjadi dalam kehidupan itu biasanya berawal dari masalah kecil yang disepelekan. Gue harap ke depannya lo bisa lebih baik lagi dan jangan pernah gegabah dalam menilai suatu permasalahan yang terjadi, jangan sampai perkataan lo barusan menjadi buah si Malakama buat diri lo sendiri."
Jleb!
Sinta tak mampu berucap.
Seketika suasana kamar hening.
Diantara Anisa, Riska, Indhi dan Sinta memanglah Riska yang paling peka terhadap hal-hal yang berbau makhluk tak kasat mata.
Bukan karena apa, tapi memang kejadian dimasa kecilnya lah yang membuatnya bisa seperti ini sampai sekarang.
Sebenarnya mata batin Riska sudah ditutup kembali oleh kedua orang tua Riska melalui perantara orang pintar yang katanya mampu dan bisa menangani hal semacam itu tak lama setelah kedua orang tua Riska mengetahui bahwa mata batin Riska telah terbuka dengan sendirinya.
Namun serapat apapun mata batin itu ditutup, tetap saja tak akan sepenuhnya bisa kembali seperti sedia kala.
Mata batin itu akan kembali aktif terbuka sama halnya seperti luka borok yang di siram oleh air garam maka dengan otomatis akan kembali terbuka sampai lebar menganga.
Begitupun dengan mata batin milik Riska yang akan kembali aktif jika disekelilingnya terdapat bahaya yang akan mengancam keselamatannya dari gangguan makhluk tak kasat mata beraura jahat.
Tak ingin terus saling mendiamkan diri Sinta pun angkat bicara.
"Anu.. Tunggu sebentar ya gue mau ambil minum dulu, lo juga pastinya hauskan karena belum gue kasih air?"
Tanya Sinta memecah kekakuan sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
Riska hanya mengangguk sambil tersenyum simpul sebagai tanda setuju.
Baru beberapa langkah Sinta berjalan tiba-tiba terdengar suara barang yang terjatuh.
Praaang!
Sementara Riska yang memiliki kesabaran setipis tissue itu dibikin naik pitam setelah kejadian tersebut.
Darahnya seketika memanas sampai kulitnya berwarna merah darah, hidungnya mengeluarkan asap macam banteng yang di cucuk dan kepalanya mengeluarkan tanduk macam Domba Garut.
Seketika mulutnya menganga mengeluarkan kata-kata pedas sepedas lava gunung merapi.
"Lo memang Anj*ng Sintut!!"
'Ih Anj*ng kenapa coba tuh handphone malah jatuh tepat dikepala si Riska, bisa kiamat ini..' Sinta membatin.
Sinta tak bergeming, tubuhnya tetap diam ditempat tanpa bergerak sedikitpun.
Sedangkan bibirnya terus dipaksa untuk tersenyum lebar sampai terlihat keluar gigi kuningnya yang mengering, matanya terus menatap iba ke arah Riska agar dirinya tak kena semprotan lebih lanjut.
Perlahan Riska mencair, Riska bisa mengontrol emosinya agar tidak membuat Sinta ketakutan seperti hendak dicabut nyawa.
"Ngapain lo berdiri terus disitu? Ayo kita bersihkan sisa-sisa pecahan kaca figuran poto kita,"
"Oke.. " Sinta menjawab mantap dan langsung bergegas membersihkan sisa pecahan kaca figuran tersebut bersama Riska.
Ternyata benda yang tadi terjatuh adalah sebuah figuran yang di dalamnya terdapat foto mereka berempat sedang berpose ria.
Dari sekian banyaknya foto Sinta yang lain kenapa harus foto mereka berempat yaang terjatuh sampai retak begitu figuran fotonya?
Merasa bersalah karena sudah melempar handphonenya ke sembarang arah sampai mengenai kepala Riska.
Sinta pun inisiatif untuk meminta maaf dengan turut membantu Riska membujuk Anisa dan Indhi.
__ADS_1
"Itu.. Anu.. Gue kayanya bisa deh bantu lo buat membujuk Anisa sama Indhi biar mereka batalin keberangkatan kita ke kampung Sukagirang, Ris!"
Ucap Sinta disela-sela membersihkan sisa pecahan kaca.
"Karena lo ngerasa nggak enak? Lebih baik nggak usah!" bantah Riska dengan cepat.
Seketika udara yang menelusup masuk kedalam kamar Sinta terasa berbeda sampai menimbulkan gelenyar aneh yang terjadi dalam tubuh Sinta.
Bahkan udara itu sukses berhasil membuat tengkuk Sinta meremang seperti tersentuh sesuatu.
"Bukan! Gue ngerasa heran aja kalo kejadian ini tuh cuman kebetulan. Gue jadi yakin juga kalo jatuhnya foto kita ini karena memang ada sangkut pautnya sama kampung itu."
"Harus ada kejadian dulu terus lo bisa langsung percaya, gitu?"
"Ya nggak gitu juga kali Ris.. "
"Terus gimana hah?"
"Ya itu.. " Ucap Sinta terpotong.
Karena geram dengan Sinta, Riska pun memotong ucapan Sinta tanpa ingin tahu kelanjutannya seperti apa.
"Mending lo diem! Lo rese kalo lagi lapar."
Seketika raut bahagia dan senyum mengembang terpampang jelas di wajah Sinta.
"Meskipun lo lagi kesel sama gue tapi tetep aja lo baik Ris, makasih sebelumnya gue jadi terharu duh. Lo tau aja kalau gue lagi lapar," ucap Sinta memandang ke arah Riska.
Riska yang mengerti maksud dari perkataan Sinta pun menjawab.
"Ular kadut lo!"
Sinta tertawa mendengar respon dari Riska.
"Jadi gimana?" tanya Sinta.
"Gimana apanya? " jawab Riska ambigu.
"Traktir gue makan dong Riska! Lo gimana sih?"
"Oh itu boleh deh, nanti kita jajan dulu sebelum sampai ke rumah Anisa. Sekalian kita bungkus buat mereka berdua!"
"Jajan apa sampai bisa dibungkus?"
"Belum tau, liat aja nanti dijalan,"
"Kenapa nggak jajan seblak Ceu Wati aja?
"Why?"
Tanya Riska sambil bergegas berdiri karena pecahan kaca figuran telah selesai dibersihkan, pun dengan Sinta yang ikut berdiri menyusul Riska.
Posisi mereka berdua sedang berdiri saling berhadapan, Riska bersidekap dada sedangkan Sinta memegang kedua bahu Riska mirip dalam adegan romantis.
"Meskipun lo baik tapi gue tau kalau lo sekarang lagi boke! Seblak Ceu Wati adalah pilihan terbaik dengan duit yang ada di saku lo sekarang. Selain enak, banyak dan bikin kenyang ternyata seblak Ceu Wati Juga murah! Lo camkan itu."
Sinta melepas pegangannya terhadap Riska sambil nyelonong pergi keluar dari kamarnya.
Sementara Riska hanya mengangkat sebelah bibirnya sebagai tanda jijik atas respon dan kelakuan Sinta.
"Dih, dasar gadis geblek!"
__ADS_1
Bersambung..