Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo

Hantu Penunggu: Grojogan Sewu Jiwo
Gara-Gara Darah Haid.


__ADS_3

Bab 17.


Jarum jam terus berputar pada porosnya bersamaan dengan suara hewan malam yang mulai sepi tak terdengar, menandakan hari sudah malam dan menuntut untuk segera di istirahatkan.


Singkat cerita mereka telah berpindah rumah dan bersiap-siap untuk melaksanakan tidur, rumah ini tampak sama seperti rumah Pak Sam yang sebelumnya. Tata letak ruangan sama persis, hanya di bedakan dengan aksesoris perabotan rumah tangga yang cukup lengkap.


Jika rumah sebelumnya tidak terdapat cermin untuk berkaca dan kipas angin untuk meredakan rasa panas, maka disini sudah tertata lengkap di ruang tengah rumah dan tinggal pakai saja.


"Lo mau kemana Sinta?" tanya Anisa tiba-tiba ketika melihat Sinta mengendap-ngendap berjalan menuju pintu belakang yang tembus ke kamar mandi.


Meskipun di sini terdapat dua kamar tidur, namun mereka lebih memilih tidur bersama di ruang tengah dengan beralaskan kasur lantai saja. Sedangkan dua kamar tersebut mereka pakai untuk menyimpan barang bawaan dan tempat bersalin.


"Ya ampun Nisa, bikin jantung gue berkedut-kedut aja lo. Asem!" umpat Sinta sambil mengusap dadanya.


"Salah lo sendiri udah kaya maling aja, terus itu yang di keresek apaan?" tanya Anisa kembali sambil melirik ke arah keresek hitam yang dibawanya.


Akhir-akhir ini sikap Sinta terlihat berbeda. Namun karena tak ingin berburuk sangka, alhasil ia lebih memilih menanyakan langsung pada Sinta. Toh Sinta juga tidak mungkin berbohong, pikirnya.


"Gue kebelet, mau buang hajat! Sekalian mau sikat gigi, nih odol sama sikat giginya ada di mari!" jawab Sinta sambil memperlihatkan keresek hitam yang dibawanya sedari tadi.


"Bukannya tadi lo udah mandi? Ngapain sekarang gosok gigi lagi?"


"Tadi kebanyakan makan, gigi gue jadi nggak enak kaya ada sisa makanan yang nyelip. Lagian kalo sikat gigi sampe dua kali pun nggak bakal bikin gue mati kan?"


"Heh di jaga ya itu bibir! Atau mau gue jambak?"


"Iya maaf deh, gitu aja baper. Dasar teman nggak asik!"


"Udahlah cepet sana lo pergi, sebelum gue jambak beneran tuh bibir!"


Setelah itu Sinta kembali melanjutkan langkahnya, padahal sedari tadi jantungnya berpacu dengan cepat takut ketahuan oleh temannya bahwa ia sedang berbohong.


'Astaga! Akhirnya selamat juga. Untung tadi si Nisa nggak ngecek isinya. Syukurlah gue masih beruntung sampe sejauh ini. Terima kasih Tuhan!' ucap Sinta dalam hati.


Setelah berada di dalam kamar mandi ia bergegas mengeluarkan pemb4lut yang telah dimasukan kedalam keresek hitam tadi. Kemudian membuka celana beserta d4lamannya serta melepaskan pemb4lut yang sudah hampir penuh itu lalu menggantinya dengan yang baru.


"Nggak biasanya gue kaya gini. Padahal ini udah hari ke empat, tapi kenapa masih deras terus kaya yang keguguran? Bisa kacau kalo gini terus, lama kelamaan mereka bisa curiga kalo gue bolak balik ke air buat ganti pemb4lut. Si4lan!" cerocos Sinta di dalam kamar mandi.


Setelah selesai mengganti pemb4lutnya, kini Sinta bersiap-siap untuk kembali ke dalam rumah. Sebelum itu ia juga tak lupa mencuci tangan dan kaki kemudian membasuh wajahnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Sedangkan untuk wadah pemb4lut bekasnya ia lupa tidak membawa keresek cadangan untuk membungkus bekas pembalut yang ia pakai, karena bingung tak ada tempat lain dan tak ada pilihan lain. Ia pun terdiam sejenak untuk berpikir.


"Aduh gimana ini? Kalo di buang langsung tanpa dibungkus dulu, apa nggak bakal ketahuan sama mereka nantinya? Terus nanti kalo ketauan, gue musti bilang apa? Dasar kampret!" ucap Sinta gusar sambil terus menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Disaat Sinta sedang misuh-misuh sendiri, sebuah sahutan dari dalam terdengar memanggil namanya. Sinta yang sedang asik sendiri itu rupanya terhenyak kaget dan secara spontan membuang bekas pembalutnya dengan kuat ke dalam tong sampah, sehingga pembalut bekas tersebut tergeletak dengan posisi noda merah menyembul keluar.


