
Bab 10.
Riska dan Sinta kini tengah berada dikediaman Anisa, keduanya sengaja datang lebih awal supaya bisa mengecek kembali barang bawaan mereka agar tidak ada yang terlewatkan. Mereka juga sengaja merencanakan itu untuk mempercepat proses keberangkatan dengan tidak menyusahkan Indhi untuk menjemput satu persatu.
"Lo udah siap berangkat hari ini?" tanya Riska pada Sinta. "Bawaan lo gimana udah di cek lagi belum?" tambahnya.
"Kalem aja lo nggak usah khawatir, gue udah siap, siap banget malah. Termasuk dengan bawaan gue, nggak bakal ada yang salah atau kelewat," jawab Sinta dengan tersenyum sambil mengangkat jempol.
"Syukurlah,"
"Lo sendiri amankan, Ris?"
Riska terdiam sejenak, menatap Sinta kemudian tersenyum.
"Pasti dong!"
Tiba-tiba Anisa datang dari dalam rumah sambil membawa secangkir minuman.
"Lagi pada bahas apa nih, asik banget kek nya. Ikutan dong," sela Anisa.
Kemudian duduk di kursi ke empat samping Riska, sedangkan Sinta disamping sebelah kiri Riska.
Paman Alex menyediakan empat kursi duduk Betawi berbahan kayu jati tanpa meja, ke empat kursi tersebut diletakan didepan rumah menghadap ke depan yang langsung menyorot pada jalanan depan.
Lumayan buat nongkrong di sore hari, mencuci mata dan melamun. Atau mungkin hanya sekedar untuk melihat jemuran kolor tetangga depan rumah dan sebatas melihat kucing yang lagi kawin dipinggir jalan.
Paman Alex juga menempatkan beberapa tanaman merambat yang digantung di sela-sela tiang tembok atas depan rumah untuk hiasan, sehingga menambah kesan teduh dan terlihat seperti perumahaan kota.
"Biasalah nggak penting itumah," elak Sinta. "Sekalian bikin tiga kek kalo bikin minum, masa ada tamu di anggurin begini," tambahnya.
"Tamu dari Hongkong maksud lo? Lagian lo mah tamu yang nggak di inginkan kedatangannya macam Jelangkung," balas Anisa.
"Kejamnya dikau,"
Anisa menyesap minumannya kemudian tersenyum.
"Bercanda lah itu, nggak usah baper."
"Ngomong-ngomong lo berdua gimana? Udah izin belum sama nyokap bokap? Terus atasan kalian gimana?" Anisa bertanya kembali.
"Gue sih aman-aman aja, Bapak sama Ibu pulang ke rumah seminggu sekali jadi ya mana mungkin nggak ngasih izin, toh juga selama ini gue jarang main." Jawab Riska. "Soal atasan juga santuylah, dia bukan tipikal atasan yang killer."
Anisa menganggukkan kepala, kemudian menatap Sinta.
"Jelas aman dong kalau gue, cuma kalo masalah atasan kayanya gue lupa izin deh Bep," jawab Sinta. "Excited banget soalnya sampai nggak bisa tidur gue, parah emang." Tambahnya.
__ADS_1
Anisa dan Riska berdecak sambil menggelengkan kepala.
"Lebay banget lo, biasanya juga lo Kebo kalo lagi tidur!" ejek Anisa dengan menampilkan senyuman jahil.
"Itu gue serius Kambing! Nggak percayaan banget lo sama gue. Terus lo sendiri gimana Nis? Secara kan paman Alex preman pasar, Roarrr!"
Anisa terdiam, berada di persimpangan antara harus jujur atau bohong. Bukan mempermasalahkan Izin dari paman Alex, lebih tepatnya haruskah Anisa mengatakan kejadian semalam atau justru bungkam saja agar liburan berlanjut?
"Nisa.." Panggil Riska dan Sinta bersamaan.
Anisa tersentak, kemudian tersenyum dan mengendikan bahu.
"Jelas amanlah kalau gue, paman Alex juga baik dia. Cuman ya itu, cuma nitip pesan kaya orang tua pada umumnya. Pemikirannya kolot gitu," kilah Anisa berbohong.
Mana mungkin gadis itu akan menceritakan kejadian semalam, sudah bisa dipastikan bahwa liburan akan dibatalkan jika Anisa menceritakan kejadian mistis yang ia alami malam tadi.
Diantara obrolan mereka tiba-tiba terdengar suara Ibu pedagang sayur yang berteriak di depan rumah menawarkan sayur dagangnya.
"Sayurnya Neng.." Ucap Ibu pedangan sayur.
Kemudian bergegas turun dari motornya, lantas mendekat ke arah mereka bertiga.
"Sayurnya Neng, mumpung masih ada. Ibu kasih diskon deh kalo Neng mau beli semua tuh sayur, gimana?" ucap Ibu pedagang sayur sekali lagi.
"Oalah pantesan si Neng udah pada cantik begini." Jawab Ibu pedagang sayur. " Ya sudah nggak apa-apa. Eh tapi si Neng teh yakin mau berangkat hari ini?" tambahnya penasaran.
Anisa dan kedua temannya saling berlempar pandang, kemudian menjawab.
"Maksud Ibu?" Tanya Anisa.
"Si Neng emang nggak lihat kalo ini lagi hujan panas begini?"
