
Bab 15 Revisi.
"Bagaimana jalan-jalannya tadi, lancar?" tanya Pak Sam ketika mereka sudah berkumpul.
Pak Sam dan Bu Diah telah kembali dari aktifitasnya setelah seharian bergelut di kebun, malam yang teduh seakan menjadi waktu yang tepat untuk berkumpul dan melepas lelah sekujur tubuh.
Hujan sore tadi rupanya belum kunjung usai meskipun hari sudah berganti malam, suara gemercik air hujan yang turun di atas genting terdengar jelas mendominasi indra pendengaran.
"Lancar banget, Pak! Suasana disini masih asri bikin pemikiran jadi fresh, rasa-rasanya jadi pengen menetap aja disini nggak mau balik ke rumah," jawab Anisa antusias.
"Syukurlah kalau begitu, nanti kalo ada waktu luang biar saya sempatkan untuk menemani kalian berkeliling kampung, anggap saja sebagai hadiah dari saya sebelum kalian pulang,"
"Nggak usah repot-repot gitu Pak! Kita juga lebih enak jalan-jalan sendiri kok biar lebih bebas. Besok juga rencananya kita mau langsung ke air terjun biar nggak terlalu lama menetap disini, nanti malah tambah bikin repot."
Pak Sam terkaget mendengar itu, kemudian menjawab. "Baru juga satu hari disini, masa udah mau pulang aja? Kita juga nggak ngerasa direpotkan sama sekali. Pokoknya kalian disini bebas! Nggak usah mikir yang enggak-enggak," tambahnya.
"Iya Pak, terima kasih! Biar nanti kita pikir-pikir dulu deh,"
Pak Sam tersenyum kemudian mengangguk.
Di tengah-tengah obrolan mereka tiba-tiba Bu Diah datang dari arah dapur sambil membawa nampan berisi gorengan yang telah ia buat sebelumnya.
"Sekarang kita makan gorengan dulu! Obrolannya ditunda dulu. Hujan-hujan gini enaknya makan gorengan lho! Ayo dimakan," ucap Bu Diah sambil mempersilahkan gorengan buatannya kepada mereka.
Setelah meletakan gorengan, Bu Diah kembali berdiri lalu berkata. "Sebentar ya, biar saya ambilkan dulu teh hangat. Rasanya kurang lengkap kalo makan gorengan tanpa minuman hangat, berasa hambar!" tambahnya.
Mereka mengangguk, kemudian tersenyum.
Gorengan dan teh hangat memang cocok disantap disaat hujan turun, suasana yang dingin menyebabkan perut mudah lapar. Bahagia itu sederhana! Bisa makan gorengan bersama orang-orang terkasih yang baik hati saja sudah terasa bahagia. Jangan lupa untuk selalu mengucap kata syukur agar tidak jadi takabur.
Satu persatu gorengan di lahap rakus oleh mereka, semuanya saling berbaur dan bercengkrama mendekatkan diri. Saking asik terbawa suasana, mereka sampai tak sadar bahwa gorengan telah habis. Obrolan pun mulai mereda seakan membiarkan mereka untuk mengambil nafas sejenak.
"Berhubung besok kalian mau pergi liat air terjun, lebih baik saya jelaskan kembali peraturan yang harus kalian patuhi dan tidak boleh dilanggar jika ingin ke sana. Mumpung sekarang saya ingat!" ucap Pak Sam tiba-tiba. Pak Sam berasa seperti di ingatkan kembali untuk segera menjelaskan pada mereka perkara peraturan kampung.
"Silahkan, Pak! Dengan senang hati kita akan mendengarkan," jawab Anisa kembali.
"Selama kalian jalan-jalan tadi, apakah kalian melihat beberapa pohon yang di bawahnya terdapat sesajen?" tanya Pak Sam kemudian.
__ADS_1
Mereka sedikit kaget kemudian mengangguk mengiyakan perkataannya.