"Iya ih sebentar! Ini juga lagi jalan kali. Ngagetin aja!" balas Sinta bohong dengan sedikit berteriak.


Disaat Sinta ingin membenarkan posisi pembalutnya agar darah bekas haidnya tidak menyembul keluar, tiba-tiba dari pintu belakang Riska muncul sambil memperingatkan.

__ADS_1


"Hey! Lo lagi ngapain? Ayo cepet masuk sebelum jam sepuluh!" ajak Riska.


Tak bisa dibohongi bahwa perasaannya tidak enak sedari tadi, ditambah dengan Sinta yang belum juga muncul, padahal jarum jam sebentar lagi menunjukan pukul sepuluh malam. Semakin menambah rasa khawatir di hatinya.


"Enggak ada kok! Tadi gue nggak sengaja nendang tong sampah sampe berantakan. Makannya ini lagi benerin. Nah sekarang udah bener, yok lah masuk!" balas Sinta dengan tersenyum.


Riska mengangguk percaya, kemudian masuk terlebih dahulu ke dalam rumah dan disusul oleh Sinta setelahnya. Sebelum menutup pintu Sinta sempatkan menoleh ke arah tong sampah, sayup-sayup ia melihat sebuah tangan buntung sedang merayap ke arah tong sampah dan berhasil membuatnya bergidik ngeri.


***


Ketika malam semakin larut dan bulan mulai membulat sempurna, angin malam mulai berhembus membawa kabut tebal yang akan menyelimuti setiap rumah kampung Sukagirang.


Pekatnya malam dan cahaya rembulan di atas sana menjadi saksi betapa lalu lalangnya makhluk-makhluk beda alam itu berkeliaran. Tepat di balik pohon samping rumah yang mereka tempati terdapat sosok hitam bermata merah sedang diam-diam mengawasi.


Rasa lelah karena seharian sibuk jalan-jalan membawa mereka ke alam mimpi lebih cepat, suasana sehabis hujan mampu mempercepat mendatangkan rasa kantuk.


Tepat pukul dua belas malam bersama dengan desiran angin dingin dibawah naungan pendar purnama, para makhluk beda alam tersebut menampakkan entitas kehadirannya.


Duk.. Duk.. Duk.. Duk..


Suara ketukan pintu dari luar membangunkan mereka secara paksa dari dekapan hangat tidurnya.


"Siapa sih malam-malam gini yang bertamu? Ganggu orang lagi istirahat aja. Sial4n tu orang!" celetuk Sinta setelah terbangun dari tidurnya dan masih mengucek-ngucek matanya.


Anisa yang sayup-sayup mendengar pintu diketuk lantas terbangun, setelah mendengar ocehan Sinta.


"Lo kenapa misuh-misuh sendiri? Kesambet?" tanya Anisa.


"Ya tinggal bukalah, apa susahnya? Gitu aja kok repot!"


"Terserah lo deh! Pusing gue,"


Sinta pun bangkit bergegas untuk membuka pintu, baru beberapa langkah kakinya melangkah tiba-tiba Riska terbangun dan berhasil membuat Sinta berhenti.


"Hey, tunggu! Lo mau kemana, Sin?" tanya Riska dengan cepat setelah terbangun dari tidurnya.


Sinta berbalik dan menatapnya. "Mau buka pintu, tadi ada tamu!" balas nya cuek.


Riska mengernyit heran. "Mungkin lo salah denger kali, ini tengah malam lho!"


"Gue serius! Lo tanya aja noh si Nisa kalo nggak percaya,"


"Udahlah biarin aja. Apa lo nggak inget sama ucapan Pak Sam sebelum berangkat tadi?"


Mendengar itu ia terdiam sejenak, akhirnya bergegas untuk kembali tidur. Namun langkahnya terhenti karena suara ketukan pintu terdengar lagi.


Duk.. Duk.. Duk... Duk..


"Gue bilang juga apa? Di luar tuh ada tamu. Lo nggak kasian apa kalo tamunya di biarin gitu?" ucap Sinta yang entah kepada siapa.

__ADS_1


Refleks Indhi dan Anisa pun terbangun kembali mendengar suara ketukan pintu yang entah ke berapa kali itu. Rasa penasaran karena ingin tau serta rasa takut untuk membuka bergelayut memenuhi pemikiran mereka.


"Mereka bukan manusia! Coba lo denger setelah ketukan pintu selesai, ada suara lain yang terdengar!" bisik Riska dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar.