"Memangnya kenapa kalo hujan panas begini?"
"Sebagian orang Jawa punya kepercayaan kalo hujan turun disaat cuaca panas begini merupakan tanda-tanda Kuntilanak atau Wewe gombel sedang melahirkan, tetesan air hujannya pun dipercaya sebagai air ketuban yang pecah saat makhluk tersebut melahirkan." Jawab Ibu pedangan sayur, kemudian menjeda mengambil nafas.
Wuss..
Terpaan angin dingin membawa rintik air hujan yang gerimis datang ditengah-tengah obrolan mereka, perasaan gelisah tak menentu langsung menelusup masuk ke dalam hati.
Tengkuk mereka juga terasa dingin seperti ada yang meniup dari belakang, padahal tidak ada orang dan cuaca sedang panas-panasnya.
"Bahkan kepercayaan ini masih berkembang sampai sekarang, itu jugalah alasan Ibu-Ibu tidak mengizinkan anaknya keluar rumah disaat hujan panas begini sedang turun. Karena takut diculik dan dibawa ke alam lain oleh makhluk seperti mereka, Neng nggak takut di culik jugakah?" tambahnya mengakhiri.
Mreka bertiga terkesiap ketika mendengar itu, namun karena tak ingin larut terbawa oleh suasana. Anisa pun meng-iya kan saja perkataan Ibu tukang sayur.
__ADS_1
"Ya udah atuh Neng kalo begitu mah, Ibu cuma nitip pesan aja buat si Neng semua. Tetep hati-hati ya dimana pun berada, jaga perilaku dan patuhi semua larangannya."
"Ibu permisi, mari.." Ibu pedangan sayur pun melengang pergi dari hadapan mereka bertiga.
Sebelum tiba di depan jalan, Ibu pedangan sayur tersebut sempat menoleh ke belakang sebentar. Betapa kagetnya beliau ketika melihat bayangan wanita berdaster putih di dalam rumah Anisa.
Lantas Ibu pedagang sayur pun mempercepat langkah kakinya agar segera menjauh dari rumah tersebut, sedangkan Riska yang bisa merasakan kehadiran sosok wanita tersebut hanya diam merenung.
Riska merasakan semua kedatangan entitas jahat yang selama beberapa hari meneror mereka, pasalnya gadis itu hanya belum sadar sepenuhnya bahwa itu memang ada.
Ibarat seorang anak yang baru terbangun dari tidur di sore hari, bertanya-tanya apakah dirinya sudah bangun dari tidurnya atau hanya terbangun dari mimpi?
Pun dengan efek dari mata batin Riska yang selama ini tertutup lalu dengan mengejutkan bangkit kembali karena sebuah alasan keselamatan.
"Lupakan saja! Mungkin Ibu tukang dagang sayur tadi orang tuanya seorang dukun, makannya ngelantur kek gitu bicaranya!" ucap Anisa kesal.
"Hubungannya sama orang tua dukun apaan?" tanya Sinta.
"Ya otaknya ke cuci lah. Maksudnya terkontaminasi gitu sama omongan-omongan dukun, lo tau sendiri kan dukun itu kalo ngasih penjelasan sama pasiennya suka aneh. Muntah paku lah, di dalam perutnya ada silet lah, pun dengan perkataan si Ibu tadi! Masa Kuntilanak melahirkan? E*a-en* nya sama siapa coba? Masa sama Bapak lo."
Sinta dan Anisa tertawa selepas mengejek perkataan si Ibu tukang sayur.
Sinta terdiam setelah menyadari Bapaknya dituduh. "Anj*ng lo Nis! Yakali Bapak gue berhubungan badan sama makhluk halus, teman nggak ada akhlak lo ya, dasar!"
"Hus nggak boleh kaya gitu, pamali! Lebih baik kita ambil sisi baiknya lalu buang sisi buruknya. Harusnya lo bersyukur Ibu tadi masih peduli sama kita," timpal Riska.
Anisa dan Sinta terdiam, kemudian mengangguk setuju.
***
"Gue biasa berak jam sebelas siang, sedangkan kita nunggu si Gindil dari jam sepuluh. Udah satu jam dia belum juga nyampe sini, kira-kira kemana tuh bocah?" cerocos Anisa di depan pintu dengan berbondong setelah beres menunaikan hajat.
Tatapan Riska dan Sinta beralih pada jam ditangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang.
"Lah iya, baru sadar gue! Apa mungkin si Gindil ketiduran kali ya, sampai lupa hari ini kita berangkat?" Sinta bertanya kembali karena tak tahu.
Saking asiknya mengobrol membahas hal yang tidak penting, mereka sampai tidak sadar bahwa jarum jam sudah bergerak selama satu jam dari awal mereka datang hingga saat ini.
Sedangkan orang yang mereka tunggu belum kunjung datang juga, tak ada kabar sedikit pun yang Indhi berikan kepada temannya sehingga menimbulkan rasa cemas serta kesal yang menggunung.
"Coba lo telpon tu bocah! Lo tanyain sekarang dia dimana dan kenapa belum juga nyampe rumah gue!" titah Anisa pada Sinta dengan sedikit menyentak.
Sinta gelagapan. "O—oke, oke! Gue telpon dia sekarang,"
Bersambung.
__ADS_1