
Bab 9.
Suatu malam sebelum pertemuan Anisa dengan ketiga temannya—
"Rasanya lemes banget badan gue, padahal seharian tadi nggak ngapa-ngapain." Anisa bermonolog sendiri.
Gadis itu terus saja mondar mandir macam setrikaan di dalam kamarnya. Tangannya terus saja memegang tengkuk yang dirasa agak dingin.
"Mana paman Alex belum pulang lagi jam segini, padahal gue udah ngantuk banget.. Apa gue telpon aja kali ya sekalian ngasih kabar kalau besok mau liburan,"
Satu panggilan telpon dari Anisa tak kunjung diangkat oleh paman Alex, dua kali panggilan masih belum diangkat juga, tepat di panggilan ke tiga panggilan telpon terhubung.
"Hallo paman," ucap Anisa.
"Iya Nisa, jam segini belum tidur lagi ngapain?" jawab Paman Alex di sebrang sana.
"Belum, rencananya Nisa mau nunggu paman pulang soalnya ada yang mau Nisa bicarain sama paman,"
"Kerjaan paman malam ini masih banyak, sepertinya paman nggak bisa pulang ke rumah malam ini. Emang mau ngomong apa sih sampai harus dibicarakan sama paman, hum?"
Anisa menghela nafas berat mendengar pamannya tidak bisa pulang lagi malam ini. Dan tentu saja kerjaan yang di maksud adalah kerjaannya sebagai preman pasar.
"Enggak paman, Nisa cuma mau ngabarin aja sekalian minta izin kalau besok mau liburan sama temen, malah rencananya mau nginap dulu disana sampai beberapa hari. Bolehkan?"
"Kok mendadak gitu ngabarin sama paman? Padahal paman udah bilang kalau urusan yang berhubungan diluar begitu harus izin lebih awal sama paman, seenggaknya biar paman pastiin dulu tempat yang kamu tuju itu aman. Jangan bikin paman khawatir!"
"Maaf paman, sebenarnya nggak mendadak kok. Cuma Nisa aja yang belum sempet bilang sama paman takut ganggu,"
"Kamu ini, seperti sama siapa aja pakai bilang takut ganggu segala. Paman Alex ini paman kamu sayang! Seberapa paman sibuk pun pasti bakal nyempetin kalau kamu ada perlu sama paman," Paman Alex menjeda. "Terus masalah kerjaan gimana kalau kamu liburan lama begitu?"
"Iya paman maaf Nisa salah, masalah kerjaan aman-aman aja. Nisa udah dikasih cuti sama si bos santai aja."
"Hmm ya sudah kalau begitu, jaga diri baik-baik jangan sampai bikin masalah di tempat orang. Minimal kamu harus bisa jaga tingkah laku dan patuhi semua peraturan yang berlaku."
"Siap paman, terima kasih,"
"Doa paman selalu menyertaimu dimana pun kamu berada. Ya sudah cepat tidur sana udah larut, paman juga harus balik kerja."
"Selamat bekerja paman, maaf Nisa ganggu. Love you paman Alex.."
"Love you more.."
Setelah panggilan berakhir, sebuah pesan baru masuk di handphone-nya. Setelah dilihat ternyata Riska yang mengirimi pesan, dalam pesan tersebut Riska mengatakan bahwa dirinya besok ingin datang ke rumah Anisa karena ada suatu hal yang perlu dibicarakan.
"Mau ngapain lagi coba si Riska? Awas aja kalau sampai mau batalin keberangkatan liburan nanti. Nggak segan-segan bakal gue tolak kalau iya begitu," cerocos Anisa setelah menyetujui permintaan Riska.
__ADS_1
"Yakali gue musti menjilat ludah gue sendiri, najis banget."
Gadis itu terus saja misuh-misuh sendiri entah apa maksudnya, bibirnya terus saja komat kamit baca mantra, sumpah serapah serta semua hewan di kebun binatang turut diabsen satu persatu. Tepat ketika langkahnya sampai di kamar mandi bibir gadis itu baru bisa mengatup diam.
Diluar sana angin malam bergerak nakal memenuhi langit malam, kumpulan awan nimbostratus nampak bergelayutan menghiasi malam yang sunyi menimbulkan warna hitam pekat.
