
Bab 2
Masih dalam mode panggilan VCS Grup.
Pengambilan vote pun berjalan sangat menegangkan layaknya seperti pengocokan arisan Bapak-Bapak RT. Raut wajah ke empat gadis tersebut terlihat serius sampai warna kulit mereka pun memucat, urat di bagian wajah mereka pun menonjol keluar dengan jelas seperti hendak menahan boker.
Anisa selaku ketua geng yang tidak jelas asal muasalnya itupun memimpin dengan khidmat dan penuh percaya diri.
Sejurus kemudian Anisa pun mulai menjabarkan seputaran vote yang sebentar lagi akan mereka lakukan.
"Baiklah Ladies and Gantleman, mari kita mula saja sistem pengambilan vote-nya. Seperti yang sudah dijelaskan tadi kalian tinggal pilih saja mau ikut atau tidak, waktu dan tempat dipersilahkan."
"Selamat kebingungan teman-temanku yang seperti Kambing conge," tambah Anisa.
" Siapa tuh Kambing conge ? Kita? Atau mungkin mantan lu? Secarakan mantan lu itu pemilik wajah terjelek sedunia—ups!" canda Indhi.
Riska pun menyahuti karena merasa ini adalah waktu yang tepat untuk membully ketua gengnya itu.
"Setuju banget gue sama lu In! Ditambah lagi face nya itukan pasaran banget, kek odading Mang Oleh. Ajep-ajep gitu.."
"BUAHAHAHAH... "
Tanpa dikomandoi sebuah gelak tawa keluar dari mulut Sinta. Padahal sedari tadi hanya diam saja, entah mengapa disaat Anisa di bully gadis itu malah tertawa seakan bahagia jika ketua geng nya itu dibully oleh Riska dan indhi.
Saking kencangnya Sinta tertawa sampai mengeluarkan kuah dan meninggalkan jejak air jahanam di layar handphone miliknya.
Kentang emang tu gadis.
Kepala Anisa pun kini sudah panas membuncah mendengar dirinya di bully seperti itu, akhirnya ia pun bersuara.
"Bagus! Lanjutin aja bully nya sampe gumoh noh bibir dower kalian, heran gue sama lu semua. Lihat aja nanti pas ketemuan, gue suntatin satu-satu pake linggisnya Nabi Adam biar mewek-mewek lu semua, biar nyahok!"
"WHAT THE PIG!!"
Ucap Riska, Indhi dan Sinta secara bersamaan.
Karena merasa takut mereka pun mencoba meminta maaf dan mengalihkan pembicaraan.
"Ya ampun Nisa itu cuman bercanda sayang, nggak usah dimasukan hati kali. Ntar hati lu warnanya item lho, lagian ngapain sih malah ngawur bahas yang lain? Bukannya kita lagi diskusi tentang rencana kepergian kita ke kampung Sukagirang? Yok ah balik lagi ke topik awal." ucap Riska dengan senyum lebar.
Indhi dan Sinta pun ikut menimpali setelahnya.
__ADS_1
"Iya bener nggak baik tahu buang-buang waktu kek gitu mubazir! Lebih baik kita langsung aja lanjut ke pembahasan awal." sahut Indhi.
"Betul.. Betul.. Betul.. " tambah Sinta mengakhiri.
Merasa benar apa yang dikatakan temannya itu, Anisa pun setuju.
"Bener juga apa yang kalian bilang, yaudah gaslah kita lanjutin lagi. Selain itu juga gue rasa waktunya udah cukup deh buat kalian mikir."
"Langsung mulai aja ya! Bagi kalian yang setuju dan ingin pergi holiday ke kampung Sukagirang bentukan tangan kalian menyerupai bentuk Love seperti Oppa-Oppa Koreng," ucap Anisa sambil memperagakan.
"Dan kalo kalian nggak setuju kalian tinggal matikan panggilan VCS di handphone kalian dan terhempaslah kalian ke neraka.. Ha.. Ha.. Ha.." Anisa mengakhiri.
"Tampang aja serem kek preman eh tau nya malah suka drama Korea, parah banget si lu Nis!" ucap Sinta Refleks.
"APAAAA..."
Tak ingin lebih lama dan panjang lagi permasalahnnya Indhi pun segera melerai.
"Oi mau sampe kapan ini? Bosen tahu nggak sih gue denger kalian ngoceh mulu, ayolah mulai. Gue juga bentar lagi mau belanja ih stok makanan ringan gue habis soalnya."