"Saya harap kalian tidak mengambilnya! Lebih baik kalian hiraukan saja dan menjauh dari sana. Karena kami percaya, bahwa apapun itu yang di niatkan untuk sesajen maka sepenuhnya adalah hak mutlak milik penunggu pohon tersebut, bagi siapa saja yang telah lancang mengambilnya maka nyawanya akan diambil sebagai ganti." Pak Sam berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
'Astaga!! Bagaimana ini? Masa iya sebentar lagi gue bakal mati, hanya karena makan-makanan bekas sajen. Udah kaya di film horor aja, haha!' cibir Sinta dalam hati dan menampilkan senyum tipis di bibirnya.
Sinta menganggap itu hanya sebuah bualan, karena jika itu benar tentu saja dirinya tidak akan sesehat seperti sekarang. Tidak ada gejala sakit seperti orang yang akan meninggal pada umumnya, padahal tadi sore ia mengambil apel sesajen di atas tapir pohon beringin.
Pak Sam kembali melanjutkan. “Selanjutnya jika ingin pergi ke Air Terjun, kalian harus memastikan bahwa kalian sudah dalam keadaan bersih atau suci luar dalam. Setidaknya kedatangan kalian tidak bermaksud untuk berhala atau maksiat. Kalian juga harus menghormati tuan rumah (penunggu) dengan tidak mendatangi tempatnya dalam keadaan sedang haid, masa nifas, atau apapun itu yang di anggap najis. Karena kami percaya bahwa Grojogan Sewu Jiwo adalah tempat yang masih wingit,"
'Astaga gue lagi?! Itumah bukan aturan buat semua orang, tapi aturan buat gue sendiri! Nggak nyangka banget kalo aturannya sebercanda itu, pers*tan dengan kalian semua!' ucap Sinta dalam hati.
Kali ini Sinta dibuat geram dengan peraturan tersebut, ia merasa terlalu dibuat-buat dan mengarah pada dirinya. Padahal Pak Sam sendiri tidak tau bahwa Sinta sedang haid, bahkan temannya pun ikut lupa bahwa Sinta sedang haid.
Sayup-sayup ia mendengar namanya di panggil, namun ketika melihat temannya tak bergeming akhirnya ia beranggapan ada yang salah dengan pendengarannya. Padahal tengkuknya tetap saja terasa dingin dan tak bisa diajak kompromi.
"Dan yang terakhir adalah kalian tidak boleh memakai pakaian berwarna hitam bila ingin pergi menuju air terjun. Meskipun warna hitam memiliki arti warna yang kuat dan elegan dalam dunia psikolog, tetapi kami percaya bahwa warna hitam memiliki aura yang cukup buruk. Siapa saja orang yang memakai pakaian berwarna hitam maka di cap bahwa orang tersebut sedang kalut bermuram durja. Disaat manusia kalut, maka disaat itulah makhluk gaib beraura jahat melakukan tugasnya, memasuki alam bawah sadarnya dan mengambil kuasa atas jasad tersebut lalu memindahkan ruh-nya untuk di tempatkan di alamnya para lelembut dan dipekerjakan."
Setelah mengatakan itu Pak Sam mengambil secangkir teh yang sudah dingin di depannya, kemudian menyesapnya sedikit dan ditaruh kembali.
"Jika kalian masih ada yang belum paham, boleh ditanyakan langsung biar saya bantu jawab!" ucap Pak Sam.
Atmosfir di rumah ini terasa menjadi lebih berat dan tak stabil, kadang ia melihat sekelebatan bayangan hitam di beberapa sudut rumah Pak Sam yang di barengi dengan kemunculan aroma singkong bakar yang menguar secara tiba-tiba. Tidak mungkin jika itu ulah manusia, apalagi di luar masih dalam keadaan hujan belum juga reda. Lantas?
"Syukurlah!" ucap Pak Sam, kemudian tersenyum dan menoleh ke arah Bu Diah, lalu mendapat sebuah anggukan sebagai respon.
Sedangkan Sinta yang merasakan perubahan atmosfir di sekeliling merasa risih dan tak tahan kemudian berkata.
"Ya ampun Pak, disini gerah banget! Apa nggak ada kipas gitu?" celetuk Sinta.
Mereka mengernyit heran mendengar itu. Padahal suasana rumah terasa lebih dingin dari sebelumnya. Namun, kenapa gadis itu malah berkata sebaliknya?
Riska yang tidak enak sedari tadi pun langsung menyadari bahwa saat ini ada yang tidak benar, kemudian ia bergegas memejamkan matanya.