Suara guntur menggema di atas langit sana bersamaan dengan turunnya hujan malam, semerbak rasa ngantuk menjalar pada seluruh insan hidup di dunia.
"Yah odolnya habis! Ya udah deh nggak apa-apa lagian gigi gue masih putih ini, aman lah ya kalau malam ini nggak sikat gigi dulu," keluh Anisa disaat dirinya ingin menggosok gigi dan mendapatkan odonya telah habis.
Setelah beres mencuci wajah, mencuci tangan serta mencuci kaki kecuali menggosok gigi gadis itu memutuskan untuk kembali ke kamar dan lanjut tidur.
Cr*t..
"Astaga.. Apaan nih?" tanya Anisa bingung kala ada benda cair jatuh tepat mengenai pipi.
Tangannya dengan sigap langsung menyentuh cairan tersebut dan melihatnya.
"Perasaan cat rumah warna biru, tapi kenapa cairan ini warnanya merah kehitam-hitaman begini? Apakah ini darah?" tanya Anisa sambil melihat benda cair itu ditangan.
Anisa memastikan kembali cairan kental ditangannya dengan terus Mengusapnya secara kasar dari jari satu ke jari yang lain kemudian mengendusnya agar lebih akurat.
Huek.. Huek..
Aroma bau amis seketika menyeruak memenuhi oksigen kamar mandi, hawa dingin yang tiba-tiba datang menelusuk dari kulit sampai ke tulang. Aroma kembang kantil seketika mendominasi bau amis dan anyir darah segar.
Mencuci tangan kembali menggunakan sabun cair lalu melihat pantulan wajahnya di cermin kaca wastafel untuk melihat sisa bercak darah di pipi.
Mata gadis itu membulat melihat tidak ada noda atau bercak darah di bagian wajahnya terutama di pipi, dari pantulan cermin nampak mulus saja tak ada tanda-tanda apapun pada kulit wajah Anisa.
"Padahal jelas banget tadi ada darah di pipi gue, hidung gue juga masih normal mengendus kalau tadi bau amis dan anyir darah segar. Kenapa sekarang malah nggak ada?"
"Atau cuman halusinasi aja kali ya efek ngantuk berat?"
Kemudian Anisa membasuh kembali wajahnya berulang kali untuk memastikan bahwa dirinya dalam keadaan sadar tidak sedang berhalusinasi atau pusing karena demam.
"Udahlah, mungkin tadi perasaan gue aja kali kebawa suasana gara-gara si Riska minta ketemuan. Alhasil jadi berpraduga kemana-mana deh akhirnya. Parah.."
Ceklek.. Ceklek..
Sekali dua kali handle pintu kamar mandi Anisa gerakan, namun nihil usahanya tak juga membuahkan hasil, pintu kamar mandi masih setia tertutup seakan terkunci padahal tak dikunci.
"Kenapa lagi sih ini Anj*ng? Woy siapa yang iseng mengunci gue dari luar? Tunjukkin diri lo sini kalau berani!" cerocos Anisa dalam kamar mandi.
Anisa mencoba berpikir logis dengan menepis semua hal-hal yang berkaitan erat dengan makhluk tak kasat mata begitupun dengan kejadian ini.
__ADS_1
Gadis itu tak ingin pikirannya kacau karena terkontaminasi oleh pemikiran buruk dengan mengaitkan keberadaan makhluk tak kasat mata disekitarnya.
Padahal dalam hatinya tak menolak, ia terus saja terbayang dengan gangguan dari makhluk tak kasat mata yang belakangan ini sering menunjukan entitas keberadaan mereka dalam kehidupan Anisa.
"Ayo keluar!! Kalau berani sini lo keluar tunjukkin keberadaan lo! Gue nggak takut sekalipun berwujud demit bukan manusia!" tantang Anisa yang merasa geram karena tak juga ada tanda-tanda pintu terbuka.
Ucapan Anisa rupanya mengundang sambutan marah dari para makhluk tak kasat mata, mereka merasa terpanggil dengan sikap Anisa yang terkesan sangat sompral atau mungkin menantang?
