
Bab 6.
Kini kedua gadis itu sedang duduk santai di atas bangku warung yang telah sengaja disediakan untuk menunggu pesanan seblak.
Kedua gadis itu sibuk berkutat dengan handphone masing-masing selagi pesanannya belum juga selesai.
Udara siang itu sangat terik sekali, sinar Matahari kala itu benar-benar panas sepanas omongan tetangga yang mampu meluluhlantakan suasana hati dan mampu meninggalkan luka tak berbekas setelahnya.
Orang-orang sekitar yang hendak pergi keluar dari rumah terlihat menggunakan payung sebagai alat pelindung agar tidak terkena langsung oleh panasnya pancaran sinar matahari.
Angin sepoi-sepoi seperti di pantai tak datang menumpas kegerahan siang ini sehingga membuat cuaca semakin panas.
Ditengah gempuran teriknya matahari dan cuaca yang terasa menggerahkan hati dan body itu entah kenapa kedua gadis tersebut lebih memilih seblak ketimbang jajanan lain yang lebih menyejukkan.
Atau mungkin inilah yang dimaksud dengan istilah 'The Power Of Seblack' (?)
Karena pesanan Riska dan Sinta belum kunjung tiba, Sinta pun mencoba komplain.
"Aduh Ceu meni lama pisan, keburu tahun baru imlek inimah," ucap Sinta setelah berhenti memainkan handphone.
Ceu Wati yang sedang sibuk memasak seblak pun menyahuti dengan suara yang agak dinaikan beberapa oktaf agar terdengar jelas.
"Iya Neng sabar, orang sabar pasti bakal kesel juga!"
"Ya ampun Ceu aku serius lho ini, udah lapar bingit tau."
"He.. He.. He.. Satu bungkus lagi Neng nanggung,"
"PHP teros!! Dari tadi gitu terus jawabnya, herman deh sama Ceu Wati,"
"Ceu Wati juga heran hari ini kok rame bener, padahal kemarin-kemarin biasa aja lho,"
Riska yang merasa jengkel sekaligus malu dengan pertanyaan Sinta terhadap Ceu Wati, akhirnya ikut menimpali.
"Banyakin bersyukur aja Ceu kalau jualan begini, pembeli juga kadang pasang surut nggak bisa ditebak, apalagi yang namanya rezeki nggak ada yang tau. Mungkin hari ini rezekinya lagi bagus,"
"Si Sinta kalau bicara emang suka bikin orang lain kena darah tinggi bahkan pernah ada yang sampe meninggal gara-gara pertanyaannya yang konyol dan memperibet hidup orang lain, Ceu Wati jangan heran lagi sama kelakuan dia." Ucap Riska mengakhiri.
Kemudian mendelik ke arah Sinta dengan mata yang membulat seperti tahu bulat lima ratusan digoreng dadakan.
Sedangkan Sinta yang mendapat tatapan mata ojan seperti itu pura-pura tidak tahu dan berpura-pura memainkan benda pipihnya.
Bibir Ceu Wati menyunggingkan senyuman kemudian menjawab.
"Iya bener Neng alhamdulillah.."
"Nggak apa-apa kok Neng, Ceu Wati malah lebih suka sama pembeli yang blak-blakan begitu. Anggap saja seperti rumah sendiri jangan sungkan! Habis makan seblak jangan lupa mangkok bekasnya di cuci kembali." Jawab Ceu Wati mengakhiri sambil mengedipkan matanya sebagai tanda bercanda.
Handphone milik Ceu Wati berbunyi lantas beliau mengambil dan membukanya sembari duduk sebentar di kursi belakang yang telah ada sebelumnya.
Sedangkan kompornya dibiarkan begitu saja karena tinggal menunggu toping-toping seblak melunak sedikit untuk siap diangkat dan dihidangkan.
Dering Handphone tersebut berasal dari pelanggan online seblak Ceu Wati yang memesan seblak secara online yang biasa terjadi setiap harinya.
Meskipun warung seblak Ceu Wati terlihat minimalis dan cenderung kecil, namun beliau juga sering mempromosikan dagangan seblaknya via media sosial seperti Whatsapp dan Facebook.
__ADS_1
Maka tidak heran bila Ceu Wati kedapatan pelanggan online yang memesan seblaknya dengan jarak yang cukup jauh.
Masalah pengantaran seblak pun biasanya Ceu Wati lakukan dengan menyuruh tetangga yang bisa mengendarai motor atau memesan ojek online tergantung jarak sang pembeli seblak tersebut.
Ceu Wati adalah seorang janda mandiri yang terbilang strong.
Beliau ditinggal pergi oleh suaminya beberapa tahun yang lalu dengan alasan pergi merantau untuk bekerja, mengais rezeki dengan mengadu keberuntungan di kota Batam.
Aih-alih pulang membawa sebongkah berlian untuk sang Istri, suami Ceu Wati malah membawa madu murni kehadapan Ceu Wati tanpa ragu dengan semangat yang menggebu tanpa merasa bersalah.
Ceu Wati yang belum siap memiliki adik madu pun lebih memilih ikhlas dan meminta perceraian kepada suaminya yang tidak punya akhlak tersebut, suami Ceu Wati pun menyanggupi itu semua, dan terjadilah seperti sekarang.
Ceu Wati menjalani hidup seorang diri dengan luka lebar yang menganga dalam hatinya dengan rasa trauma yang amat mendalam takut diselingkuhi sampai berniat untuk tidak menikah lagi.
Warung seblak inilah yang menjadi pundi-pundi penghasilan bagi Ceu Wati untuk terus menyambung hidup ditengah-tengah gempuran era-nya pelakor yang melanglang buana sampai langit ke tujuh.