"Siapa kamu?!" tanya Riska.
Kini ia telah dibawa ke satu tempat, tak lama setelah dirinya melakukan meditasi. Ia berdiri di tengah-tengah jalan yang panjang, sisi kiri dan kanan hanya berupa pasir berbatu. Semuanya nampak gelap berwarna hitam hanya bermodalkan cahaya redup dari lampu penerang yang terletak di sebrang jalan. Di ujung jalan sana terlihat satu sosok hitam yang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Kau tak perlu tau siapa aku! Aku hanya akan mengambil apa yang sudah menjadi hak ku. Dan itu ada pada temanmu, wahai manusia meresahkan..," jawab sosok tersebut dengan suara menggelegar.
"Apa maksudmu?" tanya Riska tak mengerti.
Hening, tak ada jawaban. Perlahan makhluk tersebut berjalan cepag menuju ke arahnya, dengan spontan ia pun mundur ke belakang agar makhluk tersebut tidak mendekatinya.
"Apakah kau takut? Wahai manusia yang meresahkan!"
Tiba-tiba makhluk tersebut sudah berada di depan Riska dan menampilkan perwujudannya dengan sosok tinggi dengan dipenuhi bulu lebat hitam di sekujur tubuh.
Wajahnya tampak menyeringai lebar menampilkan senyuman jahat dengan mata merah menyala dan gigi tajam yang mencuat ke atas seperti tanduk.
Riska yang takut dan buntu tak tau harus berbuat apa, akhirnya luruh merosot di atas aspal jalan karena tak mampu berdiri lagi. Semua ototnya gemetar dan melemas sehingga tak kuat lagi menopang berat tubuhnya.
Dengan sedikit kesadaran yang tersisa ia hanya pasrah, bermunajat kepada sang Khalik untuk meminta perlindungan. Dengan suara pelan yang hampir tak terdengar ia berkata.
"Dengan segala kerendahan hati dan segala ketidak keberdayaan hamba, hamba memohon perlindungan dari Mu Ya Rabb. Jauhkan hamba dari segala makhluk jahat yang mencoba mengusik kehidupan hamba, jauhkan hamba dari makhluk-makhluk terkutuk yang menyesatkan."
"Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, pergilah kamu wahai makhluk yang berniat jahat—ALLAHU AKBAR!!"
Sosok makhluk hitam itu seketika menghilang setelah Riska melafalkan takbir dalam hatinya bersamaan dengan matanya yang mulai terbuka kembali dari meditasi.
Maha suci Allah yang mengetahui segala tingkah laku makhluk ciptaan nya.
Suasana ruangan itu seketika menjadi normal kembali setelah kepergian sosok makhluk hitam tadi, bulir bening sebesar biji jagung terus keluar dari pori-pori kulitnya.
Namun beruntung tak ada yang menyadari kejadian tersebut, sehingga ia tak perlu repot menjelaskan tentang apa yang telah terjadi pada diri nya yang berhasil membuatnya basah penuh dengan keringat seperti habis lari marathon.
Karena tak kunjung mendapat jawaban, maka Sinta kembali berbicara.
"Eh maaf, Pak! Mmm anu— tadi.. Saya tadi cuma bercanda kok, jangan di anggap serius, hehehe.., " ungkapnya dengan malu. Ia meralat perkataannya karena sadar melihat tatapan marah ketiga temannya, selain itu juga suasana sudah terasa normal kembali.
Anisa, Riska dan Indhi dibuat kesal setelah mendengar itu, kesabaran mereka terhadap Sinta sudah mencapai batas. Namun sebelum mereka mencerca, dengan cepat Pak Sam berkata.
"Jika kalian ingin, kalian boleh pindah ke rumah saya yang satunya lagi. Di sana fasilitas elektroniknya lebih lengkap ketimbang di sini, termasuk dengan kipas angin. Kasian nanti kalian nggak bisa istirahat dengan nyenyak gara-gara kegerahan," balas Pak Sam ramah.
Satu menit, dua menit , dan tiga menit tampak hening tak ada jawaban. Sampai suara gemuruh dari kaki orang-orang yang sedang berjalan berhasil mencuri fokus mereka dan mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
Bersambung.