Lampu kamar mandi tiba-tiba padam, beberapa menit kemudian menyala kembali, beberapa menit kemudian padam kembali dan terus saja begitu seperti akan kedatangan makhluk tak kasat mata yang menunjukan eksistensinya macam difilm horor.
"Apakah kau memanggil ku wahai manusia bermulut kasar?" tiba-tiba suara perempuan yang tercekat dengan lirih terdengar menggema memenuhi isi kamar mandi.
Anisa tak bisa berkutik setelah suara itu muncul, seluruh anggota badannya seakan mati tak bisa digerakkan, urat-urat dalam tubuhnya melemas seakan tak berfungsi, kakinya menempel erat pada lantai seakan terpaku oleh paku bumi.
Bulu kuduknya meremang hebat mengalami kejadian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, seluruh kulitnya memanas mengeluarkan keringan dingin yang berhasil membasahi sekujur tubuh.
"Lihatlah ke atas.. Kini aku telah datang memenuhi panggilan mu wahai manusia bermulut kasar!" titah sosok tersebut kepada Anisa.
Dengan sisa kesadaran yang pada dirinya gadis itu berpikir keras, satu sisi ingin mengikuti apa kata instingnya agar tidak mengikuti perkataan sosok yang belum diketahui wujudnya itu, namun satu sisi lain gadis itu ingin mengikuti sisi kepo kemanusiaan dirinya.
Setelah berpikir dengan cukup lama, setelah berperang dengan hatinya gadis itu memutuskan untuk melihat ke atas dimana letak lampu kamar berada.
Sedikit demi sedikit gadis itu menengadahkan kepalanya ke atas, suasana di dalam kamar masih mencekam dengan penerangan lampu yang masih berkedip-kedip dan ruangan kamar mandi bergetar pelan.
"Aaarrrghh.."
Gadis itu berteriak histeris tatkala melihat sosok wanita aneh yang menempel di atas langit-langit kamar mandi.
Sedangkan sosok wanita tersebut hanya cekikikan menampilkan senyuman menyeramkan, bola mata yang putih itu seperti hendak copot dari tempatnya, badannya kurus hanya terbungkus oleh daster putih, bagian tengah perutnya terlihat bolong dan menampilkan usus yang terburai keluar dengan darah yang mengalir. Sedangkan kedua tangan dan kaki wanita itu terlihat memutar tiga ratus enam puluh derajat dari tempatnya dan menempel pada langit-langit sebagai penompang seperti Laba-laba.
Semilir angin jahat dengan bau kembang kantil menyapu ruangan itu menambah kesan mencekam suasana kamar mandi.
Bersamaan dengan itu rambut panjang milik sosok wanita yang nempel diatas langit-langit itu terbawa oleh angin dan memperlihatkan wajah yang hancur. Mulut wanita itu menganga lebar mengeluarkan lendir hitam berbau busuk.
Sudah dipastikan lendir hitam dengan bau busuk itu akan jatuh tepat ke dalam mulut Anisa yang masih menjerit histeris dan terbuka lebar.
Meronta dan meronta, gadis itu terus saja berusaha keras untuk mengambil kuasa atas dirinya sendiri agar dapat di gerakan. Tepat disaat lendir hitam itu berjarak lima centi dengan mulutnya gadis itu menggeleng keras dan berhasil menghindari dengan menggeser tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga gadis itu mendobrak pintu kamar mandi menggunakan kaki agar lebih kuat setelah tak berhasil menggunakan tangan, dan benar saja! Setelah beberapa kali tendangan kuat dilayangkan, handle pintu itu terlihat rusak seperti hendak copot dari tempatnya.
Gadis itu menarik handle pintu tersebut hingga tercopot lantas membuka pinta kamar mandi dan mengambil langkah seribu ke arah kamarnya tanpa menoleh ke belakang.
Suasana kamar mandi semakin kacau ditandai dengan seisi kamar mandi yang terlihat berterbangan berantakan seperti terkena terpaan angin put*ng beliung selepas kepergian Anisa.
"Hi.. Hi.. Hi.. Sungguh aku bahagia melihatmu seperti itu , wahai manusia bermulut kasar.. "
__ADS_1