"Satu tahun kemudian.." Celoteh Sinta karena merasa kesal pesanannya tak kunjung datang.
"Si Neng tau aja kalo seblaknya udah jadi, nih." Balas Ceu Wati membawa nampan berisi dua mangkok seblak pesanan Riska dan Sinta.
Sinta yang terlihat lusuh pun seketika berbinar dan nampak semangat sampai bibirnya gumoh mengeluarkan air liur sebagai tanda ngiler.
Sedangkan dua porsi seblak lagi sengaja dibungkus untuk diberikan kepada Anisa dan Indhi kelak.
"Terima Kasih Ceu!"
Ucap Riska dan Sinta bersamaan setelah nampan tersebut sampai di meja mereka.
Ceu Wati hanya tersenyum, kemudian kembali lagi untuk berkutat memasak seblak.
Satu sendok kuah seblak berhasil mendarat dengan sempurna dimulut Sinta.
Matanya terlihat membulat dengan kulit yang memerah dan mengeluarkan peluh-peluh keringat, kenikmatan antara rasa pedas, manis, asin dan gurih yang menyatu dalam satu mangkok bisa Sinta rasakan saat itu.
Bibirnya mengecap-ngecap seakan memastikan bahwa indra perasanya tidak salah dalam menilai rasa seblak buatan Ceu Wati.
Belum lagi ditambah dengan toping-toping lain yang semakin menambah kenikmatan yang tidak ada duanya dan paket komplit.
"Enak banget iii.." Ucap Sinta.
"Gimana Ris, beneran enak to seblak Ceu Wati?"
"Gue emang nggak pernah salah deh kalo merekomendasikan tempat jajan yang murah namun rasanya nggak murahan,"
"Hebat banget gue seperti sosok wonder woman!"
Uhuk.. Uhuk..
Riska terbatuk setelah mendengar ucapan Sinta yang terakhir.
"Lebih baik lo diem aja, makan sambil ngomong itu pamali apalagi sampai bikin orang lain tersedak!" sembur Riska dengan pelan.
"Mau masuk neraka lo ntar?" tambahnya.
Sinta hanya memutar bola matanya dengan malas, kemudian beralih pada Ceu Wati.
__ADS_1
"Ceu pengen Pop ice-nya dong dua, yang satu rasa alpukat dan yang satunya lagi rasa stroberry!"
"Kurang afdol rasanya kalo makan seblak tanpa minuman dingin, rasanya tuh seperti taman tak berbunga, bener kan Ceu?" tanya Sinta.
Ceu Wati pun hanya mengangguk merespon pertanyaan Sinta.
"Tunggu Sebentar ya Neng, biar Ceu Wati bikinin dulu,"
Selang beberapa menit Ceu Wati datang membawa dua minuman dingin pesanan Sinta dan memberikannya pada kedua gadis itu.
"Ini Neng Pop Ice-nya sudah jadi," ucap Ceu Wati.
Riska dan Sinta pun mengambil minuman tersebut dari tangan Ceu Wati.
"Cepet banget Ceu tumben? Udah kaya mau nerima bansos aja," celetuk Sinta.
"Terima kasih Ceu," ucap Riska.
Ceu Wati hanya mengangguk tersenyum kemudian kembali bergegas berperang dengan peralatan dapur untuk membuat seblak.
Baru saja Ceu Wati hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba Sinta mengatakan sesuatu.
"Bentar dulu atuh Ceu! Sini dulu bentar Sinta mau nanya," cegat Sinta.
Ceu Wati pun kembali berbalik dan menghadap Sinta. Sudah seperti petugas upacara saja lagaknya Ceu Wati ini.
"Iya Neng bagaimana? Apa ada yang mau dibantu?"
Sinta pun menggeleng sambil menyedot minuman dingin yang baru saja Ceu Wati bawakan.
"Bukan itu, Sinta cuma mau nanya kalau resep seblak biar bisa enak gini tuh apa?"
"Ceu Wati kalau bikin seblak pure aja Neng nggak pernah pake resep segala. Atau mungkin resepnya adalah rasa ikhlas atau cinta, mungkin? Soalnya Ceu Wati dari dulu emang suka masak sih dan selalu senang ketika berhubungan sama hal-hal yang berbau memasak,"
"Serius Ceu Wati nggak pake jasa pelaris dagangan atau semacam pelet bulu jem.."
Sinta menggantung ucapannya karena terpotong oleh Ceu Wati.
"Astagfirullah Neng, Ceu Wati nggak pernah main kaya gituan. Lagian kalau Ceu Wati niat bisa langsung minta jadi orang kaya aja sekalian, nggak perlu cape-cape buat jualan seblak begini," potong Ceu Wati.
Sinta sedikit melongo kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda paham.
"Ya sudah Ceu Wati boleh pergi buat lanjutin bikin seblak."
Ceu Wati mengangguk lantas pergi kembali dengan pekerjaannya. Sudah macam babu si Sinta saja.
Riska menggeser kursi yang didudukinya agar lebih dekat dengan Sinta dengan sedikit menggunakan tenaga hingga sikut Sinta mengenai kursi.
"Aduh.." Pekik Sinta, kemudian menoleh ke samping sehingga berpapasan dengan wajah Riska.
"Sekali lagi lo nanya yang aneh-aneh sama Ceu Wati, jangan harap kepala lo masih terpasang utuh ditempatnya setelah makan seblak nanti! Kali ini gue nggak main-main!" bisik Riska dengan halus namun penuh penekanan.
Sinta menelan saliva dengan susah mendengar penuturan Riska. Terdapat kilatan psikopat dalam mata Riska saat itu sampai bulir bening keluar dengan sendirinya di setiap kulit Sinta.
"S.. Siap Boss!" balas Sinta.
__ADS_1
Bersambung.