Riska pun setuju dan angkat bicara.
"Gue juga laper nih dari tadi belum makan, kuylah dipercepat. Bukankah lebih cepat itu lebih baik?"
Satu!
Dua!
Tigaa!!
Hitung mundur selesai ke empat gadis itu pun mengetahui hasil akhir dari sistem vote ini kecuali Riska seorang.
Benar sekali! Hanya Riska sendirilah yang mematikan panggilan tersebut sehingga bisa simpulkan juga bahwa yang tidak setuju hanya Riska saja.
Alasan Anisa, Indhi dan Sinta tetap ngotot pergi pun cukup simple yaitu karena jaraknya yang cukup dekat. Dan yang paling penting adalah mereka tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk membayar tiket masuk ke dalam Grojogan sewu jiwo alias gratis.
Hanya karena gratis lalu dengan mudahnya mereka menyimpulkan untuk langsung berangkat tanpa ba bi bu lagi. Sungguh disayangkan sekali kelakuan muda mudi zaman sekarang.
Setidaknya pikirkanlah dulu resiko terburuknya apabila mengambil keputusan, bukan kita suudzon namun untuk berjaga-jaga saja. Karena yang namanya musibah itu tak ada yang tahu, tapi berbeda lagi ceritanya bila kita sudah waspada terlebih dahulu.
Merasa heran sekaligus penasaran dengan hasil akhirnya, Riska pun kembali menghubungkan panggilan VCS .
__ADS_1
"Lho, kok kalian bertiga udah ada duluan. Atau jangan-jangan.. " Riska menggantung ucapannya.
Tak lama Indhi pun menjawab.
"Betul banget, kita bertiga sepakat untuk tetap berangkat. Cuman lo doang yang matiin panggilan VCS tadi."
"What the hell!! Serius lo berdua pada setuju buat pergi kesana? "
"Iya budeg!! Kayanya kuping lo bermasalah deh sampai nggak bisa denger gue bilang apa tadi." Balas Indhi meyakinkan.
"Santuy ajalah Ris, gue tahu kalo lo kesenengan, tapi jangan berlebihan juga keles, nggak baik soalnya," Sinta menimpali.
"Aduh celaka ini mah. Kalian berdua punya otak nggak sih, Bep? Gue serius lho padahal, Plis ya.. Kalian jangan cuman mikir enaknya doang, kalian juga harus benar-benar mikirin resikonya nanti," jawab Riska.
Jengah dengan penyangkalan temannya yang satu itu, Anisa pun mencegatnya.
"Udah ya stop! Lo nggak usah banyak bacot. Lo terima aja sesuai rencana awal dan gue tagih janji lo yang tadi.. "
"... "
Riska tak mengeluarkan sepatah kata, dirasa juga semua akan percuma. Apalagi temannya itu tidak berkepala,ehh maksudnya keras kepala semua, kepala batu. Kerasnya minta duit.
Sepersekian menit pun hening, namun bisa dipastikan bahwa hasil akhir sistem vote mengatakan bahwa ke empat gadis tersebut telah sepakat untu pergi dan tentunya Riska tak bisa menyangkal lagi barang secuil pun.
Beberapa jam kemudian mereka pun mengakhiri panggilan VCS Grup tersebut, selain karena topik pembicaraan yang sudah berujung, waktu pun telah larut dan sudah menunjukan waktu sore.
"See you next time anak-anak Bab* kesayangannya Akoh, jumpa lagi nanti pas kita OTW ke kampung Sukagirang! Bye—"
Ucap Anisa sesaat sebelum panggilan di matikan.
"Byee juga.."
Balas Riska, Indhi dan Sinta secara bersamaan.
Akhirnya panggilan dimatikan, mereka pun kembali sibuk dengan kegiatan di sore hari
Tanpa mereka ketahui dengan jadinya mereka berangkat ke kampung Sukagirang, ada sesosok makhluk tak kasat mata yang mencuri dengar kabar itu melalui kekuatan jarak jauhnya yang dia milik.
Mereka tak sadar bahwa keberangkatannya kelak akan menjadikan diri mereka santapan para makhluk tak kasat mata penunggu Grojogan sewu jiwo.
Mohon kritik dan sarannya agar saya bisa belajar dari kesalahan. Keberangkatan mereka berempat akan di lanjutkan di Bab selanjutnya, ikuti terus ya...
__ADS_1
Terima Kasih.