Lantas mereka bertiga mempertajam pendengaran, tak lama setelah itu ketukan pintu sebanyak empat kali mulai terdengar lagi. Karena suasana tengah malam yang sepi, maka benar saja mereka dengan jelas mendengar suara aneh seperti apa yang Riska maksud.


"Gimana ini?" tanya Sinta mulai panik.


"Abaikan saja! Lebih baik kita pura-pura tidur aja banyakin berdoa. Nanti juga hilang dengan sendirinya," ucap Riska.


Sinta mengangguk, kemudian mencoba berjalan lagi. Belum sempat melangkah, ia merasa leher bagian belakang seperti ada yang mencengkram kuat sehingga membuatnya merinding.


"Ini kok leher gue jadi sakit gini, aduh gimana dong?" tanya Sinta panik.


"Coba lo puter-puter aja, mungkin itu kram karena lo kebanyakan diem kali?!" sahut Indhi.


"Lo sih bikin gue parno kek gini, nakutin aja bisanya. Dasar!" umpat Sinta sambil menunjuk ke arah Riska dengan bibirnya.


"Lebih baik lo cepet balik tidur! Gue nggak bohong, mereka itu bukan manusia! Manusia itu ketukannya akan ganjil, nggak akan genap seperti itu." Bisik Riska dengan pelan.


Sinta mencoba mengusap tengkuknya yang terasa sakit dan dingin itu. Kemudian menggerakkan lehernya berputar-putar, seolah menghilangkan kekakuan pada tengkuknya.


Bau menyengat dari kembang melati mulai menguar menusuk indra penciuman hingga memenuhi udara ruangan itu. Sampai suara ciapan anak Ayam dari kejauhan terdengar jelas di telinga mereka.


"Buka pintunya Nak..," ucap seorang perempuan dari balik pintu.


Bersamaan dengan itu suara ciapan anak Ayam mulai hilang dan tidak terdengar lagi. Karena Sinta berdiri saja tak ada kemajuan, akhirnya Riska berdiri menghampiri Sinta dan menarik tangannya sampai terjerembab jatuh di atas kasur lantai.


"Nak, buka pintunya..," ucap nya lagi dengan lirih.


Mereka berempat sudah tidak peduli lagi dengan pemilik suara dari balik pintu. Mereka kini fokus berdoa dengan segenap rasa takut yang menjalar. Degub jantung berpacu dengan cepat seperti habis lari marathon.


Hening, tak terdengar lagi suara dan ketukan dari balik pintu rumah. Disaat mereka ingin bernafas lega dan menetralkan degub jantungnya, mereka harus menelan pil pahit karena kembali terdengar suara yang lebih keras dan terdengar menakutkan.


"Buka pintunya wahai manusia bodoh yang tidak punya adab!" ucapnya sambil terus menggedor-gedor pintu dengan cukup keras.


"Buka pintunya! Urusan kita belum selesai!"


Kuku tangannya yang panjang dan hitam itu terdengar mencakar-cakar pintu rumah sampai menimbulkan bunyi derit yang memekakkan.


"Keluarlah dan serahkan diri kalian agar anakku tidak lagi kehausan.. Buka pintunya sebelum ku dobrak hingga hancur tak berbentuk, wahai manusia bodoh!"


Setelah mendengar itu mereka pun tersadar bahwa sosok tersebut adalah sosok wanita yang menggendong bayi yang sempat menghadang jalan mereka ketika di jalan dekat jembatan kayu kampung Sukagirang.


Karena takut sosok wanita itu berhasil mendobrak pintu rumah, mereka pun bergegas kabur ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam. Disaat mencari- cari sesuatu untuk di jadikan senjata mereka tak sengaja menemukan sebuah al-quran, dengan cepat tanpa pikir panjang Riska mengambilnya dan membacanya. Sedangkan ketiga temannya juga ikut membacakan ayat kusri serta surat pendek yang mereka hafal.


Beberapa menit telah berlalu, suara-suara gaduh di luaran pun tampak hening tak terdengar lagi. Hanya suara deru nafas memburu yang saling bersahutan terdengar dari kamar itu. Sungguh tak menyangka bila setibanya di kampung Sukagirang kehidupan mereka akan berubah menjadi semenakutkan ini.


Sesal yang bergelayut dalam hati seakan menggunung namun tak dapat tercurahkan, rasa penyesalan karena tak mendengarkan ucapan Riska kini mereka rasakan dan harus menerimanya dengan hati berat.

__ADS_1


Karena malam yang semakin larut dan tenaga yang terkuras habis, rasa kantuk seperti menghipnotis mereka datang menyelimuti. Tak sanggup bertahan lebih jauh lagi, akhirnya mereka tertidur pulas di pangkuan jahat Sang malam.


__ADS_2